Friday, January 28, 2022

Ngaji Jurnalistik

Oleh SUHARTOKO

 

Suasana Ngaji Jurnalistik.

Saya
sengaja memilih diksi atau frase ‘Ngaji Jurnalistik’ ketimbang ‘Diklat’ (Pendidikan dan Pelatihan) sebagaimana disodorkan panitia kepada saya sebelumnya. Bukan tanpa pertimbangan alias ngawur atau asal saya memilih frase tersebut, tetapi dibarengi dengan deskripsi atau bahkan argumentasi untuk menguatkan pilihan.

Jumat pagi, 28 Januari 2022, saya mesti membersamai belasan guru dan karyawan SMA Muhammadiyah 1 Gresik dengan name branding Smamsatu yang berlokasi di Jalan Wahidin Sudirohusodo, Gresik itu. Di ruang perpustakaan di Gedung sekolah yang menjulang hingga 8 lantai itu saya di-dapuk untuk memberikan pembekalan untuk penguatan kemampuan menulis, khususnya dalam memproduksi berita.

Salah satu sekolah penggerak yang namanya moncer ini memang memiliki concern pada pengembangan literasi, baik terhadap para siswa maupun guru, bahkan karyawannya. Dan, untuk mengoptimalkan potensi menulis mereka, oleh Kepala Smamsatu, Ainul Muttaqin, SP, MPd, saya diminta mendampingi mereka dengan casting sebagai Pembina Jurnalistik.

Itung-itung ikut men-support Gerakan Literasi Sekolah (GLS) yang kerap saya lakukan bersama teman-teman penggerak literasi lainnya, saya tak kuasa menolak permintaan kepala sekolah muda energik ini. Di Smamsatu, aktivitas literasi, termasuk di dalamnya kepenulisan jurnalistik, nyantol pada kehumasan yang digawangi Wakil Kepala Sekolah bidang Kehumasan Akhmad Akmal Rifqi, SPd. Selain mendampingi para guru dan karyawan, dalam kapasitas yang sama –sebagai Pembina—saya juga mendampingi belasan siswa yang mengambil ekstrakurikuler jurnalistik.

“Biar maksimal, mesti melibatkan fiigur yang memang suhu di bidangnya,” ujar Fiqi, sapaan Akhmad Akmal Rifki, dalam obrolan santai dengan saya.

Kembali ke laptop, eh topik bahasan, saya pilih diksi atau frase ‘Ngaji Jurnalistik’ dengan harapan agar suasana bisa lebih caii, tidak tegang, dan nyaris tidak ada sekat yang yang berpotensi penghambat arus komunikasi antara saya dan mereka. Saya sampaikan, bahwa dalam forum yang di-setting santai dengan duduk bersila di salah satu ruang perpustakaan Teras Mentari itu, kami memosisikan diri sebagai para pembelajar literasi yang secara bersama-sama ingin meningkatkan kemampuan menulis, khususnya pada genre berita dan feature.

“Kita sepakat belajar bersama di forum ini ya. Tidak ada guru, tidak ada murid. Karena itu, kita bisa saling dialog dan sharing pengetahuan dan pengalaman menulis. Nanti kita bikin-kan grup WA sebagai sarana berkomunikasi tak berjarak. Insya Allah, dalam beberapa bulan ke depan, saya akan mendampingi Njenengan semua hingga benar-benar mahir membuat berita. Ini penting untuk men-suppot pengembangan sekolah ini,” ujar saya menyemangati.

Pada titik ini, kami sepakat! Dan benar, komunikasi di antara kami benar-benar mengalir hingga tak terasa waktu mendekati manjing waktu salat Jumat. Banyak pertanyaan dan dialog mengalir deras di forum ini. Bahkan, Ketika acara sudah bubaran pun, masih ada beberapa peserta yang menanyakan sesuatu terkait dengan berita, mulai perencanaan, mengembangkan isu sebagai bahan berita, hingga praktik menulis yang enak dibaca.

Seperti saya sampaikan di awal pertemuan, saya memang tidak banyak menyampaikan teori tentang menulis berita. Sebaliknya, saya lebih banyak mengajak dan praktik menulis berita. Ini saya lakukan, selain saya telah melakukan penjajakan tetang positioning mereka terkait penulisan berit, saya benar-benar ingin memanfaatkan waktu dan kesempatan yang ada, tidak hanya mengetahui bagaimana menulis berita, tetapi langsung menulis dan menikmati berita.

Bahkan, di sela “memprovokasi” mereka untuk selalu bergembira dalam menulis, saya memberikan tantangan khusus. Apa aitu? Saya sampaikan, di akhir program nanti saya menantang mereka untuk menulis buku secara keroyokan dalam bentuk antologi esai atau feature. Dengan suka cita mereka menerima tantangan ini.

“Di mana-mana, baik di kelas maupun di forum-forum literasi, saya selalu mengajak untuk menulis buku. Nggak sulit kok, tinggal menasah dan melatih kemampuan yang sudah ada. Modalnya cuma satu. Ap aitu? Mau aja, lalu menulis. Berikutnya menulis dan terus menulis,” tandas saya kembali memompa semangat.

Dan…, deal. Kami sepakat dan berkomitmen memungkasi program Ngaji Jurnalistik ini kelak dengan menerbitkan buku. Belum ada gambaran apa tema yang akan kami tulis. Saat ini kami memang belum focus ke penulisan buku. Menulis buku akan kami jadikan tetenger di akhir program dan waktunya masih lebih dari cukup.

Kami inginkan, di akhir program ini ada peninggalan karya nyata dan “sesuatu banget” yang kelak bisa dibaca dam menjadi tonggak inspirasi oleh generasi mendatang. Semoga Gusti Allah meridhoi, aamiin …aamiin Yaa Robbal ‘aalamiin. (*)

 

Gresik, 28 Januari 2022

 

 

No comments:

Post a Comment

Ketika Nervous Beradu dengan Panggilan Kontributif dalam FGD

  (Catatan Ringan Terlibat dalam FGD Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Ampel Surabaya)                                           Suasana...

Popular Posts