Tuesday, December 28, 2021

Refleksi Akhir Tahun; Meninggalkan Keburukan, Mengistiqomahi Kebajikan


PERJALANAN tahun 2021 sudah berada di ujung anak tangga terakhir. Dan, sebentar lagi harus berganti lembaran perjalanan di tahun baru, 2022. Apa yang mesti dilakukan, baik selaku pribadi maupun bagian dari komunal makhluk sosial? 

Memontum akhir tahun dan akan datangnya tahun baru sudah selayaknya dijadikan sarana muhasabah (evaluasi diri) bagi siapa pun yang mendambakan perbaikan kualitas hidup. Sayang, yang kerap mencuat ke ranah publik dan sepertinya by design justru sebaliknya. Sebagian masyarakat berbagai bangsa di belahan dunia justru menenggelamkan diri dalam euforia pesta pora yang cenderung berbuah kemudharatan, tidak saja bagi pelakunya tetapi juga buat orang lain. Tak terkecuali saat ini yang berada di penghujung 2021 dan dalam hitungan jari telapak tangan, segera beralih ke tahun 2022. 

Fenomena merayakan pergantian tahun baru Masehi ini banyak menguras waktu, energi dan juga dana, yang jika dialihkan untuk hal-hal yang lebih produktif, dampaknya tentu lebih positif bagi komponen bangsa ini. Terlepas dari kontroversial yang mencuat tentang perayaan pergantian tahun baru, tulisan ini lebih mengajak untuk menjadikan momentum tahunan ini sebagai sarana evaluasi diri (muhasabah) demi kehidupan yang lebih baik dan berkualitas. 

Evaluasi itu paling tidak mencakup dua hal pokok, yakni keburukan atau hal yang bersifat negatif dan kebajikan yang bernilai positif. Atas keburukan –bisa berupa sikap, pemikiran, ataupun tindakan yang negatif– sudah selayaknya tidak diberi ruang lagi untuk hidup, tumbuh, dan berkembang di tahun 2022 dan seterusnya. Perlu dikubur dalam-dalam keburukan itu dan tidak memberikan kesempatan kepadanya untuk bangkit dan hidup kembali. Kita tobati segala bentuk keburukan dan tidak mengulanginya di masa mendatang. 

Komunikasi Liar 
Apalagi di era digital –yang dalam perspektif komunikasi– banyak diwarnai oleh berseliwerannya aneka produk media sosial (medsos), semisal WhatsApp (WA), Face Book (FB), Twetter, Instagram (IG), Telegram, dan beberapa lainnya, nyaris tak terbendung. Derasnya informasi yang memasuki ruang-ruang publik, bahkan cenderung liar, praktis tak mengenal etika, tata krama, dan kerap mengesampingkan klarifikasi sebagai penyeimbang informasi. Akibatnya, tak jarang medsos dimanfaatkan sebagai sarana propaganda, menyerang lawan yang berseberangan faham dan kepentingan, yang dalam praktiknya cenderung menafikan aspek faktual atau dikenal dengan istilah hoaks (hoax). 

Kalau sudah demikian, maka produk turunannya biasanya berupa fitnah dan pembunuhan karakter yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Medsos juga nyaris memupus batasan usia, lintas generasi dalam komunitas, sehingga unggah-ungguh dalam berkomunikasi juga kerap terabaikan. Ini bisa dilacak dalam grup-grup komunikasi ala medsos sebagai ekses meroketnya era digital. Meski tidak bisa dimungkiri, jika dimanfaatkan secara cermat, cerdik, dan bijak, medsos juga bisa dimanfaatkan untuk kebaikan dan sarana komunikasi yang produktif. 

Lihat saja, di masa pandemi Covid-19 yang nyaris melumpuhkan berbagai sendi kehidupan, khususnya aspek ekonomi/bisnis, medsos bisa manfaatkan untuk sarana bangkit dan bahkan melakukan akselerasi lewat skema bisnis online. Tak terhitung berapa jenis produk dati berbagai komuditas yang terselamatkan oleh model bisnis online ini yang di dalamnya terdapat jejaring medsos. 

Maka, diperlukan sikap cermat dan bijak dalam ber-medsos. Dan, momentum akhir tahun inilah bisa dijadikan sarana evaluasi total atas apa yang telah mewarnai dunia per-medsos-an agar ada perbaikan dan bisa memaksimalkan fungsi positifnya di tahun-tahun mendatang. 

Sementara itu, kebajikan dengan berbagai variannya yang telah terukir di hati, bersemayam di pikiran, dan mewujud dalam perilaku selama ini seyogyanya dipertahankan, dirawat, dan dikembangkan untuk era mendarang. Dengan kata lain, untuk menjadikan hidup yang berkualitas dan lebih baik, hal-hal positif yang sudah kita lakukan perlu diistiqomahi dalam kehidupan sehari-hari. Pada gilirannya ghirah kebajikan sebisa mungkin dampaknya tidak saja dirasakan dan dinikmati oleh pelakunya. 

Lebih dari itu, ia akan memberikan energi positif dalam bingkai manfaat dan kemaslahatan yang maksimal kepada orang lain bangsa dan negara. Pada gilirannya, menapaki perjalanan hidup di penghujung tahun dan memasuki tahun baru merupakan momentum berbenah diri dan perbaikan peradaban untuk menebar benih kebajikan tak berbatas. (*)

No comments:

Post a Comment

Valentine Day dan Jebakan Ruang Hampa

Oleh  SUHARTOKO TIAP kali memasuki bulan Februari, perhatian dan pikiran sebagian publik di negeri ini, tersedot pada momentum tahunan yang...

Popular Posts