Wednesday, August 25, 2021

Merasa Kikuk dan Malu

 

        Penulis bersama Prof Budi Darma (kemeja putih) dan para pegiat literasi di Surabaya.


(Catatan Ringan Murid Kultural Mengenang Prof Budi Darma, MA, PhD)

 

Oleh SUHARTOKO

 

Padat merayap. Begitulah, arus lalu lintas di kawasan kampus Ketintang Universitas Negeri Surabaya (Unesa) pagi setengah siang itu tak mampu membawa Toyota Avanza yang kami tumpangi melaju dengan cepat. Mobil warna silver ini melaju dengan kecepatan rendah, maksimum cuma 20 kilometer per jam. Sempitnya badan jalan yang hanya sekitar tiga meteran tak mampu menampung arus lalu lintas yang padat, apalagi jika ada kendaraan yang berpapasan. Laju kendaraan nyaris berhenti alias nggremet.

Dari kawasan Ketintang menuju jalur utama jalan Ahmad Yani, kami harus membuang waktu lebih dari setengah jam, meski jaraknya tak sampai dua kilo meter. Ya, arus lalu lintas saat itu memang lagi padat-padatnya, dan ini menjadi pemandangan lumrah bagi yang biasa melintas di jalur ini.

Kami sedikit lega begitu memasuki jalur utama kota di jalan Ahmad Yani. Meski arus kendaraan tak kalah padatnya, tetapi lebarnya badan jalan membuat laju kendaraan bisa melaju dengan cepat. Tidak sampai setengah jam setelah merayapi jalur mulus itu, kami pun sampai tujuan, Hotel Utami di kawasan Banda Juanda.

Ketika itu, April 2012, saya yang terlibat dalam kepanitiaan program “Jatim Menulis dalam Bingkai Indonesia Menulis”, ikut menjemput Prof Budi Darma, MA., PhD di kediamannya di kawasan kampus Ketintang menuju Hotel Utami di sekitar Bandara Juanda, Sidoarjo. Kami menuju hotel itu untuk mengikuti pembukaan program yang melibatkan 100 guru, 100 siswa, dan 76 mahasiswa dari berbagai daerah di Jatim.

Mereka adalah peserta pendidikan dan pelatihan (Diklat) penulisan –mewakili daerah, sekolah, dan kampus masing-masing-- yang akhirnya mampu menerbitkan tiga buku sekaligus, bertema pemantapan nilai-nilai kebangsaan. Hotel Utami hanya dijadikan lokasi untuk prosesi pembukaan. Selanjutnya, Diklat dan pendampingan digelar di Unesa, Kampus Ketintang.

Prof Budi Darma dihadirkan pada acara pembukaan itu untuk memantik dan membakar semangat menulis para peserta Diklat. Selain Prof Budi Darma, pembukaan Diklat itu juga menghadirkan beberapa pejabat di lingkungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Pemprov Jatim) juga para pegiat dan penggerak literasi.

Sepanjang perjalanan (Ketintang-Juanda), tak banyak yang kami perbincanagkan, kecuali saling menanya kabar dan kondisi kesehatan, serta perkembangan gerakan literasi ala kadarnya, khususnya bidang kepenulisan di masyarakat dan dunia pendidikan. Sepanjang perjalanan itu pula saya merasa tertawan, kikuk dan malu yang ketika itu duduk berdampingan di jok tengah mobil yang kami tumpangi.

Betapa tidak, baru kali itu saya berdampingan dengan “orang besar” sekaliber Prof Budi Darma yang karya dan pemikirannya telah mendunia dan menginspirasi banyak penulis mapan. Sebelumnya, saya hanya mengenal pria berpenampilan kalem ini lewat tulisan-tulisan, baik yang lahir dari pikiran dan tangannya sendiri, maupun oleh orang lain.

Tentang kebesaran nama Prof Budi Darma tentu tak ada yang menampiknya. Di dunia sastra, selain dikenal sebagai pelopor penulis prosa modern, ia juga kerap dijuluki penganut aliran absurd yang tak jarang menjungkir-balikkan nalar dan pikiran pembaca lewat karya-karyanya. Berbagai penghargaan baik tingkat nasional maupun internasional juga diraihnya. Tak hanya di bidang sastra-budaya, Prof Budi Darma juga pendidik yang dikagumi para murid atau mahasiswanya baik di kampus-kampus dalam maupun di luar negeri, seperti di Amerika Serikat, Jepang, Inggris, dan beberapa negara lainnya.  

Maka, hati saya benar-benar merasa ciut dan nggreweli setiap kali berucap di dekatnya. Dalam perbincangan yang terkesan ringan-ringan saja di sepanjang perjalanan, saya benar-benar kikuk dan malu untuk merespon setiap materi pembicaraannya. Hal ini bukan terkait konten atau masalah yang kami perbincangkan, tetapi pada adab atau tata krama yang ia tunjukkan.

Ini pula yang menguatkan informasi tentang figur Prof Budi Darma yang masuk ke telinga dan pikiran saya. Sosok priyantun yang santun, lemah lembut, bijak, bersahaja, ngemong, nguwongake lawan bicara, dan seabrek nilai kebaikan lainnya adalah persepsi dan stempel yang melekat pada dirinya.

Dan, semua informasi itu ternyata benar adanya. Lidah saya di-bikin kelu dan kikuk untuk berbicara, sekaligus malu ketika beliau memakai sapaan ‘Njenengan’ kepada saya. Apalagi dalam perbincangan itu, apa yang disampaikan banyak didominasi oleh ungkapan-ungkapan krama inggil, tingkatan paling halus dalam Bahasa Jawa. Saya yang biasa hidup dalam kultur arek atau Suroboyoan di-bikin mati kutu.

Saya bisa menerima pesan dan paham apa maksudnya, meski tersampaikan dengan ungkapan krama inggil. Tetapi, jujur saya tidak mampu dan tidak sanggup untuk merespon dengan pola dan gaya yang sama, yakni krama inggil. Maka, dalam meresponnya, saya lebih banyak menggunakan Bahasa Indonesia. Kalaupun mampu krama inggil, tentu dengan diksi yang sangat terbatas, misalnya ‘injih, mboten, ngapunten’. Itu saja yang saya bisa. Selebihnya, ampuuuuuun.

 

Murid Kuktural

Selama menjadi mahasiswa IKIP Surabaya (sekarang Unesa), saya belum pernah berinteraksi langsung dengan Prof Budi Darma. Maklum, saya yang angkatan 1986 dan lulus 1990 adalah mahasiswa juruan atau program studi (Prodi) Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni (FPBS), sekarang menjadi Fakuktas Bahasa dan Seni (FBS). Sementara beliau mengampu di jurusan Bahasa Inggris, sehingga selama masa perkuliahan, tidak ada mata kuliah yang saya peroleh darinya.

Selama empat tahun menempuh pendidikan di Unesa, saya mengalami dua masa kepemimpinan rektor, yakni Prof Budi Darma dan Pak Soerono Martorahardjo. Dua tahun pertama, masa perkuliahan saya ketika kampus itu masih dipimpin Prof Budi Darma dan dua tahun sisanya di masa kepemimpinan Pak Soerono.

Meski nyaris tak pernah berinteraksi secara langsung, sosok Budi Darma tidaklah asing buat kami yang sering bersentuhan dengan karya sastra. Tentu, tak terkecuali karya besutan pria berkulit putih bersih itu. Studi atau kajian-kajian sastra, khususnya pada aspek apresiasi dan kritik sastra, tak lepas dari karya pria lembut dan bersahaja ini. Di antaranya novel Olenka, Rafilus, kumpulan cerpen Orang-orang Blominton, dan sejumlah cerita pendek (cerpen) lainnya. Jadinya, kami lebih pas disebut sebagai murid kulturalnya.

Interaksi intensif justru kerap terjadi ketika sudah lulus dari perguruan tinggi negeri yang dikenal sebagai “pabrik” pencetak atau produsen guru ini. Interaksi itu umumnya terjadi dalam kesempatan seminar-seminar sastra dan budaya atau sejumlah aktivitas literasi. Dari situlah saya lebih banyak bersetuhan dengan Prof Budi Darma. Referensi tentang apa dan siapa Prof Budi Darma, selain saya himpun dari sejumlah karyanya, juga banyak saya gali dari membaca kisah biografi pria kelahiran Rembang, Jawa Tengah, 25 April 1937 ini. Selebihnya, saya dapatkan dari cerita-cerita lisan para kolega yang kerap berinteraksi langsung dengannya.

Kini, kebersahajaan, kesantunan, dan aliran kesejukan yang mengayomi itu tak lagi bisa saya nikmati secara langsung. Sabtu, 21 Agustus 2021 lalu, sekitar pukul 06.00 WIB, Tuhan Yang Maha Penyayang, Allah SWT, telah memanggilnya. Beliau meninggal setelah sebelumnya mendapat perawatan di rumah sakit bersama istri, anak, dan asisten rumah tangganya.

Jagat sastra dan pendidikan berduka. Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Selamat jalan, Sang Maestro. Semoga kelak surga Tuhan menampungmu. (*)

 

Gresik, 25 Agustus 2021

No comments:

Post a Comment

Merasa Kikuk dan Malu

Popular Posts