Saturday, April 17, 2021

Bank Permata, Kepedulian kepada Kaum Milenial dan Optimalisasi Perbankan

 


Di saat banyak pihak, khususnya perbankan memandang sebelah mata kalangan muda atau akrab dengan sapaan kaum milenial, --karena dinilai tidak prospektif—Bank Permata justru sebaliknya. Bank yang sejak Januari 2021 lalu masuk kategori Bank Umum Kegiatan Usaha IV (BUKU IV), kini memberikan perhatian lebih kepada generasi muda untuk men-support pengembangan peran atau usaha mereka melalui lima layanan sekaligus.

 

Kepada kaum milenial --dengan rentang usia 18-34 tahun--, Bank Permata terus menyosiaslisasikan lima layanan terbaiknya lewat PermataME. Tujuannya jelas, untuk mendorong generasi muda tetap optimistis dalam menghadapi setiap tantangan finansial untuk meraih impian mereka

 

Kelima layanan yang baru diluncurkan pertengahan April 2021 ini, yakni PermataME Savings, PermataME Credit Card, PermataME Wealth Management, PermataME KTA, dan PermataME KPR.  Kelima layanan finansial itu dirancang khusus dengan berbagai fitur yang inovatif, serta program-program menarik di dalamnya. Dengan memanfaatkan solusi finansial ini, nasabah Bank Permata, khususnya dari kalangan generasi muda, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan finansial mereka sehari-hari.

 

Komitmen dan kepedulian Bank Permata kepada kaum milenial ini terungkap dalam jumpa pers secara virtual (virtual press conference), di Jakarta, Kamis (15/4/2021). Direktur Retail Banking PermataBank, Djumariah Tenteram, mengatakan, PermataME didesain untuk memenuhi kebutuhan finansial generasi muda melalui holistis solusi keuangan mulai dari menabung, investasi, kemudahan pembayaran dengan kartu kredit, mendapatkan pembiayaan kredit tanpa agunan, dan pembiayaan rumah atau apartemen.

 

“Selain itu, melalui kampanye #CantStopME, kami ingin terus tetap relevan, serta mendorong generasi muda di Indonesia untuk terus optimistis menghadapi tantangan finansial mereka, bersama solusi perbankan yang ditawarkan oleh PermataME,” ujar Djumariah.

 

Korban Pandemi

 

Dijadikannya kaum muda sebagai sasaran mematri komitmen sekaligus target penetrasi pasar oleh Bank Permata, tentu bukan tanpa alasan. Dampak pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak Maret 2020 terbukti telah memorakporandakan tatanan ekonomi di berbagai sektor dan level kehidupan masyarakat, termasuk kalangan kawula muda. Ya, kawula muda atau kaum milenial juga menjadi korban yang harus menelan pil pahit dalam perekomian, khususnya aspek finansial mereka.

 

Keadaan pandemi telah mengubah mimpi dan ambisi yang dibangun oleh generasi muda. Mengutip TransUnion Wave 10 Pulse Survey, July 2020, ternyata 54% anak muda yang mulai membangun finansialnya terpaksa kembali memulai dari awal, karena diterpa oleh keadaan yang kurang menentu akibat pandemi dan 22% di antaranya merasa vulnerable secara finansial. Mereka terus berusaha untuk mencari solusi yang dapat memudahkan mereka untuk membangun mimpi walaupun dalam kondisi penuh keterbatasan.

 

Psikolog Klinis Inez Kristanti sepakat, dampak pandemi Covid-19 secara riil juga menimpa kaum milenial. Karena itu, mereka perlu pendampingan untuk bisa kembali bangkit dari masa sulit, serta memantik optimisme untuk mempertegas eksistensi dan peran, lewat solusi finansial dan dunia usaha yang mereka geluti. Itulah sebabnya, ia mengapresiasi inisiatif manajemen Bank Permata yang telah merancang konsep kepedulian dan membantu kawula muda lewat program solutif yang dikelola.

 

Membaca fenomena tersebut, Bank Permata menunjukkan kejeliannya untuk membingkai kepedulian dengan hadir sebagai solusi mengatasi berbagai permasalahan kaum muda, khususnya terkait aspek finansial untuk menopang mereka dari keterpurukan yang berkepanjangan.

 

Pesan #CantStopME yang diusung oleh Bank Permata merupakan bentuk nyata dukungan terhadap generasi muda Indonesia dalam menghadapi tantangan kehidupan mereka sehari-hari, seperti terkait pekerjaan, cicilan, hingga gaya hidup. Lebih dari itu, melalui kelima produk unggulan PermataME yang diluncurkan pertengahan April ini, diharapkan dapat mereka manfaatkan sebagai solusi finansial untuk menjaga optimisme dalam meraih impian.

 

Sangat mungkin, kepedulian Bank Permata terhadap kaum milenial ini akan membuka mata dunia, bahwa persepsi besarnya potensi mereka untuk berkontribusi kepada bangsa dan masyarakat, tak bisa dipandang sebalah mata. Dari program PermataME, juga sangat mungkin bakal lahir pengusaha-pengusaha muda andal yang awalnya di-support oleh kredit tanpa agunan (KTA).

 

Peran KTA dari program PermataME, di antaranya tentu sangat mendukung pengembangan usaha, khususnya untuk memperkuat permodalan. Dukungan KTA akan memberikan pengalaman terbaik untuk generasi muda dalam mewujudkan impian mereka. Sebab, KTA bisa untuk pengajuan dana tunai yang mudah dan cepat. Proses pengajuan 100% bisa dilakukan secara online melalui aplikasi PermataMobile X.

 

Sekali lagi, tren pandemi yang mulai membaik diharapkan membangkitkan optimisme kaum muda untuk memberikan kontribusi positif kepada bangsa dan masyarakat, lewat dunia usaha yang mereka geluti. Dengan semangat membara untuk bangkit dari keterpurukan, kaum milenial ini akan membuktikan dirinya sebagai figur yang tidak bisa dipandang sebelah mata, apalagi dipinggirkan. Mereka ada dan siap hadir, serta memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan masyarakat negeri ini.

 

Mendongkrak Stagnasi

 

Diluncurkannya program yang secara khusus memberikan perhatian kepada kaum milenial merupakan timing yang pas untuk mengoptimalkan perbankan, khususnya dari segmen penyaluran kredit. Sebab, pandemi Covid-19 yang berlangsung sejak Maret 2020 dan belum diketahui kapan berakhir secara tuntas, terbukti telah melemahkan sektor perekonomian, termasuk perbankan.

 

Fungsi perbankan, khususnya dalam penyaluran kredit untuk menopang pengembangan perekoniman dan dunia usaha, terbukti stagnan, bahkan cenderung menurun selama masa pandemi. Ini terjadi karena permintaan kredit dari debitur, khususnya dari kalangan pelaku usaha juga drop akibat iklim bisnis yang secara makro mengalami tren penurunan. Perbankan jadinya over likuiditas, karena kesulitan menyalurkan kredit.

Data Bank Indonesia (BI) menunjukkan, sepanjang 2020 yang menjadi tahun suram akibat pandemi Covid-19, kredit perbankan masih terkontraksi sebesar -2,41% secara tahunan atau year on year (yoy). Bahkan, data terbaru BI mencatat, kredit perbankan masih terkontraksi -2,3% yoy per Februari 2021 menjadi Rp 5.417,3 triliun. Ini membuktikan, bahwa tren penurunan kredit perbankan tak bisa dimungkiri selama masa pandemi ini.

Bagaimana Bank Permata menyikapi hal ini? Meski secara umum kredit perbankan nasional mengalami kontraksi, Bank Permata sepertinya tak terlalu risau. Terbukti laju kredit bank ini  tetap saja mengalami kenaikan. Bahkan tahun 2021 ini, manajemen bank berkode emiten BNLI ini berani mematok target kredit seiring dengan terget Kementerian Keuangan dan BI.  

Sepanjang tahun 2020 –di masa pandemi-- Bank Permata mampu mencatatkan penyaluran kredit sebesar Rp 118 triliun. Nilai itu meningkat 9,2% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, 2019. Meski berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit yang relatif bagus pada tahun 2020, tahun 2021 ini Bank Permata tak terlalu agresif mengejar pertumbuhan kreditnya.

Direktur Keuangan Bank Permata, Lea Setianti Kusumawijaya, menyatakan optimistis, bahwa pemulihan ekonomi akan berjalan dengan baik, sehingga bisa mendukung bisnis bank tahun ini. Karena itu, target pertumbuhan kredit maupun aset Bank Permata pun tak jauh dari target kredit yang dicanangkan oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) dan BI. Awalnya Kemenkeu maupun BI menargetkan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 7% hingga 8% di 2021. Namun, target itu lalu direvisi menjadi 5% hingga 7%. 

“Target pertumbuhan kredit dan aset Bank Permata kurang lebih akan similar dengan apa yang dicanangkan oleh para regulator tersebut. Harapannya kita bisa lebih baik, karena kita memiliki sinergi dengan Bangkok Bank PLC yang memiliki business proposition yang kuat di perbankan korporasi maupun nasabah on board dari Bangkok Bank Indonesia,” papar Lea dalam konferensi pers secara virtual, Jumat (26/3/2021) lalu.

Seiring dengan penyaluran kredit, Bank Permata akan menyesuaikan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) sesuai dengan manajemen likuiditas bank. Bank Permata, lanjut Lea, akan menjaga loan to deposit ratio (LDR) di level 80% hingga 85%. 

Sementara total DPK Bank Permata hingga 2020 tumbuh sebesar 18,4% yoy dari Rp 112,9 triliun pada 2019 menjadi Rp 145,6 triliun. Adapun kontribusi terbesar dari pertumbuhan produk Giro sebesar 25,3%, diikuti oleh Tabungan dan Deposito masing-masing 13,5% dan 17,1% yoy.

Di sisi rasio likuiditas loan to deposit ratio (LDR) tercatat sebesar 79% pada Desember 2020 dan rasio CASA (current account saving account) atau perbandingan antara jumlah giro dan tabungan dengan jumlah total DPK, menjadi 51,2%, meningkat 54 basis poin dibandingkan periode yang sama setahun sebelumnya.

Pandemi Covid-19 terbukti telah menorehkan dampak buruk bagi  perekonomian nasional, khususnya bagi pilar-pilar dunia bisnis, termasuk dunia perbankan. Tetapi, Bank Permata berhasil membuktikan dirinya sebagai lembaga keuanagan yang survive, bahkan mencatatkan kinerja positif sepanjang tahun 2020. Tak berlebihan jika tahun 2021 ini paling tidak apa yang telah dicapai tahun lalu bisa dipertahankan, bahkan kalau bisa ditingkatkan.

Inovasi pun terus dilakukan untuk menjaga stabilitas kinerja baiknya. Lebih dari itu, Bank Permata siap memberikan nilai lebih dengan mematri komitmen memfasilitasi kaum milenial untuk bangkit dan berkembang di dunia bisnis dan menggapai impiran mereka. Pada gilirannya, mereka siap memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan masyarakat negeri ini. (Suhartoko)    

 

 

 

 

 

 

 

    

 

 

       

  

 

 

 

No comments:

Post a Comment

Cinta Rasul

Popular Posts