Blog

Blog

Thursday, July 25, 2019

Menabur Benih Jariyah di Ladang Literasi

 
Berpose bersama peserta pelatihan.menulis feature.


Pada dasarnya, setiap orang –asal bisa berbicara plus punya kelengkapan inderawi—pasti bisa menulis. Kalau pada kenyataannya sebagian masih susah mempraktikannya, itu lebih banyak karena faktor pengungkit. Ya, kita belum tahu bagaimana dan dari mana harus memulai mengungkit potensi itu hingga benar-benar mewujud dalam bentuk tulisan dan jadi kebiasaan yang mengalir.

Itulah poin-poin motivasi yang saya sampaikan kepada para peserta pelatihan menulis di ruang pertemuan Yayasan Al Ibrah Gresik, Sabtu (20/7/2019) lalu. Pesertanya adalah para guru, khususnya pengampu pelajaran bahasa dan jajaran Humas yayasan yang menaungi sejumlah lembaga pendidikan, mulai TK hingga SMP, termasuk Taman Pendidikan al Quran (TPQ).

Kali itu saya sampaikan materi pelatihan menulis bertajuk “Memotret Jejak Ekspresi melalui Feature (Berita Kisah)” . Mengapa jejak ekspresi yang perlu dipotret? Saya jelaskan,setiap orang pasti memiliki jejak perjalanan kehidupan yang layak diekspresikan dan didokumentasikan (dipotret). Dan, sebaik-baik dokumentasi adalah tulisan, karena kelak bisa “diwariskan” atau diduplikasikan ke anak-cucu.

Biar tidak mboseni (membosankan), teknik transfer pengetahuan dan pengalaman menulis itu lebih banyak tersaji dalam format dialogis atau diskusi, sehingga ada semacam jual-beli atau tukar-menukar  informasi. Suasana pelatihan pun berlangsung gayeng. Semua merasa terlibat dan menjadi subjek dalam tiap alur dialog, serta jauh dari kesan menggurui atau digurui.

“Saya haqqul yaqin, Njenengan semua ini bisa menulis. Sebab, kemampuan menulis itu paralel dengan berbicara. Karena Njenengan semua bisa ngobrol atau bicara, maka saya pastikan juga bisa menulis. Sebab, menulis itu sama halnya berbicara yang diekspresikan dalam bentuk tulisan. Jangan kecil hati dan ciut nyali. Kita pasti bisa! Sekarang, tinggal bagaimana kita bisa mengungkit potensi menulis itu hingga bisa muncul ke permukaan dan jadi pembiasaan,” kata saya memompa semangat para peserta pelatihan.

Dalam memompakan motivasi, saya memang mengadopsi slogan supporter Persebaya yang akrab dengan sapaan Bonek itu, yakni 'Satu Nyali: WANI'. Wani adalah bahasa Jawa yang berarti berani. Berani apa terkait dengan pelatihan ini? Berani memulai menulis. Berani salah, lalu berbenah diri, dan kembali menulis. Berani mengikis rasa minder (rendah diri) karena merasa tak mampu. Berani mematri komitmen untuk menulis, menulis, dan menulis.

Saat pelatihan menulis feature berlangsung.
Provokator Literasi
Lima tahun silam, tepatnya 5 April 2014, saya  sempat “memprovokasi”  Kepala SMP Islam Terpadu (SMP IT) “Al Ibrah” Gresik, ketika itu dijabat Ustadz M. Musyafak. Dalam obrolan ringan itu, “provokasi” yang saya sampaikan seputar pengembangan budaya literasi.

Ini saya sampaikan karena saat itu sudah muncul embrio sebagai peletak dasar pengembangan literasi, yakni diterapkannya tiga bahasa sekaligus dalam proses pembelajaran, yakni Bahasa Indonesia, Inggris, dan Arab.

Para murid (peserta didik) salah satu unit pendidikan di Yayasan Al Ibrah ini sejak dini dibekali dengan fondasi berupa pembiasaan komunikasi dengan tiga bahasa tersebut. Saya lalu menantang Ustadz Musyafak. Saya katakan, budaya literasi lisan (percakapan trilingual) itu perlu dikembangkan dengan mengarahkan dan membimbing mereka dan para ustadz/ustadzahnya untuk merambah ke dunia tulis-menulis.

Saya pun menyampaikan istilah khusus, yakni ‘panggung literasi’ sebagai ajang ekspresi mereka. Panggung literasi dirancang dengan harapan, para guru dan siswa memiliki kecakapan dan kemampuan menulis, minimal untuk mengisi rubrikasi yang tersaji melalui majalah sekolah dan web site. Setelah itu, secara perlahan namun pasti, mereka diarahkan untuk menulis dalam bentuk buku.

Seperti pepatah: setali tiga uang, tumbu oleh tutup. Dengan tangan terbuka, Ustadz Musyafak menerima uluran gagasan itu dan berniat membentuk tim khusus untuk pendampingan. Sejak pertemuan santai dan gayeng itu, saya kerap berkomunikasi, meski hanya via telepon. Tujuan saya, ingin mengetahui progres tindak lanjut untuk mengawal ide upaya pengembangan literasi itu.

“Kami sangat senang kalau ada yang peduli dengan upaya pengembangan literasi di sekolah ini. Untuk sementara, target kami tidak muluk-muluk, lebih meletakkan dasar atau fondasi literasi lewat pembiasaan berkomunikasi dalam proses pembelajaran,” kata Ustadz Musyafak.

Tradisi Menerbitkan Buku
Saya tidak mengawal secara khusus setelah gagasan saya lempar kepada sang kepala sekolah. Saya baru tersadar ketika hadir pada wisuda angkatan III, sekolah ini sudah menerbitkan buku keroyokan karya para siswa.  Buku berisi kisah mendebarkan perjalanan siswa yang mengikuti program Back Packer ini berjudul My Scholl My Adventure. Wow, keren dan sesuatu banget, menurut saya.

Sejak itu, sekolah yang berlokasi di kawasan Gresik Kota Baru (GKB) ini mentradisikan diri menerbitkan buku setiap prosesi wisuda digelar. Dan terakhir, ketika wisuda angkatan V dihelat di HOM Premier Hotel, Gresik, 23 Juni 2019, SMP IT Al Ibrah Gresik kembali menerbitkan buku. Bahkan, berbeda dari sebelumnya, kali ini dua buku sekaligus diterbitkan. Satu buku berjudul  Menilik Negeri Jiran; SMP IT Al Ibrah Gresik Goes to Malaysia karya para siswa dan dua guru pendampingnya. Ini buku berisi oleh-oleh perjalanan studi banding mereka ke lembaga pendidikan di Malaysia.

Satu buku lagi berjudul Menjadi Guru itu Seru. Buku kedua ini seolah mengisyaratkan, para guru tak mau kalah dengan anak-anak didiknya dalam menggelorakan ghirah berliterasi. Buku besutan para guru SMP IT Al Ibrah ini seolah berebut simpati publik setelah beberapa buku karya murid-muridnya terbit lebih dulu.

Dalam me-launching kedua buku itu, Wakil Bupati, M. Qosim, dengan bangga mengapresiasi apa yang dilakukan dan dicapai sekolah yang dikenal juga mampu menjadikan banyak lulusannya hafal (tahfidz) al Quran ini. Qosim menyebut, dalam usianya yang masih muda (baru lima tahun), SMP IT Al Ibrah telah meraih capaian luar biasa, khususnya dalam pengembangan budaya literasi. Bahkan pada akhir tahun ajaran 2018/2019, sekolah ini juga menempatkan salah seorang lulusannya sebagai peraih nilai UNBK terbaik se-Kabupaten Gresik.

“Ini sangat …sangat membanggakan. SMP IT Al Ibrah memang hebat. Terima kasih kepada pihak yayasan, para guru, wali santri dan semua pihak yang terlibat dalam pengelolaan sekolah ini, sehingga menorehkan prestasi yang luar biasa. Sekali lagi, terima kasih,” katanya penuh semangat.

Sampai di situkah ghirah berliterasi --lewat penerbitan buku-- Al Ibrah? Ternyata tidak! Tahun ini juga buku baru yang diinisiasi pengurus yayasan terbit. Judulnya, Santri, Ustadz, & Peradaban. Buku berisi bunga rampai pendidikan ini ditulis para guru (ustadz/ustadz) di semua unit pendidikan yang dikelola Yayasan Al Ibrah Gresik. Dari sini nampak, budaya literasi lewat penerbitan buku memang lagi tumbuh subur di Al Ibrah.

Dan, dalam pelatihan menulis dengan genre feature yang saya kawal akhir pekan lalu, kami juga pasang target: menerbitkan buku karya para peserta pelatihan. Untuk merealisasikannya, pendampingan saya lakukan hingga buku yang menjadi goal akhir pelatihan, benar-benar terwujud. 

Kami berharap, komitmen menerbitkan buku ini sebagai upaya menabur benih jariyah literasi yang bisa menginspirasi orang lain untuk melakukan hal serupa. Lebih dari itu, kami juga berharap, aksi ini sebagai bagian dari ihtiar dakwah digital yang perlu disebarluaskan dan ditumbuhkembangkan. (*)


Gresik, 25 Juli 2019            

     
 


      

No comments:

Post a Comment

Blog Archive