Blog

Blog

Wednesday, June 12, 2019

Memimpikan Generasi yang Bangga Jadi Petani


Wagub Emil E. Dardak saat menyerahkan trofi kepada sang juara.

Penghargaan berupa penyerahan trofi atau piala kepada para juara merupakan pamuncak dari serangkaian program ‘Pelatihan dan Lomba Hidroponik Antarsekolah Se-Jatim’ yang saya kawal sejak 24 September 2018. Dan, puncak acara yang dilabeli dengan istilah awarding ini berakhir manis ketika Wakil Gubernur Jawa Timur (Jatim), Emil Elestianto Dardak, berkenan hadir dan menyerahkan piala yang disiapkan oleh panitia, Rabu (27/3/2019) lalu.

Tidak hanya berakhir manis. Awarding Lomba Hidroponik Antarsekolah Se-Jatim yang dihelat di Gedung Tani Puspa Agro di kawasan Kec. Taman, Sidoarjo ini juga menjadi tetenger bangkitnya spirit melahirkan generasi muda yang bangga jadi petani dan generasi agropreneur, khususnya pada budi daya produk pertanian dengan sistem hidroponik.

Karena itu tak heran jika Wagub pasangan Gubernur Khofifah Indar Parawansa ini tak henti-hentinya membakar semangat ratusan pelajar SMA/SMK yang datang dari berbagai daerah di Jatim itu untuk tidak malu-malu menjadi petani.  Bahkan ia berpesan agar para pelajar tidak takut berwirausaha di bidang pertanian. Jika dijalani secara serius, katanya, sektor pertanian tidak kalah menjanjikan dari sektor lain.

Di komplek pusat perdagangan agro Puspa Agro itu, Wagub Emil menyerahkan penghargaan berupa piala kepada juara I lomba hidroponik tingkat Jatim  yang diraih kelompok SMKN Udanawu, Blitar. Juara II diraih SMKN 1 Bojonegoro, disusul SMAN 3 Lamongan sebagai juara III.  Sementara juara harapan I dan II masing-masing diraih SMKN 1 Trenggalek dan SMAN 1 Kencong, Jember.
Awarding merupakan puncak program pelatihan dan lomba hidroponik antarsekolah se-Jatim kerja sama PT Puspa Agro dan Dinas Pendidikan Jatim. Selain juara tingkat provinsi, panitia juga mengukuhkan para juara di tingkat kabupaten/kota di berbagai daerah di Jatim. 

“Ayo, di antara yang hadir ini, ada yang kepingin jadi pengusaha?” tanya Emil yang langsung direspon sejumlah siswa dengan mengacungkan tangan.

Wagub yang mantan bupati Trenggalek dan suami artis Arumi Bachsin ini lalu melanjutkan pertanyaan,” Ada yang ingin menjadi petani?”

Tanpa menunggu respon para siswa yang datang dari berbagai daerah di Jatim itu, Emil meyakinkan, sektor pertanian juga memberikan harapan bagus untuk ditekuni. Karena itu, ia minta generasi muda, khususnya pelajar SMA/SMK tidak ragu-ragu menekuni bisnis di bidang pertanian.
“Salah satunya ya lewat hidroponik ini. Ini program bagus yang harus ditindaklanjuti karena pertanian model hidroponik tak memerlukan lahan luas. Dan, ke depan bisa dikembangkan ke bidang pertanian lainnya,” ujar Emil memompa semangat.

Sementara Dirut Puspa Agro Abdullah Muchibuddin mengungkapkan, program itu merupakan bentuk kepedulian manajemen kepada generasi muda agar bangga menjadi petani, di antaranya menekuni hidroponik. Diharapkan, selain melengkapi keterampilan yang diperoleh di sekolah, berhidroponik juga menjadi alternative berwirausaha, khususnya di bidang pertanian.

“Moga-moga apa yang diraih adik-adik dalam berkarya, khususnya dalam budi daya pertanian dengan sistem hidropinik saat ini akan menjadi pemicu dan pemacu , serta pionir bagi sekolah-sekolah lain di daerah masing-masing,” kata Udin.     

Berpose dengan peserta pelatihan hidroponik.
Diawali dari Madiun Berakhir di Surabaya

Tim Pelatihan dan Lomba Hidroponik antarsekolah se-Jatim ini mengakhiri putaran pertama programnya --sebagai pilot project-- di Surabaya. Diharapkan, pelaksanaan program kerja sama Dinas Pendidikan Provinsi Jatim dengan PT Puspa Agro ini, kembali bergulir awal tahun 2019.
Dengan misi, di antaranya menyiapkan generasi agropreneur dari kawula muda, program Pelatihan dan Lomba Hidroponik Antar-Sekolah Se-Jatim diawali dari kota Madiun, 24 September 2018. Tim lalu bergerak membakar semangat dan melatih para siswa SMA/SMK di Jember, Lumajang, Jombang, dan Ponorogo.

Tim kembali memotivasi dan memberikan pelatihan kepada siswa-siswa SMA/SMK di wilayah Kab. Ngawi dan diteruskan ke Bojonegoro pada 17-18 Oktober 2018. Dari kawasan Pantura, tim kembali ke daerah Mataraman dengan memberikan pelatihan dan lomba hidroponik kepada siswa-siswa di Trenggalek , Tulungagung, dan Kediri-Blitar.

Dari kota tahu ini pelatihan bergesar ke Mojokerto, Tuban, dan Lamongan. Putaran pertama program ini lalu berakhir di aula Cabang Dinas Pendidikan wilayah Surabaya di Jl. Jagir Wonokromo, Rabu, 21 November 2018. Pada pelatihan terakhir putaran pertama ini, siswa SMA/SMK yang mengikuti pelatihan dan lomba beras dari Probolinggo, Malang, Gresik, dan Bangkalan.

“Ini program sangat bagus karena tidak hanya memberikan bekal pengetahuan, tetapi sekaligus keterampilan sebagai bekal anak-anak untuk mandiri secara ekonomi. Moga-moga program ini terus berlanjut dengan menjangkau sekolah atau siswa lebih banyak lagi. Dan, kepada anak-anak, saya minta program ini diikuti sebaik-baiknya, karena manfaatnya kembali kepada kalian. Kalian siap?” ujar Kepala Cabang DInas Pendidikan Wilayah Surabaya, Dr Sukaryanto, MSi.

Pelatihan yang dibimbing oleh tim khusus bentukan PT Puspa Agro (anak perusahaan PT Jatim Grha Utama/BUMD milik Pemprov Jatim) ini tidak sekadar memberikan pengetahuan dan keterampilan tentang hidroponik. Lebih dari itu, peserta dikawal hingga mampu mempraktikkan budi daya sayur dengan sistem hidroponik, mulai tahapan membuat instalasi, semai hingga panen. Karena itu, usai pelatihan sehari, tim memberikan pendampingan secara on line selama 35 hari.

Untuk menguji keseriusan peserta, juga dibarengi dengan lomba yang memperebutkan trofi dan hadiah uang pembinaan dari Kepala Dinas Pendidikan Jawa Timur. Laporan progres budi daya hidroponik hasil pelatihan wajib dilaporkan kepada tim sepekan sekali lewat grup WA yang dibentuk oleh tim. Forum itu sekaligus disiapkan sebagai media komunikasi dan konsultasi oleh peserta kepada tim ahli.

Tentang materi pelatihan, meliputi dasar-dasar hidroponik, pengenalan media hidroponik, praktik pembuatan instalasi hidroponik, persemaian, aplikasi nutrisi, dan membuat produk olahan tanaman hidroponik. Pelatihan diberikani karena menyadari makin jauhnya sebagian masyarakat dari dunia pertanian, terutama para kawula mudanya. Karena itu, pelatihan hidroponik diberikan kepadapara  pelajar dan guru  SMA/SMK se-Jatim.

Boleh jadi, program ini hanya sedulit bentuk kepedulian kepada generasi muda agar menyiapkan dirinya dan eksis di masyarakat ketika lulus sekolah. Bisa jadi pula, ini baru pada tataran obsesi untuk mengantarkan anak-anak muda ini menjadi generasi entrepreneur. Namun yang perlu dicatat, program ini pastilah memiliki magnet positif untuk melahirkan terobosan-terobosan baru dalam konteks membangun kepedulian kepada generasi muda bangsa. (*)


No comments:

Post a Comment

Blog Archive