Blog

Blog

Friday, June 14, 2019

Ketika Jajanan Tradisional Jadi Perekat Persaudaraan


Jajaran direksi dan karyawan Puspa Agro guyub sebelum nyantap jajanan.

Bisa jadi ini fenomena unik dan tergolong langka. Umumnya, di banyak institusi atau perusahaan, hari pertama masuk kerja setelah liburan panjang Hari Raya Idul Fitri (lebaran), diawali dengan open house atau halal bihalal. Tetapi, yang dilakukan manajemen PT Puspa Agro tidak lazim dalam perspektif kaca mata publik.

Anak perusahaan PT Jatim Grha Utama (BUMD Provinsi Jawa Timur) yang didapuk mengelola pusat perdagangan aneka komoditas berbasis agro/pertanian ini justru membudayakan tradisi yang tergolong unik dan langka. Apa itu?

Dalam tujuh tahun terakhir, perusahaan ini mempunyai kebiasaan yang mewajibkan seluruh karyawannya membawa jajanan atau makanan tradisional pada saat hari pertama masuk kerja pascalebaran (libur Hari Raya Idul Fitri). Seluruh bawaan itu dikumpulkan di meja rapat, lalu dimakan bareng-bareng, setelah sebelumnya diawali dengan “prosesi dan doa khusus”.
Karuan, suasana gemuruh dan gayeng pun menyelimuti seisi ruang tempat dihelatnya acara. Jajaran direksi dan seluruh karyawan bebas memilih dan mengambil jajanan yang mereka sukai tanpa ada rasa sungkan dan ewuh pekewuh. Walhasil, Suasana akrab penuh kekeluargaan pun terlihat cukup kental. Tidak kurang dari 50 item atau jenis jajanan tradisional tertumpuk secara acak di atas meja rapat.

Tumpukan jajanan itu karena sekitar 45 karyawan Puspa Agro memang berasal dari sejumlah daerah di jatim. Selain dari  Surabaya dan Sidoarjo, sebagai base camp Puspa Agro, karyawan perusahaan ada yang  dari Malang, Blitar, Gresik, Lamongan, Kediri, Nganjuk, Madiun, Ponorogo, Sumenep, dan beberapa daerah lain.

Menariknya, budaya atau kearifan lokal yang telah dilakukan dalam tujuh tahun terakhir ini, nyaris menghapus sekat status sosial di perusahaan. Seluruh awak perusahaan mengumpulkan jajanan yang mereka bawa dari daerah masing-masing di meja rapat direksi, lalu bareng-bareng menyantapnya.
Tanpa memilah-milah jajanan sesuai jenis dan harganya, jajanan ditumpuk secara acak di atas meja. Setelah melalui “prosesi dan doa khusus”, sekitar 45 karyawan dan direksi pun secara tertib mengambil jajanan yang mereka sukai dan mereka makan bersama-sama. Nyaris tanpa berisik atau aksi rebutan. Semua kebagian.

Seperti terjadi pada Senin (10/6/2019) siang lalu. Pada hari pertama kerja pascalibur panjang itu, jajaran direksi dan seluruh karyawan berbaur di ruang direktur utama. Mereka pun asyik dan larut dalam pusaran kegayengan sambil menikmati jajanan yang menggunung di atas meja. Tradisi ini sekaligus ditumpangi dengan halal bihalal tipis-tipis keluarga besar Puspa Agro dengan cara bersalaman dan saling memaafkan.

“Saya minta, tradisi penuh kekeluargaan ini dijaga kelestariannya. Meski ketika nanti saya sudah tidak ada di Puspa, tolong tradisi yang bagus ini tetap dijaga, dipertahankan. Inilah semangat kekeluargaan yang kita bangun di perusahaan, meski dengan cara sederhana,” pesan Direktur Utama PT Puspa Agro, Abdullah Muchibuddin sebelum memberikan sinyal “serbu” untuk menyantap lebih dari 50 item jajanan itu.

Bareng-bareng nyantap jajanan
Saya, selaku Humas perusahaan, yang diberi kesempatan untuk menyampaikan kesan dan pesan, tak menyia-nyiakan momentum ini untuk menyampaikan maaf atas salah dan khilaf kepada teman-teman karyawan dan jajaran direksi.  

Sebelum detik-detik “penyerbuan” jajanan, saya mengajak para karyawan untuk mengambil ‘ibrah (pelajaran) apa saja yang ada di sekitar, sebagai media berinteraksi dengan Tuhan Yang Maha Pemberi Rezeki. Sebab, berkomunikasi dengan Tuhan, tidak harus di masjid atau tempat ibadah khusus. Ia bisa dilakukan di manapun kita suka  dan dengan media apa saja. Demikian juga dengan upaya berbenah diri dalam konteks menjajaga hubungan baik dengan sesame, khususnya para karyawan perusahaan.

“Saya tidak tahu siapa yang menumpuk atau menata jajanan di meja yang sekarang siap menunggu kita. Ini ada kerupuk goreng pasir yang kita kenal dengan kerupuk upil. Di tumpukan jajanan ini, saya yakin, harganya jauh lebih murah  dibanding tahu stick yang dikemas bagus ini. Tapi, toh kerupuk yang murah ini ini berada ditumpukan yang lebih tinggi daripada tahu stick ini yang harganya lebih mahal, dan tahunya nggak protes,” ujarnya saya seraya mengangkat dan menunjukkan dua jenis jajanan ini kepada teman-teman.

Belajar dari filosofi tumpukan aneka jananan itu, saya lalu menganalogikan sebagai team work dalam perusahaan. Dalam team work yang solid, seyogyanya tidak ada pihak yang merasa lebih tinggi atau paling pintar, lalu merendahkan dan menganggap tidak penting pihak lain. Sebab, semua eleman bergerak dan menjalankan tugas sesuai fungsi masing-masing.

Bahwa dalam praktik ada peran dan tanggung jawab yang berbeda, itulah konsekuensi atas keragaman posisi masing-masing pihak. Karena itu, momen ini bisa bisa dijadikan sarana ngaji tipis-tipis dan belajar dari tumpukan jajanan atau melalui instrumen apa saja di sekitar kita, lalu mengambil pelajaran dari setiap fenomena yang ada. (*)      
     

No comments:

Post a Comment

Blog Archive