Blog

Blog

Sunday, February 17, 2019

ICU, Memori Bal-balan, dan Menjemput Mukjizat



Proses operasi bedah syaraf terhadap Mas Nono di RSU Anwar Media.
Seumur-umur baru kali ini saya memasuki ruang ICU (intensive care unit) sebuah rumah sakit. Tak sekadar memasuki, bahkan saya mengakrabinya. Sebab, dalam dua kali waktu kunjungan (siang dan petang), saya berkali-kali masuk-keluar ruang perawatan intensif itu.

Pengalaman pertama ini saya alami dalam hari-hari belakangan ketika menunggui kakak kandung saya, Mas Hartono, di Rumah Sakit Anwar Medika di Jl. by pass Krian, Sidoarjo, sejak Selasa, 12 Februari 2019. Di rumah sakit ini, Mas Nono --demikian saya biasa menyapanya sejak kecil-- dirawat di ruang ICU, setelah sebelumnya mendapat pertolongan pertama di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Kabar dirawatnya Mas Nono di rumah sakit kali pertama di-share putri sulungnya, Lilin Cahya Kartika, via grup WA keluarga Selasa lalu, pukul 08.51 WIB. Saya sendiri baru membaca pesan itu pukul 09.04, beberapa menit setelah nyampe kantor tempat saya bekerja di kawasan Taman, Sidoarjo. Saya belum langsung meluncur ke rumah sakit ketika menerima kabar itu. Sebab, lokasi di mana Mas Nono dirawat juga belum jelas.

“Minta doanya buat Bapak ya Mbak, Om, Lik. Bapak ndak sadar. Ada perdarahan otak. Sekarang mau dirujuk,” tulis Lilin, empat kali beruntun di grup WA.

Mak deg. Sebelumnya tidak ada kabar kalau Mas Nono lagi sakit, kok tiba-tiba ada info kondisinya sudah tak sadarkan diri. Saya mencoba menghubungi saudara-saudara untuk melacak kabar lebih lengkap tentang keberadaan Mas Nono. Jawaban mereka sama: belum tahu!

Beberapa menit menunggu dengan perasaan dan suasana hati berkecamuk, datang kabar baru dari Lilin, bahwa bapaknya lagi ditangani di ruang ICU Rumah Sakit Anwar Medika. Tanpa banyak pertimbangan, saya lalu minta izin ke Pak Dirut di kantor untuk besuk ke rumah sakit, setelah mendiskusikan rencana event yang akan menghadirkan petinggi baru di Pemprov Jatim.

Saya pacu sepeda motor menuju rumah sakit. Lalu lintas yang padat dan gerimis tak menjadi hambatan berarti untuk melaju dengan kecepatan relatif tinggi. Tepat pukul 11.10 saya nyampe rumah sakit ini.

Di depan ruang ICU yang juga jadi jalan penghubung antarblok atau ruang rumah sakit, saya dapati Mbak Yuli, istri Mas Nono yang kelopak matanya terlihat sembab dan masih sesenggukan. Ada juga putri sulungnya, Lilin dan adiknya Giri dan istrinya. Tanpa banyak bicara saya diminta masuk ke ruang ICU ditemani Lilin. Dengan emosi yang teraduk-aduk, saya masuki ruang itu dan tibalah saya di bilik berukuran 3 x 4 meteran, tempat Mas Nono dirawat.

Tak ada kalimat apa pun yang saya ucapkan. Lidah serasa kaku dan bibir pun hanya bisa mengatup rapat sambil berkali-kali menelan ludah. Sementara air mata spontan mengaliri pipi, saya pandangi wajah dan seluruh tubuhnya yang terbalut selimut.

Saya dekati wajahnya. Saya pandangi sambil air mata saya terus berurai. Di mulut dan lubang hidungnya tampak selang plastik untuk membantu pernafasan. Sedangkan dia dua sisi dadanya menempel detektor detak jantung yang terhubung ke dua monitor di atas posisi kepala dan satu lagi di sisi kiri tempatnya terbaring. Demikian juga di lengan kirinya, menancap selang infus untuk memasukkan obat dan nutrisi.

Sebisa mungkin saya bisikkan kalimat-kalimat toyyibah. Saya panggil-panggil namanya. Berkali-kali saya juga bacakan surat Al Fatihah dengan harapan jadi tambahan “obat” dan stimulus untuk menghadirkan kesadaran yang hilang. Terus dan terus saya lakukan. Tak ada respon sedikit pun darinya. Hanya terdengar nafas berat dan kedua matanya yang tetap terpejam. Sempat saya lihat air mata yang merembes di sudut mata kanannya, meski tak banyak. Sangat mungkin dia bisa mendengar apa yang saya sampaikan dan meresponnya dengan air mata.

Sementara bunyi dua layar monitor yang memantau detak jantung, otak, dan organ lainnya terus bersautan dengan memunculkan grafik dan angka-angka yang terus bergerak-gerak seperti gelombang. Saya tidak bisa membaca angka-angka dan grafik yang muncul di layar monitor. Benar-benar tidak mengerti apa maksudnya. Saya cuma bisa menduga saja, bahwa itu progres yang dilaporkan mesin pemantau tentang kondisi tubuh Mas Nono.

Setelah puas memandangi dan membisikkan kalimat toyyibah dan surat Al Fatihah, saya bergeser dan memegangi kedua telapak kakinya. Terasa anyep begitu jemari saya memeganginya. Di sini saya kembali membacakan surat Al Fatihah, berulang-ulang.  Harapan saya, ini bisa membantu memulihkan kesadaran dan mengisi memori otaknya dengan asupan yang baik dan bergizi. Beberapa kali kaki kirinya bergerak, njingkat (seperti reaksi kaget). Saya terus lantunkan ummul Quran itu dengan suara agak jahar dengan harapan nyampe ke telinga dan kemudian masuk ke otaknya.

Memori Bal-balan

Setelah merasa cukup, saya kembali ke sisi kanan tubuhnya, dekat kepalanya. Saya panggil-panggil namanya. Saya bisikkan kenangan masa lalu ketika kami sama-sama masih kecil hingga remaja.

“Mas Nono, Sampean masih ingat kan waktu kita main bal-balan. Sampean bagian nyerang lawan dan aku bagian menghalau serangan lawan. Kapan ya kita bisa bal-balan lagi kayak dulu,” bisik saya tepat di telinga kanannya.

Sejak kecil kami memang demen olah raga sepak bola. Seperti kebanyakan anak desa, kami menyebut olah raga rakyat ini dengan istilah bal-balan. Ketika masih anak-anak, sebelum bola plastik merambah kawasan pedesaan, kami sempat menjadikan klaras (daun pisang yang kering) sebagai bola. Lho, kok bisa? Ya bisa aja.

Ya, dasar anak desa, selalu ada saja akal di tengah keterbatasan sarana. Caranya, klaras yang sudah dilepas dari gagang tengahnya dibentuk bulat menyerupai bola. Pada bagian luar diperkuat dan dikunci dengan tali-temali yang terbuat dari kulit pohon pisang yang sudah kering dan dipilin seperti tali (tampar).

Setelah bola plastik sudah banyak ditemui di pasar desa, kami pun meninggalkan bola klaras dan  beralih ke jenis bola lebih modern ini. Hingga akhirnya kami gunakan bola dari kulit yang kami sebut sebagai bola bola bleter. Itung-itung kayak pesepak bola profesional, hehe.

Dalam tim bal-balan, Mas Nono biasanya berada di posisi depan atau penyerang (striker). Sedangkan saya lebih banyak pada posisi gelandang bertahan atau bisa turun ke stopper untuk memperkuat pertahanan. Posisi striker memang pas untuk dia. Selain kecepatan lari (sprint)-nya bagus, kemampuan heading-nya lumayan untuk mengoyak pertahanan lawan. Dalam hal sprint, Mas Nono memang lebih baik ketimbang saya. Tetapi, untuk lari jarak jauh, minimal 10 kilometer, saya masih unggul darinya.

Pagi ini, adalah hari kelima Mas Nono nyenyak dalam “tidur”-nya di ruang ICU. Tim dokter katanya telah dan akan terus berjuang membantu secara medis. Sementara saya dan keluarga tak pernah lelah melakukan ihtiar batin dengan terus dan terus bermunajat, mengetuk pintu langit, berdoa dan berharap ridha-Nya untuk kesembuhannya.

Kami sadar sesadar-sadarnya, bahwa kemampuan manusia amatlah terbatas dan Dia tidak terbatas. Kalau Dia kehendaki, tidak ada kekuatan sebesar apa pun yang bisa menghalangi. Demikian juga terhadap ihtiar kesembuhan Mas Nono. Kami tawakal 'alallah setelah berbagai upaya telah kami tempuh, termasuk operasi bedah syaraf yang dilakukan tim dokter untuk membersihkan darah yang menggenangi sebagian otaknya.

Karena itu, kami siap menunggu, bahkan menjemput mukjizat-Nya untuk kesembuhan kakak tercinta, Mas Nono. Ya, itu yang bisa kami lakukan dan istiqomahi untuk mengiringi ihtiar medis oleh tim dokter yang menanganinya.

Yaa Allah ... Yaa Robbana
Yaa Rohman ...Yaa Rohim
Yaa Aziz ...Yaa Ghoffar
Yaa Robbal 'aalamiin
Laa haula walaa quwwata illa billah. (*)


Krian, 16 Februari 2019

--------------------------
Catatan: Tepat tujuh hari sejak dirawat di rumah sakit, Allah SWT memanggilnya pada Selasa, 19 Februari 2019. Innalillahi wainna ilaihi roji'un. Allohummaghfirlahu warhamhu wa'afihi wa'fu 'anhu ....





No comments:

Post a Comment

Blog Archive