Blog

Blog

Monday, January 1, 2018

Menobati Keburukan dan Mengistiqomahi Kebajikan


         Suhartoko


Catatan Refleksi Akhir Tahun 

Oleh SUHARTOKO

Memontum akhir tahun dan akan datangnya tahun baru sudah selayaknya dijadikan sarana muhasabah (evaluasi diri) bagi siapa pun yang mendambakan perbaikan kualitas hidup.
Sayang, yang kerap mencuat ke ranah publik dan sepertinya by design justru sebaliknya. Sebagian masyarakat di berbagai bangsa justru menenggelamkan diri dalam euforia pesta pora yang cenderung berbuah kemudharatan, tidak saja bagi pelakunya tetapi juga buat orang lain.
Tak terkecuali saat ini yang berada di penghujung 2017 dan dalam hitungan jam sudah beralih ke tahun 2018. Fenomena merayakan pergantian tahun baru Masehi ini banyak menguras energi yang jika dialihkan untuk hal-hal yang lebih produktif, dampaknya tentu lebih positif bagi komponen bangsa ini.

Terlepas dari kontroversial yang mencuat tentang perayaan pergantian tahun baru, saya lebih tertarik untuk menjadikan momentum tahunan ini sebagai sarana evaluasi diri (muhasabah) demi kehidupan yang lebih baik dan berkualitas. Evaluasi itu mencakup dua hal pokok, yakni keburukan atau hal yang bersifat nagatif dan kebajikan yang bernilai positif.
Atas keburukan –bisa berupa sikap, pemikiran, ataupun tindakan yang negatif– sudah selayaknya tidak diberi ruang lagi untuk hidup, tumbuh, dan berkembang di tahun 2018. Kita kubur dalam-dalam keburukan itu dan tidak memberikan kesempatan untuk bangkit dan hidup1 kembali. Kita tobati segala bentuk keburukan dan tidak mengulanginya di masa mendatang.
Sementara kebajikan dengan berbagai variannya yang telah terukir di hati, bersemayam di pikiran, dan mewujud dalam perilaku selama ini seyogyanya dipertahankan, dirawat, dan dikembangkan untuk era mendarang. Dengan kata lain, untuk menjadikan hidup yang berkualitas dan lebih baik, hal-hal positif yang sudah kita lakukan perlu diistiqomahi dalam kehidupan sehari-hari.
Pada gilirannya ghirah kebajikan sebisa mungkin dampaknya tidak saja dirasakan dan dinikmati oleh pelakunya. Lebih dari itu, ia akan memberikan energi positif dalam bingkai manfaat dan kemaslahatan yang maksimal kepada orang lain bangsa dan negara. (*)

Gresik, 31 Desember 2017

No comments:

Post a Comment

Blog Archive