Blog

Blog

Thursday, December 21, 2017

Pak Zayyin dan Dakwah yang Tak Pernah Putus





Saya dan Pak Zayyin ketika menjalani rawat inap di Rumah Sakit Semen Gresik.
Nama lengkapnya Muzayyin Syarifuddin Imam. Tapi, saya biasa menyapanya Pak Zayyin. Sementara orang lain ada yang suka memanggilnya Ustad Muzayyin. Ada pula yang senang dengan sapaan Abah Muzayyin. Juga tidak sedikit yang menyapanya Yai atau Kiyai Haji Muzayyian.  Dan, dia tidak pernah mempermasalahkan aneka sapaan atau panggilan yang ditujukan kepadanya. Asal komunikatif, oke sajalah.

Selama hidupnya, waktunya nyaris habis untuk kegiatan dakwah Islam. Hampir tiap hari keliling dari masjid ke masjid, dari musholla ke musholla, juga dari jamaah pengajian ke jamaah pengajian lainnya. Ilmunya seakan tiada putus, terus mengalir kepada jamaah yang ngaji kepadanya. Bahkan ketika masih muda dan bujang, dia aktif dalam Gerakan Pemuda Masjid.

Itulah sosok sederhana dan bersahaja yang telah puluhan tahun saya kenal. Sejak sekolah dasar (SD) tahun 1980-an saya sudah berinteraksi dengan Pak Zayyin yang ketika itu secara rutin mengisi pengajian di masjid Al-Huda di desa kelahiran saya, Lebaniwaras, Kec. Wringinanom, Kab. Gresik. Interaksi lewat pengajian tafsir Al Quran yang diasuhnya bahkan terus terjalin hingga 2-3 bulan terakhir sebelum Allah SWT, Tuhan Yang Mahakuasa atas makhluk-Nya, memanggilnya, Selasa (19/12/2017), tepat pukul 05.00 WIB. Innalillahi wainna ilaihi roji’un. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu ‘anhu ….

Ngangsu kaweruh alias ngaji ke Pak Zayyin sebenarnya bukan saja saya lakukan ketika masih anak-anak hingga remaja di desa. Sejak 1989 kami juga mengembangkan pengajian tafsir Al Quran ini ke kota Gresik, tepatnya di rumah H. Tamam Mubarok, mantan anggota DPRD Gresik tiga periode. Di rumah yang juga berfungsi sebagai kantor percetakan “Cahaya Suci” ini pengajian rutin bulanan dilaksanakan dengan peserta para karyawan perusahaan itu dan beberapa karyawan PT Petrokimia Gresik. Dari sini pengajian lalu mengalir ke beberapa lokasi di Gresik kota.

Saya sempat putus kontak dengan Pak Zayyin dan pengajian relative lama itu ketika saya pindah tugas dari perusahaan tempat saya bekerja ke Malang dan Jakarta hingga akhirnya di Surabaya. Alhamdulillah, beberapa tahun terakhir, kami dipertemukan kembali dalam kajian rutin bersama jamaah masjid At-Taqwa di Perum GKGA Gresik, dua kali sebulan.

Karena sakit yang dideritanya, sekitar tiga bulan terakhir ini kajian rutin yang diasuh Pak Zayyin di masjid At-Taqwa diliburkan. Namun, dalam kondisi sakit Pak Zayyin masih rajin kirim pesan-pesan bijak dalam bentuk tulisan via WhatsApp (WA). Ilmu dan nasihat keagamaan serasa tak ada putusnya, terus mengalir, yang dikemas dalam nasihat bernas yang disampaikan Pak Zayyin kepada saya. Terakhir saya bertemu langsung dengan pria asal Sukodadi, Lamongan ini di Rumah Sakit Semen Gresik ketika ia menjalani rawat inap.

Para penakjiyah di rumah duka.

Subhanalloh, ternyata pertemuan terakhir saya dengan Pak Zayyin di rumah sakit itu tepat dua bulan sebelum kematiannya. Saya besuk ke rumah sakit di Jl. Raya R.A. Kartini bersama istri saya, 19 Oktober 2017. Di rumah sakit ini Pak Zayyin menjalani rawat inap selama sepekan sebelum akhirnya diperbolehkan pulang oleh dokter karena dinyatakan sembuh meski masih harus kontrol rutin. Allah pun memanggilnya dalam usia 63 tahun (persis usia kematian Kanjeng Rasulullah Muhammad SAW), Selasa, 19 Desember 2017 di rumah yang juga difungsikan sebagai musholla “Sabililhaq” di Jl. Sikatan XV/13 Manukan Wetan, Tandes Surabaya.

Air mata tak terbendung, membanjiri pipi di sepanjang perjalanan menuju rumah duka. Demikian juga ketika memasuki ruang di mana jenazah Pak Zayyin disemayamkan sebelum disalati dan dimakamkan. Air mata saya terus ndredes saat memeluk anak sulung Pak Zayyin, Mas Arif seraya menyampaikan agar bersikap tegar dan sabar menerima takdir Allah ini. Saya amati ratusan pasang mata nampak sembab dari ratusan santri dan warga yang takziyah, baik pria maupun wanita.

Saya masih belum bisa menahan aliran air mata ketika membuka kain kafan penutup kepala jenazah. Saya pandangi sejenak wajah sejuknya yang juga ditumbuhi kumis dan jenggot yang seluruhnya berwana putih. Saya cium keningnya sebagai salam dan penghormatan terakhir kepada guru ngaji saya ini dan menutup kembali kain kafan itu. Saat itulah saya merasa pesan-pesan bijak yang sering saya terima selama puluhan tahun kembali mengalir ke telinga dan pikiran saya.  .

Selamat jalan Pak Zayyin, yang sepanjang hidupnya nyaris habis dalam aktivitas dakwah.Teriring doa semoga Allah memberikan ampunan dan menjadikan ilmu, pitutur, juga pesan-pesan bijak yang Njenengan sampaikan kepada saya dan ribuan santri, serta jamaah pengajian di berbagai daerah kelak menjadi jariyah yang terus mengalir dan mengantarkan ke surga-Nya yang indah.

 

Surabaya, 19 Desember 2017

.

 

.    


  
   

No comments:

Post a Comment

Blog Archive