Blog

Blog

Friday, December 29, 2017

Agresivitas-Emosional vs Kesabaran yang Terukur

(Catatan Gado-gado atas Duel Real Madrid – Barcelona)


Icon Real Madrid, Cristiano Ronaldo (kiri)  vs punggawa Barcelona, Luis Suarez
Saya benar-benar sangat menikmati siaran live SCTV, Sabtu (23/12/2017) malam yang menayangkan pertandingan dua kesebelasan papan atas seri La Liga, liga sepak bola paling bergengsi di Spanyol. Dua kesebelasan yang selama ini saling bermusuhbebuyutan: Real Madrid dan Barcelona harus kembali berlaga untuk membuktikan sebagai yang terbaik di Spanyol.

Kenikmatan saya dalam menyaksikan pertandingan itu bahkan mengalahkan ketika menonton pertandingan beberapa liga kesohor di negara-negara Eropa, seperti liga Premier di Inggris, Seri A di Italia, juga Bundes Liga di Jerman. Bahkan sekelas Champions yang dikenal paling bergengsi se-Eropa sekalipun. Ya, perseteruan Real Madrid versus Barcelona kali ini benar-benar menyedot perhatian saya untuk untuk melahap dan menikmatinya, detik demi detik.

Saking menikmatinya, sepanjang pertandingan saya menonton tidak dengan duduk di kursi atau lesehan, tetapi berdiri, yang kadang-kadang secara reflek bertingkah seperti pelatih, hehe. Kaki saya tiba-tiba ikut terangkat ketika ada peluang goal dari para striker yang menendang bola. Demikian juga tangan saya terkadang menunjuk-nunjuk lokasi tertentu, seakan sedang memberikan instruksi kepada pemain ke mana mesti mengarahkan bola.

Sebagai tontonan, pertandingan kedua tim ini memang layak dinikmati. Sejak peluit pertama kick off  ditiup oleh wasit Sanchez Martinez aroma perang sudah digeber oleh Real Madrid yang tampil agresif dan menyerang. Tempo permainan cepat yang diperagakan Real Madrid yang dikomandani Cristiano Ronaldo menggedor barisan pertahanan Barcelona dengan andalan Lionel Messi dan Luis Suarez.

Praktis selama 45 menit pertama (babak I) pertandingan dikuasai Real Madrid dengan ball position 60:40. Berkali-kali gempuran Real Madrid baik di jantung pertahanan (kotak penalti) maupun tendangan jarak jauh belum mampu menjebol gawang Barcelona yang dikawal oleh Marc-Andre Ter Stegen. Dominasi permainan Real Madrid ternyata tak sebanding lurus dengan hasilnya. Sebab hingga akhir pertandingan, Real Madid justru dilibas dan keok 0-3 (0-0) atas Barcelona.

Saya tidak akan menganalisis pertandingan ini dari aspek teknis persepakbolaan, karena saya memang tidak memiliki kapasitas untuk melakukannya. Namun, yang saya rasakan adalah, betapa agresivitas yang cenderung dibarengi dengan emosional karena besarnya nafsu mengalahkan lawan, justru menjadi blunder dalam pertandingan yang berlangsung 2 x 45 menit ini

Pelatih Barcelona, Ernesto Valverde,.rupanya jeli mencermati besarnya nafsu Real Madrid asuhan pelatih Zinedine Zidane yang bermain garesif sejak awal pertandingan. Ia memilih tidak meladeni agresivitas permainan Real Madrid dan memilih meminta pasukan Barca untuk sabar namun terukur. Ini dilakukan dengan menerapkan strategi memperkuat barisan pertahanan dan displin di zona masing-masing. Sesekali serangan balik pun dilakukan  begitu ada peluang dan memanfaatkan kelengahan barisan pertahanan Real Madrid.

Stretegi ini cukup makjosss dan membuat Cristiano Ronaldo dkk frustasi. Hasil manis yang dipetik dari kesabaran yang terukur ini adalah tiga gol yang dicetak pada babak kedua dan mengukuhkan Barcelona menjadi lebih unggul ketimbang Real Madrid. Real Madrid yang sepanjang pertandingan tampil agresif-emosional ternyata tidak mampu memasukkan satu gol pun ke gawang Barcelona. Sebaliknya, kesabaran, displin, dan terukur yang dilakukan Baercelona justru memetik buah manis dengan kemenangan 3-0 atas Real Madrid. 

Hikmah dan pesan moral yang bisa diambil: kalau ingin sukses dalam banyak hal, sabar, disiplin, dan tindakan yang terukur adalah kuncinya. (*)


Gresik, 24 Desember 2017   

      

Thursday, December 21, 2017

Pak Zayyin dan Dakwah yang Tak Pernah Putus





Saya dan Pak Zayyin ketika menjalani rawat inap di Rumah Sakit Semen Gresik.
Nama lengkapnya Muzayyin Syarifuddin Imam. Tapi, saya biasa menyapanya Pak Zayyin. Sementara orang lain ada yang suka memanggilnya Ustad Muzayyin. Ada pula yang senang dengan sapaan Abah Muzayyin. Juga tidak sedikit yang menyapanya Yai atau Kiyai Haji Muzayyian.  Dan, dia tidak pernah mempermasalahkan aneka sapaan atau panggilan yang ditujukan kepadanya. Asal komunikatif, oke sajalah.

Monday, December 4, 2017

Di Antara Sahabat Hebat


Saya, Mas Suharyo, Mas Tom, dan Mas Yusron, setelah mengecek perseiapan lokasi seminar.
Aura kehebatan para sahabat saya begitu jelas terpancar dari wajah dan sorot mata mereka.  Sesuai janji yang kami sepakati, Jumat (1/12/2017) malam kami bertemu di gedung Wahana Ekspresi Poesponegoro (WEP). Di gedung yang berlokasi di Jl. Jaksa Agung Suprapto, Gresik ini, kami bertemu dengan tiga sahabat saya: Mas Yusron Aminulloh, Mas Suharyo, dan Mas Teguh Wahyu Utomo yang biasa saya sapa Mas Tom.

Blog Archive