Blog

Blog

Sunday, August 27, 2017

Growth with Sinergy

Jajaran Majelis Dikdasmen PCM Kebomas-GKB memperkuat sinergi untuk mengambangkan pendidikan.
Sekuat apa pun sebuah lembaga atau institusi, tanpa menjalin sinergi dengan pihak lain dan memilih diam di zona nyaman, cepat atau lambat pesatnya perkembangan informasi dan kuatnya persaingan akan menggerus dan menjerembabkannya pada posisi terendah.


Ini kesimpulan sepihak yang saya tangkap setelah mengikuti presentasi Ketua Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gresik Kota Baru (GKB), Nanang Sutedja di aula SMP Muhammadiyah 4 Kebomas, Gresik, Sabtu (26/8/2017). Di aula yang terletak di lantai dua itu, memang lagi ada pertemuan para pengurus Majelis Dikdasmen GKB dan Kebomas.

Pertemuan antar-Majelis Dikdasmen yang juga menghadirkan para kepala sekolah dan seluruh guru di jajaran Majelis Dikdasmen PCM Kebomas ini diisi dengan presentasi Ketua Majelis Dikdasmen PCM GKB yang banyak memberikan motivasi dan langkah-langkah strategis dalam mengelola dan mengembangkan lembaga pendidikan.

Growth with Sinergy. Ini tema yang diangkat oleh Pak Nanang dalam presentasinya. Sebagai bagian dari Majelis Dikdasmen Kebomas, saya merasa banyak menerima masukan, terutama terkait manajemen pengembangan sekolah. Dan, hal penting yang mesti mendapat perhatian khusus, kata Pak Nanang, adalah customer.

Customer, lanjut Pak Nanang, bisa calon murid dan wali muridnya, lembaga-lembaga pendidikan lain calon pemasok murid baru, sekolah “pesaing”, lembaga pemerintah terkait pendidikan dan stake holder lainnya.

“Kepala sekolah dan jajarannya harus bisa memetakan dan harus terus up date banyak hal untuk kepentingan pengembangan pengelolaan sekolah. Jangan merasa tenang-tenang saja di zona nyaman. Ini yang menghambat kemajuan. Tantangan kita makin lama makin berat dan itu harus diantisipasi,” katanya memompakan motivasi.

Ya, saya sepakat, sesekali kita memang harus keluar dari zona nyaman dan bersikap out of the box dalam menghadapi suatu masalah, tak terkecuali dalam mengelola lembaga pendidikan. Karena itu, butuh kreativitas dan gesit dalam mengantisipasi masalah. Deteksi dini terhadap signal apa pun yang berpotensi mengancam atau memperkuat positioning lembaga pendidikan harus dilakukan.

Ungkapan klasik “Biar lambat asal selamat” tidak bisa dipertahankan kalau ingin menjadi sekolah yang kompetitif, karena tuntutan “pasar” menghendaki adanya akselerasi dalam banyak hal. Sebaliknya, terus berubah dan berkembang dengan cepat merupakan keniscayaan yang mesti dipegang teguh.

Karena itu, berpikir dan bertindak kreatif merupakan hal yang mesti dilakukan oleh pengelola sekolah untuk bisa melahirkan lulusan atau out put pendidikan yang maksimal dan berdaya saing tinggi. Untuk makusd tersebut, sinergi atau kolaborasi dengan banyak pihak perlu terus dilakukan. Yang kuat membantu yang lemah. Yang lemah perlu belajar dan menggandeng yang kuat atau selevel untuk menjadikan dirinya lebih baik dari kondisi sebelumnya. Pada akhirnya, sinergi akan menjadi kekuatan bersama untuk mengembangkan pengelolaan lembaga pendidikan atau sekolah secara maksimal. (*)


Gresik, 27 Agustus 2017

No comments:

Post a Comment

Blog Archive