Blog

Blog

Wednesday, April 12, 2017

Ngaji Sastra kepada Yai Zawawi Imron


“Ini akan terasa pahit dan menyakitkan. Tapi ini bagus untuk mengasah dan mengembangkan diri. Jangan merasa nyaman dengan pujian atau sanjungan, karena itu bisa jadi perangkap yang akan membuat kita stagnan dalam berkarya.”


Bersama Yai Zawawi di Terminal Bungurasih, disaksikan sang istri..
Ini pelajaran pertama yang saya dapatkan dari KH D. Zawawi Imron dalam dialog khusus di ruang tunggu penumpang terminal Purabaya (Bungurasih) Surabaya, Sabtu, 11 Maret 2017 lalu. Sambil membuka lembar demi lembar print out  bakal buku “JEJAK SUNYI Sang Mualaf” yang saya sodorkan, Yai Zawawi, demikian saya menyapanya, memang tengah mblejeti beberapa tulisan saya, terutama pada genre puisi.

Dan, pelajaran berharga yang kali pertama saya serap adalah bagaimana saya mesti menyiapkan diri dan memiliki  pertahanan diri yang prima ketika menerima kritik atau masukan konstruktif demi mengasah diri dan mengembangkan kemampuan bersastra. Tidak patah arang ketika dikritik adalah kunci memperkuat barikade pertahanan. Sebaliknya, kritik; sepedas dan sepahit apa pun, mesti disikapi sebagai bumbu yang justru membuat sedap masakan, atau jamu yang bikin tubuh  kita sehat dan bugar.

Di sisi lain, lanjut Yai Zawawi, jangan merasa cepat puas dengan sanjungan atau pujian. Sebab, jika tidak disikapi secara arif, sanjungan atau pujian tak jarang justru membuat kita terlena dan menyandera diri dari peluang kemajuan. Meski demikian, respon positif itu juga diperlukan sebagai stimulasi dan penyemangat untuk terus berkarya dan berkembang.

Sabtu pagi itu, saya memang mengikat janji dengan Yai Zawawi setelah sebelumnya kami sepakati via telepon,  terkait dengan rencana penerbitan buku saya. Lewat sambungan seluler, sebelumnya saya menyampaikan permohonan agar penyair/sastrawan yang juga mubaligh ini berkenan memberikan endorsement atas buku saya yang akan terbit.  Respon via telepon yang ia sampaikan memang tidak secara tegas meng-ya-kan atau menolak. Saya diminta menyiapkan print out bakal buku untuk dipelajari dulu sebelum menjawab permohonan saya.

Kami pun sepakat bertemu Sabtu pagi, 11 Maret 2017 di Surabaya di titik lokasi yang ditentukan kemudian. Sambil membawa print out bakal buku, pagi itu saya pun melaju dari rumah saya di Gresik menuju Surabaya.  Sesampai di kawasan Jogoloyo, tepatnya di depan gerbang Pusdik Marinir Gunungsari, saya kembali menghubungi Yai Zawawi by phone untuk memastikan di mana saya harus menemuinya.

“Sampean langsung ke stasiun Wonokromo ya. Kita ketemu dan ngobrol-ngobrol dulu di sana, karena saya akan ke Bojonegoro,” kata Yai Zawawi lewat telepon genggamnya.

Nggih. Yai. Saya langsung ke sana,” jawab saya tanpa menawar sedikit pun.

Waktu menunjukkan pukul 09.20 WIB. Perkiraan saya, untuk sampai stasiun itu, waktu yang saya butuhkan sekitar 20 hingga 25 menit dari Gunungsari.  Bersama istri dan anak bungsu kami, Alya Nur Mufidah, kami pun melaju ke stasiun Wonokromo.  Dan benar, pukul 09.46 kami pun sampai di area stasiun tersebut.

Begitu memasuki gerbang parkir di sisi utara stasiun, sekelebat saya melihat sosok yang saya kagumi. Beberapa detik mata saya tertahan untuk memastikan siapa gerangan yang lagi di hadapan saya. Sejenak hampir tak percaya kalau sosok yang hanya berjarak sekitar tiga meter itu adalah pria sepuh yang lebih dari 30 tahun tak bersua. Ya, sosok itu ternyata Yai Zawawi yang lama saya kengeni. Saya tak sempat menyapa ketika memasuki gerbang parkir, karena situasi lagi ramai dan saya pun memilih langsung masuk area parkir.

Setelah memarkir motor dan hendak menuju stasiun, saya kembali melewati pintu masuk parkir. Dan, ternyata pria berpeci hitam dan di tangan kanannya memegang teken itu ternyata yang tengah saya cari. Subhanallah … sepertinya tidak ada yang berubah dari tampilan fisiknya sebagaimana saya temui lebih dari 30 tahun silam. Saya masih menjumpai sosok Yai Zawawi yang energik dan cekatan meski di tangan kanannya tergenggam tongkat (Jawa: teken) untuk membantu ketika berjalan.

Tidak banyak waktu yang kami habiskan di pintu gerbang parkir itu. Setelah uluk salam dan berjabat tangan, kami pun menuju loket penjualan tiket yang berjarak sekitar 50 meter dari gerbang parkir. Begitu memasuki area penjualan tiket yang sekaligus gerbang memasuki stasiun, saya menuju loket dan menanyakan ke petugas, apakah masih ada tiket jurusan Bojonegoro? Sementara Yai Zawawi menunggu tak jauh dari posisi saya, hanya sekitar tiga meter..

“Yang duduk sudah habis, Pak. Kalau mau berdiri masih bisa. Mau?” kata perempuan dalam ruang penjualan tiket.

Saya bergeser mendekati Yai Zawawi untuk menginformasikan, bahwa tiket sudah habis. Ketika saya sampaikan apakah mau berdiri –seperti tawaran petugas tiket--, dengan cepat dia menolaknya dan mengajak saya ke terminal Bungurasih. Dan, bus adalah pilihan alternatif menuju Bojonegoro setelah tiket kereta api habis.

“Kita ke Bungurasih saja, Mas. Naik bus saja,” ujarnya.

Kami pun keluar dari area parkir menuju terminal Bungurasih. Yai Zawawi dibonceng oleh seorang pemuda (belakangan saya ketahui merupakan cucu sahabatnya di kampung Pulo Wonokromo). Sementara saya membonceng istri dan anak bungsu kami. Tak ada hambatan selama perjalanan karena arus lalu lintas sangat lancar, meski padat.

Sesampai di terminal Bungurasih, seusai memarkir motor, kami menuju ruang tunggu penumpang bus jurusan luar kota. Di antara kursi yang tertata rapi, kami memilih deretan yang relatif sepi dengan harapan bisa ngobrol tanpa terganggu bising calon penumpang lain. Inilah kesempatan pertama saya berbincang secara langsung dengan suasana gayeng dengannya. Ketika mahasiswa, beberapa kali saya memang mengikuti seminar sastra yang menghadirkan Yai Zawawi sebagai pembicara. Namun dalam beberapa pertemuan itu, sekali pun saya belum pernah berkesempatan berbicara intens dengannya, kecuali hanya bertegur sapa.     

     
Kata yang Menggetarkan 
Begitu duduk berdampingan, tanpa basa basi, saya langsung merogoh tas dan mengeluarkan print out bakal buku yang telah saya jilid dan saya serahkan kepada Yai Zawawi. Sambil membuka-buka lembar demi lembar print out itu, dia bilang:

“Saya minta waktu ya untuk baca-baca dulu. Saya belum bisa pastikan apakah saya akan kasih catatan atau endorsement nantinya atau tidak. Saya lihat dulu, apakah memang layak saya beri catatan. Saya tidak mau lakukan kalau memang menurut saya tidak layak. Saya tidak mau tipu-tipu dengan mengorbankan reputasi saya,” katanya dengan intonasi dan artikulasi yang tegas.

Mak dheg. Saya merasa seperti kena pukulan mendadak dan sontak membuat saya bengong beberapa saat. Apa yang baru saja disampaikan itu di luar perkiraan saya. Saya tidak mengira bakal mendengar ucapan tersebut. Saya sempat berpikir, jangan-jangan naskah saya kelak dinyatakan tidak layak untuk dikomentari atau diberikan catatan ringan oleh penyair/sastrawan sekaliber Yai Zawawi yang namanya dikenal di mana-mana. Perasaan grogi sempat menggelayuti pikiran. Tetapi, ini berlangsung hanya beberapa detik dan selanjutnya saya merasa pede aja.

“Saya senang, di usia yang sudah tidak muda, Sampean masih mau belajar, khususnya sastra. Saya mau membimbing kalau Sampean mau,” katanya seraya membaca dan mengamati beberapa puisi saya di print out bakal buku yang ia pegang,

Plong. Saya merasa terhibur dan lega. Pikir saya, ini peluang untuk bisa lebih banyak menimba ilmu dan pengalaman dalam bersastra dari ahlinya. Dalam hati saya pun merasa girang dan siap menjadi murid abadinya. Setelah mendapat pukulan mendadak, kini saya merasa mendapat kesempatan untuk belajar berkarya di bidang sastra, khususnya puisi.

Di jagad sastra Indonesia, nama D. Zawawi Imron merupakan satu dari sedikit penyair yang sudah sepuh, namun tetap produktif. Sejumlah karya puisinya juga telah mendapat penghargaan baik di skala nasional maupun internasional. Itulah sebabnya, saya merasa mendapat siraman air emas begitu (tanpa saya minta) dia menyatakan siap membimbing saya dalam berpuisi.  

Ia pun kembali memotivasi agar saya tidak cepat merasa puas dengan apa yang saya capai. Saya juga diminta tidak gampang patah arang atau menyerah jika menerima kritik atas karya yang lahir dari pikiran dan tangan saya. Kritik, kata Yai Zawawi Imron, memang sering terasa pahit dan menyakitkan jika kita tidak siap menerimanya. Karena itu, diperlukan mental baja untuk bisa berkembang.

Seperti lazim disampaikan guru kepada muridnya, Yai Zawawi tidak saja memberikan kritik dan masukan atas karya saya. Ia pun memberikan kata kunci untuk menghasilkan puisi yang bagus dan diperhitungkan.Apa itu?
“Dalam membuat puisi, kita harus bisa menghadirkan kata yang menggetarkan. Kalau tidak, puisi kita akan hampa, tidak punya roh dan kekuatan,” ujarnya.

Kata yang ‘menggetarkan’. Ya, ‘menggetarkan’. Kata ini saya garis bawahi di pikiran sebagai bekal dan saya jadikan pilar utama dalam bangunan kokoh bernama puisi. Saya berharap, suntikan semangat ini menjadikan ghirah menulis saya kian berkobar dan mampu mengasah, serta mengembangkan kemampuan saya, khususnya untuk menghasilkan karya puisi. Pada gilirannya, saya berharap bisa memberikan kontribusi positif dalam pengemgangan literasi, khususnya menulis kepada generasi berikutnya.                      

Tiga pekan berselang. Setelah “nyantri kilat” sekitar satu jam di terminal Bungurasih, saya sempat terpasung dalam perasaan harap-harap cemas, apakah Yai Zawawi berkenan memberikan endorsement atau justru menolaknya karena dinilai tidak layak. Ada perasaan rikuh untuk menanyakan apalagi menagihnya. Karena tak kuasa membendung rasa keingintahuan, saya pun memberanikan diri untuk menayanyakan via WA.

Assalamu ‘alaikum, Yai. Apa Njenengan berkenan memberikan endorsement untuk buku saya? Saya tunggu nggih Yai, karena semua bahan sudah masuk ke penerbit,” tulis saya.

Ada perasaan bersalah begitu pesan via WA tersebut saya kirim. Saya merasa kok gak duwe duga dan kurang sopan karena telah mengejar-ngejar dan terkesan menarget atau men-dead line penyair sekaliber Yai Zawawi. Ngapunten, Yai.

Sehari setelah pesan WA saya kirim, saya pun menerima pesan –juga via WA—yang ternyata berisi catatan kesan atau endorsement Yai Zawawi atas naskah bakal buku saya: JEJAK SUNYI Sang Mualaf. Tanpa berpikir panjang, catatan ringan tersebut saya susulkan ke penerbit untuk melengkapi endorsement lainnya.     
Inilah endorsement yang diberikan Yai Zawawi untuk calon buku saya:

Sebagai orang yang pernah aktif dalam dunia kewartawanan, Suhartoko ingin mencari kesejukan bersama Sang Pencipta. Pengalaman religiusnya ia tulis dan buah dari renungannya dirangkum dalam buku ini. Renungan-renungan pencarian makna hidup akan selalu dilakukan manusia  ketika merasakan dahaga rohani. Membaca buku ini, kita seperti melakukan tamasya batin, lewat pengalaman penulisnya.

Terima kasih, Ya Allah. Telah Engkau pertemukan aku dengan hamba-Mu, KH D. Zawawi Imron, yang telah banyak memberikan ilmu dan semangat untuk berkarya dalam amal kebajikan. Semoga kelak menjadi jariyah yang terus mengalir untuknya. (*)


Gresik, 12 April 2017




No comments:

Post a Comment

Blog Archive