Blog

Blog

Thursday, December 31, 2015

Puncak Ijen, Ngos-ngosan, dan Robbil A’la

  
Malam itu, udara di kawasan pantai kota Banyuwangi terasa cukup dingin. Ditingakahi sapuan angin yang cukup kencang, membuat sekujur tubuh seakan mengkerut karenanya. Meski kaki agak berat melangkah, toh saya harus meninggalkan kamar hotel Ketapang Indah yang hanya satu setengah jam saya singgahi, sekadar untuk istirahat. Saya harus bergabung dengan tiga puluhan kawan seperusahaan yang tengah mengikuti tour  ke puncak Ijen, 29 November 2015.

Sesuai kesepakatan, pukul 24.00 WIB kami harus bersiap melakukan perjalanan ke puncak Ijen. Mengapa mesti dini hari? Ya, harapan kami, bisa menyaksikan eksotiknya pendaran blue fire yang muncul dari kawah Ijen. Ya, api biru alias blue fire adalah target yang kami buru, hehe. Konon, blue fire hanya bisa dinikmati mata telanjang hingga pukul 03.30. Selebihnya menghilang seiring dengan kian terangnya cuaca menjelang fajar hingga terbit matahari.


Tidak semua peserta tour mengikuti program pendakian ke puncak Ijen yang berlokasi di dua wilayah kabupaten, yakni Kec. Licin, Kab. Banyuwangi dan Kec. Klobang, Kab. Bondowoso, Jawa Timur ini. Dari  46 orang peserta tour,  hanya 30-an yang ikut program ini. Selebihnya memilih tetap tinggal di hotel, tentu dengan berbagai pertimbangan.

Setelah memberesi semua perlengkapan dan memastikan tidak ada peserta yang kancrit, pukul 24.27 satu per satu dari delapan mobil Trooper yang siap mengantar kami ke kawasan puncak Ijen, meninggalkan hotel  di pinggir pantai ini. Selain peserta dari kawan-kawan seperusahaan, yakni PT Puspa Agro, kami ditemani tiga orang pemandu wisata.

Meski  tanpa AC dan tubuh telah terbungkus jaket dan topi penutup kepala, rasa dingin terasa benar selama perjalanan.  Ketika melintasi kawasan perkotaan, laju mobil bisa lumayan kecang dengan kecepatan 60-70 Km/jam. Tetapi, begitu meninggalkan perkotaan dan sampai di kawasan pegunungan, laju kendaraan hanya berada pada kisaran 30-50 Km/jam. Maklum, jalanan yang penuh tanjakan dan tikungan tajam membuat mobil lebih dipaksa mengeluarkan tenaga ekstra ketimbang kecepatan.

Tepat pukul 01.50 konvoi delapan mobil yang kesemuanya jenis Trooper itu berhenti. Puluhan mobil dan motor tampak parkir di tanah lapang ini. Ya, inilah lokasi yang dikenal dengan nama pos Paltuding. Dari sinilah para “pemburu” keelokan kawah Ijen mengawali pendakian dengan berjalan kaki, termasuk kami. Tidak terlalu jauh untuk mencapai puncak dan kawah Ijen dari pos Paltuding, cuma 3 Km.

Setelah membeli sejumlah makanan kecil dan minuman di warung Paltuding --sebagai bekal dalam perjalanan--, kami pun memulai pendakian. Kami terbagi dalam tiga kelompok yang masing-masing ditemani seorang pemandu wisata. Meski jarak pos Paltuding ke puncak/kawah Ijen hanya 3 Km, waktu tempuhnya lumayan panjang, dua jam lebih.

Seperti para pendaki lainnya, di kilometer pertama, saya merasakan langkah kaki dan nafas masih biasa-biasa saja, meski sesekali  harus berhenti untuk “mencuri nafas” di tengah aroma belerang yang mulai menusuk hidung. Keringat pun mulai membasahi sekujur tubuh, menghalau dingin yang sebelumnya menbelit tubuh.

Memasuki kilometer kedua, di jalanan yang cenderung menanjak dengan kemiringan rata-rata 25-30 derajat –bahkan di beberapa ruas jalan ada yang lebih terjal—saya baru merasakan langkah kaki mulai berat dan nafas juga ngos-ngosan. Di etape ini, saya kerap menghentikan langkah untuk mengambil nafas dan menghimpun energi sebelum melanjutkan perjalanan. Posisi istirahat ini kadang berdiri dan bersandar di tebing. Kadang duduk di pohon kering yang tergeletak di pinggir jalan yang banyak terdapat jurang curam itu.

Sementara aliran keringat makin deras dan bikin kaos dalam basah kuyup. Tenggorokan juga terasa kering dan lengket, sehingga berkali-kali harus meneguk air dalam kemasan yang tersimpan di saku jaket. Bintang-gemintang seakan mengikuti dan menyaksikan bagaimana langkah-langkah saya yang mulai gontai. Sesekali pendar rembulan mengintip dari balik bukit dan memperjelas bagaimana keringat saya yang makin gemobyos.   

Beberapa teman memutuskan balik kanan. Mereka tak meneruskan perjalanan hingga puncak Ijen, tetapi kembali turun ke pos Paltuding, karena merasa kelelahan. Tetapi, saya memilih terus melangkah hingga puncak dengan sisa-sisa tenaga dan nafas yang makin berat dan terasa sesak di dada. Saya terus memotivasi diri saya sendiri, bahwa saya pasti mampu meneruskan “ekspedisi” ini hingga puncak dan menyaksikan blue fire serta keelokan kawah Ijen dengan para penambang belerangnya.

Dan benar, dengan sisa-sisa tenaga dan langkah yang tak lagi beraturan saya pun sampai di puncak Ijen pukul 03.20. Spontan mata saya menyapu sekeliling lokasi: mulai tebing, jurang yang curam, asap belerang, kabut, juga bintang-gemintang yang sejak di lembah seakan mengikuti perjalanan saya dan pendaki lainnya.

Sayang, saya dan rombongan tidak bisa menyaksikan blue fire yang biasanya berpendar dari kawah Ijen, karena tebalnya kabut yang menutup kawah bersama asap belerang. Kencangnya angin di kawasan puncak dengan ketinggian 2.387 dpl ini dalam sekejap mengikis kucuran keringat yang sebelumnya membahasi tubuh dan berbalik jadi sangat dingin, karena suhu saat itu di bawah 10 derajat celcius. Sengatan khas bau belerang yang keluar dari kawah, memberikan kesan mendalam yang tak terlupakan. Terbayar sudah rasa lelah di sekujur tubuh dan nafas yang ngos-ngosan setelah mencapai puncak Ijen. Waowww …Subhanalloh!


Dua Pelajaran Berharga 
Setelah beberapa saat menikmati keindahan kawah Ijen dan tebaran bukit yang menjorok ke langit, serta tebing-tebing terjal di sekitar puncak, saya gelar sajadah untuk menunaikan salat Subuh. Cukup sulit mencari area datar untuk sekadar menggelar sajadah, hingga akhirnya sampai juga di titik yang  saya cari. Meski tidak rata benar –karena agak miring—saya pun menggelar sajadah untuk salat Subuh. Tidak ada air untuk berwudlu, sehingga harus tayamum.

Selama perjalanan pendakian, saya mendapat dua pelajaran berharga sekaligus. Pelajaran pertama, ketika nafas ngos-ngosan dan kaki terasa berat melangkah, saya merasa bahwa saya sudah tidak muda lagi alias masuk kategori tua. Vonis ini tentu bukan tanpa alasan. Selain usia yang memasuki tahun ke 50, secara fisik kondisi saya sudah jauh menurun, baik dari aspek kekuatan maupun kecepatan.

Saya jadi ingat ketika usia masih di bawah 30 tahun, apalagi ketika masih SMA hingga kuliah yang getol sepak bola dan olah raga lainnya. Saya membayangkan, di usia tersebut tentu pendakian ke puncak Ijen yang hanya tiga kilometer itu, tentu hal yang bisa saya lakukan dengan enteng. Tetapi, waktu memang tak bisa diputar mundur dan itulah yang saya alami dan rasakan ketika naik ke puncak Ijen.

Saya merasa sudah tua. Saya merasa tulang-tulang saya tak kokoh lagi untuk bisa menahan beban tubuh yang berat. Saya merasa kehilangan kecepatan dalam menapaki langkah demi langkah. Saya merasa nafas saya sudah jauh berkurang sehingga ngos-ngosan selama perjalanan. Ini kondisi yang jauh berbeda dengan ketika masih muda, ketika masih belasan tahun.

Dalam kondisi inilah saya merasa kecil. Saya merasa ringkih dan tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan keperkasaan pencipta saya, Allah SWT. Saya merasa berada di titik nadir kehidupan dan makin dekat dengan kematian. Karena itu, di sepanjang perjalanan yang gontai, dalam hati saya memohon pada Allah, Tuhan yang rahman, agar diberi kesempatan hidup dan berbenah diri, serta bisa secara maksimal melakukan kebajikan untuk sesama.

Pelajaran kedua, ketika di sepanjang perjalanan saya bisa menyaksikan bintang-gemintang yang terus menyalurkan sinar indahnya (karena kondisi pegunungan yang gelap), saya merasa rendah di hadapan-Nya. Ketika saya berada di jalur lereng gunung atau lembah dan belum seberapa tinggi, saya mengira akan menyaksikan bintang dalam jarak yang lebih dekat begitu sampai pada ketinggian bukit. Eh, ternyata dugaan saya salah! Saya merasa, jarak saya dengan bintang-gemintang yang seakan mengikuti perjalanan saya, tetap sama, baik ketika berada di lereng atau lembah maupun di ketinggian bukit, bahkan di puncak gunung sekalipun.

Bintang-gemintang itu tetap saja jauh lebih tinggi dibanding posisi keberadaan saya. Saya lalu berpikir, bintang-gemintang saja begitu tingginya dan terus kelihatan lebih tinggi meski saya sudah berada di tempat yang tinggi. Apalagi kekuasaan penciptanya? Duh Gusti, di hadapan-Mu saya merasa rendah dan hina, karena dengan sesama makhluk-Mu saja, saya masih begitu rendah. Subhana robbiyal a’la, Yaa Robbal ‘aalamiin.


Banyuwangi-Sidoarjo, 30 November 2015
    
          


      

No comments:

Post a Comment

Blog Archive