Blog

Blog

Wednesday, February 4, 2015

Kangen Literasi


Kalau kangen sudah menggumpal, cuma satu kata sakti yang bisa mencairkannya: bertemu! Demikianlah kangen saya kepada kadang seperguran yang jurnalis juga pegiat dan penggerak literasi ini, Abdur “Roy” Rohman. Dan, benar, bongkahan kangen itu benar-benar cair begitu kami bertemu dan ngobrol gayeng dengan topik yang "sesuatu banget".

Senin, 2 Februari 2015 pagi kemarin saya punya hajat menuju restoran Agis yang lokasinya di seberang masjid Al Akbar Surabaya. Saya mau survey lokasi untuk tempat cangkrukan dengan 22 wartawan Pokja ekonomi-bisnis (Ekbis) dari berbagai media massa --baik lokal maupun nasional-- untuk diskusi rutin dengan jajaran direksi perusahaan tempat saya bekerja, yakni PT Puspa Agro. Rencana, cangkrukan kami helat, Selasa Februari siang ini.

Di perjalanan, entah ingatan saya terbetot oleh sosok “priyayi” yang tenang menyejukkan. Dan, dalam hitungan detik rasa kangen pun menyembul mengaliri rasa dan pikiran saya. Di tengah perjalanan saya pun SMS sahabat saya itu dan menanyakan apakah sedang di rumah. Kalau di rumah, saya akan mampir Belam semenit, respon pun datang dan dia menjawab, "Ya, nok omah. Monggo mampir."

Seperti mendapat siraman air emas, keinginan bertemu pun bersambut. Saya pacu motor butut yang saya tumpangi langsung menuju rumahnya di kawasan Jambangan, Surabaya. Meski sempat dua kali salah masuk gerbang perumahannya (karena lupa), akhirnya saya temukan rumah nan sejuk itu. Saya sempat clingukan memastikan apa ini rumah yang saya cari, hingga akhirnya dikagetkan oleh suara dari si empunya rumah.

"Hoe, iki loh. Duduk iku," katanya begitu menyaksikan saya clingukan dan akan memasuki rumah tetangganya.

"Masuk, Cak," kata si empunya rumah menyilakan.

Saya tak hanya memberikan isyarat mengiyakan. Setelah menjagang motor, saya memasuki rumah itu.

"Sepi. Anak-anak pada sekolah. Ibu'e barusan berangkat," katanya membuka obrolan.

Sejurus kemudian, dia melangkah ke ruang tengah. Sebaki telo (umbi) rebus kuning dia bawa dan langsung mendarat di meja, tepat di depan saya.

"Onoke mek telo thok, Cak," ujarnya.

Lagi-lagi saya tak merespon. Tapi, dalam hati, saya bergumam, "Wah, ini senenganku. Makanan khas non kolesterol."

Sambil ngobrol gayeng, saya sambar telo rebus dan langsung mak hleb, masuk mulut dan bablas ke kerongkongan. Dipadu dengan air mineral di gelas yg tersedia, telo rebus itu pun jadi menu yang mak nyusss di lidah dan tenggorokan.

Agak lama kami tidak bertemu. Ya, sekitar tiga bulanan. Dan, saya lihat ada perubahan yang mencolok. Postur tubuh kadang satu ini jadi lebih dempal dan tampak kekar, rambut cepak lagi. Persis prajurit Batalyon 516 di Kodam V/Brawijaya. Namun satu hal yang tak berubah, gaya bicaranya tetap lembut, tak pernah meledak-ledak.

Hampir satu jam saya silaturrahim di rumah ini. saya pun pamit hendak menuju restoran Agis. Sebelumnya saya sempat BBM kadang seperguruan yang lain, yakni Much. Khoiri. Isinya sekadar tanya kabar dan posisinya lagi di mana. Ternyata sahabat yang dosen Unesa dan sudah memasuki fase lemu ginuk-ginuk ini lagi otw (perjalanan) menuju studio SAS FM di kompleks masjid Al Akbar.

"Lha, ulo marani gepuk iki jenenge," pikir saya.

Dia ada program siaran di radio itu untuk bedah buku terbarunya, ‘Rahasia TOP Menulis’. Saya pun merespon balik BBM-nya. "Oke, nanti tak ampiri. Kebetulan aku mau ke restoran Agis," tulis saya via BBM.

Setelah menghabiskan sisa air di gelas, saya pun pamit ke si empunya rumah menuju restoran Agis di Jl. Wisma Pagesangan, Surabaya.

"Pean dhisiko. Enkok aku nyusul ke studio," katanya seraya melepas kepergian saya.

Saya lalu memacu motor menuju restoran Agis. Sekitar 10 menit saya pun sampe di restoran itu. Setelah menyelesaikan urusan dan membayar DP (down payment), saya pun menuju studio SAS FM yang berlokasi di ruang basmen kawasan masjid Al Akbar. Begitu memasuki ruang tamu, dari ruang kaca saya melihat kadang yang saya cari tengah ber-cas-cis-cus, ngobrol dengan penyiar radio tersebut, termasuk menjawab pertanyaan dari sejumlah pendengar. Di ruang tunggu ini saya bias mendengar siaran ini dengan jelas. Kelihatan sekali maqom dan kemampuan dia dari aspek keilmuan dan praksis yang sangat mumpuni. Terlihat dari tekstur bicaranya yang tenang, lancar, dan mencerahkan seputar dunia literasi.

Saat jedah iklan, saya melambaikan tangan dan langsung dia balas dari ruang kaca itu. Dia memang tidak bisa keluar ruang sebelum program acara tuntas pukul 11.00 WIB. Setelah program siaran usai, dia pun keluar menemui saya. Jabat erat tangan kami seakan merontokkan gumpalan kangen yang melekat di telapak tangan kami. Tak seberapa lama, kadang yang tadi janji menyusul pun datang. Suasana jadi tambah gayeng.

Merasa sungkan sama para crew radio, kami pun minta diri untuk meninggalkan studio. Pilihan kami langsung menuju kantin yang berjarak sekitar 25 langkah dari studio itu. Jadilah pertemuan segitiga kadang seperguruan di kantin itu. Kami sama-sama alumni IKIP Surabaya (sekarang Universitas Negeri Surabaya/Unesa) Sambil nyruput teh manis, kopi susu, dan camilan, kami ngobrol dan menggagas pengembangan literasi, di antaranya untuk para santri di pondok pesantren (ponpes).

Kami pun sampai pada kesimpulan, ayo melangkah dan memberikan jariyah literasi. Cuma sekitar setengah jam kami bertemu, gak pakek lama. Kami akan kembali ke “lading” masing-masing. Saya meneruskan perjalanan ke kantor di kawasan Taman, Sidoarjo, kadang Abdur 'Roy' Rohman yang redaktur Harian DUTA Masyarakat itu kembali ke rumah di Jambangan karena mertuanya datang, dan Much. Khoiri yang biasa saya sapa Kang Emcho ke kampus Unesa di Ketintang karena ada beberapa agenda yang mesti dilakukan. Alhamdulillah, telah Kau pertemukan saya dengan dua kadang, sahabat, dan saudaraku. Smoga berkah!


Surabaya, 3 Februari 2015


No comments:

Post a Comment

Blog Archive