Blog

Blog

Sunday, December 14, 2014

Luberan Energi Literasi



Oleh SUHARTOKO

Pembacaan 'Risalah' oleh mahasiswa PPPG
Menyerap luberan energi positif dari para praktisi, pegiat, dan penggerak literasi. Inilah salah satu pertimbangan saya menghadiri undangan Direktur PPPG Unesa Prof Dr Luthfiyah Nurlaela MPd pada talk show literasi bertema “Gerakan Literasi Pendidikan menuju Indonesia Maju”  di gedung Wiyata Mandala Unesa, kampus Lidah Wetan, Sabtu, 13 Desember 2014. Karena itu, begitu mbak Ela, demikian saya biasa menyapa sang direktur PPPG Unesa, mengirim SMS  yang mengharap saya bisa hadir di acara yang digelar di hall lantai 9 gedung itu, saya langsung merespon, "Insya Alloh, saya usahakan datang, Mbak."

Saya niati hadir --setelah menerima undangan-- karena dari informasi sebelumnya di milis group Ganesa, sejumlah praktisi, pegiat, dan penggerak literasi akan tumplek bleg di acara itu. Nama-nama beken di bidang literasi (setidaknya menurut takaran persepsi saya) seperti Prof Budi Darma, sastrawan dan guru besar Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dukut Imam Widodo, Sirikit Syah, Satria Dharma, juga mbak Ela, adalah figur yang hingga kini eksis di dunia tulis-menulis.


Saya berharap, berjumpa dan berdialog dengan mereka akan membangkitkan ghirah menulis saya, yang kadang-kadang surut karena “tergerus” oleh rutinitas pekerjaan di perusahaan dan aktivitas lainnya. Kehadiran saya di forum ini setidaknya bisa membuka peluang untuk menampung luberan energi positif mereka. Ini yang selalu saya patrikan dalam dinding batin dan pikiran saya ketika menghadiri atau berjumpa dengan para praktisi, pegiat, dan penggerak literasi di berbagai forum yang saya ikuti.

Pertimbangan lain mengapa saya menghadiri talk show literasi tersebut adalah, spirit silaturrahim yang memang tengah saya kembangkan pada diri saya. Seperti pesan Kanjeng Nabi Muhammad, Rasululloh, silaturrahim bisa menjadi sarana memerpanjang usia dan memperbanyak rezeki. Maka, saya niatkan pula kehadiran saya --yang juga mengajak istri dan si bungsu Alya Nur Mufidah-- menjumpai sejumlah sahabat yang hadir juga dalam acara ini.

Di antaranya, Much. Khoiri, dosen Unesa yang juga penggerak literasi, Nur Wahid, Pemimpin Redaksi (Pemred) Jawa Pos yang juga kedapuk sebagai nara sumber talk show bersama Prof Budi Darma dan Kepala Baperpus Kota Surabaya, Arini Pakistyaningsih. Saya juga bertemu dengan beberapa sahabat lainnya, seperti Eko Pamuji, jurnalis dan General Manager Harian DUTA Masyarakat, Jack Parmin, Sekjur Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS Unesa, Wawan Setiawan, cerpenis dan dosen Unesa, Abdurrohman, Eko Prasetyo, kolumnis M. Anwar Djaelani, Prof Lies Amin Lestari, penyair Tjahjono Widarmanto an Alex Subairi, juga dosen muda Unesa Fafi Inayatillah. Beberapa petinggi Unesa juga hadir dalam acara ini, di antaranya, Rektor Prof Dr Warsono MS, PR1 Dr Yuni Sri Rahayu MSi, juga PR4 Prof Dr Djodjok Soepardjo MLitt.

Saya merasakan maknyesss,  serasa ada aliran signal literasi yang menjalar ke tubuh saya begitu berjabat tangan dan ngobrol dengan mereka. Saya juga merasa bersyukur berkesempatan dan ditakdirkan bertemu dan berinteraksi dengan para praktisi, pegiat, dan penggerak literasi ini, karena dari mereka semangat berliterasi saya kembali tumbuh. Hal serupa juga saya rasakan ketika bertemu dan berdialog dengan komunitas literasi di  Jombang dan Tulungagung beberapa bulan sebelumnya. Nama-nama seperti Siwi Sang dan istrinya Tjut Zakiyah, juga Ngainun Naim (dosen IAIN Tulungagung) adalah sebagian saja dari aktivitis dan penggerak literasi di Tulungagung. Sementara Yusron Aminullah yang asi Jombang banyak keliling ke berbagai daerah di Indonesia untuk memotivasi para guru untuk melek literasi. Moga-moga interaksi dengan mereka  menjadi spirit dan pemantik semangat saya untuk lebih aktif menulis dan terus menulis.

Selain itu, saya hajatkan hadir di forum gerakan literasi ini karena informasi yang saya peroleh via SMS dan milis group Ganesa, talk show juga menyuguhkan musikalisasi puisi yang menampilkan salah satu puisi saya 'Risalah' dan 'Literasi Cinta', puisi almarhum Rukin Firda, redaktur senior Jawa Pos yang hingga akhir hayatnya getol dalam mengembangkan gerakan literasi. Saya penasaran dan pengen tahu bagaimana mahasiswa PPPG dari SM3T mengomunikasikan puisi saya dan puisi Rukin (alm) kepada ratusan peserta talk show.

Sebagai penulis, saya merasa bersyukur bahwa puisi saya dipilih oleh panitia sebagai bagian dari upaya menggerakkan dan mengembangkan literasi di kalangan calon pendidik dari berbagai daerah di Indonesia yang kini digembleng di PPPG Unesa.  Dan, ketika menyaksikan musikalisasi atas puisi itu, saya tercengang, karena saat menulis tak pernah membayangkan bahwa puisi yang bisa dikomunikasikan begitu apik di atas panggung. Inilah bait-bait puisi ‘Risalah’ (saya tulis 25 November 2013) yang disajikan kepada para peserta dan undangan talk show tersebut.

RISALAH

Aku hanyalah sebutir debu
ketika hamparan sahara panas mengganas
Menengadah, mencari pandu firman-Mu
Pengembaraan dan kerinduan hampir tak berjejak
Tersapu ganasnya badai, lalu menghilang
Dan, aku hanya bisa berharap
dalam alunan nyanyi sunyi
Seperti Adam ketika turun ke bumi
Adakah setetes saja ilmu itu Kau beri dalam mangkok batinku?
tentang keagungan
tentang keperkasaan
tentang kasih sayang
juga tentang lautan ilmu yang tak bertepi
Sungguh,
yang aku tahu tidaklah berarti dalam kemahabesaran-Mu
Namun, seperti pesan Nabiku
terus dan terus dalam gontai kaki melangkah
menjemput tumpahan kalam
yang mesti kubaca lembar demi lembar
yang mesti kutulis tetes demi tetes dengan tinta hitamku
lalu kusebarkan pada sesiapa yang haus akan mulianya peradaban
Dalam setiap ayun kaki kecilku
Dalam setiap gerak pikir dan rindu hati

Sudah kutanya
pada apa saja yang aku jumpa
pada siapa saja yang lalu lalang di jalan berimba
Untuk mencari tahu
di mana Kau sembunyikan setetes saja ilmu itu
Biar tak buta mata ini
Biar tak tuli telinga ini
Biar tak keluh lidah ini
Biar tak bisu bibir ini
Biar tak kaku jemari ini

Untuk menuliskan dan menyebarkan kembali kalam indah
Lewat tangan-tangan lembut penyebar risalah
Kuselami samudera
dan kedalaman rahman-rahim-Mu.

*****
Beberapa jam bertemu dan bergumul dengan para pendekar literasi dengan durasi yang amat terbatas memang tidak serta-merta membuat saya ikut "sakti" dalam berliterasi, khususnya pada dunia kepenulisan. Tetapi, seperti pesan klasik yang kerap saya dengar di masa kecil, "Dekat-dekatlah dengan penjual minyak wangi. Meski tak membeli, pasti ikut merasakan bau harumnya" menginspirasi saya untuk masuk dalam berbagai komunitas literat. Maka, dengan banyak berinteraksi dengan para penulis mapan dan pengembang (developer) literasi, saya yakin akan ketularan juga menjadi penulis yang tidak saja produktif, tapi sekaligus memberikan kontribusi positif dalam pengembangan dan pembudayaan literasi di negeri ini.


Gresik, 13 Desember 2014

1 comment:

Blog Archive