Blog

Blog

Tuesday, October 28, 2014

Membangun Unesa Minus Duplikasi Buta



(Surat Terbuka untuk Rektor Unesa)

Oleh SUHARTOKO


Assalamu'alaikum WW,

Mohon maaf kalau apa yang saya sampaikan secara terbuka ini membuat para pihak, khususnya Pak Rektor Prof Warsono dan mantan rektor Pak Prof Muchlas Samani, kurang atau tidak berkenan. Ini saya lakukan bukan ada maksud macam-macam atau bermotif negatif dan sejenisnya. Tetapi, hal ini lebih karena saya tidak memiliki media/sarana yang secara langsung bisa menjembatani apa yang hendak saya sampaikan kepada beliau. Saya berharap, suatu saat pesan yang saya tulis ini sampai dan dibaca oleh beliau dan apa yang hendak saya sampaikan bermanfaat, khususnya bagi pengembangan Unesa, kampus yang pernah menjadi kawah candradimuka saya dalam menimba ilmu.

Saya tidak terlalu banyak mengenal Pak Prof Warsono, baik secara personal maupun dalam kapasitasnya sebagai pejabat di Unesa. Sebaliknya, saya yakin Pak Warsono juga tidak mengenal (sama sekali) saya. Maklum, selama jadi mahasiswa IKIP Surabaya tahun 1986 hingga lulus, 1990, praktis saya tidak pernah "bersentuhan" dengan Pak Prof Warsono. Perkenalkan, saya Suhartoko, alumni IKIP Surabaya/Unesa, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, 1986 (seangkatan dan sekelas dengan Kajur Bahasa dan Sastra Indonesia saat ini, Mas Dr Syamsul Sodiq, MPd).

Dalam banyak posting di milis Keluarga Unesa (Ganesa) ini, saya menangkap adanya apresiasi yang begitu tinggi dari sebagian alumni IKIP/Unesa terhadap kinerja Pak Prof Muchlas Samani, rektor yang baru saja melepaskan jabatan dan menyerahterimakan kepada penggantinya, Pak Prof Warsono. Saking tingginya apresiasi --sebagai rasa bangga sekaligus penghargaan-- yang disampaikan teman-teman alumni, sampai-sampai saya menangkap kesan betapa superiornya sosok Pak Prof Muchlas. Kehebatan dan akselerasi Pak Prof Muchlas dalam mengelola Unesa digambarkan melejit jauh melebihi para pendahulunya. Bahkan, saya juga menangkap kesan (maaf) seperti mitos (dan ini yang memaksa saya menulis uneg-uneg ini) yang tak mungkin bisa disamai atau ditandingi oleh  penggantinya, yakni Pak Prof Warsono.

Seperti yang terakhir ditulis Mas Eko Prasetyo, alumni Sastra Indonesia IKIP Surabaya,  angkatan 1999 (Menanti Gebrakan Prof Warsono), betapa figur Pak Prof Muchlas begitu tinggi kinerjanya, sehingga terlalu berat untuk bisa dijangkau penerusnya.

"Legacy yang ditinggalkan Prof Muchlas memang bukan main. Mantan rektor Unesa ini terlalu cepat berlari dalam hal memajukan Unesa. Wajah kampus yang dulu seakan tak terurus menjadi sangat megah," tulis Eko Prasetyo di milis Ganesa.

Ditandaskan, Pak Muchlas tidak setengah-setengah dalam ndandani Unesa. Dalam lima tahun kepemimpinannya, boleh jadi inilah masa kegemilangan Unesa. Bisa dibilang Pak Muchlas meninggalkan kesan yang sangat baik sekaligus pekerjaan rumah yang berat bagi penerusnya, yaitu Prof Warsono. 

Sebagai orang yang berada "di luar pagar", saya tidak menampik prestasi dan kinerja luar biasa yang telah dicapai Pak Prof Muchlas. Saya menaruh hormat atas apa yang telah beliau capai, meski tak mungkin sempurna dan mesti ada kelemahann, serta bergantung pada parameter dan variabel penilaian yang dilakukan untuk melabeli kinerja tersebut. Menyikapi prestasi kinerja secara berlebihan dan memosisikannya sebagai sesuatu yang terlalu superior, menurut saya kurang menguntungkan dan kurang produktif bagi pengelolaan dan pengembangan Unesa ke depan. 

Sebaliknya, menjadikan prestasi dan berbagai keunggulan kinerja yang telah diraih sebagai pemicu semangat untuk menghasilkan kinerja yang lebih baik, atau minimal setara, di masa yang akan datang adalah sikap dan spirit yang harus dikembangkan. Namun, menjadikannya sebagai penghambat atau menakut-nakuti kinerja yang akan datang, menurut saya justru kontraproduktif. Kita tentu sepakat, prestasi yang telah dicapai Pak Prof Muchlas, moga-moga jadi pelecut dan penyemangat bagi Pak Prof Warsono dalam mengelola Unesa, bahkan sebisa-bisanya lebih baik lagi. Ini bukan sesuatu yang mustahil! Tetapi, kalau prestasi Pak Prof Muchlas itu difungsikan sebagai barikade untuk "mengerdilkan" dan menakut-nakuti Pak Prof Warsono --karena diyakini tidak mungkin bisa menyamai kinerja Pak Prof Muchlas-- itu yang mesti dikikis habis, karena tidak sehat dan kontraproduktif.

Karena itu, dalam kesempatan ini izinkan saya untuk memberikan amunisi kepada Pak Prof Warsono sebagai tambahan nutrisi untuk mengelola dan mengembangkan Unesa dalam periode kepemimpinan Bapak. Amunisi yang saya maksud adalah kelemahan mendasar (menurut kaca mata saya) yang selama ini bersarang di tubuh Unesa. Sesuai dengan disiplin dan keahlian profesi saya sehari-hari, saya menangkap signal dan menilai selama ini Unesa seperti anti-media massa. Akibatnya, berbagai prestasi dan program positif    yang diraih Unesa, nyaris tak tersentuh atau sampai ke ranah publik. Media-media massa seakan gak wawuh dengan Unesa.

Ini berbeda banget jika dibandingkan dengan dua PTN tetangga, yakni Unair dan ITS, beberapa PTS di kota ini. Padahal, banyak alumni Unesa yang bekerja, bahkan sebagian jadi petinggi media massa. Mengapa Unesa justru nyaris tak terdengar? Pasti ada sesuatu yang salah dalam mengelola relasi dengan media massa.

Padahal, betapa pun kecilnya, peran media massa sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk mempercepat proses corporate image/branding, dan itu positif buat pengembangan Unesa ke depan. Pikiran-pikiran saya tentang upaya membangun Unesa dari aspek branding dan keberterimaan publik, sudah saya paparkan di artikel ‘Relasi Media Menuju Kampus Dunia’ yang terhimpun di buku 'Pena Alumni; Membangun Unesa melalui Budaya Literasi', Revka Petra Media, 2013. Atau bisa klik di: www.suhartoko.blogspot.com/Pendidikan.

Pak Prof Warsono yang saya hormati. Prestasi Pak Prof Muchlas yang banyak diapresiasi positif, tidak perlu membuat Bapak berkecil hati untuk membawa Unesa lebih moncer alias lebih baik lagi. Sebaliknya, jadikan capaian itu sebagai stimulus untuk bergerak lebih cepat untuk kebaikan bersama. Bapak tidak perlu menerapkan jurus duplikasi yang membabi buta dan benar-benar buta, sehingga melumpuhkan kreativitas Njenengan sendiri. Meniru dan meneruskan apa yang sudah baik itu bagus. Tetapi, menjadi diri sendiri itu jauh lebih bagus. Moga-moga berkenan, mohon maaf, dan terima kasih. Akhirnya, mari mikul dhuwur, mendhem jero atas apa pun yang telah diraih pendahulu dan menjadikannya sebagai spirit untuk lebih baik lagi.


Gresik, 21 Oktober 2014

//
Sh@


TANGGAPAN SAHABAT:

Salut utk tulisan ini, Cak Sha.
Semoga jadi penyemangat bagi Pak Warsono.

Salam
Satria Dharma
-------------------
Luar biasa, Cak Sha.
Saya belum seberani sampeyan menulis kayak gini. Sik sungkan, hehe...
Tapi ini masukan yang sangat baik. Semoga Unesa ke depan, bisa jauh lebih baik.

Ayo, teman-teman alumni. Bantu Unesa!
Biar almamater ini kian moncer.

/MI
--------------------

Ini daftar beberapa alumnus IKIP Surabaya yang bekerja di media massa.
1. Eko Pamudji (GM koran Duta Masyarakat)
2. Abdur "Om Roy" Rohman (redaktur Duta Masyarakat)
3. Fathurroziq (redaktur pendidikan Jawa Pos)
4. Cak Sol (Harian Nasional)
5. Ernes (produser JTV)
6. Endah Imawati (redaktur senior Surya)
7. Djoko Pitono Hadiputro (redaktur senior Radar Surabaya)
8. Hani (wartawan muda Radar Surabaya, alumnus Bhs Jerman)
9. Cak Basir (redaktur majalah Unesa, majalah Wedding, majalah Edukasi Yes, dll, maklum proyeke akeh)
10. Muhammad (Radar Tulungagung)
11. Must Prast (e-magazine Jowo Pas)


Kalau begitu, mereka ini "direkrut" menjadi tim khusus yang tugasnya mem-branding Unesa, gitu.

Mantap :)

/MI
-----------------------

Aku sing bagian merekam nama2 alumni Unesa yang berkarir di media. Kali lain bisa diajak ngopi di buzem court. Matur nuwun sedherek.

Cak Sh@, matur nuwun....gagasan tentang hal ini pernah saya sampaika saat pisah-kenal rektor (kebetulan saya bertugas sebagai wakil dosen). Berarti, amunisinya makin kuat dan mantaps. InsyaAllah surat Cak Sh@ saya teruskan ke baliau. 


Wassalam, 

Much. Khoiri
Lecturer & Writer, State University of Surabaya (Unesa).

Jalindo (Jaringan Literasi Indonesia / Indonesia Literacy Network)
*I am a government employee in the morning and a writer in the evening. (Naguib Mahfouz)*
www.kompasiana.com/much-khoiri
+62-81-331450689

 

No comments:

Post a Comment

Blog Archive