Blog

Blog

Thursday, September 11, 2014

Mengenal Umbi Porang dan Prospek Bisnisnya

BOGOR, KOMPAS.com - Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) memperkenalkan budi daya umbi porang sebagai potensi baru bercocok tanam bagi pemuda dan masyarakat Desa Hegarmanah, Gunung Pendidikan Gunung Walat, Jawa Barat.
"Budi daya umbi porang ini cukup berpotensi bagi masyarakat di Desa Hegarmanah, selain membuka usaha baru juga menghindari konflik penyerobotan lahan hutan di wilayah tersebut," kata Juanda, Ketua Tim Mahasiswa Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian Masyarakat, IPB, di Bogor, Kamis (15/8/2013).
Juanda menyebutkan, melalui program PKM, dirinya bersama empat rekannya dari Fakultas Kehutanan telah menawarkan program budi daya umbi porang kepada masyarakat yang tinggal di Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW) Jawa Barat melalui program PKM di bawah bimbingan Dr Soni Trisno, S.Hut, MSi.
Dikatakannya, umbi porang sebagai salah satu kultivar atau tanaman yang cocok untuk Desa Hegarmanah yang merupakan desa yang berbatasan langsung dengan HPGW. "Kebanyakan masyarakat di sana bekerja sebagai petani, namun tidak memiliki lahan," katanya.
Juanda menjelaskan, kebutuhan masyarakat setempat terhadap lahan pertanian telah memicu adanya penyerobotan lahan hutan milik HPGW.
Pihak HPGW telah mengatasi masalah tersebut dengan menyewakan lahan miliknya kepada masyarakat setempat untuk ditanami tanaman bawah tegakan seperti kapulaga, kopi dan pisang. "Namun, usaha masyarakat ini kurang memberikan hasil panen yang produktif," katanya.
Dari hasil penelitian Tim PKM IPB, lanjut Juanda, pihaknya melihat Umbi Porang memiliki potensi dan syarat tumbuh yang sesuai dengan kondisi biofisik di wilayah sekitar HPGW.
Hal ini dikarenakan Umbi Porang adalah umbi jenis salah satu tanaman yang dapat ditanam di bawah naungan. "Selain itu, pemeliharaan umbi porang ini tidak perlu dilakukan secara intensif," ujarnya.
Lebih lanjut Juanda menjelaskan, permintaan pasar terhadap umbi porang saat ini cukup tinggi. Banyak negara seperti Jepang, Taiwan, dan Korea yang mengolah umbi ini menjadi sumber makanan.
Negara-negara tersebut, lanjut dia, mengimpor umbi ini salah satunya dari Indonesia. Sayangnya, penyedia umbi porang di Indonesia masih terbatas. Menurut Juanda, peluang ini dapat dimanfaatkan warga Desa Hegarmanah dengan membudidayakan umbi porang di lahan-lahannya yang terlantar.
"Selain membuka lapangan pekerjaan, kesibukan mengolah lahan terlantar yang mereka miliki mampu mengalihkan fokus masyarakat terhadap penyerobotan lahan hutan milik HPGW," ujar Juanda.
Ide inilah yang disampaikan Juanda bersama teman-temannya kepada masyarakat di Desa Hegarmanah yang berjumlah sebanyak 8.322 jiwa itu. Dikatakannya, melalui PKM ini, ia dan kawan-kawannya mahasiswa Fakultas Kehutanan IPB melakukan penyuluhan budidaya umbi porang.
Penyuluhan yang diberikan berupa pemberian materi di ruangan mengenai budidaya umbi porang, dan demplot percontohan agroforestry umbi porang. Diungkapkannya, pada aspek budidaya, sebelum penyuluhan masyarakat yang mengetahui budidaya umbi porang sebesar 22,22 persen, sedangkan setelah penyuluhan sebesar 82,88 persen.
Sedangkan pada aspek pengolahan, sebelum penyuluhan masyarakat yang mengetahui cara pengolahan umbi porang sebesar 10 persen, setelah penyuluhan sebesar 89,57 persen.
Serta pada aspek pemasaran, sebelum penyuluhan masyarakat yang mengetahui pemasaran umbi porang sebesar 0 persen, jumlah ini meningkat setelah penyuluhan sebesar 60 persen.
"Kami memberikan pelatihan kepada masyarakat berkaitan dengan umbi porang secara umum, teknik penanaman, perawatan, dan pasca panen umbi porang untuk dijadikan komoditi ekspor yang memiliki nilai ekonomi tinggi," katanya.
Selanjutnya kata Juanda, pihaknya juga memberikan penyuluhan pembuatan demplot percontohan agroforestry umbi porang dengan luas 200 meter persegi dimaksudkan sebagai media percontohan sekaligus promosi kepada masyarakat sekitar area demplot tentang tanaman umbi porang.
Setelah panen, lanjutnya, umbi ini akan diterima distributor yang berada di Desa Klangon, Saradan Jawa Timur. Distributor di Desa Klangon tersebut akan mengumpulkan porang yang telah dijadikan "chips" dan kemudian dikirim ke pabrik pengolahan tepung porang di Mojokerto yang kemudian tepung tersebut diekspor ke China, Korea dan Jepang.
Menurut Juanda, peluang pasar porang sangat besar, baik untuk pasar dalam negeri maupun pasar luar negeri. Untuk pangsa pasar dalam negeri, umbi digunakan sebagai bahan pembuat mie yang dipasarkan di swalayan, serta untuk memenuhi kebutuhan pabrik kosmetik sebagai bahan dasar.
Sementara itu, untuk pangsa pasar luar negeri, masih sangat terbuka terutama untuk tujuan Jepang, Taiwan, Korea dan beberapa negara Eropa.
"Penurunan nilai ekspor komoditas porang, bukan karena permintaan pasar yang menurun, tetapi keterbatasan bahan baku olahan. Selama ini pasokan hanya dipenuhi dari pedagang kecil yang mengumpulkan umbi yang tumbuh liar di hutan atau di sekitar perkebunan dan lama kelamaan akan habis jika tidak diupayakan penanamannya," katanya.
Juanda mengatakan, umbi porang laku dijual, saat ini harganya menembus Rp 2.500 per kg basah atau baru petik. Umbi porang kering atau "chips porang" dihargai lebih mahal lagi, yakni Rp 20.000 per kg.
Masih ada yang lebih mahal yakni tepung porang. Namun, sangat disayangkan kemampuan masyarakat belum sampai ke sana sehingga teknologi pembuatan tepung masih dikuasai pabrik besar.
Juanda menambahkan, dengan kegiatan ini harapannya dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di Desa Hegarmanah. "Perkiraan jumlah orang yang mendapatkan dampak dari kegiatan ini adalah 80 orang dengan nilai pendapatan sekitar Rp 100 juta per tahun," katanya.
Sumber : Antara
Editor : BNJ 

Porang vs Suweg, Bukan Saudara Kembar


Meski judul di atas terlihat profokatif, bukan berarti saya bermaksud membenturkan kedua komoditi tersebut. Saya ingin memaparkan data data fisik yang menjadi ciri khas yang membedakan kedua tanaman ini. Beberapa kali saya temui rekan yang menganggap suweg sebagai porang yang bernilai ekonomis tinggi.
Sampai saat ini saya cukup bisa memahami kenapa begitu sulit mengajak teman, saudara atau kenalan, apalagi yang tidak kenal - untuk beramai-ramai membudidayakan Porang di kebun mereka yang menganggur karena tidak bisa ditanami dengan tanaman palawija atau tanaman pangan yang membutuhkan sinar matahari langsung.
Ada lagi alasan yang menyebabkan pemaparan saya mengenai potensi ekonomis porang kurang mereka minati (mungkin loh), adalah mereka menganggap suweg sama dengan Porang. Jadi mereka pikir tidak masuk akal jika makanan desa tersebut bisa laku dijual mahal.
Satu lagi alasan keengganan menanam Porang adalah, umbi tanaman ini tidak bisa langsung dikonsumsi, sementara jika dibandingkan dengan suweg, dengan sekedar direbus saja sudah bisa dimakan sebagai pengganti nasi.
Suweg bukan porang, begitu pula sebaliknya. Yang sering membingungkan adalah, karena nampak fisik luarnya 80% mirip. Tetapi meski begitu, kita masih memiliki kesempatan 20% untuk mengenali perbedaan diantara keduanya.
1. Keduanya memiliki daun yang 100% sama. Bentuk menjari, pangkal daun 3, kadang daun berwarna hijau cenderung gelap, kadang juga hijau cerah. Tetapi daun porang masih bisa kita kenali dengan melihat titik pangkal daunnya, pada tempat itu akan terlihat bulatan kecil berwarna hija cerah hingga coklat sebagai bakal tumbuhnya bulbil, titik tersebut mulai terlihat sejak tanaman berusia kurang lebih 2 bulan. Titik bulbil tersebut sangat kentara, jadi tidak perlu khawatir salah. Lebih jelas lagi pada tanaman dengan usia lebih dari satu tahun, karena titik pertumbuhan bulbil lebih banyak lagi, pada pangkal daun yang bercabang menyebar di banyak tempat.
2. Keduanya memiliki batang yang sama, berwarna hijau cerah dengan totol-totol putih. Tapi tunggu dulu, cobalah meraba batang tersebut dengan seksama. Tidak akan terlalu lama untuk memastikan bahwa salah satunya bertekstur kasar, sedang yang lainnya halus mulus. Batang yang halus inilah yang merupakan batang tanaman Porang, tidak akan salah.
3. Ketika umbi sudah dipanen, lihatlah kondisi fisik luarnya. Jika umbi memiliki titik-titik percabangan umbi, seperti terlihat berupa benjolan ke samping, maka pastilah itu umbi suweg, karena umbi porang berupa umbi tunggal. Lalu irislah sedikit umbinya, semakin terlihat dengan jelas perbedaan umbinya. Karena umbi suweg berwarna putih kadang cenderung berwarna ungu atau merah jambu, sedangkan umbi porang kuning cerah (ingat bendera partai Golkar? tidak akan salah lagi, warnanya seperti itu). Tetapi akan ada sedikit masalah jika anda menemui umbi berwarna kuning cerah, tetapi ada benjolan titik tumbuh, di beberapa daerah menamai umbi semacam itu dengan nama walur, dan bisa dipastikan itu bukan porang, karena serat umbinya kasar, sedangkan porang serat umbinya halus nyaris tak terlihat, hanya berupa titik-titik saja.
 Dahlan Iskan melihat tanaman porang.
                                                   Menteri BUMN Dahlan Iskan (Depan, berkaca mata)
VIVAnews - Umbi porang yang ditanam di lahan Perum Perhutani Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Nganjuk BKPH Tritik, Jawa Timur, memiliki nilai jual yang cukup menguntungkan bagi petani. Hal ini diutarakan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Dahlan Iskan, saat mengunjungi tempat itu pada Minggu, 6 Januari 2013.

"Harga jualnya bagus, rata-rata Rp2.800-Rp3.000 per kilogram dalam kondisi basah. Jika rata-rata lahan bisa menghasilkan 10-15ton per hektare, petani akan mendapat keuntungan sekitar tiga puluh juta rupiah per hektare," ujarnya melalui Humas BUMN, Faisal Halimi, kepada VIVAnews, Minggu 6 Januari 2013.

Umbi porang (Amorphophallus oncophillus), atau iles-iles dalam bahasa Jawa, berguna untuk bahan industri dan makanan, seperti lem, pengganti media tumbuh mikroba, campuran kertas agar kertas menjadi lemas, pengental sirup, dan campuran obat. Para petani memiliki lahan seluas 1-3 hektare untuk menanam umbi ini, bahkan ada yang memiliki lahan seluas 5 hektare di lahan milik Perum Perhutani.

Penanaman umbi porang di lahan milik Perum Perhutani ini merupakan proses tumpangsari yang diharapkan BUMN untuk dapat menanggulangi kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bagi Perum Perhutani, pembinaan kepada petani umbi porang sangat membantu keamanan hutan. Para petani tidak mencuri kayu, tetapi memanfaatkan lahan tumpangsari.

Zat-Zat Penting yang Terkandung Dalam Umbi Porang


Komposisi porang menurut :Arifin (2001) adalah :
Komposisi Kimia Umbi Segar dan Tepung Amorphophallus oncophyllus
Analisis
Kandungan per 100 g conth (bobot basah)
Umbi segar (%)
Tepung (%)
Air
Glukomannan
Pati
Protein
Lemak
Serat berat
Kalsium Oksalat
Abu
Logam berat (Cu)
83.3
3.58
7.65
0.92
0.02
2.5
0.19
1.22
0.09
6.8
64.98
10.24
3.42
-
5.9
-
7.88
0.13
Sumber : Arifin (2001)
Umbi porang atau suku jawa menyebutnya : iles-iles, walaupun istilah ini tidak tepat, mengandung bahan/senyawa yang mahal harganya yaitu: Glucomannan. Glukomannan adalah polisakarida hidrokoloid yang terdiri dari residu D-glucose dan D-mannose. Membeli porang/konjac sama dengan membeli viskositas. Mutu Porang/Konjac Indonesia yang dicari adalah: > 60.000 cps. Jepang, taiwan, Hongkong, USA memerlukan porang sebagai makanan kesehatan. Karena sebagai polisakarida, atau bahasa orang AWAM (PATI). glukomannan ini mengandung rendah kalori yakni: sekitar 3 Kkal/100 g bahan.
Standar Mutu porang/Konjac dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Standar Mutu Tepung Porang
Parameter
Persyaratan
Kadar Air
Kadar glukomannan
Kadar Abu
Kadar Sulfit
Kadar Timah
Kadar Arsenik
Kalori
Viskositas (Konsentrasi tepung 1%)
PH (pada konsentrasi tepung 1%)
Kenampakan
Ukuran Partikel
10.0 ****
>88% *
4% ***
<0 .03="" span="">
<0 .003="" span="">
<0 .001="" span="">
3 Kcal/100 g **
>35.000 mpas *
7 *
Putih *
90 mesh ****
* Anonymous (2005a)
** Johnson (2005)
*** Anonymous (2006 b )
**** Peiying et al., (2002)
Namun hasil riset Putri Ayu Eri K dan Simon B.Widjanarko. (2007) menunjukkan : komposisi porang adalah:
. Komposisi Kimia Bahan Baku  Penelitian  (2007)
Parameter
Umbi Porang Segar
Tepung Porang Kasar
% b.b
%b.k
%b.b
% b.k
Kadar Air
82.330
0
9.4
0
Kadar Abu
1.003
5.676
5.523
6.096
Kadar Pati
4.23
23.938
21.826
24.091
Kadar Protein
0.870
4.924
4.576
4.955
Kadar Lemak
0.017
0.096
0.074
0.082
Kadar Serat Kasar
2.040
11.545
11.790
11.618
Kadar Glukomannnan
6.420
36.333
37.270
41.137
Kadar Ca-oksalat
1.020
5.772
5.650
6.236
kelemahan porang produksi Masyarakat Pengelola Sumber Daya Hutan (MPSDH) DI JAWA  TIMUR, apabila diolah menjadi tepung masih gatal dan sama sekali tidak bisa diolah menjadi produk pangan. Kecuali chip porang disetor ke pabrik pengolahan chip porang di Kertosono, Mojosari, Pasuruan dll. Tantangan peneliti porang Jur. THP FTP UB (Simon B Widjanrko dkk) membuat pabrik porang sendiri di lokasi MPSDH- MPSDH di Jawa Timur. Semoga dalam waktu tidak terlalu lama, petani porang di MPSDH di madiun dapat berdiri pabrik tepung porang dan bisa dihasilkan berbagai pangan sehat dan murah dari bahan baku lokal bumi peritiwi ini. Any suggestions?

Ilustrasi : Umbi porang/simonbw.lecture.ub.ac.id Ilustrasi Buah Umbi porang/simonbw.lecture.ub.ac.id
 
JAKARTA - Umbi porang ternyata dapat menjadi tanaman yang cocok untuk dibudidayakan di Desa Hegarmanah, Hutan Pendidikan Gunung Walat (HPGW), Jawa Barat. Potensi ini berhasil ditemukan oleh lima mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) yang tergabung dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Pengabdian Masyarakat.
Tim yang terdiri dari lima mahasiswa dari Fakultas Kehutanan itu terinspirasi menggali potensi daerah tersebut melihat banyaknya pemuda-pemuda desa Hegarmanah yang belum memiliki pekerjaan. Maka, untuk membuka lapangan kerja, mereka menawarkan program budidaya umbi porang.
Ketua Tim Juanda mengungkap, Desa Hegarmanah berbatasan langsung dengan HPGW dengan mayoritas masyarakat berprofesi sebagai petani. Kebutuhan masyarakat terhadap lahan pertanian, lanjutnya, telah memicu adanya penyerobotan lahan hutan milik HPGW.
"Pihak HPGW telah mengatasi masalah ini dengan menyewakan lahan miliknya untuk ditanami tanaman bawah tegakan (kapulaga, kopi, dan pisang). Namun usaha masyarakat ini kurang memberikan hasil panen yang produktif,” ujar Juanda, seperti dinukil dari siaran pers yang diterima Okezone, Rabu (14/8/2013).
Dia menjelaskan, umbi porang memiliki potensi dan syarat tumbuh sesuai dengan kondisi biofisik di sekitar HPGW. Sebab, umbi jenis ini dapat ditanam di bawah naungan serta tidak membutuhkan pemeliharaan yang intensif.
Apalagi, kata Juanda, permintaan pasar umbi porang saat ini cukup tinggi mengingat banyak negara, seperti Jepang, Taiwan, dan Korea yang mengolah umbi ini menjadi sumber makanan. Sebagai salah satu negara penyedia umbi porang, komoditi tanaman tersebut di Indonesia masih terbatas.
“Peluang ini dapat dimanfaatkan warga Desa Hegarmanah dengan membudidayakan umbi porang di lahan-lahannya yang terlantar. Selain membuka lapangan pekerjaan, kesibukan mengolah lahan terlantar yang mereka miliki mampu mengalihkan fokus masyarakat terhadap penyerobotan lahan hutan milik HPGW,” urainya.
Melalui PKM itu, Juanda dan kawan-kawan pun melakukan penyuluhan budidaya umbi porang kepada masyarakat Desa Hegarmanah. Penyuluhan yang diberikan berupa pemberian materi di ruangan mengenai budidaya umbi porang, dan demplot percontohan agroforestry umbi porang.
“Kami memberikan pelatihan kepada masyarakat berkaitan dengan umbi porang secara umum, teknik penanaman, perawatan, dan pascapanen umbi porang untuk dijadikan komoditi ekspor yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Selanjutnya pembuatan demplot percontohan agroforestry umbi porang dengan luas 200 meter persegi dimaksudkan sebagai media percontohan sekaligus promosi kepada masyarakat sekitar area demplot tentang tanaman umbi porang,” ungkap Juanda.
Setelah panen, umbi ini akan diterima distributor yang berada di Desa Klangon, Saradan Jawa Timur. Distributor di Desa Klangon tersebut akan mengumpulkan porang yang telah dijadikan chips (keripik) dan kemudian dikirim ke pabrik pengolahan tepung porang di Mojokerto yang kemudian diekspor ke China, Korea, dan Jepang.
Saat ini, harga umbi porang basah atau baru petik dijual dengan harga Rp2.500 per kilogram. Sementara umbi porang kering atau chips porang bisa menembus harga Rp20 ribu per kilogram. Apalagi jika umbi porang telah diubah berbentuk tepung, harga jualnya bisa jauh lebih mahal. Sayangnya, kemampuan masyarakat Desa Hegarmanah belum sampai ke sana sehingga teknologi pembuatan tepung masih dikuasai pabrik besar.
"Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat di Desa Hegarmanah. Diperkirakan, 80 orang mendapatkan dampak dari kegiatan ini dengan nilai pendapatan sekira Rp100 juta per tahun," imbuhnya.
(mrg)
Laba Tinggi, Budidaya Porang Belum Diminati
Kamis, 28/02/2013 | 09:55 WIB

Permintaan porang relatif tinggi, terutama untuk industri kecantikan dan kesehatan, karena kandungan zat Glucomanan di dalamnya. Sayangnya, hingga kini budidayanya belum terlalu diminati.
Tanaman porang (amorphopallus oncophillus) merupakan tanaman yang hidup di hutan tropis. Tanaman yang bisa juga ditanam di dataran rendah tersebut mudah hidup di antara tegakan pohon hutan seperti misalnya Jati dan Pohon Sono. Porang di daerah Jawa dikenal dengan nama suweg. Termasuk tumbuhan semak (herba) yang memiliki tinggi 100 – 150 cm dengan umbi yang berada di dalam tanah. Batang tegak, lunak, batang halus berwarna hijau atau hitam belang-belang (totol-totol) putih. Batang tunggal memecah menjadi tiga batang sekunder dan akan memecah lagi sekaligus menjadi tangkai daun.
Pada setiap pertemuan batang akan tumbuh bintil/ katak berwarna coklat kehitam-hitaman sebagai alat perkembangbiakan tanaman Porang. Tinggi tanaman dapat mencapai 1,5 meter sangat tergantung umur dan kesuburan tanah. Umbi inilah yang akan dipungut hasilnya karena memiliki zat glucomanan.
Tanaman tersebut kini mempunyai prospek yang menjanjikan karena memiliki nilai ekonomi yang bisa dibudidayakan. Selain itu, Porang banyak sekali terutama untuk industri dan kesehatan, hal ini terutama karena kandungan zat Glucomanan yang ada di dalamnya. Beberapa manfaat umbi porang yang lainnya antara lain: Bahan lem, Mie, Tahu, Felem, Perekat tablet, Pembungkus kapsul hingga Penguat kertas
Perkembangbiakan tanaman Porang dapat dilakukan dengan cara generatif maupun vegetatif. Secara umum perkembangbiakan tanaman Porang dapat dilakukan melalui berbagai cara.
Perkembangbiakan dengan Katak (buah di atas daun) misalnya Dalam 1 kg Katak berisi sekitar 100 butir katak. Katak ini pada masa panen dikumpulkan kemudian disimpan sehingga bila memasuki musim hujan bisa langsung ditanam pada lahan yang telah disiapkan.
Ada juga perkembangbiakan dengan Biji/Buah. Tanaman Porang pada setiap kurun waktu empat tahun akan menghasilkan bunga yang kemudian menjadi buah atau biji. Dalam satu tongkol buah bisa menghasilkan biji sampai 250 butir yang dapat digunakan sebagai bibit Porang dengan cara disemaikan terlebih dahulu.
Terakhir, perkembangbiakan dengan Umbi. Dengan umbi yang kecil, ini diperoleh dari hasil pengurangan tanaman yang sudah terlalu rapat sehingga perlu untuk dikurangi. Hasil pengurangan ini dikumpulkan yang selanjutnya dimanfaatkan sebagai bibit.
Dengan umbi yang besar, ini dilakukan dengan cara umbi yang besar tersebut dipecah-pecah  sesuai dengan selera selanjutnya ditanam pada lahan yang telah disiapkan.
Syarat Tumbuh
Tanaman Porang pada umumnya dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja, namun demikian agar usaha budidaya tanaman Porang dapat berhasil dengan baik perlu diketahui hal-hal yang merupakan syarat-syarat tumbuh tanaman Porang, terutama yang menyangkut iklim dan keadaan tanahnya.
Tanaman Porang mempunyai sifat khusus yaitu mempunyai toleransi yang sangat tinggi terhadap naungan atau tempat teduh (tahan tempat teduh). Tanaman Porang membutuhkan cahaya maksimum hanya sampai 40%. Tanaman Porang dapat tumbuh pada ketinggian 0 – 700 M dpl. Namun yang paling bagus pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 – 600 M dpl.
Untuk hasil yang baik, tanaman Porang menghendaki tanah yang gembur/ subur serta tidak becek (tergenang air). Derajat keasaman tanah yang ideal adalah antara PH 6 – 7 serta pada kondisi jenis tanah apa saja.
Naungan yang ideal untuk tanaman Porang adalah jenis Jati, Mahoni Sono, dan lain-lain, yang pokok ada naungan serta terhindar dari kebakaran. Tingkat kerapatan naungan minimal 40% sehingga semakin rapat semakin baik.
Untuk masa panen, tanaman porang dapat dilakukan setelah berumur 3 tahun (3 kali pertumbuhan). Dan untuk harga saat ini sekitar Rp. 800,-/kg dalam keadaan basah. Sementara apabila dijual dalam bentuk irisan keripik yang kering dapat dijual dengan harga Rp.9.000,-/Kg. Apabila kita mampu menjualnya langsung ke pihak investor dari pihak asing kita akan dihargai sekitar USD 18/Kg. Dalam setiap pohon dapat memanen hasil sebanyak 2 Kg umbi, dan dalam setiap hektarnya dapat diperoleh 12 ton atau sekitar 1,5 ton kering.ins
Simbiosis Mutualisme Ala Porang
Menurut istilah, simbiosis mutualisme adalah hubungan dua pihak atau lebih yang saling menguntungkan. Inilah gambaran budidaya porang.
Hutan rakyat atau lahan perorangan yang ditanami dengan tanaman keras, biasanya memang ditanam dengan tujuan akan dipanen kayunya, seperti jati, sengon, mahoni dan sebagainya. Perawatan yang diberikan kepada tanaman ini minim sekali, paling banter adalah menimbun pupuk di pangkal pohon jati, atau mencangkul tanah di sekitar pohon untuk ditimbunkan di pangkal pohonnya. Karena untuk melakukan hal-hal tersebut, pasti diperlukan usaha khusus, seringkali tanaman dibiarkan begitu saja tanpa perawatan, hingga waktunya dipanen.
Budidaya porang memerlukan tanaman keras sebagai tegakan yang melindungi porang dari sinar matahari langsung. Sebenarnya, kerapatan pohon atau keteduhan daun lahan yang akan ditanami tidak harus terlalu rapat dan keteduhan yang diberikanpun hanya minimal sekali, yang penting, pada saat matahari terik bersinar di tengah hari, daun porang bisa terlindung dari sinarnya. Karena jika tidak, daun akan layu dan tanaman tidak akan tumbuh optimal, bahkan mati.
Porang yang dibudidayakan di hutan rakyat atau lahan perorangan, disarankan untuk ditanam dalam galian dengan ukuran tertentu, diberikan pupuk – terutama pupuk kandang dengan komposisi tertentu dan diperlukan sesekali penyiangan terhadap rumput gulma.
Tanah yang digali untuk ditanami, menyebabkan tanah kaya oksigen dan membuatnya menjadi gembur. Pupuk yang diberikan untuk porang, secara tidak sengaja – sebagian akan ikut terserap oleh perakaran tanaman tegakan, sehingga baik porang maupun tanaman tegakannya akan memperoleh manfaat dari pupuk tersebut. Penyiangan rumput di sekitar tanaman porang tentu saja akan menghilangkan gangguan – mengurangi perebutan unsur hara antara tanaman utama dengan penganggu. Jadilah, pola penanaman tumpangsari porang di bawah tanaman tegakan akan bekerja simbiosis mutualisme antara pemilik lahan dengan petani porang, layaknya kerbau dengan burung jalak.
Di Bawah Jati
Tanaman kayu pohon Jati di panen dalam waktu yang lama yaitu lebih dari 15 tahun.Perum Perhutani memberi peluang kepada masyarakat untuk menanam tanaman sela “Porang “ diantara tegakan kayu karena ada simbiose yang saling menguntungkan bagi tanaman.
Tanaman Porang memerlukan keteduhan dibawah pepohonan, sedangkan pohon Jati akan berkembang lebih baik karena adanya tanaman dibawahnya yang di pupuk dan di bumbun sehingga memudahkan proses penyerapan unsur hara bagi pohon Jati.
Pada tahun 2007 petani porang di desa hutan Jati Plangon, Madiun berhasil mengumpulkan sampai 5.300 ton glondong basah dari kawasan hutan jati di sekitar permukiman mereka.
Produksi porang masih sekitar 3-5 ton/Ha umbi basah. Ada 5 industri yang mengolah porang menjadi chip atau keripik porang dan tepung porang. Diantaranya CV. Agro Alam Raya, PT ALGALINDO, PT AMBIKO dll. Kebutuhan ke- 5 industri porang tsb diperkirakan sekitar 4.400 ton chip/tahun.
Potensi porang dalam bentuk umbi yang dihasilkan oleh hutan-2 di Jawa Timur baru sekitar 3.000 – 5.000 ton umbi basah dan dengan rendemen 20%, maka produksi chip masih sekitar 600 Kg – 1.000 ton chip. Sedang kebutuhan industry sedemikian besar. Oleh sebab itu perluasan tanaman porang sangat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan industry sekitar 3.400 ton chip.
Harga umbi saat ini (2009) di hutan- hutan Jawa Timur mencapai Rp. 2.900/Kg. Sedang harga chip sudah Rp. 19.000/kg. Sehingga prospek pengembangan budi daya porang di Jawa Timur sangat menjanjikan.ins
ANALISIS FINANSIAL USAHA
1. Biaya yang dibutuhkan :
Persiapan lahan per Ha untuk jumlah bibit 2.000 biji sebesar Rp. 500.000,-
2. Biaya bibit : 2.000 biji Rp. 500,- =Rp. 1.000.000,-/Ha
3. Biaya penanaman : Rp. 500.000,-/Ha
4. Biaya pemeliharaan dan pemupukan selama 3 tahun
a. Tahun ke 1 Rp. 400.000,-/Ha
b. Tahun ke 2 Rp. 300.000,-/Ha
c. Tahun ke 3,dst. Rp. 300.000,-/Ha
d. Total biaya penanaman, pemeliharaan dan pemupukan sampai tahun ke-3 sebesar Rp. 1.000.000,-/Ha
5. Total biaya penanaman,pemeliharaan dan pemupukan sampai tahun ke-3 sebesar Rp. 3.000.000,-/Ha
6. Hasil panen pada tahun ke 4 :
a. Setiap hektar dapat menghasilkan rata-rata 10 ton/tahun
b. Harga 1 kg porang basah rata-rata Rp. 600,-/kg atau Rp. 600.000,-/ton
c. Harga hasil panen per hektar setiap tahun :
Rp. 600.000,-/ton10 ton = Rp. 6000.000,-/Ha/tahun
7. Panen porang sekali ditanam hasilnya bisa diambil sampai tanaman hutan pokoknya ditebang ( misalnya jati = 60 tahun).
8. Keuntungan pada tahun ke-4 ( pertama panen) = Rp. 6.000,-/Ha/th- Rp. 3.000.000,- = RP. 3.000.000,-
9. Keuntungan pada tahun ke-5 = hasil panen- biaya pemeliharaan/tahun= Rp. 6000.000,- - Rp. 300.000,- = Rp. 5.700.000,-/Ha
10. Hasil panen rata-rata/tahun pada tahun ke-4 senilai Rp. 2.000.000,- sehingga pada tahun ke-2 ( rata-rata 1,5 tahun) modal sudah bisa kembali.

Porang

 Tanaman Porang adalah tanaman daerah tropis yang termasuk family iles-iles. Tanaman ini mempunyai umbi yang kandungan Glucomanannya cukup tinggi. Tanaman Porang merupakan tumbuhan herba dan menchun. Mempunyai batang tegak, lunak, batang halus berwarna hijau atau hitam belang-belang (totol-totol) putih. Batang tunggal memecah menjadi tiga batang sekunder dan akan memecah lagi sekaligus menjadi tangkai daun. Pada setiap pertemuan batang akan tumbuh bintil/katak berwarna coklat kehitam-hitaman sebagai alat perkembangbiakan tanaman Porang. Tinggi tanaman dapat mencapai 1,5 meter sangat tergantung umur dan kesuburan tanah. Di Indonesia tanaman Porang dikenal dengan banyak nama tergantung pada daerah asalnya. Misalnya disebut acung atau acoan oray (Sunda), Kajrong (Nganjuk) dan lain-lain. Banyak jenis tanaman yang sangat mirip dengan Porang yaitu diantaranya: Suweg, Iles-iles dan Walur. Perbedaan Porang dengan Suweg antara lain adalah sebagai berikut :
1. Keduanya memiliki daun yang 100% sama. Bentuk menjari, pangkal daun 3, kadang daun berwarna hijau cenderung gelap, kadang juga hijau cerah. Tetapi daun porang masih bisa kita kenali dengan melihat titik pangkal daunnya, pada tempat itu akan terlihat bulatan kecil berwarna hija cerah hingga coklat sebagai bakal tumbuhnya bulbil, titik tersebut mulai terlihat sejak tanaman berusia kurang lebih 2 bulan. Titik bulbil tersebut sangat kentara, jadi tidak perlu khawatir salah. Lebih jelas lagi pada tanaman dengan usia lebih dari satu tahun, karena titik pertumbuhan bulbil lebih banyak lagi, pada pangkal daun yang bercabang menyebar di banyak tempat.
2. Keduanya memiliki batang yang sama, berwarna hijau cerah dengan totol-totol putih. Tapi tunggu dulu, cobalah meraba batang tersebut dengan seksama. Tidak akan terlalu lama untuk memastikan bahwa salah satunya bertekstur kasar, sedang yang lainnya halus mulus. Batang yang halus inilah yang merupakan batang tanaman Porang, tidak akan salah.
3. Ketika umbi sudah dipanen, lihatlah kondisi fisik luarnya. Jika umbi memiliki titik-titik percabangan umbi, seperti terlihat berupa benjolan ke samping, maka pastilah itu umbi suweg, karena umbi porang berupa umbi tunggal. Lalu irislah sedikit umbinya, semakin terlihat dengan jelas perbedaan umbinya. Karena umbi suweg berwarna putih kadang cenderung berwarna ungu atau merah jambu, sedangkan umbi porang kuning cerah (ingat bendera partai Golkar? tidak akan salah lagi, warnanya seperti itu). Tetapi akan ada sedikit masalah jika anda menemui umbi berwarna kuning cerah, tetapi ada benjolan titik tumbuh, di beberapa daerah menamai umbi semacam itu dengan nama walur, dan bisa dipastikan itu bukan porang, karena serat umbinya kasar, sedangkan porang serat umbinya halus nyaris tak terlihat, hanya berupa titik-titik saja.

B. MORFOLOGI PORANG
1. Daun
Porang mempunyai bentuk daun menjari, pangkal daun 3, kadang daun berwarna hijau cenderung gelap, kadang juga hijau cerah. Daun porang mempunyai titik pangkal daun, pada tempat itu akan terlihat bulatan kecil berwarna hijau cerah hingga coklat sebagai bakal tumbuhnya bulbil, titik tersebut mulai terlihat sejak tanaman berusia kurang lebih 2 bulan. Titik bulbil tersebut sangat kentara, jadi tidak perlu khawatir salah. Lebih jelas lagi pada tanaman dengan usia lebih dari satu tahun, karena titik pertumbuhan bulbil lebih banyak lagi, pada pangkal daun yang bercabang menyebar di banyak tempat.
2. Batang
Batang tanaman Porang terdapat bercak-bercak putih - hijau. Secara visual memang tidak terlalu berbeda dengan Suweg / Iles-iles Putih/ Walur (hanya saja kalau suweg kadang cenderung bercak gelap). Jika diraba baru terasa kalau kulit batang suweg terasa kasar.
3. Umbi
Kira-kira mulai usia tanaman 2 bulan, porang mulai mengeluarkan bulbil, yaitu umbi generatif yang tumbuh pada pangkal daun. Ditandai dengan bintik gelap pada pangkal daun. Jumlah bulbil tergantung ruas percabangan daun.Besarnya bulbil mulai seujung pensil sampai sekepalan tangan anak kecil. Bulbil berwarna coklat gelap. Umbi porang merupakan umbi tunggal, tidak ada titik tumbuh selain di bekas tumbuhnya batang. Daging umbi berwarna kuning cerah, dan seratnya halus. Getah porang menimbulkan rasa gatal di kulit.

C. SYARAT TUMBUH
Tanaman Porang pada umumnya dapat tumbuh pada jenis tanah apa saja, namun demikian agar usaha budidaya tanaman Porang dapat berhasil dengan baik perlu diketahui hal-hal yang merupakan syarat-syarat tumbuh tanaman Porang, terutama yang menyangkut iklim dan keadaan tanahnya. Syarat tumbuh tanaman Porang diantaranya adalah sebagai berikut :
1. Keadaan Iklim
Tanaman Porang mempunyai sifat khusus yaitu mempunyai toleransi yang sangat tinggi terhadap naungan atau tempat teduh (tahan tempat teduh). Tanaman Porang membutuhkan cahaya maksimum hanya sampai 40%. Tanaman Porang dapat tumbuh pada ketinggian 0 - 700 M dpl. Namun yang paling bagus pada daerah yang mempunyai ketinggian 100 - 600 M dpl.
2. Keadaan Tanah
Untuk hasil yang baik, tanaman Porang menghendaki tanah yang gembur/subur serta tidak becek (tergenang air). Derajat keasaman tanah yang ideal adalah antara PH 6 - 7 serta pada kondisi jenis tanah apa saja. Tanah yang digali untuk ditanami, menyebabkan tanah kaya oksigen dan membuatnya menjadi gembur. Pupuk yang diberikan untuk porang, secara tidak sengaja – sebagian akan ikut terserap oleh perakaran tanaman tegakan, sehingga baik porang maupun tanaman tegakannya akan memperoleh manfaat dari pupuk tersebut. Penyiangan rumput di sekitar tanaman porang tentu saja akan menghilangkan gangguan – mengurangi perebutan unsur hara antara tanaman utama dengan penganggu. Jadilah, pola penanaman tumpangsari porang di bawah tanaman tegakan akan bekerja simbiosis mutualisme antara pemilik lahan dengan petani porang, layaknya kerbau dengan burung jalak. Porang yang dibudidayakan di hutan rakyat atau lahan perorangan, disarankan untuk ditanam dalam galian dengan ukuran tertentu, diberikan pupuk – terutama pupuk kandang dengan komposisi tertentu dan diperlukan sesekali penyiangan terhadap rumput gulma.
3. Kondisi Lingkungan
Budidaya porang memerlukan tanaman keras sebagai tegakan yang melindungi porang dari sinar matahari langsung. Sebenarnya, kerapatan pohon atau keteduhan daun lahan yang akan ditanami tidak harus terlalu rapat dan keteduhan yang diberikanpun hanya minimal sekali, yang penting, pada saat matahari terik bersinar di tengah hari, daun porang bisa terlindung dari sinarnya. Karena jika tidak, daun akan layu dan tanaman tidak akan tumbuh optimal, bahkan mati. Naungan yang ideal untuk tanaman Porang adalah jenis Jati, Mahoni Sono, dan lain-lain, yang pokok ada naungan serta terhindar dari kebakaran. Tingkat kerapatan naungan minimal 40% sehingga semakin rapat semakin baik.

E. KANDUNGAN PORANG
Umbi porang atau suku jawa menyebutnya : iles-iles, walaupun istilah ini tidak tepat, mengandung bahan/senyawa yang mahal harganya yaitu: Glucomannan. Glukomannan adalah polisakarida hidrokoloid yang terdiri dari residu D-glucose dan D-mannose. Membeli porang/konjac sama dengan membeli viskositas. Mutu Porang/Konjac Indonesia yang dicari adalah: > 60.000 cps. Jepang, taiwan, Hongkong, USA memerlukan porang sebagai makanan kesehatan. Karena sebagai polisakarida, atau bahasa orang AWAM (PATI). glukomannan ini mengandung rendah kalori yakni: sekitar 3 Kkal/100 g bahan.

F. Manfaat Porang
Manfaat Porang banyak sekali terutama untuk industri dan kesehatan, hal ini terutama karena kandungan zat Glucomanan yang ada di dalamnya. Adapun manfaat unbi Porang adalah sebagai berikut:
1. Bahan lem
2. Jeli
3. Mie
4. Conyaku/tahu
5. Felem
6. Perekat tablet
7. Pembungkus kapsul
8. Penguat kertas

G. Pemasaran
Pasar umbi Porang mencakup pasar luar negeri dan dalam negeri.
1. Untuk pangsa pasar dalam negeri; umbi Porang digunakan sebagai bahan mie yang dipasarkan di swalayan, serta untuk memenuhi kebutuhan pabrik kosmetik sebagai bahan dasar.
2. Untuk pangsa pasar luar negeri; masih sangat terbuka yaitu terutama untuk tujuan Jepang, Taiwan, Korea dan beberapa negara Eropa.

Porang atau Iles-iles berbeda dengan SUWEG

http://mw2.google.com/mw-panoramio/photos/medium/61782528.jpg
Porang atau Iles-iles
Kerajaan:
Plantae
(tidak termasuk)
Monocots
Ordo:
Alismatales
Famili:
Araceae
Genus:
Amorphophallus
Spesies:
A. muelleri
 http://ryuniati.staff.ui.ac.id/files/2011/01/konyaku-potato.jpg
Porang, dikenal juga dengan naman Iles-Iles (Amorphophallus Onchophyllus) dan di daerah Jawa dikenal dengan nama suweg. Merupakan tumbuhan semak (herba) yang memiliki tinggi 100 – 150 cm dengan umbi yang berada di dalam tanah. Batang tegak, lunak, batang halus berwarna hijau atau hitam belang-belang (totol-totol) putih.
Tinggi tanaman dapat mencapai 1,5 meter sangat tergantung umur dan kesuburan tanah. Untuk mencapai produksi umbi yang tinggi diperlukan naungan 50-60%.
Tanaman porang itu sendiri dapat dipanen setelah berumur 3 tahun (3 kali pertumbuhan). Dalam setiap pohon dapat memanen hasil sebanyak 2 Kg umbi, dan dalam setiap hektarnya dapat diperoleh 12 ton atau sekitar 1,5 ton kering.
http://4.bp.blogspot.com/_q7sbR0Yhauo/TQZiFW5RRkI/AAAAAAAAABo/M89QgFMEVmk/s1600/penen+iles2.JPG
Panen Iles-iles
Umbi inilah yang akan dipungut hasilnya karena memiliki kandungan glukomannan (tepung umbinya).  Tumbuhan ini hidup di bawah naungan dan dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan alternatif di musim paceklik.
http://202.67.224.135/pdimage/92/1292892_konjacsubang6.jpg
Kripik Iles-iles
Bahan makanan yang berasal dari porang atau iles-iles ini banyak disukai oleh masyarakat Jepang berupa mie atau konyaku
http://homepage1.nifty.com/oomaguro/image/konnyaku05.jpg
Konyaku
Tepung suweg dapat dipakai sebagai pangan fungsional yang bermanfaat untuk menekan peningkatkan kadar glukosa darah sekaligus mengurangi kadar kolesterol serum darah yaitu makanan yang memiliki indeks glikemik rendah dan memiliki sifat fungsional hipoglikemik dan hipokolesterolemik.
Suweg sebagai serat pangan dalam jumlah tinggi akan memberi pertahanan pada manusia terhadap timbulnya berbagai penyakit seperti kanker usus besar, divertikular, kardiovaskular, kegemukan, kolesterol tinggi dalam darah dan kencing manis
Sumber:
http://KOMPAS.com
http://infoguano.blogspot.com
http://id.wikipedia.org/wiki/Iles-iles
http://tripmondo.com
http://homepage1.nifty.com/oomaguro/inakagurasi0610.htm
http://hphajatim.blogspot.com
http://indonetwork.co.id
Didah Nur Faridah,dkk.Pangan Fungsional Dari Umbi Suweg dan Garut: Kajian Daya Hipokolesterolemik Dan Indeks Glisemiknya. 2007. Bogor.Dept. IPT - FATETA, SEAFAST CENTER IPB.
http://Sabarudin Achmad.blogspt.com

No comments:

Post a Comment

Blog Archive