Blog

Blog

Monday, July 7, 2014

SLBK; Nostalgi Medis Ibnu Sina


Saat menjalani terapi.

Ibnu Sina. Ini bukan soal ilmuwan Muslim kosohor dan serbabisa yang juga berjuluk bapak dokter dunia itu, tapi terkait nama rumah sakit di Gresik, Jawa Timur. Ya, rumah sakit milik Pemkab Gresik yang bernama Ibnu Sina  ini memiliki kenangan tersendiri bagi saya. Di rumah sakit yang lebih dikenal dengan sebutan Rumah Sakit Bunder dan berlokasi di Jl Wahidin Sudirohusodo ini, saya pernah dirawat secara intensif selama tiga hari setelah hampir sehari (pagi hingga sore menjelang Ashar) saya tidak sadarkan diri.  Kecelakaan yang menimpa saya tahun 2007 itu membuat saya harus menjalani rawat inap selama tiga hari plus masa rehabilitasi sekitar tiga bulan sebelum akhirnya dinyatakan sembuh total.

Di bawah pengawasan dr Burhan --kala itu-- saya memang harus menjalani masa recovery setelah sempat divonis gegar otak ringan akibat kecelakaan hebat saat sepeda motor yang saya kendarai ditabrak oleh pengguna jalan lainnya (juga sepeda motor) dari arah belakang. Tabrakan ini terjadi di Jl Mayjen Sungkono, Gresik, ketika saya mau belok kanan (dari arah Giri/Kebomas) menuju perumahan GKGA Kedanyang, tempat saya dan keluarga tinggal.

"Saya perkirakan, Bapak akan benar-benar sembuh total dalam waktu tiga bulan. Dan ingat, kecepatan pemulihan ini juga bergantung upaya keras Bapak untuk  sembuh. Karena itu, pikiran Bapak tidak boleh nganggur. Makin keras berpikir, makin bagus," kata dokter spesialis saraf ini  memotivasi saya.

Dan benar, dalam tempo tiga bulan sejak saya rawat inap, dokter Burhan menyatakan saya benar-benar sembuh. Alhamdulillah, Yaa Robbii. Atas kuasa dan pertolongan-Mu, ihtiar penyembuhan saya melalui tim medis di rumah sakit Ibnu Sina, Kau kabulkan. Sekali lagi, Alhamdulillah, Yaa Allah!

Nostalgi Medis
Senin, 30 Juni 2014, kaki saya kembali menginjak rumah sakit yang warna gedung-gedungnya dominan hijau tosca ini. Melalui beberapa kelokan lorong penghubung antargedung, saya akhirnya sampai di gedung Endoscopy yang di dalamnya terdapat poli Rehabilitasi Medik. Ya, saya memang lagi berkepentingan dengan poli ini. Sebab, oleh dokter Klinik Kamila yang merujuk saya ke rumah sakit ini, saya didiagnosis mengalami gangguan pada jaringan otot di persendian lengan atas atau pundak kiri.  Di bagian ini, persendian saya praktis tak bisa digerakkan dan nyeri luar biasa. Puluhan tablet anti nyeri sudah saya konsumsi, tapi belum membuahkan hasil maksimal. Akhirnya dr Nana, salah seorang dokter di klinik yang hanya berjarak 100-an meter dari rumah, merujuk saya ke rumah sakit pada poli Rehabilitasi Medik di RS Ibnu Sina.

Semula saya menduga, sakit yang saya derita kali ini akibat kadar kolesterol yang melampaui ambang batas yang bisa ditoleransi oleh aspek kesehatan. Dugaan ini berdasar gejala dan rasa nyeri (yang luar biasa itu) sama persis dengan yang saya alami dua tahun silam. Kala itu, saya merasakan hal yang nyaris sama, baik gejala maupun rasa nyerinya. Namun, waktu itu yang terserang adalah tangan kanan saya, mulai pundak hingga ruas-ruas jemari. Dan, hasil uji laboratorium kala itu memastikan, bahwa kadar kolesterol saya memang melebihi ambang batas normal. Saya jadi ingat, di tengah sakit itu, saya memaksakan diri mendampingi sahabat saya, Much. Khoiri, yang mulai getol mengembangkan gerakan literasi dengan memberikan motivasi menulis kepada sekitar 150 siswa SMAN di Kec. Sumber, Rembang, Jawa Tengah. Lumayan lama proses penormalan kadar kolesterol saya waktu itu, sekitar dua bulan dan saya harus minum obat. Selain harus mengonsumsi beberapa obat yang direkomendasi dokter, saya juga rajin makan buah manggis untuk menurunkan kadar kolesterol hingga kembali ke posisi normal.

Kali ini, karena gejala dan nyeri yang saya rasakan nyaris sama dengan dua tahun silam saat kadar kolesterol melebihi ambang batas, saya pun melakukan tes darah untuk mengecek kadar kolesterol. Ternyata dugaan saya meleset. Hasil tes darah saya menunjukkan, kadar kolesterol saya masih masuk kategori normal. Saya makin penasaran. Setelah kadar kolesterol dinyatakan tidak ada masalah dan baik-baik saja, "diagnosis" saya beralih ke asam urat. Sebab, kata kebanyakan orang, gejala dan rasa sakit akibat kelebihan kadar kolesterol mirip dengan asam urat yang melebihi ambang batas. Lalu saya pun minta dokter mengecek kadar asam urat, gula darah, termasuk mengukur tensi (tekanan darah).
"Jangan-jangan kena asam urat. Karena saat pengajian beberapa hari sebelum kontrol ke dokter, sempat makan kacang godhok lumayan banyak," pikir saya.

Lagi-lagi dugaan saya meleset. Oleh dokter yang melakukan tes darah, kadar asam urat saya dinyatakan normal. Demikian juga terkait kadar gula darah yang menjadi variabel untuk memastikan seseorang kena diabet atau tidak, serta tekanan darah. Semuanya normal-normal saja. Berdasar hasil tes darah tersebut, dokter menyimpulkan diagnosisnya, bahwa besar kemungkinan saya mengalami gangguan otot. Hal ini bisa jadi akibat pernah jatuh atau salah posisi saat tidur.

"Pernah jatuh?" Tanya dr Nana.

"Dalam waktu dekat ini, Dok?" saya balik bertanya.

"Ya, kapan saja, Pak. Termasuk yang dulu-dulu."

"Wah, kalau dulu, jatuh itu ya kayak sego-jangan (sudah biasa), Dok. Hampir tiap saya main atau latihan sepak bola waktu muda dulu, mesti pernah jatuh," ujar saya.

"Ya, mungkin itu Pak. Sisa-sisa jatuh waktu aktif sepak bola," timpal dokter yang masih belia ini.

Akibat jatuh atau cedera yang sudah puluhan tahun bisa bersemi kembali? Hix, ternyata bukan hanya cinta lama yang bisa bersemi kembali (CLBK), hehe, tapi jatuh pun bisa mengalami hal yang sama. Dengan kata lain, apa yang saya alami saat ini adalah sakit lama bersemi kembali (SLBK)

Rehab Medik
Setelah antre berjam-jam di ruang tunggu, nama saya pun dipanggil untuk masuk ke ruang dokter. Di ruang poli Rehabilitasi Medik itu saya diterima dr Sari Hanadayani Sp RM. Setelah beberapa menit dialog dan dia meminta saya melakukan beberapa gerapan terkait lengan kiri saya, sang dokter pun menorehkan beberapa catatan medis saya di form yang disiapkan stafnya.  Beberapa saat kemudian, dokter Sari meminta saya keluar ruang, menunggu panggilan kembali.

"Nanti dipanasi dulu pundaknya. Nanti terapinya lima kali ya, lalu kita evaluasi hasilnya," kata Dokter Sari seraya meminta saya menunggu di luar dan mengabarkan, bahwa jadwal terapi saya tiap hari Senin dan Kamis.

Uffff, pundak saya akan dipanasi? Apa pula ini? Jujur, itu kali pertama saya mendengar, bahwa pundak saya akan dipanasi. Dengan apa memanasinya? Saya jadi was-was juga di saat menunggu panggilan giliran untuk masuk ke ruang yang akan memanasi pundak saya. Begitu mendengar nama saya dipanggil dan dipersilakan masuk,  ke ruang khusus (belakangan saya ketahui ternyata ruang fisioterapi),  saya berjalan masih dengan perasaan cemas, dikawal istri saya. Setelah melewati dua pintu, seorang perawat cantik dengan senyum mengembang menyambut dan langsung menggiring saya ke salah satu bilik di ruang fisioterapi.

Seperti kerbau yang telah tercocok hidungnya, saya manut saja kepada perawat berjilbab ini. Tanpa tanya ini-itu saya juga nurut saja ketika disuruh melepas kaos yang saya pakai dan meminta saya berbaring di bed di bilik itu. Saya diminta berbaring secara rileks dalam posisi miring ke kanan. Dalam hitungan detik, sebuah alat yang saya tidak tahu apa namanya diseret dan didekatkan ke ranjang yang saya kleseti. Dan, ternyata alat seperti robot inilah yang dipergunakan untuk memanasi pundak saya, kalau tidak salah menggunakan sinar infra merah. Setelah menyeting dengan kadar panas tertentu, alat itu pun didekatkan ke pundak saya. Posisinya sangat dekat, hampir menempel. Seketika rasa hangat menyergap pundak saya. Sang perawat pun lalu meninggalkan ruang atau bilik di mana saya ngglethak (mungkin melayani pasien lain) dengan pesan, kalau penyinaran yang distel 13 menit itu selesai, dia minta diberi tahu.

Setelah proses pemanasan atau penyinaran selesai, istri saya memanggil perawat itu. Alat itu pun digeser, dipinggirkan. Perawat yang selalu terlihat tersenyum ini lalu menyiapkan sesuatu. Uffff, apa pula ini? Sebuah peralatan yang (lagi-lagi) saya tidak tahu namanya dan banyak kabelnya itu ditaruh di pinggir ranjang. Dengan sigap, tangan lembutnya mengoleskan semacam jeli ke pundak saya dan ... plek. Sebuah benda berkabel menempel di pundak kiri saya. Dalam tempo cepat, tiga benda berbentuk bundar yang semuanya tersambung kabel ke alat berbentuk kotak pun menempel ke pundak kiri saya.  Sang perawat bilang, alat ini disetting 10 menit. Kalau getaran yang terasa terlalu keras, dia berpesan menekan salah satu tombol di kotak itu untuk mengecilkan efek getaran.

Begitu di-on-kan, terasa getaran seperti strom listrik. Makin lama, dalam pundak saya seperti ada yang rontok. Terasa kretek-kretek, seperti bongkahan tanah kering yang disemprot air. Saya hanya diam "menikmati" proses terapi di ruang fisioterapi ini, seraya berdoa agar Allah mengabulkan ihtiar medis ini
dan menyembuhkan sakit saya. Entah, di sela menikmati getaran strom ini, mata saya menerawang: kosong. Saya jadi memikirkan satu tahapan kehidupan yang jika saya diundang memasukinya sekarang, saya merasa belum siap. Kematian!

"Ya Allah, di bulan suci Ramadan yang mubarokah ini, beri hamba-Mu kesempatan untuk terus berbenah diri. Ampuni segala dosa hamba dan bimbinglah hamba-Mu ini menuju jalan-Mu."

Dalam sunyi, hamba bermunajat kepada-Mu. Dalam sunyi, hamba berharap dekapan hangat-Mu. Dalam sunyi, hamba memohon ampunan dan bimbingan-Mu.



Gresik, 5 Juni 2014

No comments:

Post a Comment

Blog Archive