Blog

Blog

Sunday, June 15, 2014

Sang Guru Laku yang Suka Mengalah



Kangen-Sowan Bapak (2)


Bapak dan ibu saat pernikahan si bungsu, 26 September 2010.
Bagi saya, bapak adalah sosok guru laku yang nilai-nilai ajarannya terpatri mati dalam perkembangan perjalanan hidup saya, juga anak-anaknya yang lain. Hingga kini, apa yang disampaikan --kendati telah puluhan tahun berlalu-- tak akan lekang sedikit pun.

Meski pendidikan formalnya cuma protholan SMP, di mata saya bapak adalah guru laku utama saya yang luar biasa dalam pemancangan tiang karakter dan hingga kini masih kuat tertanam. Di antara ajaran yang sampai saat ini saya pegang teguh adalah: "Ojo rendah diri lan nyesel dadi wong urip nek lagi nemoni apes. Sebalike, aja sombong lan gumedhe nek lagi nemoni urip sing enak. Sing sabar, jejeg, lan madhep nang sing gawe urip."

Pesan moral ini mengajarkan agar saya tidak minder dan menyesali diri ketika tengah menghadapi kesulitan hidup. Sebaliknya, jangan berlaku sombong dan merendahkan sesama jika tengah diganjar hidup serba kecukupan atau berkelebihan. Tetap sabar dan bersandarlah pada sang pemberi kehidupan, Allah SWT, atas segala permasalahan yang terjadi.

Apalah artinya kesenangan atau kesedihan kalau sifatnya hanya sementara. Seperti roda yang tengah berputar. Kadang cop pengisi anginnya berada di atas, kadang di samping, bahkan kadang juga di bawah. Itulah perumpamaan kehidupan yang lazim dialami oleh manusia. Karena itu, kata bapak, bersikaplah wajar dan biasa-biasa saya dalam menghadapi situasi yang cenderung berubah seraya tetap bersyukur kepada-Nya.

Saya ingat betul, pesan ini kali pertama saya dengar dari bibir bapak ketika saya baru lulus SD dan bersiap melanjutkan ke jenjang pendidikan SMP tahun 1980. Di kursi panjang beranyam rotan yang berada di ruang tamu, kami duduk berdampingan, hanya berdua. Saat itulah bapak membekali diri dan batin saya dengan pesan moral tersebut yang kemudian saya jadikan pegangan dalam hidup bermasyarakat, hingga kini.

Bapak juga sering berpesan, untuk hal-hal yang tidak prinsip, sebisa-bisanya upayakan untuk mengalah dengan orang lain. Pesan lain, perbanyaklah teman, tapi harus selektif, dan hindari permusuhan dengan sesama. Untuk dua pesan ini (mengalah dan perbanyak teman), kata bapak, sangat berguna dalam menjalin hubungan baik dengan teman atau siapa pun. Saya juga sering menyaksikan betapa komitmen ini bapak terapkan baik dengan saudara, famili, atau dengan warga kampung.

Tak heran kalau dalam perjalanannya, bapak jadi ketua RW sejak 1980-an hingga akhir hayatnya, 3 Juni 2013. Sebenarnya berkali-kali bapak ingin berhenti jadi ketua RW di dusun Sidowaras dan menyerahkan jabatan itu kepada warga lain, tetapi tidak ada yang mau. Dalam ingatan saya, jabatan sebagai ketua RW II yang dipegang bapak, dijalani selama lebih dari lima kali masa kepemimpinan di desa kami. Jadi, kepala desa sudah berganti hingga lima kali, bapak tetap menjabat sebagai ketua RW. Padahal, dari lima kepala desa (Kades) itu, beberapa di antara mereka ada yang menjabat dua kali periode.

Sampai-sampai, ketika sudah meninggal pun, masih saja ada warga yang suka memberikan hantaran (berupa makanan) kepada ibu ketika mereka punya hajat, khususnya yang mau mantu. Tradisi di kampung kami, warga yang punya hajat, semisal mantu, biasanya mereka nonjoh (mengantar tonjohan) kepada perangkat desa, termasuk pak RW (Ketua RW).

"Lho nak, pakde wis gak ono kok jik diteri tonjohan sih (lho nak, pakde sudah meninggal kok masih dikasi hantaran sih)," kata ibu ketika ada warga yang mengirimi hantaran ke rumah.

"Mboten nopo-nopo budhe, kan biasane nggih ngeten (Tidak ada apa-apa, budhe. Kan biasanya juga begini)," jawab sang pengantar hantaran.

Di kampung, bapak memang biasa disapa Pakde Padar (nama lengkap bapak adalah Supadar), baik oleh warga yang usianya sepadan atau di bawahnya, maupun pemuda dan remaja yang biasanya minta stempel surat pengantar untuk ke Kades atau surat-surat lainnya. Sikap kebapakan dan kasabarannya membuat banyak orang menyukai dan menaruh hormat kepadanya.

Pribadi Penyabar

Tentang kesabaran, secara alami juga terbentuk oleh kesahariannya sebagai petani. Tahapan-tahapan bercocok tanam di sawah secara tidak langsung memberikan pelajaran dan membentuk karakter sabar, ulet, dan tawakal kepada Allah, Tuhan yang memberikan dan mengatur rezeki. Untuk bisa menikmati atau panen padi, misalnya, tahapan cukup panjang mesti dilalui, dan itu butuh kesabaran dan keuletan dalam kurun waktu tiga hingga empat bulan.

Kita tidak bisa begitu menabur benih padi (gabah) atau menanam (tandur), lalu seketika berharap panen. Ada sejumlah aktivitas penunjang untuk sampai masa panen. Di antaranya menyiangi (membersihkan) rumput yang mengganggu proses pertumbuhan, menaburkan pupuk, menyemprotkan pestisida untuk melindungi tanaman, termasuk harus berjibaku melawan ganasnya hama dan penyakit, seperti serangan wereng, tikus, belalang, yuyu (semacam kepiting yang hidup di sawah), burung, dan lain-lainnya.

Bahkan, sebelum proses menabur benih berlangsung, harus didahului dengan membajak tanah sawah biar tanah menjadi gembur serta meningkatkan unsur haranya. Tahapan-tahapan itu mesti dilakukan secara sabar dan telaten. Setelah berbagai langkah dan upaya dilakukan, tinggal  menunggu masa panen tiba, yang semuanya disandarkan pada kekuasaan Allah yang rahman. Hal yang sama juga berlaku ketika ngramut jenis tanaman pangan lainnya, seperti jagung, kacang-kacangan, termasuk ketika menanam jenis buah dan sayur, di antaranya garbis (blewah) dan kangkung sawah.

Rupanya keseharian dalam bergelut dengan lumpur dan aneka tanaman pangan, buah, dan sayur di sawah itulah yang ikut berperan membentuk karakter sabar yang dimiliki bapak, yang kemudian ditularkan kepada anak-anaknya. Di sepanjang hidupnya hingga dipanggil menghadap Allah SWT, sekali saja saya belum pernah melihat bapak bertengkar atau gegeran dengan orang lain. Dia lebih suka mengalah ketika ada potensi gesekan dengan orang lain. Demikian juga yang sering saya saksikan, betapa jiwa sabar dan mengalah itu dibuktikan dalam berinteraksi dengan sesama petani di sawah.

Ya, Apalah artinya kesenangan atau kesedihan kalau sifatnya hanya sementara. Karena itu, sudah sepatutnya kalau dalam mengarungi kehidupan ini, kita mesti berlapang dada menyikapi kesementaraan dan menyandarkan diri pada kodrat dan iradat-Nya dengan selalu bersyukur atas karunia yang ada.



Gresik, Juni 2014

No comments:

Post a Comment

Blog Archive