Blog

Blog

Tuesday, June 24, 2014

Korban Tabrak Lari



"Mas Aldi dah pulang, tapi ...."

Motor Aldi pascatabrakan
Ini adalah bunyi SMS istri saya, Shofi, ketika saya bertanya tentang apakah anak sulung kami, Ahmad Shalahuddin Azhar, sudah pulang atau belum dari kampus Unesa. Aldi, panggilan Ahmad Shalahuddin Azhar, Rabu (19/6/2014) mengikuti ujian praktik desain dalam rangka SBMPTN di Unesa, kampus Lidah Wetan. Itu merupakan hari kedua setelah sebelumnya menjalani tes tulis di kampus yang sama.

Untuk jalur SBMPTN ini, Aldi memang memilih Universitas Negeri (Unesa)  sebagai jenjang pendidikan lanjutan pasca-SMA-nya. Di kampus ini dia memilih dua program studi, yakni Ilmu Komunikasi dan Pendidikan Seni Rupa (Desain). Saat menjalani tes hari kedua itu, saya hanya mengantarkan Aldi di gerbang masuk kampus yang bersebelahan dengan komplek Perumahan CitraLand Surabaya ini. Dia memilih masuk sendiri ke dalam kampus, sendiri dan meminta saya meneruskan perjalanan ke kantor.


Dari rumah di Kebomas, Gresik, kami berangkat beriringan dengan motor sendiri-sendiri. Saya mengendarai Honda Suprafit, sedangkan Aldi dengan Yamaha Jupiter MX kesayangannya. Selama tiga hari berturut-turut, kami memang "berkonvoi" ke kampus Lidah Wetan dengan bersepeda motor. Hari pertama, Senin, 16 Juni, kami ke kampus Lidah Wetan untuk survei lokasi tes Aldi. Lokasi yang kami cari adalah salah satu gedung di Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) sebagaimana tertera di kartu SBMPTN-nya. Alhamdulillah, tidak ada hambatan. Kami temukan ruang di lantai 2 gedung di FIP itu. Di ruang itulah Aldi menjalani tes tulis SBMPTN di hari pertama yang dijadwalkan pada Selasa (17/6/2014).

Setelah mengetahui lokasi tes, kami pun keluar meninggalkan lokasi kampus. Karena Aldi belum paham betul jalur dari rumah ke kampus dan sebaliknya, saya mengawal Aldi sampai kawasan Sukomanunggal (Darmo Permai). Selanjutnya dia meneruskan pulang sendiri dan saya melanjutkan perjalanan ke kantor di Taman, Sidoarjo. Aman.

Selasa, 17 Juni 2014, sekitar pukul 07.00 bersama Aldi kami kembali "konvoi" menuju kampus Lidah Wetan. Hari itu Aldi terjadwal mengikuti ujian tulis SBMPTN. Setelah memarkir motor di sebelah gedung T3 Fakultas Bahasa Seni (FBS), kami pun berpisah. Aldi menuju ruang di mana dia akan berjuang mengikuti tes tulis, sedangkan saya meneruskan perjalanan ke kantor. Sesuai kesepakatan, Aldi akan pulang sendiri dengan motornya seusai tes seleksi tersebut.

Tibalah hari ketiga, Rabu, 18 Juni 2014, kami bersepeda motor di "sirkuit" Kebomas-Lidah Wetan. Tidak seperti hari pertama dan kedua, kali ini kami tidak berangkat bersamaan. Aldi berangkat duluan pada pukul 06.00 WIB --karena jadwal tes/ujian praktik terjadwal pukul 07.00-- dan saya (sesuai kesepakatan) menyusul. Saya masih harus ke kampus itu karena saya harus menyerahkan surat kehilangan STNK motor Aldi setelah sebelumnya saya ambil di Mapolsek Kebomas, Gresik. Dari kampus Lidah Wetan, setelah menitipkan selembar surat keterangan itu ke pengawas ujian untuk diteruskan ke Aldi, saya bablas ke kantor. Sesuai kesepakatan, saya tidak lagi mengawal Aldi dalam perjalanan pulang. Dia harus pulang sendiri dengan motornya.

SMS Kecelakaan
Ketika saya “tenggelam” dalam pekerjaan di kantor, sampailah pada awal petaka yang menimpa Aldi yang datang dari SMS istri di rumah. Saya berupaya mengejar SMS lanjutan dari istri saya yang kali pertama cuma menulis, "Mas Aldi dah pulang, tapi ...."

"Tapi apa, buk?" saya penasaran dan berupaya agar istri saya cepat melanjutkan SMS yang sengaja diputus itu.

"Mas Aldi dah pulang. Ini lagi istirahat nggak mau diganggu. Nanti tak ceritai di rumah aja," balas sang istri.

Makin penasaran, dan feeling saya mulai merasakan ada sesuai yang tidak enak tengah menimpa Aldi. Tidak sampai semenit, istri saya kembali mengirimkan SMS. Bunyinya, "Ya, mas Aldi tadi pulang diantar orang ke rumah. Sepedanya aku nggak tahu di mana. Anaknya tak tanya, jawabnya nggak banyak. Kata orang yang ngantar tadi, disuruh ambil sepedanya. Di mana ambilnya, aku nggak tahu."

Membaca SMS itu saya langsung menduga, sesuatu telah menimpa Aldi saat perjalanan pulang dari kampus Lidah Wetan menuju rumah. Ada dua dugaan kuat yang menggelantung di pikiran saya: Aldi mengalami kecelakaan atau berurusan dengan polisi lalu lintas. Namun, feeling saya, dugaan pertama lebih kuat. Saya pun terus memancing SMS lanjutan dari istri. Inilah SMS berikutnya.

"Anaknya (mas Aldi) minta istirahat. Kakinya berdarah sedikit.  Dia bilang tabrak lari. Segini dulu ya, nanti ceritanya di rumah saja. Aku nggak berani bilang siapa-siapa. Bilang sampean ini saja tadi mikir-mikir," tulis istri saya, seraya menambahkan, Aldi belum mau ngomong banyak karena terlihat shock dengan kecelakaan yang menimpanya.

Dia melanjutkan SMS-nya, "Yang banyak dzikir ya. Alhamdulillah, anak kita selamat. Lukanya Cuma dikit kok. Tapi,  tak tanya gak mau, cuma bilang mobil yang nabrak lari. Dah gak mau diajak
ngomong lagi. Tak suruh makan,minum gak mau. Ini tak bangunkan juga gak mau. Orang yang ngantar mas Aldi tadi bilang, sepeda ancur.  Aku kasihan lihat Aldi. Sampean yang tenang, gak usah panik.  Banyak sholawat klo pulang, n hati hati."

Dia pun mengunci perbincangan lewat SMS itu dengan pesan khusus kepada saya ketika saya dalam perjalanan pulang dari kantor. "Yang ihlas. Jangan berdoa jelek untuk si penabrak anak kita."

Istri saya kenal betul bagaimana kondisi emosi saya. Dia juga punya keyakinan akan kekuatan doa ketika kami berada dalam suatu kondisi tertentu atau dalam posisi benar-benar terhimpit atau terdesak. Karena itu, dia memilih sangat berhati-hati dalam mengomunikasikan kabar kecelakaan Aldi ke saya. Dia minta saya untuk ihlas menerima takdir Allah dan tidak dendam atau mendoakan dengan maksud jelek atau mencelakai si penabrak Aldi. Saya bisa menerima pesan dan saran istri saya. Saya pun mendoakan agar sopir mobil boks yang menabrak Aldi selamat di perjalanan dan tidak mengalami dan rasakan seperti yang menimpa Aldi dan kami rasakan saat ini.

Sesampai di rumah, saya segera membuka pintu kamar Aldi. Saya sama sekali tidak menyinggung kecelakaan yang menimpanya. Sebaliknya, saya berupaya mengalihkan perhatian dan pikirannya agar tidak terus larut dengan kecelakaan yang menimpanya. Saya tanya-tanya bagaimana proses tes SBMPTN, baik untuk tes tulis maupun praktik desainnya. Saya sampaikan, setelah berjuang dan ihtiar dalam tes seleksi, sambil menunggu pengumuman, saya minta Aldi menyandarkan putusan terbaiknya kepada Allah SWT seraya terus berdoa agar dia bisa diterima melanjutkan studinya di Unesa. Mendengar pesan saya, Aldi memang tak banyak merespon. Ngomongnya juga terlihat "pelit", tak seperti biasanya. Saya bisa merasakan, dia masih shock dengan kejadian yang menimpanya. Saya pun membiarkan dia istirahat di kamarnya setelah menyampaikan pesan secukupnya.

Kamis pagi (19/6/2014), saat berangkat kerja, saya mampir ke pabrik, tempat motor Aldi dititipkan orang-orang yang menolongnya. Setelah kulo nuwun ke beberapa petugas Satpam yang siaga di pos depan, saya temui kondisi motor Yamaha Jupiter MX yang belum lunas masa angsurannya itu memang hancur bagian depannya. Besi penghubung setir dengan sekok, patah. Sekoknya juga tidak lurus lagi. Demikian juga beberapa bagian bodi terlihat rusak berat. Saya menduga, juga berdasar info yang saya himpun dari Aldi dan saksi mata, kecelakaan itu karena tabrakan dari arah berlawanan. Saya juga menduga, tabrakan cukup keras karena kerusakan motor paling parah di posisi depan. Menurut saksi mata, begitu tabrakan terjadi, Aldi terpental ndlosor, terpisah dengan motornya dan motor itu sempat terseret mengikuti arah mobil yang menabraknya, beberapa meter. Sebelum tabrakan terjadi, mobil boks itu berusaha menyalip kendaraan lain  sehingga memakan badan jalan terlalu ke kanan, dan tabrakan dengan motor yang dikendarai Aldi pun tak terhindarkan.

Kini motor Yamaha Jupiter MX warna merah maron itu masih tergeletak di salah satu sudut halaman pabrik di Jl Mayjen Sungkono, Gresik itu. Saya masih menitipkannya ke petugas Satpam pabrik karena belum siap menarik atau membawa ke bengkel. Belum ada dana. Konsentrasi saya masih terfokus mengembalikan mental Aldi untuk keluar dari lilitan shock pascakecelakaan. Saya pun kembali berpesan kepada Aldi lewat SMS:

"Mas, gmn sakitnya, msh kerasa? Coba lupakan soal kecelakaan itu n konsent ke SBMPTN. Support dg doa. Ayah dan ibu terus berdoa dan berihtiar utk sukses msk Unesa. Ayah yakin, kamu bsa lolos. Anggap aja kecelakaan kmrn itu sbg tambahan soal ujian menuju sukses."

Alhamdulillah Yaa Robbana. Engkau berikan kasih sayangmu kepada kami sekeluarga dengan kembali memberikan ujian demi ujian kepada kami, karena kami yakin ujian ini jalan menuju kebaikan kami kelak. Kami akan terus berjalan dan mengurai misteri dan rahasia kehidupan ini sebagai bekal menuju ridlo-Mu.Karena itu terus dan terus bimbinglah kami.
                                                                   *****
Misteri
Sampai ke ujung jalan
yang aku tak tahu entah di mana
Kucari rahasia dan hikmah terindah
yang Kau siapkan
:untukku
 

                                                           
Gresik, 19 Juni 2014

1 comment:

  1. Mas, turut prihatin. Moga segera pulih kembali sehat adik aldi. Indahnya kasih keluarga mas, mengundang berkah besar dr ILLAHI aamiin...

    ReplyDelete

Blog Archive