Blog

Blog

Monday, June 2, 2014

Magnet Tahajud Menarik Saya ke Tanah Makam


Kangen-Sowan Bapak (1)

Hari masih cukup pagi ketika saya meninggalkan rumah dan mengantar Fian ke sekolah. Saya lirik jam di dinding ruang tamu beberapa detik sebelum meninggalkan pintu menuju motor di halaman, jarum pendeknya sedikit melintasi angka 6 dan jarum panjangnya bertengger di angka 3. Itu artinya, waktu menunjukkan pukul 06.15 WIB. Seperti biasa, ketika anak keempat saya, Ahmad Najih Arifianto, nama lengkap Fian, lagi malas ke sekolah dengan sepeda onthel-nya, dia suka bonceng saya yang sekalian berangkat kerja. Pulangnya dia bersama temannya seperumahan. Demikian juga yang terjadi, Senin, 2 Juni 2014 hari ini.


Dari rumah di Perum GKGA menuju MI Al-Falah di Desa Kedanyang, saya hanya butuh waktu  sekitar enam hingga tujuh menit untuk ngedrop Fian yang kini masih kelas 4. Selanjutnya saya bablas ke kantor di kawasan Taman, Sidoarjo. Namun, kali ini lain. Saya tidak langsung menuju kantor setelah meninggalkan Fian di sekolah, tapi berniat sowan ke rumah abadi bapak saya, Supadar, setelah sebelumnya mampir sebentar ke rumah kakak peripihan, H M. Zuhri-Hj Masturo di perumahan Gresik Kota Baru (GKB), sekitar 3 km dari  rumah saya.

Dari GKB, saya pacu motor Honda Suprafit saya menuju tanah kelahiran saya di Dusun Sidowaras, Desa Lebaniwaras, Kec. Wringinanom yang berjarak sekitar 35 km dari rumah saya di Perum GKGA Kedanyang, Kebomas, Gresik. Di kawasan berbatasan dengan daerah Krian, Sidoarjo inilah saya lahir dan besar hingga SMA. Memasuki ujung  desa yang kini banyak ditumbuhi  gedung pabrik dan meninggalkan sedikit kawasan persawahan ini, saya mampir dulu ke rumah yang kini ditinggali ibu saya, Paisah dan salah seorang adik saya, Sri Suharnanik beserta suami dan anaknya, juga dua keponakan, Arik dan Wildan.

Setelah istirahat sejenak dan salat Dhuha, saya pamit kepada ibu –sambil salim dan mencium punggung telapak tangan kanannya-- untuk sowan ke rumah abadi bapak di pemakaman desa yang lokasinya di ujung barat dusun kami. Di makam yang berbatasan dengan desa tetangga, Kandangasin inilah bapak bersemayam sejak setahun lalu, tepatnya 3 Juni 2013. Hari ini, kurang sehari  pas setahun bapak tinggal di  rumah abadinya, di alam kubur.


Magnet Tahajud
Laku sowan ke makam bapak ini sebenarnya tidak saya rencanakan jauh-jauh hari. Ini aksi spontan yang muncul ketika saya tengah menunaikan qiyamullail (salat Tahajud) dini hari tadi. Entahlah, sejak rakaat pertama hingga witir (penutup) Tahajud, tubuh saya serasa ringan dan seperti tak berpijak pada hamparan sajadah. Hal ini tidak saja ketika pada posisi berdiri, tapi juga saat rukuk, I’tidal, sujud, juga duduk tasyahud hingga salam.

Dan, sepanjang salat itu, bayangan bapak terus berkelebat dalam pikiran saya. Tanpa saya sadari, dua “sungai” kecil di ujung mata pun menumpahkan air hingga membanjiri pipi dan terus mengalir tembus ke dada. Saya tidak tahu berapa volume air mata yang terkuras sepanjang salat tahajud ini dan saya merasakan perlahan mengering di sumbernya. Maka, seusai salam pada tiap dua rakaat hingga akhir witir, saya tidak melakukan dzikir apa pun, kecuali hanya istighfar, mohon ampun kepada Tuhan Yang Esa, baik untuk diri saya sendiri maupun bapak.

Astaghfirullohal ‘adzim … astaghfirullohal ‘adzim …astaghfirullohal ‘adzim ...Innalloha ghofururrohiem. Ya Allah, berikanlah ampunan-Mu kepada bapak yang telah pulang menghadap-Mu.Terimalah semua amal kebajikannya dan tempatkan dia kelak di sorga-Mu yang indah,” doa tunggal saya sambil berurai air mata.

Ketika larut dalam untaian istighfar yang sambung-menyambung, ingatan saya pun melesat ke putaran waktu setahun silam, di saat-saat terakhir saya menunggui bapak di tempat tidurnya. Saya juga ingat betul ketika sehari sebelum bapak "pulang", bersama adik bungsu saya, Hermin Sulistyowati, semalaman membimbing bapak untuk melafalkan kalimah-kalimah toyyibah, seperti ‘astgahfirullohal 'adzim, laailaha illalloh’, hingga menyebut asma ‘Alloh’ saja.

Kami khawatir ketika dipaksakan melafalkan kalimah tauhid (laailaha illalloh) itu terputus di tengah, karena kondisinya yang makin melemah. Ketika kondisinya benar-benar kritis dan hanya terdengar nafas yang keluar dari mulutnya, bersama Hermin saya bacakan surat ke-36 dalam al Quran, yakni surat Yasin, sambil memijiti kakinya. Saat itu, saya duduk tepat di samping bagian kakinya, Hermin di dekat kepalanya, dan ibu di bagian tengahnya.

Saya juga sangat ingat, betapa kami merasa "ditilap", ketika kami bertiga bergeser sebentar ke luar kamar untuk berunding dengan saudara-saudara yang lain tentang peluang menyelamatkan bapak. Ketika kami berunding di dekat pintu kamar, adik ipar saya, Ibadurrahman, suami Hermin, menjaga bapak di kamar. Dalam beberapa detik, dik Ibad mendekati saya dan bilang, "Mas, bapak sudah nggak ada."

Saya tidak bisa menahan air mata begitu mendengar kabar dik Ibad yang setengah berbisik itu. Saya, ibu, dan saudara-saudara yang kebetulan sudah kumpul semua langsung mendekati bapak, memeluk, menggoyang-goyangkan bagian tubuhnya, mendekap, seakan tak percaya, bahwa seperempat jam ba'da Maghrib itu bapak meninggakan kami untuk selama-lamanya. Tangis pun pecah dari anggota keluarga yang memenuhi kamar juga sejumlah sanak keluarga dan tetangga di ruang tengah.

Saya juga ingat ketika memangku bapak saat dimandikan di halaman rumah. Saya memangku bapak di bagian kaki, kakak saya Hartono di bagian tengah, dan salah seorang kakak misan, Samsuri di bagian kepala. Kami bertiga kosok-kosok sekujur tubuh bapak dengan sabun cair dan lalu dibilas dengan air hingga kami merasa benar-benar bersih.

Malam itu, sekitar pukul 20.00 WIB, proses memandikan dan mengafani selesai. Sebelum diberangkatkan ke makam desa yang berjarak sekitar 500 meter dari rumah, jenazah bapak disemayamkan sebentar di musholla --dalam perjalanan menuju makam-- untuk disalati. Karena terbatasnya ruang musholla, ratusan pentakziyah terpaksa tidak bisa salat secara bersamaan, tapi bergantian.

Setelah disalati, dengan sigap dan cepat keranda yang membungkus bapak diusung ke makam. Para pentakziyah tampak berebut ikut menggotong jenazah secara bergantian. Sesampai di makam, saya dan mas Hartono, juga salah seorang kerabat dekat, masuk ke liang lahat untuk menangkap dan membopong jenazah bapak hingga ke dasar liang lahat. Kami tidurkan dan miringkan bapak menghadap kiblat di liang yang sempit dan pengap itu. Setelah melepasi tali pocong dan mengganjal tubuh dan kepalanya dengan kepalan tanah liat bekas galian, serta sejumlah potongan papan kami tata secara rapi untuk melindungi tubuh bapak agar tak bersentuhan langsung dengan tanah urug, secara perlahan beberapa pentakziyah memasukkan tanah ke liang yang dihuni bapak: sendirian. Kami baru keluar meninggalkan liang ketika tanah urug hampir memenuhinya.

Setelah proses pemakaman usai, dengan tangan dan kaki yang masih berlepotan tanah (untung tidak hujan sehingga tak terlalu lengket), kami dan para pentakziyah memberikan penghormatan terakhir dengan bersama-sama memohankan doa kepada Allah yang Mahakuasa dan Maha Pengampun agar bapak mendapat ampunan atas semua dosa dan menerima semua amal kebajikannya dan kelak mengganjar dengan sorga-Nya.

Hari ini, di gerbang setahun kepulangan bapak ke rumah abadinya, rasa kangen saya membuncah. Saya sowan ke "rumahnya" yang sejuk oleh rimbun pohon kamboja, untuk kembali bermunajat, semoga bapak benar-benar tenang dan tersenyum di masa penantiannya memasuki sorga nan indah dan abadi.
Bibir saya kembali berdoa lirih:

"Ya Allah, berikanlah ampunan-Mu kepada bapak yang telah pulang menghadap-Mu.Terimalah semua amal kebajikannya dan tempatkan dia kelak di sorga-Mu yang indah, kholidiina fiiha abada."



Kebomas-Wringinanom, Gresik, 2 Juni 2014

No comments:

Post a Comment

Blog Archive