Blog

Blog

Thursday, May 15, 2014

Menyandra Lidah



Aura kebahagiaan mempelai

Kamis, 15 Mei 2014 saya punya agenda menghadiri undangan resepsi pernikahan teman jamaah masjid Baitul Amin Perum GKGA Kedanyang, Gresik, H. Khosi'in. Karyawan PT Petrokimia Gresik ini menikahkan putri sulungnya, Siti Amrina Rosyadah dengan Rizky Arizona.

Pukul 10.00 WIB adalah waktu yang tertera pada undangan warna hijau toska yang saya terima sepekan lalu. Acara resepsinya sendiri dihelat di gedung Wisma A. Yani di komplek PT Semen Indonesia di Jl. Veteran, Gresik. Bersama istri dan si bungsu Alya Nur Mufidah, saya boncengan motor. Karena jarak dari rumah ke lokasi resepsi sekitar 5 Km, saya memilih berangkat 15 menit sebelum waktu dimulainya resepsi.


Setelah memarkir motor dan hendak memasuki gedung wisma A. Yani, saya mendapati para undangan berjubel ngantre mengisi buku tamu sebelum memasuki gedung yang di dalam ruangnya tak terdapat pilar. Saking banyak dan berjubelnya, antrean undangan sampai mengular hingga di halaman gedung. Cuaca panas --meski baru pukul 10-an, membuat saya dan sejumlah undangan merasa gerah dan berkeringat. Dengan langkah merambat, saya bersama istri dan Fidah pun akhirnya berhasil memasuki gedung setelah sebelumnya menorehkan coretan berisi nama, alamat, dan tanda tangan. Di dalam gedung terasa lebih lega meski ratusan undangan telah memadatinya.

Dari meja penerima tamu, kami menuju panggung, yang di sana telah siap H. Khosi'in dan istrinya, Hj. Siti Nur Qomariyah, mempelai berdua, dan pasangan besan Hariyanto Johar-Sri Murni. Seperti undangan yang lain, saya dan istri juga menyampaikan ucapan selamat kepada shohibul bait dan pasangan pengantin. Saya ikut merasakan pancaran kebahagiaan yang mengalir dari sorot mata dan wajah mempelai berdua ketika saya menjabat tangan mereka. Jadi ingat ketika saya dan istri juga disalami banyak orang pada pernikahan kami, 19 tahun silam. Maknyeeeessss, hehe.

Sampai di sini lancar-lancar saja dan tidak ada masalah. Masalah kemudian muncul begitu saya menuruni trap panggung. Dalam jarak sekitar 5 meter dari panggung, terhampar meja-meja makanan dengan seabrek menu, mirip pasar kuliner. Saya tidak tahu berapa jenis atau jumlah menu yang disajikan di meja-meja yang hampir memenuhi gedung ini. Saya perkirakan lebih dari 50 jenis menu makanan. Ada tahu campur, gado-gado, sate, nasi khas Gresik yakni krawu, kambing guling, gulai, nasi kebuli, nasi goreng, lontong kikil, aneka jajan tradisional, siomay, dan sejumlah menu yang saya tidak tahu namanya. Aneka minuman dan es buah, serta es krim juga ada di sini. Lalu apa masalahnya?

Saya menghadapi masalah begitu keliling menatap satu per satu menu makanan yang tersaji. Ada pertarungan dahsyat dan benar-benar menguji lidah dan perut yang juga mulai terasa lapar. Alamaakkk, beberapa menit mengitari ruang yang penuh makanan itu, langkah belum bisa saya hentikan untuk mengambil dan mencicipinya. Bukan lantaran menu-menu makanan yang tersedia itu tidak enak atau tidak sedap. Sebab, sebagian besar menu makanan yang ada cukup familiar dengan lidah saya. Loh, lalu apa masalahnya? Kan tinggal santap dan sruput saja, beres kan?

Tidaaaaaaakkk .... Saya tidak bisa menyantap menu-menu yang sebenarnya sangat lezat lagi halal ini. Secara kasat mata saya bisa pastikan kalau menu-menu makanan itu lezat. Sebab, dari aroma yang menusuk hidung membenarkan, bahwa makanan-makanan itu pasti terasa lezat di lidah. Saya hanya nyruput segelas minuman beraroma melon dan beberapa potong buah semangka dan melon.

Sudah hampir dua bulan ini saya tidak mengonsumsi makanan yang bersumber dari hewan. Karena itu, ada konflik luar biasa antara mata, pikiran, lidah, juga lambung begitu menyaksikan menu yang sebelumnya saya sukai, tetapi sekarang "haram" untuk dimakan. Lidah saya benar-benar tersandra karena tidak bisa merasakan betapa lezat dan nikmatnya makanan-makanan itu. Istri saya tersayang yang kebetulan lagi menjalani puasa Rajab sepertinya kasihan melihat saja dan bilang, "Cicipi saja, Mas. Dikit-dikit lak gak papa sih, timbang kepingin dan ngempet, hehe," katanya setengah bergurau.

Tetapi, saya tidak patah arang untuk bisa sekadar mengurangi beban lidah yang terlanjur terjulur ingin mencicipi makanan di pesta ini. Saya terus keliling ruangan untuk menemukan menu yang bisa saya makan. Dan haappp, akhirnya dapat. Mata saya menangkap anjungan menu makanan yang bisa saya santap. Apa itu? Sebuah menu tradisional menghentikan langkah saya dan sesegera mungkin menciduknya. Menu tradisional itu bernama: bubur srinthil.

Ada sejumlah item yang terpampang di meja dan paket bubur srinthil itu. Saya tidak mengambil semua item yang tersedia, kecuali ketan hitam, bubur putih, dan srinthil, yakni bubur putih yang berbentuk bulat seperti pentol bakso. Lalu saya tambahkan tiga sendok kecil gula merah. Dengan cepat bubur di mangkok ini pun ludes tergilas oleh lidah dan kunyahan mulut saya. Plong rasanya mendapatkan sesuatu yang bisa membebaskan lidah dari lilitan sandra lezatnya makanan. Saya menyudahi menyantap bubur srinthil ini dengan minum segelas air putih.

Sekitar setengah jam saya berada di gedung Wisma A. Yani ini sebelum akhirnya saya putuskan pulang. Saya tinggalkan suasana gedung yang riuh dan lalu lalang ratusan undangan yang lagi berpesta menikmati dan melahap aneka menu makanan nan lezat. Saya gandeng istri dan si bungsu Fidah, perlahan meninggalkan gedung ini menuju tempat parkir dan pulang. Terima kasih, Ya Alloh telah Kau pertemukan lidahku dengan bubur srinthil yang manis dan maknyuuuus.


Gresik, 15 Mei 2015

No comments:

Post a Comment

Blog Archive