Blog

Blog

Tuesday, April 8, 2014

Mualaf Literasi




Kau tidak bisa menyeberangi lautan hanya dengan menatap airnya.

(Rabindranath Tagore)




Untaian kalimat bijak itu bisa jadi sudah berusia ratusan tahun sejak keluar kali pertama dari bibir atau jemari Rabindranath Tagore.Tetapi,kekuatan pesan peraih Nobel Prize in Literature tahun 1913 kelahiran Calcutta, India, 7 Mei 1861 ini masih begitu kuat dan tak lekang oleh waktu. Pesan itu terasa abadi memotivasi saya untuk tidak setengah-setengah dan asal-asalan dalam melakoni sesuatu. Demikian pula terhadap upaya yang tengah saya gandrungi saat ini:mengembangkan dan menggelorakan gerakan literasi, baik membaca maupun menulis ke berbagai lapisan masyarakat.


Seperti banyak disampaikan para pegiat literasi, untuk bisa menulis dengan penguasaan materi yang bagus, diperlukan sarana pendukung dan mutlak harus dilakukan. Sarana dimaksud berupa aktivitas membaca dan terus membaca. Dan,untuk memenuhi hasrat tersebut,pagi ini saya sambar satu buku di rak lemari buku saya. Judul buku setebal 442 halaman ini lumayan sangar: NATION IN TRAP dengan tagline: Menangkal 'Bunuh Diri' Negara dan Dunia Tahun 2020. Buku karya Effendi Siradjuddin,terbitan Esir Institue/Pustaka Pelajar, 2012 ini masih saja menarik perhatian saya, meski sudah saya baca sebelumnya.

Dalam catatan epilognya (halaman 416) penulis mengungkapkan, fenomena ketidakadilan permanen, khususnya yang melahirkan jurang kaya-miskin, merupakan akibat selalu lebih diutamakannya pertumbuhan ekonomi ketimbang aspek pemerataan.Dalam perspektif kehidupan ekonomi di kebanyakan penjuru dunia, selalu diberlakukan adagium untuk lebih dahulu memperbesar kue pembangunan sebelum dibagi.

Namun ironis, pengalaman empiris menunjukkan, betapa sebelum kue yang membesar itu dibagi, bagian terbesarnya sudah dihabiskan oleh segelintir pemegang kunci kekuasaan ekonomi bersama penguasa negara dan penguasa politik.Di Negara-negara maju seperti Amerika Serikat yang berhasil meng-arrange lahirnya Washington Consensus, retorika bahwa akan terjadi trickle down effect jika pertumbuhan ekonomi didorong, tinggal ilusi belaka. Karena itu, teori pertumbuhan semata,harus ditinjau ulang. Saatnya membalik paradigma dengan mendahulukan pemerataan sambil melakukan pertumbuhan.,       

Bagaimana saya bisa mendapatkan buku tersebut? Ceritanya begini. Di sela-sela buka puasa bersama di vip room Gedung Tani komplek pasar induk agrobis Puspa Agro, Taman, Sidoarjo, 17 Juli 2013 lalu, seorang sahabat lama, M. Rudiansyah mengatakan kepada saya tentang adanya buku yang layak didiskusikan.

Alumni ITS yang telah belasan tahun menjadi pengusaha realestat (properti) ini memang sering mendiskusikan banyak hal dengan saya, baik masalah politik, ekonomi khususnya terkait kebijakan sektor properti, pemerintahan, juga tak jarang masalah-masalah sosial yang berkembang di masyarakat. Dalam momentum buka puasa bersama itu, setengah berbisik tapi penuh antusias, pengusaha yang telah membangun perumahan di beberapa kota ini minta saya membaca buku tersebut.

"Sha, di mobil ada buku bagus. Wocoen dan telaah. Nanti kita diskusikan bersama dengan teman-teman."
Mas Rudi memang suka memanggil saya dengan sapaan 'Sha'. Itu inisial saya ketika selama 12 tahun (1991-2002) melakoni profesi wartawan di Harian Sore Surabaya Post, hingga koran yang pernah menjadi yang terbesar di Surabaya dan Jatim ini akhirnya dilikuidasi. Pengelola koran ini menyatakan diri terlikuidasi setelan anak-anak Bu Toety Aziz (alm), pemiliknya, tidak ada yang mau meneruskan tongkat kepemimpinan di koran tersebut.

Keterlibatan saya dalam diskusi secara intens dengan Mas Rudi telah saya lakukan, baik di REI Jatim, asosiasi para pengembang realestat, Kadin Surabaya, juga di forum-forum diskusi dengan teman-teman di PWI Jatim. Ia begitu antusias ingin mendiskusikan buku karya alumni ITB yang kenyang di dunia bisnis energi/perminyakan ini karena satu alasan: dunia dalam ancaman krisis multidimensi. Di antaranya krisis energi global, pangan, lingkungan, demografis, juga peradaban. Pada gilirannya, aneka krisis tersebut menjadi ancaman dan bisa menggilas negara-negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia.

Maka, setelah salat Maghrib dan buka puasa, dia mengajak saya menuju mobilnya yang diparkir di depan Gedung Tani. Dalam hitungan detik setelah pintu kiri-depan mobil dibuka, buku dengan warna dasar gelap dan warna tulisan merah dan putih itu berpindah ke tangan saya. Sekilas buku tebal dengan sampul hard cover ini tampak kekar begitu mata saya menatap kombinasi warna cover dan judul bukunya. Saya belum membaca buku petang itu, kecuali hanya memelototi judul dan daftar isinya.

Melihat tebalnya buku ini sebenarnya saya agak wegah (enggan) melahapnya. Tetapi, saya jadi tertarik setelah membaca judul dan daftar isinya. Apalagi sebelumnya, kepada sahabat saya yang "dulur sak peguron" di Unesa, Much. Khoiri, yang biasa saya sapa Kang Emcho ini, saya menyatakan siap jadi mualaf literasi. Saya juga siap nyantrik dan ngangsu kaweruh. serta mengasah keterampilan menulis bersama komunitas Jaringan Literasi Indonesia (Jalindo). Kang Emcho adalah kakak kelas yang juga dosen di Unesa yang kerap memprovokasi saya untuk menulis apa saja yang saya lihat, saya rasakan, saya pikirkan, dan saya lakukan.

Maka, mengirigi tadarus Al Quran ketika bulan suci Ramadan lalu, saya juga rutin "menadarusi" buku NATION IN TRAP, Menangkal 'Bunuh Diri' Negara dan Dunia Tahun 2020 yang banyak memotret berbagai krisis di dunia ini serta analisis dan prediksinya di abad ke-21. Di sela-sela menikmati buku ini, ingatan saya langsung melesat pada buku Global Paradox karya John Naisbitt, terbitan 1994. Buku ini sempat menghebohkan dunia bisnis karena ketajaman analisis dan ramalan tren bisnis di abad ke-21.

Senyampang belum lupa, saya pun menuju lemari buku dan mencari di rak kelompok ekonomi-politik. Beberapa detik kemudian buku tersebut saya sandingkan dengan buku NATION IN TRAP sebagai tambahan reverensi. Kedua buku ini selanjutnya saya masukkan ke tas kerja untuk saya baca kapan pun ketika ada peluang.

Ya, bulan Ramadan 1434 H (2013 M) menjadi momentum bagi saya untuk aktif dalam gerakan literasi, satu gerakan yang mendorong tumbuh dan kembangnya budaya dengan fokus membaca dan menulis sebagai media meningkatkan peradaban bangsa. Bersama-sama dengan para penggiat dan “laskar” literasi lainnya, saya akan terus berkampanye akan pentingnya budaya membaca dan menulis, baik di kalangan siswa, guru, mahasiswa, dosen, dan masyarakat pada umumnya.

Hari ini pesan Rabindranath Tagore: “Kau tidak bisa menyeberangi lautan hanya dengan menatap airnya” kembali mengiang di telinga dan pikiran saya. Ya, saya memang tidak boleh hanya memandangi air dan gelombang di pantai lantaran saya ingin menyeberangi samudera literasi. Karena itu, saya pun tidak boleh hanya sebatas berkampanye tanpa menghasilkan karya tulis. Saya harus menulis dan terus menulis. Dan, untuk bisa menulis, saya harus banyak membaca.   




Gresik, 8 April  2014

No comments:

Post a Comment

Blog Archive