Blog

Blog

Sunday, April 6, 2014

Alumniku, Inspirasiku



Mailing list (milis) group Keluarga Unesa (Ganesa) benar-benar memberikan berkah luar biasa kepada saya. Grup milis yang menghimpun dan menjadi media komunikasi antaralumni Instititut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) --yang kini berganti nama menjadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa)-- ini telah membangkitkan kembali gairah menulis saya yang sempat mati suri karena tersandra oleh rutinitas aktivitas perusahaan tempat saya bekerja.

Interaksi intensif dengan teman-teman  alumni yang terjalin melalui grup milis itu akhirnya membebaskan saya dari belenggu yang mematikan kreativitas menulis dan berubah jadi pelecut semangat untuk menulis dan terus menulis. Forum ini benar-benar menginspirasi saya untuk sadar akan pentingnya literasi, baik membaca maupun menulis. Beberapa nama, di antaranya Prof Luthfiyah Nurlaela, Much. Khoiri, juga Satria Dharma, setidaknya telah mengalirkan api semangat kepada saya untuk aktif menulis.  Karena itu, saya dan beberapa teman alumni kemudian bergerak untuk menyebarkan dan mengembangkan virus menulis ke berbagai komunitas di negeri ini.

Diawali dengan menulis cerpen secara keroyokan dan melibatkan 13 penulis --yang semuanya alumni IKIP/Unesa--, lahirlah buku kumpulan cerpen Ndoro, Saya Ingin Bicara, Juni 2011. Enam bulan berikutnya (Desember 2011) terbitlah kumpulan puisi GUGAT yang juga dihimpun dari coretan teman-teman alumni. Masih bersama para alumni, buku ketiga lahir. Yang ini berupa kumpulan artikel tematik yang digagas untuk mengembangkan dunia literasi di kalangan civitas academika Unesa guna memotivasi para dosen, mahasiswa, juga komponen kampus lainnya untuk aktif menulis. Buku bertajuk Pena Alumni: Membangun Unesa melalui Budaya Literasi ini agak spesial karena dipersembahkan sebagai kado khusus Dies Natalis ke-49 Unesa, November 2013 lalu.

Pengembangan Literasi
Upaya pengembangan literasi terus kami lakukan. Sasarannya tidak saja  diri sendiri dan para alumni, tetapi bergerak untuk komunitas lain (eksternal) dengan skala lebih luas. Maka, dengan niat menularkan virus menulis, kami gelar pelatihan menulis dengan genre: ilmiah populer (artikel) yang melibatkan ratusan guru, mahasiswa, dan siswa SLTA/SLTP se-Jawa Timur.

Dengan didampingi fasilitator yang kapabel dalam dunia kepenulisan, semua peserta pelatihan berhasil menulis artikel. Dari artikel karya mereka, kami seleksi dan untuk 30-40 artikel terbaik di masing-masing kelompok (guru, mahasiswa, dan siswa) kami terbitkan menjadi buku. Dengan demikian, tiga buku sekaligus lahir dari pelatihan yang secara efektif hanya berlangsung tiga hari.

Penyebaran virus menulis terus kami lakukan. Setelah mengawali di Jawa Timur yang dipusatkan di Surabaya,  para guru dan siswa di Kalimantan Timur juga menjadi sasaran pengembangan literasi lewat pelatihan menulis artikel. Sebelumnya,  kami juga bergerak ke salah satu SMAN di Rembang, Jawa Tengah. Kota-kota lain, seperti Sidoarjo, Gresik, Mojokerto, Kediri, Jombang, Pasuruan, dan beberapa daerah lainnya juga menjadi target pengembangan berikutnya.

Tidak hanya itu, komunitas penulis juga kami kembangkan lewat media lain di dunia maya, yakni jejaring sosial facebook. Beberapa grup kami fasilitasi untuk mengembangkan dunia kepenulisan, baik ilmiah maupun fiksi (sastra), juga genre lainnya, semisal jurnalistik. Selain untuk kepentingan penularan virus menulis, langkah ini sekaligus sebagai upaya untuk mengasah kemampuan menulis saya sendiri. Sebab, dengan terus melakukan interaksi dan diskusi dengan para penulis, mau tidak mau saya harus terus belajar dan belajar.

Untuk menambah wawasan dan penguasaan terhadap suatu masalah, saya mesti banyak membaca. Ya, membaca apa saja yang bisa memperkaya wawasan dan pengetahuan. Saya yakin, dengan banyak membaca, kemampuan menulis bisa dengan mudah dikembangkan. Sebab, ada hubungan yang secara paralel saling beratautan antara membaca dan menulis. Membaca merupakan upaya menghimpun pengetahuan dan kemampuan penguasaan masalah yang sangat membantu dalam proses kepenulisan.

Dengan kata lain, membaca adalah bahan baku utama menulis. Makin banyak bahan bacaan, makin mudah bagi kita untuk berekspresi dalam menulis. Dan, membaca dalam arti luas tidak hanya membaca teks atau naskah buku atau tulisan. Lebih dari itu, membaca bisa berupa kepekaan kita terhadap kejadian atau fenomena yang berkembang dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam konteks bermasyarakat dan bernegara, termasuk terkait dengan alam semesta dan membaca tanda-tanda kekuasaan Tuhan Yang Mahaesa..

Kini, bersama beberapa sahabat alumni, saya juga tengah menyiapkan lembaga yang secara khusus dan sistematis bergerak untuk pengembangan literasi di negeri ini. Sasarannya para guru, mahasiswa, siswa, kelompok-kelompok profesi, juga masyarakat umum. Saya yakin, lewat tulisan peradaban bangsa bisa dibangun dan ditegakkan. Lewat tulisan pula, sejarah bisa diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya.




Gresik, 6 April 2014

No comments:

Post a Comment

Blog Archive