Blog

Blog

Tuesday, February 25, 2014

Wajah Anjing Para Koruptor



Oleh SON ANDRIES *)

SETIAP melihat wajah koruptor, di koran, di televisi, di internet, di mana saja, saya seperti melihat wajah anjing, sungguh. Saya tidak bermaksud sinis apalagi sarkastis. Di benak saya mulut para koruptor itu sedikit lebih maju dari seharusnya. Matanya liar dan jelalatan melihat sekeliling, tapi bisa juga sendu dan sering melihat ke bawah. Jalannya cepat terburu-buru, nafasnya memburu, menghidari kontak mata apalagi sorotan kamera. Pendek kata gestur para koruptor adalah gambaran rasa takut seekor anjing yang berbuat salah.


“Wajah anjing” ini mulai tampak ketika mereka sudah ditetapkan sebagai tersangka, tidak sebelumnya. Ketika menjadi saksi, mereka masih sangat percaya diri, atau mungkin mata saya yang kurang jeli. Boleh jadi sikap pongah itu adalah kompensasi dari rasa takut di dalam hati. Ini mirip dengan ‘kompleks rendah diri’ dalam istilah psikologi. Seseorang yang rendah diri akan bersikap sombong sebagai kompensasi. Contoh; orang yang tidak becus berbahasa Inggris, akan banyak mengutip istilah asing. Yang koceknya pas-pasan, bersikap roayal agar dianggap kaya. Yang gaptek membeli telepon pintar paling canggih.

Saya tidak bermaksud merendahkan ras anjing dengan menyamakannya dengan ras koruptor, bagaimanapun anjing adalah mahluk mulia pendaping setia manusia. Jika tidak, tidak akan ada cerita tentang Hachico dan Rin Tin Tin, bukan? Dari zaman dahulu kesetiaan seekor anjing menjadi epik yang terus diceritakan turun temurun. Konon, anjing diciptakan saat Tuhan sedang tersenyum. Memang ada anjing yang jahat, seperti juga ada manusia yang jahat. Tapi itu cuma anomali yang tidak seharusnya terjadi.

Korupsi adalah anomali sikap manusia, sesuatu yang tidak normal, yang menyimpang dari seharusnya. Sikap serakah yang pada manusia normal terpendam di bawah permukaan, di diri para koruptor muncul di permukaan, bahkan mendominasi sikap hidup mereka. Ingin berlebih dalam segala kepemilikan materi. Mobil puluhan, rumah belasan, uang miliaran, dan banyak cabe-cabean.

Apakah empat mobil tidak cukup buat sekeluarga? Sehingga perlu puluhan mobil super mewah? Apakah dua buah rumah masih kurang? Apakah uang miliaran tidak cukup untuk biaya hidup? Atau, jangan-jangan para koruptor ini justru orang yang sangat perduli pada keluarga, dan ingin memastikan hidup mereka tidak kekurangan suatu apa? Tapi bagaimana dengan nasib negara yang uangnya dikorupsi? Bagaimana nasib pembayar pajak yang karenannya tidak mendapat layanan sosial yang layak?

Suatu kali seorang kawan bijaksana menasihati saya, katanya, “hidup itu murah, yang mahal itu gaya hidup.” Nah itu dia. Selera para koruptor ini luar biasa dahsyat; Lamborgini, Ferarri, Bugati, Hermes, Louis Vuitton, Gucci,Prada, artis selebriti, Singapura, Hongkong, Paris, Milan, London. Beberapa memang tampak hidup lebih sederhana, atau ingin terlihat sederhana. Tapi saya yakin yang terkhir ini pun memendam gelora kenikmatan yang sama. Kalau tidak, buat apa punya banyak harta. Bukankah uang baru bermakna ketika dibuat belanja?

Kembali ke wajah anjing para koruptor. Saya jadi teringat pada anjing peliharaan masa kecil saya. Jenisnya pekingese (saya tidak yakin rasnya murni) tubuhnya pendek, bulunya panjang, warnahnya hitam-putih. Anjing jenis ini memiliki rahang bawah yang lebih panjang dari rahang atasnya. Karena itu saya menamainya Cakil, raksasa dalam jagad pewayangan yang kejam dan serakah, musuh abadi kebaikan (Pandawa).

Buto/Buta Cakil ini gerakannya lincah, saya suka tari Bambangan Cakil karena alasan ini. Hanya penari senior yang bisa menarikan tarian cakil. Loncat kesana-kemari, mengelak, memukul, membanting, dan terbanting dengan anggun, itulah Cakil. Tapi setangkas apa pun Cakil ditakdirkan untuk kalah, seperti Dasamuka yang selalu kalah dari Rama.
Selayaknya Cakil, akankah koruptor kalah pada akhirnya? Tergantung dalangnya, apakah ia memainkan peran sesuai pakem atau seturut permintaan si maha dalang. Wani piro?


*) SON ANDRIES, mantan wartawan Surabaya Post, kini aktif di Pos Entertainment, Jakarta.

No comments:

Post a Comment

Blog Archive