Blog

Blog

Wednesday, November 27, 2013

Risalah



Aku hanyalah sebutir debu
ketika hamparan sahara panas mengganas
Menengadah, mencari pandu firman-Mu
Pengembaraan dan kerinduan hampir tak berjejak
Tersapu ganasnya badai, lalu menghilang
Dan, aku hanya bisa berharap
dalam alunan nyanyi sunyi
Seperti Adam ketika turun ke bumi
Adakah setetes saja ilmu ituKau beri dalam mangkok batinku?
tentang keagungan
tentang keperkasaan
tentang kasih sayang
juga tentang lautan ilmu yang tak bertepi
Sungguh,
yang aku tahu tidaklah berarti dalam kemahabesaran-Mu
Namun, seperti pesan Nabiku
terus dan terus dalam gontai kaki melangkah
menjemput tumpahan kalam
yang mesti kubaca lembar demi lembar
yang mesti kutulis tetes demi tetes dengan tinta hitamku
lalu kusebarkan pada sesiapa yang haus akan mulianya peradaban
Dalam setiap ayun kaki kecilku
Dalam setiap gerak pikir dan rindu hati

Sudah kutanya
pada apa saja yang aku jumpa
pada siapa saja yang lalu lalang di jalan berimba
Untuk mencari tahu
di mana Kau sembunyikan setetes saja ilmu itu
Biar tak buta mata ini
Biar tak tuli telinga ini
Biar tak keluh lidah ini
Biar tak bisu bibir ini
Biar tak kaku jemari ini

Untuk menuliskan dan menyebarkan kembali kalam indah
Lewat tangan-tangan lembut penyebar risalah
Kuselami samudera
dan kedalaman rahman-rahim-Mu.


Gresik, 25 November 2013

Tuesday, November 26, 2013

Relasi Media Menuju Kampus Dunia


(Kado khusus Dies Natalis ke-49 Unesa, Desember 2013)

Oleh SUHARTOKO


 
Gerbang Unesa, Kampus Lidah Wetan
Di sebuah warung kopi di kawasan Ketintang, Surabaya, dua orang sahabat yang sama-sama alumni Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Surabaya terlibat obrolan ringan seputar kampus tercinta mereka yang sejak tahun 1999 berganti nama menjadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Semula obrolan mereka datar-datar saja, tidak menunjukkan adanya sesuatu yang perlu diperbincangkan secara serius. Di sela obrolan ringan itu, sahabat I asyik dengan rokok dan kopi hitamnya. Sementara sahabat II, di sela menuang dan nyruput kopi susunya, lebih fokus pada lembar-lembar koran yang dia beli di kios dekat warung itu.

Tuesday, November 12, 2013

Selamat Jalan, Yai Mad Tumpuk



KH Ahmad Muhammad Al Hammad (Alm)

Genggaman erat jabat tangan itu masih terasa meski 18 tahun telah berlalu. Meski erat menjabat, lembut jemari itu serasa pelukan yang hangat dan melindungi. Kini kehangatan jemari itu benar-benar tinggal kenangan. Alloh SWT telah memanggil sang pemilik jemari itu dan meninggalkan dunia yang fana ini untuk selama-lamanya. Innalillahi wainna ilaihi ro'jiun.

Itulah kenangan berharga dan sekali terjadi dalam perjalanan hidup saya. Ya, kenangan saya bersama KH Ahmad Muhammad Al Hammad, Pemangku Pondok Pesantren Qomaruddin di desa Bungah, sekitar 18 km utara kota Gresik.
Waktu itu, Sabtu, 6 Mei 1995 adalah hari ketika saya menjalani akad nikah di masjid jami' Kyai Gedhe di desa Bungah, Kec. Bungah, Gresik. Adalah Yai Mad, sapaan akrab KH Ahmad Muhammad Al Hammad  (sebagian warga menyapa dengan Yai Mad Tumpuk, karena dalam namanya terkandung tiga 'mad') yang menikahkan saya di masjid itu dan disaksikan dua kyai lainnya, Kyai Ahmad Bajeber dan Kyai Maimun Adnan, serta puluhan pasang mata yang menyaksikan prosesi akad nikah saya dengan perempuan pilihan saya, Shofie. Ketiga kyai tersebut berbagi peran. Yai Mad yang menikahkan kami, Yai Bajeber yang mendoai, dan Yai Maimun bagian ceramah atau tausyiyah.

Sunday, November 10, 2013

Pendekar Cilikku



Catatan MASHARTOKO



Nadia bersama pelatih (kiri) dan ayah
Ahad, 10 November 2013 merupakan hari cukup menghibur buat saya sekeluarga. Di tengah menghadapi cobaan karena anak sulung saya, Ahmad Shalahuddin Azhar, baru saja kecelakaan, datang kabar menggembirakan dari adiknya, Dian Izza Nadia. Lewat SMS, Kak Agus, pelatih Nadia di perguruan silat Pamur, mengabarkan, bahwa Nadia cs tampil sebagai juara I di Festival Pelajar Sekolah Islam Terpadu (SIT) Se-Jawa Timur.

Ya, bersama Arni, Riska, dan Ifa, Nadia menjadi juara I pada cabang bela diri kategori beregu tingkat sekolah dasar (SD) se-Jawa Timur. Ini menjadi kado khusus pas momentum hari Pahlawan tahun ini, sekaligus menjadi obat atas kepedihan menyusul Aldi, sapaan anak sulung saya, Ahmad Shalahuddin Azhar, yang Jumat (8 November 2013) petang mengalami kecelakaan akibat tabrakan sepeda motor sehingga mematahkan tulang pergelangan tangan kirinya. Alhamdulillah. Tengkyu, putriku Nadia. Tengkyu pendekar cilikku.

Dalam dua pekan terakhir, porsi latihan Nadia bersama tiga temannya di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Al Ibrah Gresik: Arni, Riska, dan Ifa memang digenjot oleh Kak Agus. Pria berkaca mata yang pelatih Nadia cs di perguruan silat Pamur (Pencak Silat Angkatan Muda Rasio) ini tampaknya memberikan perhatian lebih untuk persiapan kejuaraan antarsekolah member of Jaringan Sekolah Islam Terpadu (JSIT) se-Jawa Timur yang digelar di kampus Universitas Hang Tuah, jl. Arif Rahman Hakim, Surabaya.
Dikirimnya Nadia cs mewakili SDIT Al Ibrah Gresik karena bulan lalu keempat cewek imut ini juga menjadi juara I se-Kabupaten Gresik cabang bela diri kategori beregu khusus perguruan silat Pamur. Sementara pada kejuaraan se-Jawa Timur ini, pesertanya tidak saja dari Pamur, tetapi dari berbagai perguruan silat, seperti Tapak Suci, Pagar Nusa, dan lain-lain.

Menghadapi kejuaraan tingkat provinsi ini, latihan Nadia cs memang cukup getol. Di sela-sela pelaksanaan sekolah yang dikelola secara full day ini, sang pelatih sepertinya tak mau kehilangan kesempatan berharga. Waktu latihan kadang-kadang dilaksanakan pagi saat jam olah raga atau istirahat, sore selepas jam pelajaran, atau bahkan malam sekalipun. Senangnya, saya tidak pernah mendengar keluhan meluncur dari bibir Nadia yang kini kelas 6, meski sesekali menjelang tidur saya pijitin sekujur kakinya. Ini saya lakukan sekadar memberikan support agar Nadia tetap bersemangat dalam berlatih.

Tepat pukul 16.30 mobil yang pagi tadi, sekitar pukul 06.10 membawa Nadia cs menuju arena kejuaraan, memasuki halaman SDIT Al Ibrah di Jl. Tanjung Wira, komplek Gresik Kota Baru (GKB). Dengan raut muka terlihat letih Nadia cs, didampingi pelatih dan beberapa gurunya turun dari mobil KIA warna metalik ini. Sambil menenteng piala, Nadia bersama teman-temannya menuruni mobil yang kemudian saya sambut dengan pelukan dan ucapan selamat. Setelah membawa dan menaruh piala di kantor sekolah, Nadia cs memilih duduk-duduk sebentar di teras masjid sekolah, sekadar melepas lelah. Beberapa menit kemudian, kami pun berboncengan sepeda motor pulang yang berjarak sekitar 6 km.

Belum 50 meter kami beranjak, dengan nada setengah mbengok (teriak), Nadia yang rada tomboy ini bilang, "Yah, makan dulu. Laper niiiih.".
Tanpa babibu, spontan saya jawab, "Oke, siaaaaaaap ...!"

Saat saya tanya makan di mana, dia memilih rumah makan "Ayam Penyet Surabaya" di Jl. Jawa, GKB. Dengan langkah cepat penuh semangat (karena lapar kali, hehe) Nadia langsung menuju tempat pemesanan. Saat disodori daftar makanan dan minuman, mata Nadia tertarik pada menu bebek rica-rica plus jus apukat. Seperti macan kelaparan, Nadia tampak lahap meski bebek yang tersaji masih panas. Hmmmm...nyam nyam. Setelah membayar di kasir yang terletak di sisi depan, kami pun meninggalkan rumah makan yang tata letak untuk pengunjungnya menyediaan kursi-meja, juga sebagian untuk lesehan.

Sesampai bunderan GKB, gerbang selatan perumahan yang berbatasan dengan Jl. Wahidin Sudirohusodo (jalur utama penghubung kota Gresik dan Lamongan), Nadia minta berhenti. Rupanya dia masih haus setelah makan menu bebek yang lumayan pedas itu. Dia memilih es cao. Sambil nyruput es yang dibungkus plastik, Nadia menuju penjual es jus yang bersebelahan dengan lokasi es cao dan deretan penjual aneka makanan dan minuman.
Ups, tampaknya Nadia punya rencana khusus. Dia pesan beberapa bungkus es jus yang ternyata untuk oleh-oleh buat ibu, kakak dan dua adiknya. Saya hanya tersenyum di atas sepeda motor menyaksikan ulah si tomboy ini.

Setelah semua dia bayar, kami pun melaju menuju rumah di Perum Griya Karya Giri Asri. Dalam perjalanan, iseng-iseng saya tanya, "Kok banyak yang dibeli, Mbak? Kan tadi pagi ayah ngasih sangunya gak banyak."

Mendengar pertanyaan saya, dengan enteng dia pun menjawab, "Aku tadi dikasih bonus sama Kak Agus lima puluh ribu (maksudnya Rp 50.000) karena juara. Tenang Yah, besok aku pasti dapat bonus juga dari ustadzah dan ustad," seraya menyebut beberapa nama guru dan wali kelasnya, yang katanya menjanjikan bonus jika juara.

Dalam hati, saya pun bergumam, "Oalaaaah, ndhuk ...ndhuk. Tahu gitu ayah yang ngojek ini juga minta traktiran, hehe."

Malam ini, tepat pukul 00.00, saya lihat Nadia begitu pulas tidurnya. Dengan senyum kemenangan atas apa yang baru saja dia dan teman-temannya raih, dia pasti bakal pamer piala terbarunya melengkapi deretan piala yang ada di rumah. Selamat dan sukses, pendekar cilikku.



Gresik, Tengah Malam, 10 November 2013

Blog Archive