Blog

Blog

Thursday, October 31, 2013

Menumbuhkan Budaya Menulis bagi Guru



Oleh MAHYUDDIN AHMAD


Mahyuddin Ahmad
Menulis bagi guru bukan lagi sebatas kewajiban, tetapi menjadi kebutuhan mendesak. Berdasarkan data Depdiknas tahun 2006, jumlah guru yang terhambat kenaikan pangkatnya dari golongan IVa ke IVb sebanyak 334.184 orang. Sementara terdapat 347.565 guru yang berstatus golongan IIId sedang antre naik golongan ruang IVa, justru jumlah guru yang bergolongan ruang IVb hanya 2.318 orang atau di bawah satu persen.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan, bagaimana menumbuhkan budaya menulis di kalangan guru?

Ada baiknya jika menelisik tokoh pendidikan di Indonesia, Ki Hajar Dewantara. Sebab, ternyata dia adalah seorang guru dan suka menulis. Tulisannya yang berjudul “Alk In Netherlands was” menjadi spirit of change dalam sejarah kemerdekaan bangsa. Menurut Ersis Warmansyah Abbas, membangun kemampuan menulis, ibarat belajar bela diri. Tidak dapat diraih secara instan. Dunia menulis bukanlah dunia sinetron. Belajar silat, karate atau Thaibox, dimulai dari bagaimana mengokohkan kuda-kuda. Tidak bisa langsung menjadi jagoan, pendekar.

Menumbuhkan budaya menulis berpangkal pada persoalan kapan memulai kebiasaan menulis. Hal ini perlu mendapat perhatian, walaupun seribu alasan dan hambatan akan siap membayangi keinginan tersebut. Namun bertolak dari prinsip memulai sekarang dan dari hal yang sederhana, apalagi sebagai penulis pemula. Memulai menulis tidak perlu rumit, mulai dari diri sendiri, sederhana dan familiar dengan keseharian sebagai seorang guru. Misalnya membuat rencana pelaksanaan pembelajaran, merangkum materi pelajaran, atau sebatas mencatat hal yang penting di buku harian. Boleh juga memulai dengan membuat jurnal pembelajaran, kondisi personaliti peserta didik di kelas, catatan khusus mengenai kendala peserta didik dan masih banyak lagi yang sangat familiar dengan aktivitas sebagai seorang guru.

Guru sebagai pendidik dan nara sumber bagi peserta didik, pada dasarnya mempunyai energi dan potensi yang strategis untuk menulis. Betapa tidak, dengan bekal ilmu dan pengalaman, dapat membuahkan sumber inspirasi bagi perbaikan strategi, metode atau model pembelajaran yang efektif. Bukan sesuatu yang mustahil, apa yang disampaikan dan dideskripsikan guru melalui tulisannya akan memberikan kontribusi bagi banyak kalangan. Suka duka menjadi seorang guru, plus minus sebagai pendidik, serba serbi kehidupan guru, alangkah eloknya jika ditulis oleh guru itu sendiri. Jadi jurus pertama adalah memulai menulis.
Sebelum memulai menulis, ada baiknya jika calon penulis memahami manfaat dari aktivitas menulis. Bagi seorang guru, manfaat menulis di antaranya sebagai berikut.
1. Menulis menjadi bagian dari pengembangan keprofesian berkelanjutan, untuk pengusulan kenaikan pangkat bagi jabatan guru.
2. Hasil karya tulis bagi profesi guru dapat diikutsertakan pada lomba keberhasilan guru dalam pembelajaran atau lomba yang diperuntukkan bagi guru.
3. Mengungkapkan ide,gagasan dan pemikiran melalui aktivitas menulis akan memperbaiki metode, strategi dan model pembelajaran.
4. Menulis merupakan media untuk menemukan dan memberikan solusi dalam memecahkan masalah pendidikan.
5. Menulis bermanfaat untuk pengembangan materi atau bahan ajar dalam mata pelajaran yang diampunya.
6. Tulisan yang dibuat oleh guru akan menjadi investasi bagi dirinya untuk kepentingan akhirat.
7. Menulis akan mengikat pengetahuan yang dimiliki oleh penulis itu sendiri. Dengan menulis,guru dapat membuka kembali pemahamannya mengenai sesuatu yang ditulis dan mengembangkannya dengan lebih mudah.
8. Menulis juga dapat menambah pundi-pundi penghasilan. Banyak penulis yang kemudian menjadi unjuk kemampuan untuk menulis ide,pikiran dan gagasannya dalam bentuk tulisan yang menarik.Setiap tulisan yang dimuat dalam media cetak akan mendapatkan honor.
9. Menulis akan mengantarkan penulisnya menjadi orang yang terkenal. Karya novel “Ayat-Ayat Cinta” oleh Habiburrahman El Shirazy atau Joanne Kathleen Rowling penulis novel best seller, Harry Potter, membawanya dikenal publik.

Ketika babak baru untuk memulai menulis telah dikumandangkan, jangan berharap persoalan selesai. Akan muncul pertanyaan baru, bagaimana menuangkan gagasan atau ide ke dalam kerangka tulisan. Kendala ini dapat diminimalkan dengan jurus kedua, yaitu banyak membaca. Orang yang bisu pada awalnya dikarenakan tuli, sebab apa yang akan diucapkan kalau tidak pernah mendengarkan. Sama artinya apa yang mau diungkap, dinarasikan, diargumentasikan jika tidak punya referensi alias kurang membaca. Belum punya ide (gagasan) menjadi kendala klasik yang sering membuntuti perjalanan seorang guru yang telah memulai menulis. Apa yang mau ditulis? Banyak membaca dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi.

Sebagai langkah awal memulai menulis, untuk memuluskan aktvitas menulis, masih diperlukan jurus ketiga yang juga penting, yaitu berinvestasi dari sebagian penghasilan sebagai seorang guru untuk aktivitas menulis. Investasi tersebut digunakan untuk membeli buku, berlangganan surat kabar/koran, berselancar di internet, membeli komputer/laptop, serta alat dan bahan untuk aktivitas menulis. Tidak ada salahnya menyisihkan sebagian dari penghasilan untuk investasi menulis. Toh pada akhirnya ada manfaat lebih besar dari investasi yang dikeluarkan.

Waktu yang masih tersisa adalah kesempatan emas untuk memulai menulis. Hambatan maupun kendala dalam memulai menulis segera diatasi. Semoga dengan berangkat dari niat yang ikhlas, keuletan dan kerja keras, ketiga jurus untuk menumbuhkan budaya menulis dapat diwujudkan. Menulis membutuhkan action bukan narasi. Good luck!

No comments:

Post a Comment

Blog Archive