Blog

Blog

Wednesday, September 11, 2013

Persaksian



Aku saksikan sendiri dengan mata telanjang
Betapa ringkih tubuh ini: menggigil tak berdaya
Ketika kafan putih membelit dan membungkus rapat-rapat
Hingga tak tersisa sedikit pun bagian tubuh yang terbuka

Aku rasakan sendiri sentuhan pada detil tubuh ini
Ketika tangan-tangan lembut membopong perlahan
Dan memasukkannya ke liang lahat yang sempit dan pengap
Lalu menutup rumah peristirahatan dengan penuh tanah galian

Ini seperti persaksian
Yang mengantarku menghadap peradilan agung
Ketika semua amal perbuatan yang tertanam
Ketika semua alur pikiran dan perasaan yang tersebar
Ketika semua angan dan harapan yang terhampar liar di ladang fana
Harus dipertanggungjawabkan pada mahkama
yang sedikit pun tak pernah alpa
Ketika kedua bibir mengatup rapat dan lidah terbujur kaku                                                               Terkuncilah lisan dalam bisu yang membatu                                                                                           \\Sendiri di hadapan dua utusan setiamu, Munkar dan Nakir
Yang siap dengan lembar-lembar catatan amal dan daftar interogasi

Tetapi, kuasa-Mu adalah maha segala-galanya
Kau beri aku tambahan waktu
Kau tangguhkan aku untuk memasuki rumah peradilan-Mu
Kau tarik kembali dua utusan setia-Mu, Munkar dan Nakir dan
menutup kembali catatan amal dan daftar interogasi untukku                                                                      Kau buka kembali liang lahat yang mengubur dan menghimpitku
Kau singkap kembali tirai kegelapan yang pengap
Dan, kau beri aku kembali kesempatan berbenah
Dalam bingkai pertobatan nasuha
Yang kembali mengantarku sebagai bayi
Menuju rumah suci nan abadi

Faghfirli …wahdini …ila sirotol mustaqim ….
 

Sidoarjo, 10 September 2013


No comments:

Post a Comment

Blog Archive