Blog

Blog

Monday, July 15, 2013

Syiah … Oh Syiah


Bersama  pengungsi Syiah, Djemadi (kanan)
Sabtu, 13 4Juli 2013 pagi hingga menjelang masuk waktu sholat Dzuhur merupakan hari istimewa bagi saya dan jamaah pengajian rutin bulanan, NGAJI LAKU Pasar dan Lingkungan, yang kami helat di masjid Al Imam, komplek pasar induk Puspa Agro, Desa Jemundo, Kec. Taman, Sidoarjo, Jatim. Saya katakan istimewa, karena pengajian yang diasuh oleh Omda Sidi Miftahulluthfi Muhammad al Mutawakkil (Gus Luthfi) ini juga dihadiri oleh "jamaah spesial" sebanyak 69 keluarga, terdiri atas bapak, ibu, dan anak-anak. Mereka adalah saudara kita, para penganut Islam aliran Syiah asal Sampang, Madura yang terusir dari kampung halaman mereka.

Hampir sebulan mereka ditampung di apartemen sederhana (aparna) di komplek pasar induk Puspa Agro setelah sebelumnya (sekitar setahun) "menginap" di GOR Sampang setelah rumah-rumah dan tempat ibadah mereka dihancurkan oleh orang-orang yang mengaku kaum Sunni. Oleh pemerintah provinsi Jatim dan Pemkab Sampang, mereka dipindahkan ke aparna yang berada di area Puspa Agro karena pertimbangan keamanan dan keselamatan mereka. 

Sehari sebelum pelaksanaan pengajian, saya memang minta tolong sekretaris takmir masjid Al Imam, Pak Kandar, untuk mengundang saudara-saudara Syiah asal Sampang yang kini tinggal di salah satu tower aparna di komplek Puspa Agro. Untuk maksud ini, saya print-kan brosur woro-woro untuk diteruskan ke para jamaah Syiah tersebut. Maka, sejak pukul 08.45 secara berangsur-angsur mereka berdatangan ke masjid dan bergabung dalam pengajian bulanan ini. Kami tidak akan masuk ke wilayah konflik Syiah vs Sunni di Sampang, karena itu domain pemerintah. Lagi pula masjid Al Imam yang kami kelola sebagai salah satu fasilitas umum/sosial pasar induk, dibangun untuk mengakomodasi aktivitas umat Islam, tidak memandang dari golongan mana mereka berasal. Ini sesuai karakter pasar yang menampung siapa pun yang berkepentingan dengan sarana perdagangan itu, tanpa memandang status sosial, golongan, pangkat, atau label-label lain yang menyertainya.

Dalam kesempatan pengajian itu, Gus Luthfi selaku pengasuh tetap majlis pengajian, juga memaparkan pentingnya menguatkan tali persaudaraan sesama muslim, apa pun kelompok atau golongannya. Sebab, kata pengasuh PeNUS MTI Surabaya ini, hakikatnya antara muslim satu dan lainnnya adalah saudara yang memiliki sesembahan yang sama, Allah SWT; nabi dan rasul yang sama, Kanjeng Nabi Muhammad SAW; kitab suci yang sama, yakni Al Qur'an; kiblat yang sama, juga akidah yang sama. Karena itu, apa yang menimpa kaum Syiah Sampang yang berseteru dengan kaum Sunni, mestinya tidak boleh terjadi. Mengutip salah satu hadis nabi, Gus Luthfi mengatakan, kalaupun ada korban meninggal akibat perseteruan itu, baik yang membunuh maupun yang terbunuh, sesungguhnya sama-sama kafir. Dalam pengajian tersebut, jamaah juga diajak mendoakan agar puluhan keluarga yang kini ditampung di aparna Puspa Agro secepatnya kembali lagi ke kampung halaman di Sampang, Madura dengan pemahaman akan Islam secara benar.


Merasa Jadi Korban

Seuasi pengajian dan sholat dhuhur berjamaah, saya berbincang dengan beberapa warga Syiah di serambi masjid. Ketika saya tanya, apa yang paling mereka inginkan saat ini? Secara serempak mereka mengatakan, "Kami ingin cepat kembali ke kampung halaman. Kami ingin hidup tenang bersama keluarga di kampung. Kami juga ingin beribadah dengan tenang bersama keluarga."

Djemadi (49 tahun), salah seorang pengungsi itu mengungkapkan, apa yang menimpa dirinya, keluarganya, juga ratusan warga lainnya tak lebih cobaan atau ujian yang Allah berikan kepada mereka. Bersama rekan-rekannya ia juga merasa jadi korban atas perseteruan menahun yang justru tidak mereka pahami mengapa mesti terjadi. Hal itu karena Kyai Muluk Mukmin (akrab dengan panggilan Kyai Tajul) adalah kakak kandung Kyai Rois yang selama ini terlibat perseteruan yang melibatkan jamaah atau pengikut masing-masing. Kyai Tajul adalah pemimpin kaum Syiah, sementara Kyai Rois merupakan tokoh kaum Sunni di daerah yang sama. Kelompok Syiah di bermukim Desa Karang Gayam, Kec. Omben sementara penganut  Sunni di Desa Blu`uran, Kec. Karang Penam, Kab. Sampang.

"Kami memang harus bersabar. Ini ujian dari Allah dan tak ada apa-apanya dibanding ujian yang diterima para nabi dan keluarganya. Kami yakin, Allah akan memberikan pertolongan," kata Djemadi seraya menambahkan, meski kini tinggal di bangunan megah, namun kenyamanan tidak ia rasakan, apalagi terkait dengan pendidikan anak-anak yang kini tak terurus.

Bapak enam anak ini juga memastikan, apa yang dianut kaum Syiah di Sampang tidak ada perbedaan hakiki dengan yang dianut dan diamalkan kaum Sunni dan kelompok Islam lainnya. Karena itu, tidak ada alasan kaum Syiah untuk dimusuhi. Demikian juga akidahnya, sama! Tetapi, apa kenyataannya? Kaum Syiah seakan dijadikan musuh bersama karena dianggap sesat.

Saya sempat meminta pria yang (maaf) kehilangan total tangan kanannya akibat kecelakaan ini melafalkan syahadatain untuk sekadar menjajaki di mana perbedaannya dengan yang saya lakoni selama ini. Dengan fasih dia pun berucap, "Asyhadualla ilaha illalloh wasyhadu anna Muhammadarrosululloh."

Ia pastikan, bahwa lafal syahadatain itu juga diucapkan secara sama dan diyakini oleh kaum Sunni dan kelompok muslim lainnya. Dengan demikian, tandas Djemadi, sesungguhnya tidak ada masalah yang perlu dipertentangkan dan Syiah dianggap sesat. Namun ia mengaku, dalam amalan sholat memang ada sedikit perbedaan, namun ia yakinkan itu tak patut lantas dijadikan alasan untuk nenilai kaum Syiah sesat dan harus dimusuhi. Perbedaan yang ia maksud adalah tidak adanya gerakan atau posisi sedekap ketika berdiri dalam sholat, sebagaimana dilakukan kelompok lainnnya. Saat berdiri, baik setelah takbirotul ihrom (takbir kali pertama dimulainya sholat) pada rakaat pertama maupun pada rakaat berikutnya, posisi kedua tangan dijulurkan ke bawah, menempel pinggang hingga paha. Perbedaan kedua, begitu mengucap salam kedua saat mengakhiri sholat, kaum Syiah langsung mengangkat kedua tangan seperti posisi berdoa seraya mengucap takbir (Allahuakbar) tiga kali, lalu disambung dzikir sebagaimana dilakukan kelompok muslm lainnya.

"Ya hanya itu bedanya. Masa begitu saja dikatakan sesat," ujar Djemadi penuh tanya.

Mencermati perbincangan dengan beberapa kaum Syiah Sampang, naluri saya mengatakan, perseturan dua kelompok itu bukanlah karena masalah akidah atau agama. Beberapa sumber yang saya himpun menyebutkan, perseteruan dua kelompok ini diduga dipicu oleh dendam lama dua bersaudara, yakni Kyai Tajul dan Kyai Rois. Kakak-adik yang semula kabarnya sama-sama penganut Syiah --sebelum akhirnya Kyai Rois pindah haluan ke Sunni-- ini mempunyai masalah pribadi yang akhirnya berimbas pada konflik horizontal antarkelompok. Maklum, keduanya sama-sama memiliki jamaah (pengikut), meski yang Syiah termasuk minoritas. Ada juga cerita, asal-muasal perseteruan dua bersaudara itu akibat soal asmara keduanya. Benarkah? Wallahu a'lam.


Pembiaran Sistemik

Saya tidak mempunyai kapasitas dan otoritas untuk menilai sesat atau tidaknya Syiah dalam perspeksif ber-Islam, sehingga perlu justifikasi harus dibiarkan hidup dan berkembang (jika tidak sesat) dan harus diberangus dan pengikutnya diusir (jika sesat). Tetapi, ada dua hal yang menurut saya perlu dicermati terkait konflik berkepanjangan ini. Pertama, kering dan kerdilnya sikap toleransi akibat kesombongan/kecongkaan kelompok yang memusihi kaum Syiah. Kedua, pembiaran sistemik yang dilakukan pemerintah, sehingga masalah jadi berlarut-larut. 

Sikap sombong/congkak secara dramatis telah dipertontonkan kelompok Sunni --yang telah terprovokasi-- kepada publik, sehingga mereka tidak saja tak sanggup dan bisa hidup berdampingan dengan kaum Syiah dengan semangat saling menghormati (lana a'maluna, walakum a'malukum). Tetapi lebih dari itu, mereka bernafsu ingin mengenyahkan ajaran Syiah dan pengikutnya dari bumi Allah, sesembahan kaum Sunni dan juga sesembahan kaum Syiah. 

Di sisi lain pemerintah secara sistemik sepertinya malakukan pembiaran terhadap sikap dan laku semena-mena (main hakim sendiri). Sikap ini melahirkan lemahnya kinerja aparat intelejen (baca: boleh jadi memang disengaja) dalam mendeteksi gerakan yang berpotensi rusuh akibat konflik dua kelompok tersebut. Logika waras akan sulit menerima jika mata intelejen tak mampu melihat gejala yang muncul di dua desa basis kaum Syiah dan Sunni itu. Akal sehat juga sulit menerima jika telinga intelejen tak mampu mendengar apa yang terjadi di sana. Demikian juga tidak mungkin hidung intelejen tak bisa mencium aroma permusuhan massal yang sudah berlangsung cukup lama.

Demikian juga langkah relokasi yang ditempuh terhadap para pengikut Syiah dari kampung halaman mereka ke GOR Sampang tahun lalu, dan kini dipindahkan ke aparna di komplek Puspa Agro di Desa Jemundo, Kec. Taman, Sidoarjo, Jatim. Apa yang ditempuh pemerintah ini bisa dikatakan cari gampangnya atau menempuh standar minimalis. Pemerintah sepertinya abai terhadap hak-hak dasar, tidak mau susah-susah mengurus warga negaranya yang beperkara dan butuh penanganan komprehensif dan tuntas.


Sidoarjo, 15 Juli 2013

No comments:

Post a Comment

Blog Archive