Blog

Blog

Tuesday, July 16, 2013

Masjid Sebagai Pusat Peradaban


Aktivitas pengajian di masjid
Rabu pagi tadi, selepas sholat Subuh di masjid At-Taqwa di komplek perumahan GKGA Gresik, hati dan dada saya bergejolak, penuh gemuruh seakan mau meledak. Seorang shohib yang biasa saya sapa Gus Ali (bukan pemangku Ponpes Bumi Sholawat Tulangan, Sidoarjo) seakan melecutkan cambuk pengingat di ruang masjid. Shohib sesama takmir masjid ini pagi tadi kebetulan terjadwal mengisi kuliah Subuh selepas sholat. Ini tradisi yang disuguhkan masjd At-Taqwa, tiap bulan Ramadan. Selain menggelar sholat tarawih dan sejumlah pengajian dan kajian, tiap pagi sehabis sholat Subuh selalu tersaji kuliah Subuh. Kami biasa menyebutnya kultum.

Apa yang membuat hati dan dada saya seakan mau meledak? Dalam kultumnya, Gus Ali mengingatkan jamaah akan fungsi masjid. Dengan intonasi yang kalem dan tak meledak-ledak, ia menyindir, betapa masjid yang umumnya berdiri megah, hanya difungsikan untuk mengakomodasi ibadah yang sifatnya ritual saja, semisal sholat. Selepas prosesi sholat berjamaah, selanjutnya mnasjid tampak kosong melompong, sunyi senyap dari aktivitas jamaahnya. Ini sangat disayangkan, kata Gus Ali. Padahal, Kanjeng Nabi Muhammad SAW tidak menjadikan masjid hanya untuk sholat sebagai sarana vertikal hamba dengan rabb (sesembahan)-nya, Allah SWT, tetapi sekaligus sebagai pusat peradaban umat.

Saya lalu tersadar dan merasa terprovokasi untuk menindaklanjuti sindiran Gus Ali tersebut. Padahal, dalam kesempatan diskusi-diskusi kecil kami, fenomena tersebut juga sering kami bahas. Hanya saja, hingga kini implementasinya belum maksimal. Aktivitas masjid baru menyentuh aspek ubudiyah yang bersifat ritual, belum masuk ke aspek sosial kemasyarakatan, pendidikan, kesehatan, dan aspek lainnya yang dibutuhkan jamaah dan masyarakat sekitar. Kalaupun kini sudah ada sekolah yang kami naungi, itu pun baru jenjang Play Group, TK, dan TPQ. Bakal bangunan untuk SD yang kami bangun sudah lama mangkrak karena terbentur dana.

Ingatan saya lalu menjalar ke masa kecil dan remaja saya di kampung halaman di belahan Gresik selatan. Dengan perjuangan yang susah payah, masjid Al Huda yang kami kelola, tidak saja menampung jamaah untuk menunaikan sholat dan mengaji, tetapi berbagai aktivitas tidak saja untuk jamaah, tetapi sekaligus untuk masyarakat sekitar. Dari masjid yang terbilang kecil ini --untuk ukuran umum dengan kapasitas tak sampai 100 orang-- lahir aktivitas sosial, ekonomi, dan pendidikan. Masjid ini juga menjadi embrio berdirinya Yayasan Pendidikan dan Sosial Islam (YPSI) Al Huda yang hingga kini kami kelola. Ketika yayasan ini didirikan tahun 1987, saya masih kuliah semester II di IKIP Surabaya (Sekarang Unesa). Saya termasuk dewan pendiri dan pengurus yang waktu itu kebetulan termuda dibanding yang lain.

Sampai sekarang saya masih terlibat dalam pengelolaan yayasan yang berlokasi di dusun kelahiran saya ini. Dari sekadar mengelola pengajian kecil-kecilan baik di masjid maupun keliling secara bergantian ke rumah-rumah jamaah, kini YPSI Al Huda juga mengelola panti asuhan untuk anak yatim, koperasi, lembaga  zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswak), lembaga pendidikan jenjang Play Group, TK, SD, dan MTs. Sebuah bangunan untuk Ma'had (pesantren) juga lagi kami bangun.

Kini, hati saya terus bergemuruh, lalu tergoreskan mimpi untuk menjkadikan masjid At-Taqwa tidak saja untuk fasilitas ibadah yang sifatnya ritual, tapi sekaligus sebagai pusat pembinaan umat, pendidikan, kesehatan, sosial kemasyarakatan, juga pusat peradaban umat Islam. Semoga Allah meridloi dan mewujudkan mimpi ini.
Amin Ya Robbal 'alamin. 



Gresik, 17 Juli 2013

No comments:

Post a Comment

Blog Archive