Blog

Blog

Thursday, July 4, 2013

Madame Cebongan



Habe Arifin

Madame,
Ketika semua kebejatan bersembunyi di balik teralis penjara; jangan salahkan aku jika aku memburunya hingga kulesakkan seratus timah panas ke dalam dadanya hingga nyawanya tak sempat menangis termehek-mehek pamitan pada anak isterinya
...Tidak...tidak akan kubiarkan..!!

Madame,
Kau telah saksikan bagaimana mereka mencerabut nyawa sesama semudah menyulut cerutu di bibirnya, sambil menggilir tiga perempuan berginju tebal, dan tawa yang tak ada habisnya...

Mereka seolah malaikat yang bisa memancung nyawa manusia seenaknya, seperti memotong ayam, merebusnya, menggorengnya, dan menyantapnya sesuka-sukanya, sambil pesta pora, dengan wiski, arak, bir, heroin, shabu, ekstasi dan segala jenis narkoba

Para jahanam itu tak peduli siapa pemilik ruh yang dihunusnya tadi malam, mereka bahkan mencari mangsa orang-orang terkenal agar nama mereka semakin disegani di antara sesama geng neraka, mereka juga membunuh tentara dari komando paling elite, mencabik-cabiknya, menjadikan jasadnya seperti boneka sansak, ditinjunya, ditendang, diinjak-injak, disayat hingga berdarah-darah dan diberinya air cuka, hingga mendidih perihhhhhhh.....lalu diludahi sehina-hinanya dan mereka tertawa gembira, bersorak-sorai merayakan kemenangan para Bajingan...!!

Tak ada kemenangan paling bergengsi selain menghabisi dan menghinakan pasukan elite terlatih yang hidupnya diabdikan untuk menjaga kedaulatan negara, seolah mereka baru saja meruntuhkan sebuah bangsa dan membuang mayatnya ke jalanan sambil berteriak "bangsat!!"

Lalu para pejabat yang sudah kenyang makan uang haram itu sambil menutup matanya berkata sambil terbata-bata dan kaki gemetaran "kami aka..an te..gak..kan huk..hukk...kum..." Bibirnya nyaris beku dan tak bisa mengeluarkan kata-kata karena uang upeti para preman itu saban hari mengalir rutin ke kantong saku celananya...

Dan segerombolan polisi pura-pura menangkap mereka dan menyembunyikannya ke dalam penjara...seolah kita semua buta, apa yang tak bisa dikerjakan di dalam penjara: Menghamili seribu perempuan dalam semalam pun: bisa,
Menjadi bandar narkoba dan mengedarkannya ke seluruh dunia: bisa
Mengendalikan dana haram korupsi dan mendirikan belasan perusahaan: bisa
Membangun sel seperti kamar hotel bintang lima, lengkap dengan semua peralatan spa, salon, dan kasur khusus untuk mengencani pelacur-pelacur dan gigolo

Selama uang menjadi Tuhan, apa yang tak bisa dikerjakan di dalam penjara: sebut satu saja kalau kau bisa... penjara itu nikmat Bung!!

Bagi para mafia ini, para jaksa dan hakim di pengadilan, hanyalah para kecoa yang mudah dibeli dan dibuat bahan bercandaan stand up commedy

Madame,
Para jahanam itu memang layak dihabisi di negeri ini,
Mereka tak boleh membunuhi para tentara yang mengabdi dan menjaga kedaulatan negara,
Mereka tak boleh lagi membeli hukum sesukanya, mengatur para jaksa dan membeli para hakim sesukanya,
Mereka tak boleh menghina kewibawaan negara semau-maunya seolah negeri ini adalah negeri para preman dan mafia

Tidak!! Tidak..!!

Madame,
Negara ini merdeka karena perjuangan tak kenal lelah, pengorbanan yang tak berhingga
Tidak boleh ada satu pun yang menghina dan melecehkan bangsa ini seolah-olah mereka pemiliknya, yang bisa mengatur semua aparatur, membeli keputusan, menyuap setiap regulasi, dan merekayasa hukum

Madame,
Jika satu regu tentara pengabdi dan penjaga kedaulatan negara itu menyerbu Cebongan dan memberondongkan senapannya untuk menghentikan para bajingan perusak kedaulatan yang meruntuhkan sendi-sendi kehidupan bangsa, itulah yang mereka bisa lakukan!!

Para prajurit itu memang hanya dilatih menjaga martabat bangsa, mengawal kewibawaan negara dengan cara membunuh para musuhnya...

Para prajurit itu bukan guru, yang cuma menjewer telinga siswa yang menjadi perusuh, lalu menasihatinya agar tak mengulangi kesalahannya

Para prajurit itu juga bukan tukang sapu yang terus saja membersihkan jalanan sambil ngedumel dalam hati meski setiap orang datang membuang sampah dan kotoran

Bukan...!!

Para prajurit juga bukan wartawan yang melihat setiap kejahatan lalu ditulis dan jadilah sebuah berita hangat, atau penyiar televisi yang menyiarkan dari bilik kamera sambil bibirnya tetap diolesi gincu merah

Para prajurit itu juga bukan anggota DPR yang hanya mendiskusikan mafia perampok uang negara dalam talkshow, diskusi, dan segala macam perdebatan...

Para prajurit itu juga bukan presiden yang sedikit-sedikit mengeluh dan menyalahkan para menterinya di depan umum sambil menyebut rasa prihatin yang mendalam dan menyisir rambutnya agar tampak licin di depan televisi....

Bukan Madame!!!

Para prajurit itu juga bukan pimpinan partai politik yang suka membolak-balik omongan agar selalu tampak suci di depan publik

Para prajurit juga bukan pengacara dan advokat yang bicara apa saja, dengan sumpah serapah, mengatur segala macam perkara, yang penting dibayar mahal

Madame,
Mereka para prajurit itu adalah tentara terlatih yang hidup matinya dilatih untuk menghabisi musuh negara dan menghentikan siapa pun yang menghina martabat dan har diri bangsa dan negeri ini

Jika para prajurit itu tidak boleh menghentikan ulah para bromocorah itu dengan membunuh, lain kali para prajurit itu diberi pelatihan jadi guru, belajar mengoperasikan komputer, dan menggantung AK 47 di barak, atau dilatih kembali berbisnis dan ikut berpolitik

Jika para prajurit itu tak boleh membunuh, semestinya kitalah yang menghentikannya lebih dulu!!
Bukankah kita (katanya) orang beradab yang mengerti hukum, sopan, santun, tahu tata krama, berwibawa, pejabat kepolisian, menteri, presiden, dan orang-orang terhormat di negeri ini

Lalu di mmmmaaannnaaaa kita saat itu???

Ketika negara membutuhkan kalian semua, di mana kalian menyembunyikan diri...!!
Ketika bangsa ini dihina, dicaci maki, dinistakan, direndahkan, diobrak-abrik, hukum dibeli semaunya, tentara dibunuh, disayat-sayat begitu sadisnya, mengapa kalian semua takut sambil memeluk isteri-isteri kalian di tempat tidur!!!

Darah itu merah madame...l!!

Ketika presiden memilih menjadi ketua umum partai dan tak lagi peduli pada negerinya sendiri
Ketika para menteri sibuk mencari komisi minyak bersubsidi
Ketika DPR cuma bisa diskusi dan menumpuk rampokan harta korupsi
Ketika hakim dan jaksa gampang disogok dan dibeli
Ketika polisi cuma bisa basa basi dan menembaki rakyatnya sendiri pada setiap aksi demonstrasi

Kalau bukan tentara yang membela
kedaulatan dan kewibawaan bangsanya, lalu siapa lagi!!!

Madame,
Izinkan aku membunuh
sekali ini saja

Agar kita tak lupa pada sejarah
yang menjadikan kita: Indonesia

Jika mereka adili aku karena hal itu,
Aku memang ditakdirkan untuk dibunuh, karena perang bagiku, hanyalah ada kawan atau musuh:
Membunuh atau dibunuh
Tertangkap lawan dan diadili seperti sekarang ini

Madame,
Aku sudah siap
Sapta Margaku tak akan kulepas
Sampai nyawaku meregang dan terhempas....


Jakarta, 4 Juli 2013
Habe Arifin

No comments:

Post a Comment

Blog Archive