Blog

Blog

Thursday, July 25, 2013

Hormatilah yang Tidak Puasa


Oleh SUHARTOKO

Ada yang terselip di pikiran saya setiap kali bulan Ramadan datang. Seperti slilit, apa yang mengendap itu sekilas memang tampak sepele dan tak butuh perhatian serius. Tetapi, keberadaannya selalu saja jadi ganjalan di tengah menjalankan rangkaian ibadah di bulan nan suci ini, mengiringi puasa yang harus dilakoni sebulan penuh.

Slilit yang mengusik ketenangan itu berupa sikap dan perlakuan sebagian masyarakat dan pemerintah yang berlebihan. Apa itu? Sikap itu yakni adanya tuntutan pemenuhan untuk menghormati orang yang tengah berpuasa. Apa masalahnya hingga harus ada pola penghormatan tertentu yang harus diberikan kepada para pemuasa? Apakah para pelaku puasa itu memang gila hormat dan mesti diistimewakan?

Seperti di ketahui, di hampir semua daerah di Indonesia banyak warung, kafe, restoran, atau apa saja aktivitas penyedia makanan/minuman di siang hari tidak bisa melayani pembeli atau pelanggan secara bebas sebagaimana di luar Ramadan. Pada pagi hingga sore –saat puasa berlangsung--, tampilan warung atau kafe mesti "dikerudungi", diberi tabir berupa kain atau terpal, atau apa saja yang bisa menutupi wajah tempat penyedia makanan/minuman itu. Ironisnya, gerakan menutupi tempat berjualan itu dilakukan oleh aparat pemerintah yang juga didukung oleh ormas.

Para pemilik warung atau kafe memang tidak dilarang berjualan. Hanya saja mereka harus menutupi permukaan warung, baik di sisi depan maupun samping, sehingga tidak bisa langsung dilihat dari luar. Biasanya, anjuran atau perintah menutupi permukaan warung itu dikuatkan oleh edaran bupati/walikota di masing-masing daerah dengan varian berbeda meski esensi pesannya sama: warung harus ditutupi sehingga dari arah yang memungkin bisa dilihat seakan-akan tak ada aktivitas makan atau minum di dalamnya pada saat berlangsung ibadah puasa.

Namun ada yang sangat berlebihan. Salah satu pemerintah daerah di Banten, tidak saja melarang warung buka secara "telanjang" pada pagi hingga sore hari, tetapi bahkan melarang sama sekali buka alias tidak boleh berjualan total. Dalam tayangan televisi saya sempat menyaksikan betapa ketegasan itu dijalankan, praktis tanpa kompromi. Lewat pelaksana aparat satuan polisi pamong praja (Satpol PP), Pemda mengobrak dan menutup paksa warung yang kedapatan buka pada siang hari. Beginikah cara menghormati warga negara yang sedang berpuasa?


Hanya Kewajiban yang Beriman

Kalau dicermati pesan kitab suci Al Quran, pada surat Al Baqarah (2):183, --yang mendasari puasa Ramadan--kewajiban berpuasa itu tidak mengikat setiap individu muslim, apalagi nonmuslim. Tetapi, yang diwajibkan itu hanya orang-orang yang beriman, sebagaimana juga diwajibkan kepada umat sebelum masa Kanjeng Nabi Muhammad, meski dengan model dan tata cara yang berbeda. Dengan demikian, orang yang (merasa) tidak beriman atau juga nonmuslim tidak terikat dengan kewajiban tersebut dan tidak masalah (bukan berarti tidak berdosa) kalau tidak menjalankan puasa Ramadan.

Kalau mereka tidak kena kewajiban berpuasa dan memang tidak ingin berpuasa, mengapa mesti sembunyi-sembunyi ketika hendak makan? Demikian juga warung-warung yang melayani orang yang tidak berpuasa, mengapa harus ditutupi wajah depan/sampingnya dengan tabir, bahkan dilarang berjualan pada pagi, siang, dan sore hari sebelum Maghrib? Bukankah mereka (yang tidak berpuasa) juga butuh makan untuk men-support aktivitas mereka sehari-hari? Bukankah para pemilik dan atau pekerja di warung itu juga butuh pendapatan untuk menghidupi keluarga sehari-hari?

Sebagai muslim yang sejak kelas 3 SD selalu menjalani puasa Ramadan, jujur saya merasa risih dan malu menyaksikan fenomena memilukan tersebut. Bukankah puasa Ramadan itu hanya sebagian kecil dari seabrek kewajiban dan amal kebajikan selaku hamba Allah dan masih banyak kewajiban lain yang tidak menuntut penghormatan berlebihan? Memang kenapa kalau sedang berpuasa melhat orang yang tidak berpuasa lagi makan, minum, merokok, atau aktivitas lainnya terkait mengisi perut?

Menghormati bulan Ramadan dan orang yang tengah menjalani puasa di bulan nan suci, penuh rahmat, berkah, dan ampunan ini, memang sangat dianjurkan sebagai konsekuensi atas berhimpunnya entitas masyarakat yang heterogen dan majemuk. Hanya saja, sebaiknya jangan berlebihan, bahkan jangan sampai merugikan pihak lain, apalagi yang tidak berpuasa. Yang tidak elok itu adalah ketika ada orang berpuasa, lalu yang tidak berpuasa secara demonstratif makan/minum, iming-iming dengan harapan agar yang berpuasa ikut makan/minum alias membatalkan puasa (mokel).

Dengan demikian, penghormatan itu sesungguhnya tidak saja bagus dilakukan oleh orang yang tidak berpuasa kepada yang berpuasa. Sebaliknya, orang yang tengah berpuasa juga sebaiknya menghormati yang tidak berpuasa dengan jalan tidak membatasi aktivitas makan/minum mereka. Inilah sebenarnya hakikat toleransi, baik bagi warga seagama maupun yang tidak seagama: saling membiarkan dan saling menghargai, tidak saling mengganggu dan merugikan. Saatnya kita bersikap dan berlaku proporsional, tidak berlebihan di bulan suci Ramadan ini. (*)


Surabaya, 25 Juli 2013


*) Suhartoko,
Pegiat di Jaringan Literasi Indonesia

No comments:

Post a Comment

Blog Archive