Blog

Blog

Wednesday, July 31, 2013

Green I’tikaf


Suasana Green I'tikaf semalam
Astaghfirullohal ‘adzim … astaghfirullohal ‘adzim … astaghfirullohal ‘adzim … Innalloha ghofururrohim ….

Lantunan kalimat istighfar itu terdengar sayup-sayup, namun menggema seakan menyimpan kekuatan untuk menjebol kokohnya pintu ampunan Gusti Allah SWT. Ya, lantunan istighfar itu terus menggema tiada putus sedetik pun menyembul dari lisan-lisan pendamba sorga di bulan nan suci, Ramadan. Mereka adalah sekitar 150 orang peserta Green I’tikaf   yang dihelat di masjid Al Imam, komplek pasar induk modern agrobis Puspa Agro di Desa Jemundo, Kec. Taman, Sidoarjo, Jatim, Rabu, 31 Juli 2013, bertepatan dengan malam ke-23 pelaksanaan ibadah puasa Ramadan.

Sejak pukul 00.30 hingga 02.30 istighfar bareng yang dipandu Omda Sidi Miftahulluthfi Muhammad al Mutawakkil (Gus Luthfi) dan beberapa dai lingkungan di bawah koordinasi Kenduri Akbar Pengabdi Lingkungan (KAPAL) Jatim ini terus menggema memecah kesunyian malam yang baru beranjak menuju pagi dini hari. Suasana memang benar-sunyi, hanya terdengar gemuruh istighfar yang seakan menarik jamaah menuju pusaran suwung ning sejatining isi.Ya, kami bersama-sama memanfaatkan momentum i’tikaf untuk menjemput lailatul qodar yang nilai kebajikannya –sebagaimana terkandung dalam Al Quran-- lebih baik dari 1.000 bulan. Waow...itu ekuivalen dengan 83 tahun lebih, suatu karunia yang luar biasa jika kita berhasil menjumpai lailatur qodar.

Melalui istighfar yang entah berapa ribu kali terucap, saya terkondisikan dalam posisi sumeleh, pasrah kepada kebesaran dan keperkasaan Allah SWT, menyusul tumpukan dosa yang mengiringi perjalanan hidup saya. Sehari sebelumnya, perburuan malam qodar juga saya lakukan di Gresik, kota kecil tempat tinggal saya selama ini.

Dimulai dari masjid Manbaul Falah, dekat kantor pusat PT Semen Indonesia di Jl. Veteran, pukul 22.00, saya bergeser ke masjid Jamik di sisi barat alon-alon Gresik. Di masjid tua inilah saya juga merasakan pelukan kesunyian yang teramat erat. Di masjid ini air mata saya seakan terkuras oleh tarikan istighfar yang begitu kuat. Pukul 02.30, solo action ini saya lanjutkan ke masjid Nurul Jannah di komplek PT Petrokimia Gresik setelah sebelumnya sahur dengan menu nasi pecel dan segelas teh hangat di pasar Senggol, sebutan pusat kuliner pedagang kaki lima (PKL) di Jl. Arif Rahman Hakim. Di masjid ini saya bertahan hingga Subuh untuk salat berjamaah dan mendengarkan ceramah Subuh sebelum akhirnya pulang ke rumah pukul 05.30 WIB.     

Kembali ke masjid Al Imam di komplek Puspa Agro, mengapa  Green I’tikaf? Ya, i’tikaf di masjid yang saya juga terlibat dalam ketakmirannya ini, memang spesial. Mengapa spesial? Saya katakana spesial karena rangkaian gelar i’tikaf ini kami awali dengan aksi menanam 11 pohon di halaman masjid. Dari 11 pohon itu, 10 di antaranya adalah jenis pohon matoa dan 1 pohon trembesi. Sebelum I’tikaf yang full hanya diwarnai lantunan istighfar, kami yang duduk lesehan di masjid juga mengikuti tausyiyah dari Gus Luthfi yang didampingi beberapa dai lingkungan.

Aksi menanam pohon ini sesungguhnya hanya simbol atas kepedulian kami terhadap keseimbangan ekologi  yang diharapkan diikuti oleh masyarakat di tempat tinggal atau lingkungan masing-masing, khususnya para jamaah yang hadir dalam Green I’tikaf ini. Kami berharap, keseimbangan hidup tidak hanya terwujud dari harmonisasi hubungan manusia dengan sang khaliq, Allah SWT, tetapi sekaligus dengan alam lingkungan. Apalagi, saat ini telah terjadi pengikisan lapisan ozon akibat global warming yang pada gilirannya menyusutkan persediaan oksigen (O2) yang menjadi menu utama pernafasan makhluk hidup. Karena itu, dengan gerakan menanam pohon, diharapkan produksi oksigen terus bertambah dan men-support kehidupan yang sehat dan menyehatkan.

Saya juga merasakan, i’tikaf semalam terasa spesial dan melahirkan suasana batin yang luar biasa, karena hadirnya puluhan saudara saya, pengungsi asal Sampang, Madura yang terusir dari kampung halaman mereka. Hampir dua bulan sebanyak 69 keluarga (ratusan jiwa) yang beraliran Syiah dan dituduh sesat oleh masyarakat Sampang itu, ditampung di apartemen sederhana (aparna) di komplek pasar induk Puspa Agro setelah sebelumnya (sekitar setahun) "diinapkan" di GOR Sampang. Hal itu setelah rumah-rumah dan tempat ibadah mereka dihancurkan oleh orang-orang yang mengaku kaum Sunni. Oleh pemerintah provinsi Jatim dan Pemkab Sampang, mereka dipindahkan ke aparna yang berada di area Puspa Agro karena pertimbangan keamanan dan keselamatan mereka.

Dalam kesempatan Green I’tikaf semalam, kami juga mendoakan saudara-saudara asal Sampang ini secepatnya dikembalikan ke kampung halaman mereka untuk bisa hidup dengan normal dan nyaman, tanpa tekanan dan intimidasi dari siapa pun. Semoga momentum Ramadan ini benar-benar membawa berkah bagi semua umat Muslim, termasuk mereka yang kini hidup di pengungsian. Amin …amin …amin Yaa Robbal ‘alamin. (*)


Sidoarjo, 1 Agustus 2013
Suhartoko  
     




Thursday, July 25, 2013

Hormatilah yang Tidak Puasa


Oleh SUHARTOKO

Ada yang terselip di pikiran saya setiap kali bulan Ramadan datang. Seperti slilit, apa yang mengendap itu sekilas memang tampak sepele dan tak butuh perhatian serius. Tetapi, keberadaannya selalu saja jadi ganjalan di tengah menjalankan rangkaian ibadah di bulan nan suci ini, mengiringi puasa yang harus dilakoni sebulan penuh.

Slilit yang mengusik ketenangan itu berupa sikap dan perlakuan sebagian masyarakat dan pemerintah yang berlebihan. Apa itu? Sikap itu yakni adanya tuntutan pemenuhan untuk menghormati orang yang tengah berpuasa. Apa masalahnya hingga harus ada pola penghormatan tertentu yang harus diberikan kepada para pemuasa? Apakah para pelaku puasa itu memang gila hormat dan mesti diistimewakan?

Seperti di ketahui, di hampir semua daerah di Indonesia banyak warung, kafe, restoran, atau apa saja aktivitas penyedia makanan/minuman di siang hari tidak bisa melayani pembeli atau pelanggan secara bebas sebagaimana di luar Ramadan. Pada pagi hingga sore –saat puasa berlangsung--, tampilan warung atau kafe mesti "dikerudungi", diberi tabir berupa kain atau terpal, atau apa saja yang bisa menutupi wajah tempat penyedia makanan/minuman itu. Ironisnya, gerakan menutupi tempat berjualan itu dilakukan oleh aparat pemerintah yang juga didukung oleh ormas.

Para pemilik warung atau kafe memang tidak dilarang berjualan. Hanya saja mereka harus menutupi permukaan warung, baik di sisi depan maupun samping, sehingga tidak bisa langsung dilihat dari luar. Biasanya, anjuran atau perintah menutupi permukaan warung itu dikuatkan oleh edaran bupati/walikota di masing-masing daerah dengan varian berbeda meski esensi pesannya sama: warung harus ditutupi sehingga dari arah yang memungkin bisa dilihat seakan-akan tak ada aktivitas makan atau minum di dalamnya pada saat berlangsung ibadah puasa.

Namun ada yang sangat berlebihan. Salah satu pemerintah daerah di Banten, tidak saja melarang warung buka secara "telanjang" pada pagi hingga sore hari, tetapi bahkan melarang sama sekali buka alias tidak boleh berjualan total. Dalam tayangan televisi saya sempat menyaksikan betapa ketegasan itu dijalankan, praktis tanpa kompromi. Lewat pelaksana aparat satuan polisi pamong praja (Satpol PP), Pemda mengobrak dan menutup paksa warung yang kedapatan buka pada siang hari. Beginikah cara menghormati warga negara yang sedang berpuasa?


Hanya Kewajiban yang Beriman

Kalau dicermati pesan kitab suci Al Quran, pada surat Al Baqarah (2):183, --yang mendasari puasa Ramadan--kewajiban berpuasa itu tidak mengikat setiap individu muslim, apalagi nonmuslim. Tetapi, yang diwajibkan itu hanya orang-orang yang beriman, sebagaimana juga diwajibkan kepada umat sebelum masa Kanjeng Nabi Muhammad, meski dengan model dan tata cara yang berbeda. Dengan demikian, orang yang (merasa) tidak beriman atau juga nonmuslim tidak terikat dengan kewajiban tersebut dan tidak masalah (bukan berarti tidak berdosa) kalau tidak menjalankan puasa Ramadan.

Kalau mereka tidak kena kewajiban berpuasa dan memang tidak ingin berpuasa, mengapa mesti sembunyi-sembunyi ketika hendak makan? Demikian juga warung-warung yang melayani orang yang tidak berpuasa, mengapa harus ditutupi wajah depan/sampingnya dengan tabir, bahkan dilarang berjualan pada pagi, siang, dan sore hari sebelum Maghrib? Bukankah mereka (yang tidak berpuasa) juga butuh makan untuk men-support aktivitas mereka sehari-hari? Bukankah para pemilik dan atau pekerja di warung itu juga butuh pendapatan untuk menghidupi keluarga sehari-hari?

Sebagai muslim yang sejak kelas 3 SD selalu menjalani puasa Ramadan, jujur saya merasa risih dan malu menyaksikan fenomena memilukan tersebut. Bukankah puasa Ramadan itu hanya sebagian kecil dari seabrek kewajiban dan amal kebajikan selaku hamba Allah dan masih banyak kewajiban lain yang tidak menuntut penghormatan berlebihan? Memang kenapa kalau sedang berpuasa melhat orang yang tidak berpuasa lagi makan, minum, merokok, atau aktivitas lainnya terkait mengisi perut?

Menghormati bulan Ramadan dan orang yang tengah menjalani puasa di bulan nan suci, penuh rahmat, berkah, dan ampunan ini, memang sangat dianjurkan sebagai konsekuensi atas berhimpunnya entitas masyarakat yang heterogen dan majemuk. Hanya saja, sebaiknya jangan berlebihan, bahkan jangan sampai merugikan pihak lain, apalagi yang tidak berpuasa. Yang tidak elok itu adalah ketika ada orang berpuasa, lalu yang tidak berpuasa secara demonstratif makan/minum, iming-iming dengan harapan agar yang berpuasa ikut makan/minum alias membatalkan puasa (mokel).

Dengan demikian, penghormatan itu sesungguhnya tidak saja bagus dilakukan oleh orang yang tidak berpuasa kepada yang berpuasa. Sebaliknya, orang yang tengah berpuasa juga sebaiknya menghormati yang tidak berpuasa dengan jalan tidak membatasi aktivitas makan/minum mereka. Inilah sebenarnya hakikat toleransi, baik bagi warga seagama maupun yang tidak seagama: saling membiarkan dan saling menghargai, tidak saling mengganggu dan merugikan. Saatnya kita bersikap dan berlaku proporsional, tidak berlebihan di bulan suci Ramadan ini. (*)


Surabaya, 25 Juli 2013


*) Suhartoko,
Pegiat di Jaringan Literasi Indonesia

Monday, July 22, 2013

Mualaf Literasi


Dua hari terakhir ini, di tengah menjalankan ibadah puasa Ramadan yang penuh rahmat, berkah, dan ampunan, saya punya kegiatan tambahan. Selain tadarus Al Quran yang saya lakukan tiap malam menjelang tidur dan selepas Subuh bersama anak-anak dan ibunya, saya juga "menadarusi" sebuah buku. Ya, sebuah buku cukup tebal (442 halaman) dengan judul lumayan sangar: NATION IN TRAP dengan tagline di bawahnya: Menangkal 'Bunuh Diri' Negara dan Dunia Tahun 2020.

Bagaimana saya bisa mendapatkan buku karya Effendi Siradjuddin ini? Ceritanya begini. Di sela-sela buka bersama di vip room Gedung Tani komplek pasar induk Puspa Agro, Taman, Sidoarjo, Rabu, 17 Juli 2013 lalu, seorang sahabat lama, M. Rudiansyah mengatakan kepada saya tentang buku yang layak didiskusikan.
Alumni ITS yang telah belasan tahun menjadi pengusaha realestat (properti) ini memang sering mendiskusikan banyak hal dengan saya, baik masalah politik, ekonomi khususnya terkait kebijakan sektor properti, pemerintahan, juga tak jarang masalah-masalah sosial yang berkembang di masyarakat. Dalam momentum buka bersama itu, setengah berbisik tapi penuh antusias, pengusaha yang telah membangun perumahan di beberapa kota ini minta saya membaca buku tersebut.

"Sha, di mobil ada buku bagus. Wocoen dan telaah. Nanti kita diskusikan bersama dengan teman-teman."
Mas Rudi memang suka memanggil saya dengan sapaan 'Sha'. Itu inisial saya ketika selama 12 tahun (1991-2002) melakoni profesi wartawan di Harian Sore Surabaya Post, hingga Koran yang pernah menjadi Koran terbesar di Jatim ini akhirnya dilikuidasi. Koran ini menyatakan diri terlikuidasi setelan anak-anak Bu Toety Aziz (alm), pemiliknya, tidak ada yang mau meneruskan tongkat kepemimpinan di koran tersebut.

Dan, keterlibatan saya dalam diskusi secara intens dengan mas Rudi telah saya lakukan, baik di REI Jatim, asosiasi para pengembang realestat, Kadin Surabaya, juga di forum-forum diskusi dengan teman-teman di PWI Jatim. Ia begitu antusias ingin mendiskusikan buku karya alumni ITB yang kenyang di dunia bisnis energi/perminyakan ini karena satu alasan: dunia dalam ancaman krisis multidimensi. Di antaranya krisis energi global, pangan, lingkungan, demografis, juga peradaban. Pada gilirannya, aneka krisis tersebut menjadi ancaman dan bisa menggilas negara-negara maju dan berkembang, termasuk Indonesia.

"Ini mesti di antisipasi kalau negara kita tidak ingin terpuruk sebagaimana analisis dan prediksi di buku itu," katanya.

Maka, setelah salat Maghrib dan buka puasa, dia mengajak saya menuju mobilnya yang diparkir di depan Gedung Tani. Dalam hitungan detik setelah pintu kiri-depan mobil dibuka, buku dengan warna dasar gelap dan warna tulisan merah dan putih itu berpindah ke tangan saya. Sekilas buku tebal dengan sampul hard cover ini tampak kekar dan sangar begitu mata saya menatap kombinasi warna cover dan judul bukunya. Saya belum membaca buku petang itu, kecuali hanya memelototi judul dan daftar isinya.

Melihat tebalnya buku ini sebenarnya saya agak wegah (enggan) melahapnya. Tetapi, saya jadi tertarik setelah membaca judul dan daftar isinya. Apalagi sebelumnya, kepada sahabat saya yang "dulur sak peguron" di Unesa, Much. Khoiri yang biasa saya sapa Kang Emcho ini, saya menyatakan siap jadi mualaf literasi, "nyantrik" dan ngangsu kaweruh dan keterampilan menulis dalam komunitas Jaringan Literasi Indonesia (Jalindo) yang kini tengah menyiapkan lahirnya Pusat Literasi Unesa. Kang Emcho adalah kakak kelas yang juga dosen di Unesia yang kerap memprovokasi saya untuk menulis apa saja yang saya lihat, rasakan, pikirkan, dan lakukan.

Maka, mengirigi tadarus Al Quran di bulan suci Ramadan ini, saya juga rutin "menadarusi" buku NATION IN TRAP, Menangkal 'Bunuh Diri' Negara dan Dunia Tahun 2020 yang banyak memotret berbagai krisis di dunia ini serta analisis dan prediksinya di abad ke-21. Di sela-sela menikmati buku ini, ingatan saya langsung melesat pada buku Global Paradox karya John Naisbitt, terbitan 1994 dan sempat menghebohkan dunia bisnis karena ketajaman analisis dan ramalan tren bisnis di abad ke-21

Senyampang belum lupa, saya pun menuju lemari buku saya dan mencari di rak kelompok ekonomi-politik. Beberapa detik kemudian buku saya sandingkan dengan buku NATION IN TRAP sebagai tambahan reverensi. Kedua buku ini selanjutnya saya masukkan ke tas kerja untuk saya baca kapan pun ketika ada peluang membaca.

Ya, bulan Ramadan 1434 H (2013 M) ini menjadi momentum bagi saya untuk aktif dalam gerakan literasi, satu gerakan yang mendorong tumbuh dan kembangnya budaya dengan fokus baca dan tulis sebagai media meningkatkan peradaban bangsa. Bersama-sama dengan para penggiat dan “lascar” literasi lainnya, saya akan terus berkampanye akan pentingnya budaya membaca dan menulis, baik di kalangan siswa, guru, mahasiswa, dosen, dan masyarakat pada umumnya.


Gresik, 19 Juli 2013
www,kompasiana.com/Humaniora/Mas Hartoko

Wednesday, July 17, 2013

Sinetron Lakon Khofifah


Oleh HENRY NURCAHYO *)


Henry Nurcahyo
Khofifah Indar Parawansah akhirnya gagal menjadi calon Gubernur Jawa Timur. Ini peristiwa yang menarik dicermati sebagai “teater sosial” yang telah sanggup menciptakan ketegangan perasaan publik beberapa bulan belakangan ini. Lakon tentang Khofifah bagaikan sinetron yang membuat masyarakat penasaran untuk tahu ending-nya. Lakon Khofifah bagaikan novel atau film yang mengaduk-aduk perasaan penonton sehingga melahirkan empati terhadap tokoh utama. Khofifah telah hadir sebagai sosok yang “dizalimi” terlepas apakah dia benar-benar dizalimi ataukah memang situasinya membuat dia seolah-olah dizalimi. Karena itu, bisa dibayangkan kalau ternyata dia benar-benar lolos menjadi Cagub, maka bukan tidak mungkin akan mampu menumbangkan rezim Karsa (Soekarwo-Saifullah Yusuf).

Tanpa terasa, rakyat negeri ini memang sudah sangat terpengaruh (untuk tidak bilang) dijajah sinetron, apapun bentuknya. Mulai dari sinetron cengeng yang dituduh merusak mental bangsa, sampai sinetron serius (dan memang bermutu) semacam garapan Deddy Mizwar. Harus diakui, era kejayaan cerita bersambung di koran harian sudah lewat. Demikian pula novel Indonesia tidak ada yang mampu membuat penasaran pembaca seperti Kho Ping Ho atau serial komik silat.

Banyak orang yang lebih tertarik mengikuti “sinetron politik” semacam lakon Khofifah ini ketimbang membaca karya sastra. Sinetron dengan lakon Nazarudin juga masih laris karena mampu menjadi liputan utama atau laporan khusus media massa nasional. Lihat saja media sosial juga masih ramai bicara tentang “sinetron PKS” dalam cerita soal daging sapi dan ihwal kesyahwatan.

Maka mengikuti hari demi hari Lakon Khofifah sungguh mengasyikkan sebagaimana menunggu-nunggu kelanjutan cerita sinetron. Menariknya, lakon Khofifah ini karena masih melekat erat dalam memori masyarakat, khususnya Jawa Timur, bahwa lima tahun yang lalu, perempuan itu telah membuat sejarah tersendiri dalam sejarah Pilkada di negeri ini. Dialah satu-satunya Calon Gubernur di Indonesia yang mampu memaksa lawannya bertarung dalam tiga kali putaran. Jadi tak heran kalau Karsa “ketakutan” sudah sejak awal ketika dalam Pilkada tahun ini Khofifah berniat maju lagi. Masuk akal kalau orang menduga bahwa Karsa sangat berkepentingan terhadap ikut tidaknya Khofifah dalam pertarungan Pilkada Gubernur Jatim. Indikasi ini sudah terlihat betapa bersemangatnya Soekarwo menggalang suara dengan mengumpulkan berbagai elemen masyarakat dalam berbagai acara yang disamarkan dengan segala macam nama.

Secara formal, memang selama ini Khofifah belum head to head dengan Karsa, tidak sebagaimana lima tahun yang lalu, ketika mereka harus bersaing ketat dalam pertarungan yang sengit. Kali ini Khofifah masih berjuang untuk bisa lolos sebagai Cagub, belum masuk ke arena pertandingan. Lagi pula, Karsa bukan lawan satu-satunya. Setidaknya ada pasangan Bambang DH dan calon independen Eggy Sujana. Tetapi di permukaan, kentara sekali aroma pertempuran antara Karsa dan Khofifah. Padahal, Khofifah sedang bertarung melawan KPU yang dituduh berusaha mengganjalnya, bukan sedang berhadapan dengan Karsa. Tetapi kesan kuat yang tertangkap, bahwa kubu Karsa sangat tidak ingin Khofifah bisa maju ke gelanggang. Setidaknya agar bisa “menghemat energi” ketimbang kalau nanti Khofifah benar-benar berhasil lolos. Lihat saja unjuk rasa yang dilakukan oleh FKPPI di kantor KPU yang berlawanan dengan unjuk rasa dari kubu Khofifah. Kalau dipikir-pikir, apa kepentingannya FKPPI unjukrasa mendesak KPU agar tidak gentar oleh protes kubu Khofifah? Bukankah hal ini semakin memperkuat kesan bahwa Karsa bermain di belakangnya? Memangnya FKPPI mewakili siapa? Salahkah kalau masyarakat menuduh FKPPI sedang “membela” Karsa? Lain halnya kalau yang unjuk rasa hanya kubu Khofifah. Karena sejatinya Khofifah memang sedang berjuang keras melawan KPU yang ditengarai berlaku “curang”, kubu (yang membela) Karsa tidak usah ikut campur perseteruan Khofifah vs KPU ini.

Sementara itu, Bambang Dwi Hartono ketika ditugaskan oleh PDI Perjuangan untuk maju sebagai Cagub Jatim, dia kaget, karena tahu diri mengenai kapasitasnya. Bambang terang-terangan mengakui bahwa sosok Soekarwo hanya mampu ditandingi oleh Khofifah atau sekelas tokoh nasional seperti Pramono Anung. Terkait dengan isu bahwa dia digadang-gadang hendak digandengkan dengan Khofifah sebagai Wakil Gubernur, membuat Bambang kurang percaya diri ketika kemudian dia malah “diperintah” maju sebagai Cagub. Maka Bambang menyempatkan diri menelepon langsung pada Khofifah yang saat itu sedang umrah untuk berpamitan bahwa dirinya diminta maju sebagai Cagub.

Kemunculan sosok Bambang bisa jadi hanya “demi kepantasan” agar Pilkada Jatim sedikit ramai lantaran calon independen sama sekali tidak bisa diperhitungkan elektabilitasnya. Apalagi ada peran Taufik Kemas sebagai God Father GMNI yang mau tidak mau berada dalam satu jalur dengan Soekarwo sebagai Ketua Alumni GMNI Jatim. Kehadiran Bambang semula diskenario  akan bisa memecah suara seandainya Khofifah betul-betul lolos sebagai Cagub. Relatif tidak ada yang bisa diandalkan dari sosok Bambang yang “hanya” menjadi Wakil Walikota Surabaya (juga Calon Wakil Gubernurnya). Dia bukan Ganjar Pranowo yang punya modal sebagai orang pusat yang cerdas dan mampu merebut simpati rakyat Jawa Tengah dengan slogan sederhana “Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi”. Orang di luar Surabaya bisa dikatakan tidak mengenal siapa Bambang DH sehingga tidak bisa menemukan alasan emosional untuk kemudian memilihnya. Satu-satunya modalnya hanyalah mengandalkan mesin politik PDI Perjuangan betul-betul bisa berfungsi dengan baik. Mungkin saja orang akan memilih Bambang karena alasan PDI Perjuangan, karena sosok Megawati, atau simpati dengan Jokowi (yang sangat mungkin akan menjadi jurkam Bambang).

Apa boleh buat, sistem pemungutan suara dalam politik demokrasi yang sedang berlaku saat ini memang menjadikan masyarakat hanya dimaknai sebagai angka-angka belaka. Suara seorang Presiden, Menteri, Jendral, Doktor dan Profesor sekalipun sama nilainya dengan suara dari rakyat kebanyakan. Sistem pemungutan suara untuk mendapatkan pemenang mau tak mau hanya dihitung secara kuantitas, bukan kualitas. Jadi yang lebih penting dalam pemilihan (Pilpres, Pilkada atau Pileg) adalah adanya alasan tertentu yang mendorong seseorang menentukan pilihannya. Dan sebagian besar masyarakat lebih punya alasan yang bersifat emosional ketimbang rasional. Jadi jangan heran kalau kampanye-kampanye banyak berisi slogan-slogan kosong semata-mata supaya memudahkan masyarakat (awam) memiliki alasan untuk menentukan pilihan. Mengapa SBY menang dalam Pilpres, antara lain karena banyak orang yang memilih karena dia dinilai sebagai sosok yang berwibawa dan ngganteng.

Bisa saja secara objektif seorang Soekarwo sebagai Cagub petahana (incumbent) memang memiliki banyak prestasi membuat provinsi Jatim maju, mendapat banyak penghargaan, atau bahkan mensejahterakan rakyat. Tetapi hal itu semua tidak cukup kuat untuk dijadikan alasan agar orang memilihnya kembali. Kalau saja Khofifah lolos sebagai Cagub, maka kans Khofifah untuk terpilih lebih besar semata-mata karena ada alasan bahwa dia “dizalimi”.  Karsa tidak cukup kuat “menjual ikon kumisnya” untuk merebut simpati publik.

Maka ketika sekarang Khofifah gagal menjadi cagub, para pendukungnya tentu bakal menjadi rebutan. Tetapi pilihan mereka sepertinya hanya dua: Golput atau Asal Bukan Karsa (ABK). Maka posisi Bambang bisa jadi diuntungkan karena akan mendapat limpahan suara pendukung Khofifah. PDI Perjuangan sendiri juga akan all out memperjuangkan Bambang, lebih-lebih kini Taufik Kemas sudah meninggal dunia. Kalau semula Bambang hanya jadi kuda hitam yang kurang diperhitungkan, maka kini pantas untuk tidak diremehkan.

Dan kini, kalau kemudian Khofifah menggugat KPU, dia ibarat menuliskan kata “bersambung” pada halaman terakhir novel yang dilakoninya. Karsa bisa jadi tidak jenak selama gugatan ini masih menggelinding. Khofifah masih menyimpan kartu truf dengan sosok Herman Sumawireja yang menjadi calon wakilnya. Mantan Kapolda Jatim itu tentu tidak akan legawa dengan kekalahan sebelum bertanding ini.  Kita tunggu saja kelanjutan ceritanya. 


*) HENRY NURCAHYO, penulis dan aktivis kesenian dan lingkungan


Inilah Rahasia Top Menjadi Penulis

Much. Khoiri
Oleh MUCH. KHOIRI *)
(knowledge + trigger) + effort = works

Rahasia apakah yang dimiliki para penulis yang meraih Nobel Prize semacam Ernest Hemingway, Albert Camus, Naguib Mahfouz, atau Orhan Pamuk? Rahasia apakah yang disimpan para penulis kaya dunia semacam J.K Rowling, James Patterson, Stephanie Meyer, Stephen King, Daniele Steel?

Dari 109 peraih Nobel Prize (laureate) bidang sastra dan puluhan pengarang terkaya dunia, nama-nama di atas agaknya menyepakati ungkatan Ken Macleod ini: “The secret of becoming a writer is to write, write and keep on writing.” Rahasia menjadi penulis adalah menulis, menulis, dan terus menulis.

Ya, rahasia itu sepintas sederhana, namun itulah hakikatnya. Orang yang ingin jadi petani sukses, dia menjalani pekerjaan petani. Orang yang mau sukses berdagang, dia belajar berdagang. Orang yang ingin pintar mengaji, dia belajar mengaji. Orang yang ingin jadi penulis, dia harus rajin menulis.

Frasa “menulis, menulis, dan terus menulis” mengisyaratkan latihan untuk pembiasaan dan pembelajaran. Dengan banyak latihan menulis, kita akan terbiasa secara fisik dan mental untuk duduk berlama-lama menuangkan gagasan, pikiran, atau perasaan. Jika sudah terbiasa, menulis menjadi kebutuhan yang nikmat.
Sementara itu, dalam latihan juga terkandung pembelajaran. Saya pernah membaca buku berjudul Transitions (maaf, lupa tahun terbitnya) yang memuat draf-draf awal penulis hebat dunia. Draf-draf itu masih penuh coretan, koreksi, dan sisipan—baik bentuk (struktur genre) maupun isi (ide, gagasan).

Ketika saya bandingkan draf yang ada di dalam buku Transitions dengan draf final di buku lain (buku referensi mengajar), terdapat perbedaan yang signifikan. Para penulis telah merevisi bentuk dan isi karya mereka. Artinya, para penulis kelas dunia pun juga menempuh pembelajaran untuk memperbaiki karya mereka.

Practice makes all things perfect. Latihan membuat segala sesuatu sempurna. Demikian pun para penulis dunia tersebut. Mereka selalu berlatih menulis dan menulis untuk menemukan puncak karya yang diinginkan. Novel The Old Man and The Sea karya Ernest Hemingway pastilah puncak sempurna dari proses menulis yang panjang dan berliku.

Di samping itu, kita bisa belajar ketangguhan (perseverance) dalam menulis. Sebelum mereka mendapatkan tempat di hati penerbit, mereka pernah ditolak berkali-kali; dan diminta untuk merevisi draf mereka. Bukan itu saja, selama revisi, apalagi saat menulis, ada di antara mereka yang mengucilkan diri—bahkan dari keluarga. Tentulah hal ini perlu ketangguhan mental yang luar biasa.

Para penulis itu telah menjadi cermin bagi saya ketika tahun 1987-an saya belajar menembus surat kabar. Betapa lelah dan gemes hati saya tatkala artikel saya ditolak berkali-kali oleh Jawa Pos, Surabaya Post, Surya, dan lain-lain. Hampir putus-asa rasanya saat itu.

Namun, saya “berguru” pada para penulis top dunia. Maka, saya usahakan untuk tetap tegar. Saya terus berlatih dan berlatih. Akhirnya, saya juga berhasil menembus koran-koran tersebut—bahkan tahun 1991 berhasil menembus barometer sastra nasional, yakni majalah sastra Horison.

Satu lagi, latihan menulis untuk peningkatan kualitas (dan/atau kuantitas). Dengan terus-menerus melatih menulis, kualitas tulisan akan meningkat, mencerminkan kualitas pikiran yang semakin kritis. Para pengarang tertentu, seperti J.K Rowling, James Patterson, Stephanie Meyer, Stephen King, Daniele Steel, meningkatkan kualitas dan kuantitas sejalan waktu.

Nah, sekarang marilah renungkan apakah kita sudah menakar keseriusan kita masing-masing dalam menulis. Kita matangkan untuk segera menyusun action plan, dan menerapkannya untuk mewujudkan rahasia sukses menjadi penulis—yakni menulis, menulis, dan terus menulis.

Sebagai penutup, marilah simak ungkapan Dahlan Iskan ini: “Sebagai seorang penulis, harus terus latihan menulis dan membaca. Awal-awalnya saya juga mengalami kesulitan, tapi berlatih dan terus berlatih, gak bisa langsung nulis seperti sekarang. Perlu proses lama.”


*) Much. Khoiri, dosen Sastra dan Budaya Universitas Negeri Surabaya (Unesa)

Tuesday, July 16, 2013

Masjid Sebagai Pusat Peradaban


Aktivitas pengajian di masjid
Rabu pagi tadi, selepas sholat Subuh di masjid At-Taqwa di komplek perumahan GKGA Gresik, hati dan dada saya bergejolak, penuh gemuruh seakan mau meledak. Seorang shohib yang biasa saya sapa Gus Ali (bukan pemangku Ponpes Bumi Sholawat Tulangan, Sidoarjo) seakan melecutkan cambuk pengingat di ruang masjid. Shohib sesama takmir masjid ini pagi tadi kebetulan terjadwal mengisi kuliah Subuh selepas sholat. Ini tradisi yang disuguhkan masjd At-Taqwa, tiap bulan Ramadan. Selain menggelar sholat tarawih dan sejumlah pengajian dan kajian, tiap pagi sehabis sholat Subuh selalu tersaji kuliah Subuh. Kami biasa menyebutnya kultum.

Apa yang membuat hati dan dada saya seakan mau meledak? Dalam kultumnya, Gus Ali mengingatkan jamaah akan fungsi masjid. Dengan intonasi yang kalem dan tak meledak-ledak, ia menyindir, betapa masjid yang umumnya berdiri megah, hanya difungsikan untuk mengakomodasi ibadah yang sifatnya ritual saja, semisal sholat. Selepas prosesi sholat berjamaah, selanjutnya mnasjid tampak kosong melompong, sunyi senyap dari aktivitas jamaahnya. Ini sangat disayangkan, kata Gus Ali. Padahal, Kanjeng Nabi Muhammad SAW tidak menjadikan masjid hanya untuk sholat sebagai sarana vertikal hamba dengan rabb (sesembahan)-nya, Allah SWT, tetapi sekaligus sebagai pusat peradaban umat.

Saya lalu tersadar dan merasa terprovokasi untuk menindaklanjuti sindiran Gus Ali tersebut. Padahal, dalam kesempatan diskusi-diskusi kecil kami, fenomena tersebut juga sering kami bahas. Hanya saja, hingga kini implementasinya belum maksimal. Aktivitas masjid baru menyentuh aspek ubudiyah yang bersifat ritual, belum masuk ke aspek sosial kemasyarakatan, pendidikan, kesehatan, dan aspek lainnya yang dibutuhkan jamaah dan masyarakat sekitar. Kalaupun kini sudah ada sekolah yang kami naungi, itu pun baru jenjang Play Group, TK, dan TPQ. Bakal bangunan untuk SD yang kami bangun sudah lama mangkrak karena terbentur dana.

Ingatan saya lalu menjalar ke masa kecil dan remaja saya di kampung halaman di belahan Gresik selatan. Dengan perjuangan yang susah payah, masjid Al Huda yang kami kelola, tidak saja menampung jamaah untuk menunaikan sholat dan mengaji, tetapi berbagai aktivitas tidak saja untuk jamaah, tetapi sekaligus untuk masyarakat sekitar. Dari masjid yang terbilang kecil ini --untuk ukuran umum dengan kapasitas tak sampai 100 orang-- lahir aktivitas sosial, ekonomi, dan pendidikan. Masjid ini juga menjadi embrio berdirinya Yayasan Pendidikan dan Sosial Islam (YPSI) Al Huda yang hingga kini kami kelola. Ketika yayasan ini didirikan tahun 1987, saya masih kuliah semester II di IKIP Surabaya (Sekarang Unesa). Saya termasuk dewan pendiri dan pengurus yang waktu itu kebetulan termuda dibanding yang lain.

Sampai sekarang saya masih terlibat dalam pengelolaan yayasan yang berlokasi di dusun kelahiran saya ini. Dari sekadar mengelola pengajian kecil-kecilan baik di masjid maupun keliling secara bergantian ke rumah-rumah jamaah, kini YPSI Al Huda juga mengelola panti asuhan untuk anak yatim, koperasi, lembaga  zakat, infak, sedekah, dan wakaf (Ziswak), lembaga pendidikan jenjang Play Group, TK, SD, dan MTs. Sebuah bangunan untuk Ma'had (pesantren) juga lagi kami bangun.

Kini, hati saya terus bergemuruh, lalu tergoreskan mimpi untuk menjkadikan masjid At-Taqwa tidak saja untuk fasilitas ibadah yang sifatnya ritual, tapi sekaligus sebagai pusat pembinaan umat, pendidikan, kesehatan, sosial kemasyarakatan, juga pusat peradaban umat Islam. Semoga Allah meridloi dan mewujudkan mimpi ini.
Amin Ya Robbal 'alamin. 



Gresik, 17 Juli 2013

Monday, July 15, 2013

Syiah … Oh Syiah


Bersama  pengungsi Syiah, Djemadi (kanan)
Sabtu, 13 4Juli 2013 pagi hingga menjelang masuk waktu sholat Dzuhur merupakan hari istimewa bagi saya dan jamaah pengajian rutin bulanan, NGAJI LAKU Pasar dan Lingkungan, yang kami helat di masjid Al Imam, komplek pasar induk Puspa Agro, Desa Jemundo, Kec. Taman, Sidoarjo, Jatim. Saya katakan istimewa, karena pengajian yang diasuh oleh Omda Sidi Miftahulluthfi Muhammad al Mutawakkil (Gus Luthfi) ini juga dihadiri oleh "jamaah spesial" sebanyak 69 keluarga, terdiri atas bapak, ibu, dan anak-anak. Mereka adalah saudara kita, para penganut Islam aliran Syiah asal Sampang, Madura yang terusir dari kampung halaman mereka.

Hampir sebulan mereka ditampung di apartemen sederhana (aparna) di komplek pasar induk Puspa Agro setelah sebelumnya (sekitar setahun) "menginap" di GOR Sampang setelah rumah-rumah dan tempat ibadah mereka dihancurkan oleh orang-orang yang mengaku kaum Sunni. Oleh pemerintah provinsi Jatim dan Pemkab Sampang, mereka dipindahkan ke aparna yang berada di area Puspa Agro karena pertimbangan keamanan dan keselamatan mereka. 

Sehari sebelum pelaksanaan pengajian, saya memang minta tolong sekretaris takmir masjid Al Imam, Pak Kandar, untuk mengundang saudara-saudara Syiah asal Sampang yang kini tinggal di salah satu tower aparna di komplek Puspa Agro. Untuk maksud ini, saya print-kan brosur woro-woro untuk diteruskan ke para jamaah Syiah tersebut. Maka, sejak pukul 08.45 secara berangsur-angsur mereka berdatangan ke masjid dan bergabung dalam pengajian bulanan ini. Kami tidak akan masuk ke wilayah konflik Syiah vs Sunni di Sampang, karena itu domain pemerintah. Lagi pula masjid Al Imam yang kami kelola sebagai salah satu fasilitas umum/sosial pasar induk, dibangun untuk mengakomodasi aktivitas umat Islam, tidak memandang dari golongan mana mereka berasal. Ini sesuai karakter pasar yang menampung siapa pun yang berkepentingan dengan sarana perdagangan itu, tanpa memandang status sosial, golongan, pangkat, atau label-label lain yang menyertainya.

Dalam kesempatan pengajian itu, Gus Luthfi selaku pengasuh tetap majlis pengajian, juga memaparkan pentingnya menguatkan tali persaudaraan sesama muslim, apa pun kelompok atau golongannya. Sebab, kata pengasuh PeNUS MTI Surabaya ini, hakikatnya antara muslim satu dan lainnnya adalah saudara yang memiliki sesembahan yang sama, Allah SWT; nabi dan rasul yang sama, Kanjeng Nabi Muhammad SAW; kitab suci yang sama, yakni Al Qur'an; kiblat yang sama, juga akidah yang sama. Karena itu, apa yang menimpa kaum Syiah Sampang yang berseteru dengan kaum Sunni, mestinya tidak boleh terjadi. Mengutip salah satu hadis nabi, Gus Luthfi mengatakan, kalaupun ada korban meninggal akibat perseteruan itu, baik yang membunuh maupun yang terbunuh, sesungguhnya sama-sama kafir. Dalam pengajian tersebut, jamaah juga diajak mendoakan agar puluhan keluarga yang kini ditampung di aparna Puspa Agro secepatnya kembali lagi ke kampung halaman di Sampang, Madura dengan pemahaman akan Islam secara benar.


Merasa Jadi Korban

Seuasi pengajian dan sholat dhuhur berjamaah, saya berbincang dengan beberapa warga Syiah di serambi masjid. Ketika saya tanya, apa yang paling mereka inginkan saat ini? Secara serempak mereka mengatakan, "Kami ingin cepat kembali ke kampung halaman. Kami ingin hidup tenang bersama keluarga di kampung. Kami juga ingin beribadah dengan tenang bersama keluarga."

Djemadi (49 tahun), salah seorang pengungsi itu mengungkapkan, apa yang menimpa dirinya, keluarganya, juga ratusan warga lainnya tak lebih cobaan atau ujian yang Allah berikan kepada mereka. Bersama rekan-rekannya ia juga merasa jadi korban atas perseteruan menahun yang justru tidak mereka pahami mengapa mesti terjadi. Hal itu karena Kyai Muluk Mukmin (akrab dengan panggilan Kyai Tajul) adalah kakak kandung Kyai Rois yang selama ini terlibat perseteruan yang melibatkan jamaah atau pengikut masing-masing. Kyai Tajul adalah pemimpin kaum Syiah, sementara Kyai Rois merupakan tokoh kaum Sunni di daerah yang sama. Kelompok Syiah di bermukim Desa Karang Gayam, Kec. Omben sementara penganut  Sunni di Desa Blu`uran, Kec. Karang Penam, Kab. Sampang.

"Kami memang harus bersabar. Ini ujian dari Allah dan tak ada apa-apanya dibanding ujian yang diterima para nabi dan keluarganya. Kami yakin, Allah akan memberikan pertolongan," kata Djemadi seraya menambahkan, meski kini tinggal di bangunan megah, namun kenyamanan tidak ia rasakan, apalagi terkait dengan pendidikan anak-anak yang kini tak terurus.

Bapak enam anak ini juga memastikan, apa yang dianut kaum Syiah di Sampang tidak ada perbedaan hakiki dengan yang dianut dan diamalkan kaum Sunni dan kelompok Islam lainnya. Karena itu, tidak ada alasan kaum Syiah untuk dimusuhi. Demikian juga akidahnya, sama! Tetapi, apa kenyataannya? Kaum Syiah seakan dijadikan musuh bersama karena dianggap sesat.

Saya sempat meminta pria yang (maaf) kehilangan total tangan kanannya akibat kecelakaan ini melafalkan syahadatain untuk sekadar menjajaki di mana perbedaannya dengan yang saya lakoni selama ini. Dengan fasih dia pun berucap, "Asyhadualla ilaha illalloh wasyhadu anna Muhammadarrosululloh."

Ia pastikan, bahwa lafal syahadatain itu juga diucapkan secara sama dan diyakini oleh kaum Sunni dan kelompok muslim lainnya. Dengan demikian, tandas Djemadi, sesungguhnya tidak ada masalah yang perlu dipertentangkan dan Syiah dianggap sesat. Namun ia mengaku, dalam amalan sholat memang ada sedikit perbedaan, namun ia yakinkan itu tak patut lantas dijadikan alasan untuk nenilai kaum Syiah sesat dan harus dimusuhi. Perbedaan yang ia maksud adalah tidak adanya gerakan atau posisi sedekap ketika berdiri dalam sholat, sebagaimana dilakukan kelompok lainnnya. Saat berdiri, baik setelah takbirotul ihrom (takbir kali pertama dimulainya sholat) pada rakaat pertama maupun pada rakaat berikutnya, posisi kedua tangan dijulurkan ke bawah, menempel pinggang hingga paha. Perbedaan kedua, begitu mengucap salam kedua saat mengakhiri sholat, kaum Syiah langsung mengangkat kedua tangan seperti posisi berdoa seraya mengucap takbir (Allahuakbar) tiga kali, lalu disambung dzikir sebagaimana dilakukan kelompok muslm lainnya.

"Ya hanya itu bedanya. Masa begitu saja dikatakan sesat," ujar Djemadi penuh tanya.

Mencermati perbincangan dengan beberapa kaum Syiah Sampang, naluri saya mengatakan, perseturan dua kelompok itu bukanlah karena masalah akidah atau agama. Beberapa sumber yang saya himpun menyebutkan, perseteruan dua kelompok ini diduga dipicu oleh dendam lama dua bersaudara, yakni Kyai Tajul dan Kyai Rois. Kakak-adik yang semula kabarnya sama-sama penganut Syiah --sebelum akhirnya Kyai Rois pindah haluan ke Sunni-- ini mempunyai masalah pribadi yang akhirnya berimbas pada konflik horizontal antarkelompok. Maklum, keduanya sama-sama memiliki jamaah (pengikut), meski yang Syiah termasuk minoritas. Ada juga cerita, asal-muasal perseteruan dua bersaudara itu akibat soal asmara keduanya. Benarkah? Wallahu a'lam.


Pembiaran Sistemik

Saya tidak mempunyai kapasitas dan otoritas untuk menilai sesat atau tidaknya Syiah dalam perspeksif ber-Islam, sehingga perlu justifikasi harus dibiarkan hidup dan berkembang (jika tidak sesat) dan harus diberangus dan pengikutnya diusir (jika sesat). Tetapi, ada dua hal yang menurut saya perlu dicermati terkait konflik berkepanjangan ini. Pertama, kering dan kerdilnya sikap toleransi akibat kesombongan/kecongkaan kelompok yang memusihi kaum Syiah. Kedua, pembiaran sistemik yang dilakukan pemerintah, sehingga masalah jadi berlarut-larut. 

Sikap sombong/congkak secara dramatis telah dipertontonkan kelompok Sunni --yang telah terprovokasi-- kepada publik, sehingga mereka tidak saja tak sanggup dan bisa hidup berdampingan dengan kaum Syiah dengan semangat saling menghormati (lana a'maluna, walakum a'malukum). Tetapi lebih dari itu, mereka bernafsu ingin mengenyahkan ajaran Syiah dan pengikutnya dari bumi Allah, sesembahan kaum Sunni dan juga sesembahan kaum Syiah. 

Di sisi lain pemerintah secara sistemik sepertinya malakukan pembiaran terhadap sikap dan laku semena-mena (main hakim sendiri). Sikap ini melahirkan lemahnya kinerja aparat intelejen (baca: boleh jadi memang disengaja) dalam mendeteksi gerakan yang berpotensi rusuh akibat konflik dua kelompok tersebut. Logika waras akan sulit menerima jika mata intelejen tak mampu melihat gejala yang muncul di dua desa basis kaum Syiah dan Sunni itu. Akal sehat juga sulit menerima jika telinga intelejen tak mampu mendengar apa yang terjadi di sana. Demikian juga tidak mungkin hidung intelejen tak bisa mencium aroma permusuhan massal yang sudah berlangsung cukup lama.

Demikian juga langkah relokasi yang ditempuh terhadap para pengikut Syiah dari kampung halaman mereka ke GOR Sampang tahun lalu, dan kini dipindahkan ke aparna di komplek Puspa Agro di Desa Jemundo, Kec. Taman, Sidoarjo, Jatim. Apa yang ditempuh pemerintah ini bisa dikatakan cari gampangnya atau menempuh standar minimalis. Pemerintah sepertinya abai terhadap hak-hak dasar, tidak mau susah-susah mengurus warga negaranya yang beperkara dan butuh penanganan komprehensif dan tuntas.


Sidoarjo, 15 Juli 2013

Tuesday, July 9, 2013

Ramadan


Hari ini,
Seperti tlah bertahun-tahun yang lalu
Semenjak aku belajar dan diajari mengenal tuntunan 
Lewat Kanjeng Rasul dan penerusnya
Kepeluk kembali dan menghirup dalam-dalam
Hangat dan nikmatnya Ramadan dalam ridlo-Mu
Sebagaimana juga Engkau wajibkan kepada umat sebelum kami


Hari ini,
Seperti tlah bertahun-tahun yang lalu
Terlahir lewat rahim suci Ramadan
Insan-insan seperti bayi
Yang membanjiri surau-surau
Yang memadati masjid-masjid
Yang tak pernah jemu menyebut nama-Mu
Yang tak pernah letih lantunkan nyanyi sunyi

Ridloilah lapar dan dahaga bersama agungnya harapan  
Dan siraman maghfirah-Mu
Maka:
Hinakan mata dan telinga ini
Untuk bisa melihat dan mendengar kalam suci-Mu
Nistakan pikiran dan lisan ini
Untuk bisa merenungkan dan melafalkan pandu firman-Mu
Belenggu kaki dan tangan ini
Untuk bisa berayun, mendekat menuju panggilan-Mu

Marhaban, ya Ramadan ….
Maka biarkan aku memeluk dan  menghirup aroma wangi sorgamu


Sidoarjo, 1 Ramadan 1434 H (9 Juli 2013)   




Monday, July 8, 2013

'Megengan' Menjelang Puasa Ramadan


Prof Dr Nur Syam
Oleh Prof Dr Nur Syam *) 


TRADISI megengan memang sangat khas Jawa. Tradisi ini biasanya dilaksanakan menjelang puasa Ramadan. Jika saya menulis mengenai tradisi ini sekarang, tentu dengan maksud, bahwa Islam Jawa memang memiliki sekian banyak tradisi yang khas dalam implementasi Islam. Tradisi ini sungguh-sungguh merupakan tradisi indigenius atau khas, yang tidak dimiliki oleh Islam di tempat lain. Tradisi ini ditandai dengan upacara selamatan ala kadarnya untuk menandai akan masuknya bulan puasa yang diyakini sebagai bulan suci dan khusus. 

Sama dengan tradisi-tradisi lain di dalam Islam Jawa, maka tradisi ini juga tidak diketahui secara pasti siapa yang menciptakan dan mengawali pelaksanaannya. Tetapi, tentu ada dugaan kuat, bahwa tradisi ini diciptakan oleh walisanga khususnya Kanjeng Sunan Kalijaga. Memang hal ini baru sebatas dugaan, namun mengingat bahwa kreasi-kreasi tentang Islam Jawa terutama yang menyangkut tradisi-tradisi baru akulturatif yang bervariatif tersebut kebanyakan datang dari pemikiran Kanjeng Sunan Kalijaga, maka kiranya dugaan ini pun bisa dipertanggungjawabkan.

Megengan secara lughawi berarti menahan. Misalnya dalam ungkapan megeng nafas, artinya menahan nafas, megeng hawa nafsu artinya menahan hawa nafsu dan sebagainya. Di dalam konteks puasa, maka yang dimaksud adalah menahan hawa nafsu selama bulan puasa. Secara simbolik, bahwa upacara megengan berarti menjadi penanda bahwa manusia akan memasuki bulan puasa sehingga harus menahan hawa nafsu, baik yang terkait dengan makan, minum, hubungan seksual dan nafsu lainnya. Dengan demikian, megeng berarti suatu penanda bagi orang Islam untuk melakukan persiapan secara khusus dalam menghadapi bulan yang sangat disucikan di dalam Islam. Para walisanga memang mengajarkan Islam kepada masyarakat dengan berbagai simbol-simbol. Dan untuk itu maka dibuatlah tradisi untuk menandainya, yang kebanyakan adalah menggunakan medium slametan meskipun namanya sangat bervariasi.

Nafas Islam memang sangat kentara di dalam tradisi ini. Dan sebagaimana diketahui bahwa Islam memang sangat menganjurkan agar seseorang bisa menahan hawa nafsu. Manusia harus menahan nafsu amarah, nafsu yang digerakkan oleh rasa marah, egois, tinggi hati, merasa benar sendiri dan menang sendiri. Nafsu amarah adalah nafsu keakuan atau egoisme yang paling sering meninabobokan manusia. Setiap orang memiliki sikap egoistik sebagai bagian dari keinginan untuk mempertahankan diri. Namun jika nafsu ini terus berkembang tanpa dikendalikan, maka justru akan menyesatkan karena seseorang akan jatuh kepada sikap ”sopo siro sopo ingsung” atau sikap yang menganggap dirinya paling hebat, sedangkan yang lain tidak sama sekali. Nafsu amarah merupakan simbolisasi dari sifat egoisme manusia dalam berhadapan dengan manusia atau ciptaan Tuhan lainnya. Kemudian nafsu lawwamah atau nafsu biologis atau nafsu fisikal, yaitu nafsu yang menggerakkan manusia untuk sebagaimana binatang yang hanya mementingkan nafsu biologisnya saja atau pemenuhan kebutuhan fisiknya saja. Nafsu ini memang penting sebab tanpa nafsu ini maka manusia tidak akan mungkin untuk mengembangkan diri dan keluarganya.

Manusia butuh makan, minum, berharta, dan sebagainya. Namun jika hanya ini yang dikejar maka manusia akan jatuh ke dalam pemenuhan kebutuhan fisiknya saja tanpa mengindahkan kebutuhan lainnya yang juga penting. Maka yang menjadi penyeimbang di antara kebutuhan egoistik dan biologis tersebut adalah nafsu mutmainnah, yaitu nafsu keberagamaan atau etis yang mendasarkan semua tindakan berbasis agama. Nafsu mutmainnah inilah yang akan mengantarkan manusia agar sampai kepada Tuhannya. Sebagaimana dinyatakan di dalam Alquran: ”irji’i ila rabbiki radliyatan mardliyah, fadkhuli fi ’ibadi fadkhuli jannati”, yang artinya kurang lebih adalah ”kembalilah kepada Tuhan dengan ridla dan diridlai, masuklah ke dalam hambaku dan masuklah ke dalam surgaku.” Ayat ini menegaskan bahwa yang bisa menjadi hamba Allah dan bisa memasuki surganya adalah hambanya yang diridlai karena telah memasuki nafsu mutmainnah. Dengan demikian, Islam mengajarkan bahwa melalui kemampuan untuk menahan nafsu amarah dan lawwamah dan berikutnya mengembangkan nafsu mutmainnah, maka manusia akan selamat di dalam kehidupannya.

Memang para walisanga mengajarkan Islam melalui simbol-simbol budaya. Hanya sayangnya, yang ditangkap oleh masyarakat Islam umumnya hanyalah simbolnya belaka. Padahal jika yang ditangkap itu tidak hanya simbolnya tetapi juga substansinya, maka sesungguhnya ada pesan moral yang sangat mendasar. Misalnya tradisi megengan dan colokan tersebut. secara substansial merupakan simbolisasi bahwa puasa adalah hari di mana seseorang harus menahan nafsu dan terus dicolok agar jangan sampai keliru dalam melakukan tindakan di bulan puasa.

Dengan demikian, berbagai macam tradisi yang berkembang dan hidup di dalam masyarakat –khususnya—masyarakat Jawa jangan dipandang dari sudut asli atau tidak ketidakaslian ajaran Islam, tetapi marilah dibaca bahwa memang ada varian-varian di dalam mengekspresikan Islam itu melalui tradisi yang dikonstruksi oleh mereka sendiri. Wallahu a’lam bi al shawab. 


*) Prof Dr Nur Syam, mantan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya

Thursday, July 4, 2013

Madame Cebongan



Habe Arifin

Madame,
Ketika semua kebejatan bersembunyi di balik teralis penjara; jangan salahkan aku jika aku memburunya hingga kulesakkan seratus timah panas ke dalam dadanya hingga nyawanya tak sempat menangis termehek-mehek pamitan pada anak isterinya
...Tidak...tidak akan kubiarkan..!!

Madame,
Kau telah saksikan bagaimana mereka mencerabut nyawa sesama semudah menyulut cerutu di bibirnya, sambil menggilir tiga perempuan berginju tebal, dan tawa yang tak ada habisnya...

Mereka seolah malaikat yang bisa memancung nyawa manusia seenaknya, seperti memotong ayam, merebusnya, menggorengnya, dan menyantapnya sesuka-sukanya, sambil pesta pora, dengan wiski, arak, bir, heroin, shabu, ekstasi dan segala jenis narkoba

Para jahanam itu tak peduli siapa pemilik ruh yang dihunusnya tadi malam, mereka bahkan mencari mangsa orang-orang terkenal agar nama mereka semakin disegani di antara sesama geng neraka, mereka juga membunuh tentara dari komando paling elite, mencabik-cabiknya, menjadikan jasadnya seperti boneka sansak, ditinjunya, ditendang, diinjak-injak, disayat hingga berdarah-darah dan diberinya air cuka, hingga mendidih perihhhhhhh.....lalu diludahi sehina-hinanya dan mereka tertawa gembira, bersorak-sorai merayakan kemenangan para Bajingan...!!

Tak ada kemenangan paling bergengsi selain menghabisi dan menghinakan pasukan elite terlatih yang hidupnya diabdikan untuk menjaga kedaulatan negara, seolah mereka baru saja meruntuhkan sebuah bangsa dan membuang mayatnya ke jalanan sambil berteriak "bangsat!!"

Lalu para pejabat yang sudah kenyang makan uang haram itu sambil menutup matanya berkata sambil terbata-bata dan kaki gemetaran "kami aka..an te..gak..kan huk..hukk...kum..." Bibirnya nyaris beku dan tak bisa mengeluarkan kata-kata karena uang upeti para preman itu saban hari mengalir rutin ke kantong saku celananya...

Dan segerombolan polisi pura-pura menangkap mereka dan menyembunyikannya ke dalam penjara...seolah kita semua buta, apa yang tak bisa dikerjakan di dalam penjara: Menghamili seribu perempuan dalam semalam pun: bisa,
Menjadi bandar narkoba dan mengedarkannya ke seluruh dunia: bisa
Mengendalikan dana haram korupsi dan mendirikan belasan perusahaan: bisa
Membangun sel seperti kamar hotel bintang lima, lengkap dengan semua peralatan spa, salon, dan kasur khusus untuk mengencani pelacur-pelacur dan gigolo

Selama uang menjadi Tuhan, apa yang tak bisa dikerjakan di dalam penjara: sebut satu saja kalau kau bisa... penjara itu nikmat Bung!!

Bagi para mafia ini, para jaksa dan hakim di pengadilan, hanyalah para kecoa yang mudah dibeli dan dibuat bahan bercandaan stand up commedy

Madame,
Para jahanam itu memang layak dihabisi di negeri ini,
Mereka tak boleh membunuhi para tentara yang mengabdi dan menjaga kedaulatan negara,
Mereka tak boleh lagi membeli hukum sesukanya, mengatur para jaksa dan membeli para hakim sesukanya,
Mereka tak boleh menghina kewibawaan negara semau-maunya seolah negeri ini adalah negeri para preman dan mafia

Tidak!! Tidak..!!

Madame,
Negara ini merdeka karena perjuangan tak kenal lelah, pengorbanan yang tak berhingga
Tidak boleh ada satu pun yang menghina dan melecehkan bangsa ini seolah-olah mereka pemiliknya, yang bisa mengatur semua aparatur, membeli keputusan, menyuap setiap regulasi, dan merekayasa hukum

Madame,
Jika satu regu tentara pengabdi dan penjaga kedaulatan negara itu menyerbu Cebongan dan memberondongkan senapannya untuk menghentikan para bajingan perusak kedaulatan yang meruntuhkan sendi-sendi kehidupan bangsa, itulah yang mereka bisa lakukan!!

Para prajurit itu memang hanya dilatih menjaga martabat bangsa, mengawal kewibawaan negara dengan cara membunuh para musuhnya...

Para prajurit itu bukan guru, yang cuma menjewer telinga siswa yang menjadi perusuh, lalu menasihatinya agar tak mengulangi kesalahannya

Para prajurit itu juga bukan tukang sapu yang terus saja membersihkan jalanan sambil ngedumel dalam hati meski setiap orang datang membuang sampah dan kotoran

Bukan...!!

Para prajurit juga bukan wartawan yang melihat setiap kejahatan lalu ditulis dan jadilah sebuah berita hangat, atau penyiar televisi yang menyiarkan dari bilik kamera sambil bibirnya tetap diolesi gincu merah

Para prajurit itu juga bukan anggota DPR yang hanya mendiskusikan mafia perampok uang negara dalam talkshow, diskusi, dan segala macam perdebatan...

Para prajurit itu juga bukan presiden yang sedikit-sedikit mengeluh dan menyalahkan para menterinya di depan umum sambil menyebut rasa prihatin yang mendalam dan menyisir rambutnya agar tampak licin di depan televisi....

Bukan Madame!!!

Para prajurit itu juga bukan pimpinan partai politik yang suka membolak-balik omongan agar selalu tampak suci di depan publik

Para prajurit juga bukan pengacara dan advokat yang bicara apa saja, dengan sumpah serapah, mengatur segala macam perkara, yang penting dibayar mahal

Madame,
Mereka para prajurit itu adalah tentara terlatih yang hidup matinya dilatih untuk menghabisi musuh negara dan menghentikan siapa pun yang menghina martabat dan har diri bangsa dan negeri ini

Jika para prajurit itu tidak boleh menghentikan ulah para bromocorah itu dengan membunuh, lain kali para prajurit itu diberi pelatihan jadi guru, belajar mengoperasikan komputer, dan menggantung AK 47 di barak, atau dilatih kembali berbisnis dan ikut berpolitik

Jika para prajurit itu tak boleh membunuh, semestinya kitalah yang menghentikannya lebih dulu!!
Bukankah kita (katanya) orang beradab yang mengerti hukum, sopan, santun, tahu tata krama, berwibawa, pejabat kepolisian, menteri, presiden, dan orang-orang terhormat di negeri ini

Lalu di mmmmaaannnaaaa kita saat itu???

Ketika negara membutuhkan kalian semua, di mana kalian menyembunyikan diri...!!
Ketika bangsa ini dihina, dicaci maki, dinistakan, direndahkan, diobrak-abrik, hukum dibeli semaunya, tentara dibunuh, disayat-sayat begitu sadisnya, mengapa kalian semua takut sambil memeluk isteri-isteri kalian di tempat tidur!!!

Darah itu merah madame...l!!

Ketika presiden memilih menjadi ketua umum partai dan tak lagi peduli pada negerinya sendiri
Ketika para menteri sibuk mencari komisi minyak bersubsidi
Ketika DPR cuma bisa diskusi dan menumpuk rampokan harta korupsi
Ketika hakim dan jaksa gampang disogok dan dibeli
Ketika polisi cuma bisa basa basi dan menembaki rakyatnya sendiri pada setiap aksi demonstrasi

Kalau bukan tentara yang membela
kedaulatan dan kewibawaan bangsanya, lalu siapa lagi!!!

Madame,
Izinkan aku membunuh
sekali ini saja

Agar kita tak lupa pada sejarah
yang menjadikan kita: Indonesia

Jika mereka adili aku karena hal itu,
Aku memang ditakdirkan untuk dibunuh, karena perang bagiku, hanyalah ada kawan atau musuh:
Membunuh atau dibunuh
Tertangkap lawan dan diadili seperti sekarang ini

Madame,
Aku sudah siap
Sapta Margaku tak akan kulepas
Sampai nyawaku meregang dan terhempas....


Jakarta, 4 Juli 2013
Habe Arifin

Blog Archive