Blog

Blog

Thursday, May 30, 2013

Reminder: Empat dari Enam Syarat bagi Penulis


Oleh MUCH. KHOIRI *)

Berikut ini sekadar secuil pengingat (reminder) untuk saya sendiri dan teman-teman yang tertarik menulis, belajar menulis, sedang menulis, dan akan terus menulis--serta teman-teman yang membaca tulisan teman-teman yang tertarik menulis, belajar menulis, sedang menulis, dan akan terus menulis. Ini tentang empat dari enam syarat bagi penulis.
**** 

Selain kemampuan teknis menulis dan memasarkan tulisan--dua syarat utama bagi penulis--, penulis masih perlu membekali (melengkapi) diri dengan empat syarat lain, yakni: Reading habit (kebiasaan membaca), Note-taking (kebiasaan mencatat), Practice (belajar/latihan), dan Perseverance (ketekunan, keteguhan hati). Untuk mengingatnya, sebut saja “RNP2”.

READING HABIT. Penulis yang baik biasanya juga pembaca yang baik, yang berarti memiliki reading habit yang baik pula. Bacaannya banyak dan bervariasi: buku, majalah, jurnal, koran. Dengan sendirinya dia memiliki akumulasi pengetahuan dan informasi memadai. Oleh karena itu, dia biasanya berwawasan luas.
Latar pengetahuannya memungkinkan dia peka terhadap isu-isu kehidupan yang berkelebat dalam masyarakat. Dalam kondisi ini, menemukan ide bukan lagi suatu masalah. Dia tidak repot menemukan ide, namun justru repot kapan menuangkan antrean ide-ide itu ke dalam bentuk tulisan.

NOTE-TAKING. Penulis semacam itu juga berkebiasaan membuat catatan-catatan (note-taking habit). Selain mencatat hal-hal penting dari yang dia baca, juga menuliskan poin-poin penting tentang apa yang dia dengar, lihat, sentuh, rasakan, pikirkan. Dia sadar, daya-ingat otak manusia itu amat terbatas; karena itu, dia butuh mencatat apa pun yang baginya layak dicatat (atau sangat bermanfaat).
Bisa jadi sebuah inspirasi, ide/gagasan, pemikiran muncul ketika dia naik bis, berkemah, ikut diskusi, belajar, menonton film, cangkrukan, atau bahkan saat berada di toilet pun. Maka, dia pun selalu membuat catatan di dalam ‘buku saku’, kawan setianya.

Buku saku inilah yang dia gunakan juga untuk menampung calon tulisan yang terpaksan harus tertunda pembuatannya. Buku saku akan menjadi reminder (pengingat) atas konstruk gagasan yang seharusnya dituangkan ke dalam tulisan.

PRACTICE. Penulis yang sejati selalu berlatih dan berinovasi. Dia selalu menganggap proses kreatifnya sebagai proses latihan, dan latihan itu harus dilakukan secara ajek, rutin, penuh disiplin.Dia mirip pemain sepakbola atau petinju. Pemain sepakbola Brazil Pele selalu berlatih rutin, walau dia sudah mencapai “bintang legendaris dunia”-nya. Andaikata dia berhenti berlatih selama dua tahun lamanya misalnya, tentu kakinya akan terasa kaku, kekuatan larinya menurun, akurasi tendangannya merosot, badannya mungkin sakit-sakitan.
Demikian pun, petinju Mike Tyson, yang pernah melegenda itu, mungkin badannya kaku-kaku, otot-ototnya mengecil dan melemah, atau mungkin “leher beton”-nya menjadi agak empuk setelah sekian lama dia meninggalkan latihan rutinnya. Nah, demikian pula dengan menulis.

PERSEVERANCE. Kebiasaan membaca, mencatat, dan latihan tanpa lelah ternyata belum cukup. Semua ini perlu dilengkapi lagi dengan perseverance (ketekunan, keteguhan hati). Ini bukan saja untuk saat berkutat dengan proses penulisan, melainkan juga saat mengirimkan dan menunggu penerbitan naskah.
Menulis untuk dimuat (termasuk ke koran) itu penuh spekulasi. Kadang-kadang banyak tulisan yang dimuat, namun tak jarang jumlahnya sangat minim. Ujian datang ketika sekian banyak artikel terkirim, ternyata tidak ada satu pun yang layak muat.

Dalam kondisi demikian penulis seakan-akan dibanting-banting oleh keadaan. Penulis ini tentu kecewa karena idenya tak tersalurkan, dan “biaya produksi menulis” tak tertutup. Banyak penulis yang frustasi karenanya. Akibatnya, mereka pensiun menulis dan menekuni “pekerjaan lain” yang secara instan lebih menjanjikan imbalan.

Itulah penulis yang perseverance-nya rendah, atau bisa disebut sbagai penulis yang tak tahan banting. Waspadalah! Jangan tauladani jenis penulis semacam itu. Sebaliknya, seperti seorang wiraswastawan tangguh, penulis yang hebat selalu kuat menghadapi penolakan, dan segera bangkit dan bangkit lagi jika jatuh di dalam meraih impian.

Begitulah, empat syarat bagi penulis di atas memang sepatutnya penulis sanubarikan selama dia masih ingin menjadi penulis. Dengan pemenuhan syarat ini, dia berpeluang menjadi penulis yang baik, dan/atau meniti bidang menulis sebagai profesi (tambahan).

Sebagaimana "profesi" lain, menulis tentu akan memupuk intelektualitas, dan sekaligus memberikan keuntungan-keuntungan lain, termasuk keuntungan finansial. Tanpa pemenuhan syarat di atas, agaknya dia tak akan bisa menjadi penulis baik dan hebat. Kalau pun sempat jadi penulis (pemula), mungkin dia akan mirip seperti bunga mawar yang layu sebelum berkembang.***

*) MUCH. KHOIRI, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris, FBS, Unesa. 

Wednesday, May 29, 2013

Krisis Literasi di Era 2.0


Oleh PRATIWI RETNANINGDYAH *)

Ada yang sudah pernah nonton film The Reader? Dalam film ini, Kate Winslet melakonkan peran sebagai Hanna, seorang wanita yang terancam dihukum berat dalam kasus pembantaian ratusan orang di kamp Nazi Jerman. Michael, mahasiswa hukum yang pernah ditolongnya dan sempat menjadi teman dekatnya meyakini ada satu kondisi yang akan membebaskan Hanna dari vonis berat. Sayangnya, Hanna sendiri menolak mengungkapkan ini, karena dia anggap sebagai aib moral. Aib itu adalah kenyataan bahwa dia tidak bisa membaca. Pengakuan ‘krisis literasi’ dalam hidupnya ini diyakini Hanna sebagai sumber jatuhnya harga dirinya di mata masyarakat. Itulah sebabnya Hanna melakukan serangkaian defence mechanism untuk menjaga harga dirinya sebagai orang yang tidak bisa membaca. Dalam perjalanan cerita, Hanna memang akhirnya belajar membaca selama di tahanan. Salah satu mahasiswa jurusan Bahasa dan Sastra Inggris pernah menggunakan novel The Reader karya Bernard Schlink (1995) dan mengangkat tema pentingnya membaca dalam kaitannya dengan self-esteem. Saya hafal karena saya ikut dalam tim pengujinya.

Besarnya dampak  ‘krisis literasi’ secara individu sudah sering dibahas di dunia sastra. Celie dalam The Color Purple (1982) karya Alice Walker menemukan literasi sebagai kekuatan untuk pemberdayaan diri. Dalam versi filmnya, tokoh Celie dimainkan apik oleh Whoopi Goldberg. Novel dan filmnya termasuk yang paling sering saya bahas di kelas-kelas saya dulu. Masih banyak lagi karya sastra yang membahas pentingnya literasi dalam kehidupan sosial.

Di sisi lain, kita tahu bahwa krisis literasi sebenarnya bukanlah sekedar masalah pribadi, namun adalah tantangan sosial yang terjadi di seluruh penjuru dunia. Di negara kita sendiri, praktis tiap hari kita mengungkapkan keprihatinan kita terhadap rendahnya budaya membaca menulis di masyarakat Indonesia. Bolehlah kita berpendapat bahwa bangsa kita tengah, atau bahkan sudah lama mengalami krisis literasi. Di seluruh dunia, perhatian terhadap perkembangan literasi memang semakin meningkat, dengan anggapan bahwa di mana-mana sedang terjadi krisis literasi. Apakah krisis yang kita bayangkan ini memang ada, dan bila iya, apakah dimaknai sama? Sebenarnya definisi krisis ini amat beragam, bergantung di mana krisis itu dianggap terjadi.

Dalam buku Literacy and Motivation (2001), Ludo Verhoeven dan Catherine E. Snow memberikan beberapa contoh krisis literasi. Di negara-negara berkembang misalnya, istilah krisis literasi mengacu pada pentingnya peran literasi dalam pembangunan ekonomi, namun dihadapkan pada kondisi keterbatasan ketrampilan literasi di kalangan masyarakat, akses pendidikan, dan tantangan dalam menerapkan sistem pendidikan secara universal bersamaan dengan program literasi untuk orang dewasa. Bila melihat ciri-cirinya, kita harus mengakui bahwa bangsa Indonesia masuk dalam kategori ini.  Sulitnya kondisi pendidikan seperti terbatasnya jumlah guru, minimnya fasilitas, dan sulitnya menjangkau lokasi sekolah di daerah-daerah binaan program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (SM3-T) menjadi bukti lebarnya disparitas pendidikan di negara kita.

Di negara-negara maju, dengan tingkat literasi yang tinggi, termasuk di dalamnya adalah Amerika bagian utara (AS dan Canada) dan Eropa, krisis literasi berarti terdapatnya ketimpangan dalam distribusi ketrampilan literasi. Hal ini disebabkan oleh lebarnya jurang penguasaan ketrampilan literasi dalam konteks pendidikan formal antara masyarakat imigran dan kelompok minoritas dengan populasi negara-negara tersebut secara keseluruhan. Bahkan di negara-negara maju yang boleh dikatakan sudah mencapai tingkat literasi yang merata, krisis literasi juga terjadi, dalam konteks ketidak-mampuan kelompok masyarakat angkatan kerja untuk menjawab tantangan teknologi canggih yang digunakan di peralatan-peralatan pekerjaan untuk jenis pekerjaan kasar sekalipun. Dengan kata lain, literasi digital di kalangan masyarakat pekerja di negara maju ada pada tingkat mengkhawatirkan.

Makna lain dari krisis literasi adalah kondisi di mana orang-orang yang secara teknis sangat ‘literate,’ dalam artian mampu membaca buku-buku yang kompleks, malah menunjukkan gejala aliterasi. Misalnya, anak-anak sekolah yang berprestasi terbukti menghabiskan waktu lebih sedikit untuk membaca dibandingkan dengan anak-anak di usia sama pada 50 tahun yang lalu; buku-buku ‘best-seller’ untuk orang dewasa tidak lagi berupa sastra berkelas, namun adalah how-to books atau fiksi murahan; dan diskusi atau obrolan bermutu tentang pengarang besar dan karya-karyanya sudah digeser oleh obrolan tentang program televisi dan software komputer.  Jujur saja, kondisi aliterasi seperti ini juga terjadi di masyarakat urban di Indonesia, dengan variasi yang lain. Yang terjadi bukanlah penurunan tingkat membaca atau pergeseran topik obrolan, namun rendahnya kebiasaan membaca di kalangan masyarakat terdidik, terutama di sekolah. Kalau karya sastra anak bangsa sendiri saja hampir tidak pernah disentuh, bagaimana mau terlibat dalam obrolan cerdas tentang sastra.

Menyedihkan memang menyadari bahwa semua makna krisis literasi di atas terjadi pada bangsa kita, mulai hulu hingga hilir, dari daerah tertinggal hingga rumah-rumah mentereng di kota besar. Krisis literasi yang terjadi di dunia ternyata lengkap tersedia di masyarakat kita, mulai tingkat functional literacy yang dibutuhkan untuk sekedar baca tulis untuk kehidupan sehari-hari dan untuk belajar di bangku sekolah, digital literacy untuk meningkatkan posisi tawar di dunia kerja, sampai critical literacy untuk mengasah sensitivitas dan kesadaran berkehidupan yang manusiawi.

Upaya untuk mengembangkan literasi memerlukan redefinisi literasi itu sendiri. Literasi bukan hanya pencapaian kognitif, dalam arti bahwa seseorang mampu membaca dan menulis. Pandangan ini akan cenderung membawa kita pada keyakinan bahwa literasi adalah tanggung-jawab sekolah. Kita perlu menyadari bahwa literasi membutuhkan komitmen secara afektif. Hanya dengan melihat makna literasi secara holistik ini kita bisa mencetak ‘pembaca aktif,’ yang punya motivasi internal untuk membaca, memahami kenikmatan dan manfaat yang diperoleh dari kegiatan membaca, dan menyediakan waktunya untuk membaca dalam keseharian. Literasi yang bernafaskan komitmen afektif sebenarnya adalah bagian dari pemikiran bahwa literasi adalah praktik sosial, yang mengandung nilai-nilai, perasaan, dan perilaku individu/masyarakat. Literasi sebagai praktik sosial, sebagai vernacular practice memiliki berbagai fungsi, untuk mengatur kehidupan sehari-hari, komunikasi personal, kesenangan pribadi, dokumentasi kehidupan pribadi, pemaknaan diri dan lingkungan, dan partisipasi sosial.  Hanya dengan melihat literasi sebagai satu praktik sosial kita bisa menemukan faktor-faktor sosial budaya yang mempengaruhi motivasi baca-tulis, untuk kemudian bisa membentuk (kembali) peran literasi untuk meningkatkan kualitas hidup bermasyarakat.     

Kehadiran media dalam kehidupan sehari-hari memang mengubah hidup kita secara drastis. Lalu bagaimana kita menyiasati krisis literasi , sementara dalam keseharian kita terpapar pada media? Dunia berbasis web 2.0 seperti sekarang ini sebenarnya malah membuka banyak peluang. Sebagai orang yang sering mengamati karya seni dalam bentuk film dan dan artefak budaya lain seperti iklan dan acara TV, saya termasuk yang percaya bahwa ada konvergensi antar praktik literasi. Konsep literasi sekarang ini sudah masuk ke third wave, dengan istilah New Literacy Studies (NLS). Literasi tidak hanya terbatas pada printed form, namun juga dalam bentuk media digital. Itulah yang kemudian membuat Cultural dan Media Studies semakin beririsan dengan Literacy Studies.

Pemanfaatan media untuk critical engagement justru sangat dianjurkan dalam proses belajar mengajar sekarang ini, terutama dengan kondisi bahwa mayoritas siswa sekolah (terutama di masyarakat urban) sudah menjadi digital natives. Di sisi lain, guru-gurunya masuk dalam golongan digital immigrants. Untuk bisa memenangkan hati mereka, memotivasi mereka untuk cinta literasi, satu-satunya cara adalah memahami cara berpikir 'digital' mereka, bukan sebaliknya, memaksa siswa masuk ke dunia 'primitif' guru-gurunya. Bukankah akan sangat menarik bila siswa/mahasiswa diajak berdiskusi tentang film atau media apapun dan melatih mereka menuliskan pandangan kritis mereka. Tidak masalah nantinya mau dituangkan bentuk print atau digital (mis. blogging).

Media dan teknologi hadir tidak untuk mengganti buku dalam bentuk cetak, namun melengkapi pengalaman pembelajaran tatap muka. Ini juga untuk merespon kebutuhan tiap anak dalam gaya belajar yang pasti berbeda. Pemahaman guru tentang kecerdasan majemuk akan bisa memperkaya metode dan strategi pembelajaran yang dilakukan di kelas. Contoh yang saya amati di kelas English di sekolah Ganta, versi novel dan film sama-sama dinikmati dan dibahas di kelas. Pada akhirnya, siswa tetap dituntut menghasilkan sesuatu dalam bentuk tulisan.

Dalam kaitannya dengan digital literacy, di lapangan sebagian guru/dosen sebenarnya malah membukakan pintu teknologi bagi sebagian (maha)siswa. Semua bergantung pada masanya. Setidaknya itu yang saya alami dulu. Saya pertama kali menggunakan milis untuk forum diskusi kelas sastra saya pada tahun 2005. Tidak terlalu jalan, karena banyak yang masih belum punya email, dan tidak ngeh dengan forum milis. Pada tahun-tahun berikutnya, saya mulai pakai blog untuk posting bahan kuliah dan forum diskusi. Lumayan lancar dan engaging, meski sebagian tidak punya akun, sehingga harus nunut akun temannya bila mau posting. Saat penggunaan Facebook menjamur, saya menambah jalur, dengan menggunakan FB group khusus untuk forum diskusi. Pada titik ini, rasanya lumayan lancar jaya dan interaktif. Saya kira karena model mahasiswanya sudah beda banget. Model yang terakhir ini nampaknya yang sudah digital natives. Bahan obrolan di FB group malah kemudian bisa memperkaya diskusi di kelas, atau sebaliknya, menjadi tindak lanjut pembahasan di kelas yang belum tuntas.

Sebagai guru, kita memang harus merangkul model pembelajaran konvensional dengan model digital. Seberapa cinta saya dengan penggunaan teknologi dalam pembelajaran, saya  masih menikmati romantisme memegang novel untuk mengajar kelas Prose misalnya. Rasanya nikmat ketika bisa memegang bukunya, membaca kalimat-kalimat indah dan imajinatif untuk menghidupkan suasana dramatis dan  memancing diskusi, serta tidak ribet dengan powerpoint.

Pembelajaran yang holistik sudah menjadi keniscayaan. Pertanyaannya, siapkah kita sebagai guru menjawab tantangan ini?


*) Penulis adalah dosen sastra dan budaya di Jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Universitas Negeri Surabaya. Saat ini menempuh studi S3 di bidang Cultural Studies di the University of Melbourne

Tuesday, May 28, 2013

Layar


Izinkan aku berlayar
untuk waktu yang aku tidak tahu kapan mesti berlabuh
Biarkan dulu kukayuh dayung
Mengarungi samudera dan skenario kehidupan yang Kau titahkan
Aku merasa belum pantas memasuki rumah
yang kata-Mu: mengalir sungai-sungai di bawahnya dan 
terjaga oleh perawan-perawan yang selalu tampak muda dan siap melayani

Masih terlalu berat tumpukan dosa yang terpanggul olehku
Bibir dan lidahku adalah dosa
Tangan dan kakiku adalah dosa
Mata dan telingaku juga dosa
Pikiran, angan, dan batinku masih juga berselimut dosa
Bahkan apa pun yang melekat di tubuhkan adalah dosa

Tak perlu Kau kirimkan utusan untuk menjemput dan
memaksaku pulang
Karena aku akan melangkah sendiri
dengan tuntunan risalah dan kereta ridlo-Mu

Karena itu:
Jauhkan aku dari dosa,
seperti jauhnya jarak antara masyrik dan maghrib
Sucikan aku dari dosa,
seperti sucinya kain putih dari kotoran
Bersihkan aku dari dosa,
dengan air, salju, dan embun kasih dan sayang-Mu
Bimbing aku merengkuh risalah dan mendekapnya erat-erat
dan menaiki kereta ridlo-Mu menuju rumah abadiku

Izinkan aku berlayar
untuk waktu yang aku tidak tahu kapan mesti berlabuh
Hingga terpatri kepastian
bahwa aku memang pantas memasuki rumah sorgaku


Surabaya: Rabu, 29 Mei 2013 @ Serambi Masjid Baitul Ihsan, Tandes, selepas Dhuha

Monday, May 27, 2013

Jarak Hati


Suatu hari sang guru bertanya kepada murid-muridnya: "Mengapa ketika seseorang sedang dalam keadaan marah, ia akan berbicara dengan suara kuat atau berteriak?" 

Seorang murid setelah berpikir cukup lama mengangkat tangan dan menjawab: "Karena saat seperti itu ia telah kehilangan kesabaran, karena itu ia lalu berteriak."

"Tapi..." sang guru balik bertanya, "Lawan bicaranya justru berada di sampingnya. Mengapa harus berteriak? Apakah ia tak dapat berbicara secara halus?"

Hampir semua murid memberikan sejumlah alasan yang dikira benar menurut pertimbangan mereka. Namun tak satu pun jawaban yang memuaskan.
Sang guru lalu berkata:

"Ketika dua orang sedang berada dalam situasi kemarahan, jarak antara kedua hati mereka menjadi amat jauh walau secara fisik mereka begitu dekat. Karena itu, untuk mencapai jarak yang demikian, mereka harus berteriak. Namun anehnya, semakin keras mereka berteriak, semakin pula mereka menjadi marah dan dengan sendirinya jarak hati yang ada di antara keduanya pun menjadi lebih jauh lagi. Karena itu mereka terpaksa berteriak lebih keras lagi."

Sang guru masih melanjutkan:
"Sebaliknya, apa yang terjadi ketika dua orang saling jatuh cinta? Mereka tak hanya tidak berteriak, namun ketika mereka berbicara suara yang keluar dari mulut mereka begitu halus dan kecil. Sehalus apa pun, keduanya bisa mendengarkannya dengan begitu jelas. Mengapa demikian?"

Sang guru bertanya sambil memperhatikan para muridnya. Mereka nampak berpikir amat dalam, namun tak satu pun berani memberikan jawaban. "Karena hati mereka begitu dekat, hati mereka tak berjarak. Pada akhirnya sepatah kata pun tak perlu diucapkan. Sebuah pandangan mata saja amatlah cukup membuat mereka memahami apa yang ingin mereka sampaikan."

Sang guru masih melanjutkan:
"Ketika Anda sedang dilanda kemarahan, janganlah hatimu menciptakan jarak. Lebih lagi hendaknya kamu tidak mengucapkan kata yang mendatangkan jarak di antara kamu. Mungkin di saat seperti itu, tak mengucapkan kata-kata mungkin merupakan cara yang bijaksana. Karena waktu akan membantu Anda."

 "Ketika hatimu dekat dengan Tuhan, kamu tak perlu menyebut apa pun karena Tuhan sudah mengetahui keinginanmu."

Notes: Sebuah catatan yang layak direnungkan dan diambil hikmahnya.

Kau Ini Bagaimana Atau Aku Harus Bagaimana?


Kau ini bagaimana?
kau bilang aku merdeka, kau memilihkan untukku segalanya
kau suruh aku berpikir, aku berpikir kau tuduh aku kafir
aku harus bagaimana?

kau bilang bergeraklah, aku bergerak kau curigai
kau bilang jangan banyak tingkah, aku diam saja kau waspadai
kau ini bagaimana?

kau suruh aku memegang prinsip, aku memegang prinsip kau tuduh aku kaku
kau suruh aku toleran, aku toleran kau bilang aku plin plan
aku harus bagaimana?

aku kau suruh maju, aku mau maju kau selimbung kakiku
kau suruh aku bekerja, aku bekerja kau ganggu aku
kau ini bagaimana?

kau suruh aku takwa, khotbah keagamaanmu membuatku sakit jiwa
kau suruh aku mengikutimu, langkahmu tak jelas arahnya
aku harus bagaimana?

aku kau suruh menghormati hukum, kebijaksanaanmu menyepelekannya
aku kau suruh berdisiplin, kau mencontohkan yang lain
kau ini bagaimana?

kau bilang Tuhan sangat dekat, kau sendiri memanggil-manggilnya dengan pengeras suara tiap saat
kau bilang kau suka damai, kau ajak aku setiap hari bertikai
aku harus bagaimana?

aku kau suruh membangun, aku membangun kau merusakkannya
aku kau suruh menabung, aku menabung kau menghabiskannya
kau ini bagaimana?

kau suruh aku menggarap sawah, sawahku kau tanami rumah-rumah
kau bilang aku harus punya rumah, aku punya rumah kau meratakannya dengan tanah
aku harus bagaimana?

aku kau larang berjudi, permainan spekulasimu menjadi-jadi
aku kau suruh bertanggungjawab, kau sendiri terus berucap wallahu a’lam bissawab
kau ini bagaimana?

kau suruh aku jujur, aku jujur kau tipu aku
kau suruh aku sabar, aku sabar kau injak tengkukku
aku harus bagaimana?

aku kau suruh memilihmu sebagai wakilku, sudah kupilih kau bertindak sendiri semaumu
kau bilang kau selalu memikirkanku, aku sapa saja kau merasa terganggu
kau ini bagaimana?

kau bilang bicaralah, aku bicara kau bilang aku ceriwis
kau bilang jangan banyak bicara, aku bungkam kau tuduh aku apatis
aku harus bagaimana?

kau bilang kritiklah, aku kritik kau marah
kau bilang carikan alternatifnya, aku kasih alternatif kau bilang jangan mendikte saja
kau ini bagaimana?

aku bilang terserah kau, kau tidak mau
aku bilang terserah kita, kau tak suka
aku bilang terserah aku, kau memakiku
kau ini bagaimana?
atau aku harus bagaimana?


1987
Mustofa Bisri (Gus Mus)

Jejak Rindu


Malam begitu larut
ketika gerimis menggores rindu tak terbendung
Tak lama lagi malam pun menjemput pagi
yang datang bersama nyayian embun yang tak pernah sepi

Maka:
Kian membuncah rindu ini 
Kian berpendar cinta ini
Ketika binar senyummu  terus memburuku
Perlahan malam beringsut berebah diri
Menemani tidur dan mimpi indahmu
Sementara kujumputi jejak perjalanan kita
yang kian samar memeluk pekat malam

Maka:
Maafkan aku yang terlanjur merenda memori masa lalu
dan mengisi jendela batinmu dengan setumpuk rindu
yang aku tak pernah tahu kapan mesti berlalu

Malam kian larut dan setia menjaga tidur dan mimpimu
Hingga pagi menjemput dan menyentuhmu dengan lembut
Dan, biarkan aku mengais jejak perjalanan yang kian samar
Sampai kujumpa dirimu dalam dekap cintaku


Gresik: Minggu, 26 Mei 2013/Menjelang dini hari

Thursday, May 16, 2013

Dua Puluh Tujuh



Bersama kawan semasa SMA


Hari ini ....
Dua puluh tujuh tahun tlah berlalu
Serasa kemarin saja kita meninggalkan Smanika
Tempat di mana kita belajar bersama
Mengenal dan mengeja merah putih kehidupan untuk masa depan
Kita berkumpul kembali dalam bingkai reuni dan silaturrahim
Untuk merajut persaudaraan sejati
Sebab:
Persaudaraan bukanlah monopoli satunya rahim yang melahirkan kita
Persaudaraan bukanlah karena kesamaan ladang profesi
Persaudaraan bukanlah karena kesamaan kasta
Persaudaraan bukanlah karena kesamaan pangkat dan jabatan
Persaudaraan bukan pula karena kesamaan ras juga golongan dan agama

Spirit Smanika adalah gelora jiwa
Yang terpatri mati di hati dan terbawa sampai mati


Krian, 12 Mei 2013
(Dari arena Reuni & Silaturrahim Alumni SMAN Krian IPS-86)

Thursday, May 2, 2013

Muji Syukur

Alhamdulillah,
Satu demi satu Kau tambah (lagi) ujian hidup ini
:untukku

Alhamdulillah,
 Kau istirahatkan anakku, si Rusydan
Hanya 15 hari di rumah sakit
Yang aku sendiri sempat tak bisa menjenguknya
Kata dokter, ananda perlu masa observasi dan suasana tenang
:karena bipolar yang diidapnya

Alhamdulillah,
Kutrima selembar resep dari dokter RSAL untuk ananda Rusydan
Yang ternyata isi dompetku tak mampu menjangkau nilai obat yang diresepkan
Sehingga sederet obat yang aku tidak tahu apa namanya harus tertangguhkan

Alhamdulillah,
Di tengah masa rehabilitasi dan penstabilan emosi ananda Rusydan
 Kau istirahatkan juga bapakku di rumah sakit
:karena gangguan paru-paru dan jantungnya

Alhamdulillah,
Saat kontrol beberapa hari lalu
Sang dokter spesialis paru bilang ke ibu yang duduk berdampingan dengan bapak
:Bu, penyakit paru bapak tidak bisa disembuhkan
Tolong belikan kursi roda biar gak banyak gerak
 Kata sang dokter lagi
 :Gak mahal kok harga kursi rodanya
Ups ....

Alhamdulillah,
Vonis sang dokter yang secara samar didengar bapak
Bikin dia kehilangan semangat hidup
Kepada ibu dan anak-anaknya dia bilang
:Gak perlu susah-susah, toh kata dokter aku gak bisa sembuh

Alhamdulillah,
Di tengah shock dan hilangnya semangat hidup, bahkan untuk sembuh sekalipun
Aku berkesempatan pompakan semangat untuk bapak
Dengan kalimat kunci:
Pak, Gusti Allah yang bikin Bapak sakit
Sudah pasti Gusti Allah pula yang menyembuhkan. Insya Allah!
Dan, aku lihat respon tak terucap dari bibirnya yang kering
Juga garis tegas wajahnya yang menandai ketuaannya
Tapi dengan sigap dia anggukkan dagunya sebagai tanda setuju
Penuh keyakinan

Alhamdulillah,
Masih 1 jam mestinya aku pulang kerja
Berderet-deret missed call yang tak terjawab dari HP-ku yang tergeletak di meja
Juga berderet-deret SMS yang minta aku cepat ke pos polisi Tenger, GKB
Terkabarkan, ananda Rusydan kecelakaan
Ku sambar HP dan aku hubungi salah satu nomor yang masuk daftar missed call
Suara polisi yang mengaku Pak Agus membenarkan
Dan memintaku cepat ke pos polisi yang ia sebut

Alhamdulillah,
Satu demi satu Kau tambah (lagi) ujian hidup ini
:untukku
Tak ada keluhan
Tak ada gugatan
Tak ada kejengkelan
Tak ada ratapan

Alhamdulillah,
Kau kebalkan rasa
Kau tebalkan iman
Kau makin dekatkan aku pada-Mu
Kau tarik aku dalam pusaran nyanyi sunyi
Tidak saja di malam indah-Mu yang termasyhur itu
Tetapi, di setiap hembus nafas dan aliran darahku

Alhamdulillah,
Kau berikan beragam caramu
Agar aku kembali masuk ke rumah indah-Mu
Kau pahatkan aku pintu kesabaran
Kau patrikan aku rumah keihlasan
Sebagai pandu lakuku



Gresik, 2 Mei 2013
(Di atas jembatan tol Kedanyang)

Blog Archive