Blog

Blog

Friday, January 11, 2013

Izinkan Aku




Dalam tunduk sujudku
Izinkan kuketuk pintu kasih-Mu
Ingin kureguk manis cinta-Mu
:dalam alunan nyanyi sunyi di gerbang fajar
yang mengalir air bening lewati sungai di sudut mata

:dalam gemuruh istighfar penebus segala khilaf
Karena setiap langkah tinggalkan jejak hampa
Karena yang terucap kerap tersisa dusta
Karena dalam janji bersemi ingkar

Maka,
Bukalah pintu hidayah-Mu untukku, Yaa Robbii ….
Genggam aku
:dalam kelembutan rahman-rahim-Mu
Sebelum akhirnya Kau tidurkan aku dalam ridlo-Mu


Gresik, 11 Januari 2013

Sunday, January 6, 2013

Ngaji Alami



Saat istirahat pada sesi off road
Dari Lokasi Rafting dan Off Road Kasembon, Malang

Petualangan saya bersama delapan teman seharian kemarin, tidak hanya sekadar memacu nyali dan adrenalin. Lebih dari itu, ada hal tak ternilai yang saya peroleh dan rasakan. Saya merasa,  petualangan tersebut makin mengasah ketajaman dimensi ilahiyah saya dalam perspektif peningkatan dzikrulloh.

Ketika perahu yang kami tumpangi (saya bersama tiga teman dan seorang pemandu) harus meluncur dan menuruni derasnya arus air di area arung jeram (rafting) Kasembon, Kab. Malang, dengan kemiringan hingga 90 derajat, tubuh saya terasa dikeplekno ke air bersama perahu karet yang kami tumpangi.

Sambil melengkingkan teriakan –untuk mengurangi ketegangan--, saya merasa butuh kekuatan dahsyat untuk melewati jalur itu dengan aman dan selamat. Dalam hitungan detik, ketika tubuh saya terpental dari atas perahu dengan tangan tetap berpegangan pada tali perahu, saya merasa Allah, Tuhan Yang Mahaperkasa ada di sisi saya. Beberapa kali jalur berbahaya pun kami lewati dengan aman. Allahuakbar!

Saya bayangkan, ketika harus melewati arus deras yang meluncur bak air terjun, kemudian di depan, samping kiri-kanan terlihat batu-batu cadas. Kalau saja perahu yang kami tumpangi terguling atau saya lepas dan terpental keluar perahu, sangat mungkin tubuh saya bundhas kabeh karena harus berbenturan dengan bebatuan yang keras itu. Saya merasa memang ada kekuatan besar yang membantu saya bersama teman-teman seperahu. Seketika itulah saya merasa benar-benar dekat dengan Gusti Allah. Alhamdulillah!

Selain mengasah aspek spiritual, dimensi sosial juga saya dapatkan selama perjalanan rafting. Ketika dalam perjalanan rafting itu saya temui sejumlah penduduk mandi dan (maaf) BAB (buang air besar) di pinggir sungai yang tampak tak jernih itu. Saya merasa bersyukur, setidaknya, sehari-hari saya tidak mandi di kali yang kelihatan kotor dan tak BAB di kali itu.

Off Road dan Terbang Menegangkan

Hal yang sama juga saya dapati pada sesi off road berlangsung. Ketika beberapa kali harus menaiki dan menuruni bukit/gunung berlumpur karena habis hujan dengan kemiringan 60-80 derajat, saya merasa ada kekuatan besar yang menambah daya cengkeram roda kendaraan, sehingga tak terpeleset ke luar jalur. Raungan mesin kendaraan juga teriakan navigator yang terus menyemangati driver mampu melewati jalur maut tersebut.

Saya sempat bayangkan, kalau saja kendaraan kami terpeleset, atau mesin macet saat menanjak, ato keblundhung saat menuruni lereng, jurang yang menganga di kiri-kanan sirkuit pasti mengubur kami. Padahal, dalam beberapa rute, badan jalan ada yang ngepres (pas, tak tersisa) dengan bagian luar roda mobil.

Allahuakbar! Di sinilah dimensi ilahiyah saya kembali terasah dan saya merasa Tuhan memang ada di samping saya.

Ketika berada di zona aman, saya dan tim sempat istirahat. Pada posisi di tempat yang paling tinggi di gunung itu (saya tidak tahu nama gunungnya), saya bisa menyaksikan betapa terjal lereng gunung yang bersambung jurang menganga. Saya bisa menyaksikan hutan juga pemandangan dengan view lepas sehingga bisa menjangkau area yang sangat luas, sebebas mata memandang.

Wow … indah bangets.  Subhanallah! Dinginnya guyuran hujan yang membasahi seluruh tubuh makin memperkuat spritualitas saya, bahwa di luar diri saya memang ada kekuatan mahadahsyat.

Pengalaman petualangan yang bikin saya merasa dekat dengan Tuhan, juga pernah saya rasakan pada tahun 1994. Itu saya dapatkan ketika saya ikut terbang dengan pasukan Paskhas TNI AU dalam latihan pengeboman di pantai kawasan Lumajang, Jawa Timur.

Take off dari skuadron Lanud Abd. Saleh Malang, saya naik berada di belakang pilot (casting jadi copilot, hehe), pesawat tempur taktis yang mampu terbang rendah, OV 10 Bronco meraung-raung di udara. Pesawat dengan desain seperti capungn berkapasitas penumpang hanya dua orang ini beberapa kali melakukan manuver, mulai terbang miring, molak-malik, sampai menukik saat melakukan pengeboman.

Sebelum terbang, saya memang menerima pengarahan dari instruktur. Jika terjadi sesuatu yang darurat, misalnya pesawat trouble atau sampai meledak, saya diminta menekan tombol di sisi (lupa kanan atau kiri) kursi saya, dan kursi lontar yang saya duduki akan melesat ke atas. Payung parasut yang melekat di pakaian tempur yang saya kenakan pun akan mengembang otomatis dan saya pun melayang-layang layaknya penerjun.

Meski telah menerima breafing dari instruktur, saat di udara saya hanya bisa pasrah dan benar-benar menyerahkan total diri saya kepada Gusti Allah. Bayangkan! Saya tidak punya keterampilan terjun payung. Kalaupun saya bisa melesat dan payung mengembang (jika terjadi kecelakaan), saya tidak tahu bagaimana cara turunnya. Karena itu, saya hanya bisa komat-kamit dan berdoa moga-moga Tuhan melindungi saya.

Dan, alhamdulillah. Pesawat yang saya tumpangi bersama sang pilot bisa kembali landing di skuadron Lanud Abd. Saleh dengan lancar dan selamat setelah beberapa kali melakukan pengeboman dengan sasaran pantai di Lumajang. Dalam perjalanan ke dan dari pantai Lumajang itu, saya sempat nikmati pemandangan menakjubkan, yakni puncak gunung Semeru yang dikelilingi awan putih. Tampak seperti puncak Semeru itu tengah mengenakan cincin.   

Itulah sekelumit pelajaran ('ibrah) berharga yang bisa saya petik dari sepenggal perjalanan hidup saya. Semoga bermanfaat.


Dalam Perjalanan Kasembon – Surabaya, 3 Juni 2011


Blog Archive