Blog

Blog

Sunday, December 29, 2013

Siklus



Demi masa ….
Yang di tangan-Mu tergenggam kuasa dan aku lebur dalam pusarannya
Kau adakan aku dari ketiadaan sampai berproses dalam segumpal darah dan daging
Lalu dalam putaran sembilan bulan bersemayam di gerba ibunda

Demi masa ….
Yang di tangan-Mu tergenggam kuasa dan aku lebur dalam pusarannya
Kau perkenalkan aku dengan panggung dunia lewat gempita tangisku
Setelah sebelumnya Kau tiupkan ruh dalam jasadku
Lalu kurangkaki panggung akbar yang aku tak mampu mengukur berapa luasnya
Sekuat lutut dan sekokoh telapak tanganku
Untuk mulai belajar dan mengeja tanda-tanda kebesaran-Mu

Demi masa ….
Yang di tangan-Mu tergenggam kuasa dan aku lebur dalam pusarannya
Dengan telapak kakiku yang belum begitu kuat menjejak bumi
Kutapaki  jejak-jejak risalah sejengkal demi sejengkal
dan belajar membaca tanda-tanda kekhaliqan-Mu

Demi masa ….
Yang di tangan-Mu tergenggam kuasa dan aku lebur dalam pusarannya
Atas apa saja yang terkaruniakan kepadaku
Kulintasi panggung kehidupan ini dan mengais apa saja yang terkandung dalam peluknya
Kujaring sengatan dan belai lembut matahari
Kurengkuh sejuk bulan dan pendar bintang-gemintang
Sampai letih kaki ini dan tak sanggup lagi melaju selangkah pun
Juga tulang belulang yang tak lagi bisa tegak menyangga raga

Demi masa ….
Yang di tangan-Mu tergenggam kuasa dan aku lebur dalam pusarannya
Kembali Kau tiadakan aku setelah tamak dunia melahap
dalam dingin yang menggigil
dalam pengap yang menyesakkan
Untuk meniti perjalanan yaumul hisab dan tegaknya peradilan hakiki
:Sendiri

Maka, sandarkan aku dengan senyum dalam rumah abadi-Mu



Sidoarjo, 30 Desember 2013



  




Thursday, December 26, 2013

Inner Power To Change



Oleh RAHMADSYAH - Mind-Therapist


Sebut saja namanya Tony, mahasiswa Universitas Indonesia. Dia berasal dari Makasar. Tony adalah alumni peserta training Public Speaking (PS) di Tantowi Yahya Public Speaking School.

Pada akhir November yang lalu dia mengikuti kembali —setiap alumni bebas mengulang kapan pun seumur hidup— program PS di hari sabtu dan minggu.

Sharing Pengalaman

Biasanya, sebelum memulai kelas, saya meminta peserta untuk maju ke depan dan mempresentasikan pengalaman tak terlupakan dalam hidup mereka. Pengalaman tak terlupakan ini termasuk hal-hal berkesan dan bermakna bagi diri mereka masing-masing. Sesuatu yang penting. Hal-hal yang menjadi pembelajaran hidup. Bisa kejadian personal dialami sendiri, sejarah orang lain, buku yang dibaca, juga film tertentu.

Kesempatan kali ini Tony bercerita pengalaman hidupnya. Dia mengisahkan perjuangannya keluar dari belenggu hidup. Entah apa faktornya. Saat mulai kuliah dan tinggal sendiri di kosannya, Tony mengalami paranoid yang luar biasa. Bahkan dokter yang dia temui memvonis, dia mengalami tanda-tanda/tahap awal schizophernia.

“Bapak ibu, permulan kuliah —tingkat awal— saya hanya duduk diam di kosan. Selesai kuliah pulang dan berdiam diri. Saya takut orang-orang berbuat jahat kepada saya”. Tony berkata dengan nada agak sedikit pelan.

Semenjak divonis dokter, Tony menjalani penyembuhan bersama psikiater. Dia juga berkonsultasi kepada hypnotherapist. Dia melakukan semua cara dan hal yang dia ketahui agar bisa keluar dari paranoidnya. “Semenjak itu saya berkonsultasi rutin dengan dokter. Ke psikolog dan hal-hal yang bisa menyelesaikan masalah saya,” Tony melanjutkan ceritanya.

Turning Point

Suatu waktu Tony merenung. Sampai kapan hidupnya akan seperti itu? Dia berpikir, sepertinya hanya dia yang dapat mengubah hidupnya. Sementara orang lain pendukung saja.

“Sampai akhirnya saya duduk merenung di kamar. Saya bertanya kepada diri saya sendiri. Sampai kapan saya bersembunyi dari dunia luar? Sampai kapan saya seperti ini? Lalu saya memutuskan melawan rasa takut itu. Salah satu caranya dengan mengikuti program pelatihan ini, membaca buku, kumpul bersama teman-teman kuliah, ikut bermain futsal dan kegiatan lainnya di kampus. Semenjak itu perlahan rasa takut yang menghantui hilang dengan sendirinya”. Tony menyampaikan titik perubahan dalam dirinya.

Pelajaran Hidup

Dari kisah Tony ini saya belajar. Tidak ada orang lain yang dapat membantu diri kita kecuali kita sendiri yang memutuskan dan melakukannya. Dan perubahan itu datang dari keinginan yang sangat kuat dari dalam. Bila itu telah ada, maka jalan keluarnya pun dengan mudah kita dapatkan. Seperti Tony mengakhiri sesi presentasinya.

“Intinya Bapak/Ibu, saya ingin menyampaikan, mau dibawa ke mana hidup kita? Mau seperti apa hidup yang kita jalani? Semua kembali kepada diri kita. Perubahan itu datang bukan dari orang lain. Akan tetapi, kitalah yang mesti menentukannya. Terima kasih wassalamu’alaikum wr.wb”. Tony menutup presentasinya. Begitu pula dengan kisah saya ini.


Bis Bima Arimbi, Cilegon – Rambutan, 14 Desember 2013.


Sunday, December 22, 2013

Musyafir Cinta



Gerimis sepanjang pagi ini
Tak menyurutkan langkahku
Menjumputi rindu
Mengais luberan kasih
yang tak pernah surut
Berserakan pada ladang cinta
:tak berbatas

Satu yang kumau
Biarkan kukayuh langkah
Terayun tangan dan angan membara
Pada perjalanan pekat malam hingga menjemput pagi
Pada perjalanan siang hingga tersambut petang
Dan sejenak singgah pada teras cintamu
Hingga sampai benar kujumpa dalam damai
Kugenggam hati dan cinta sejati

Maka, biarkan jalan panjang musyafir ini
Hingga berasa lelah untuk kembali
:Pada persinggahan abadi


Gresik, 22 Desember 2013

Wednesday, December 11, 2013

Golput


Kawan,
Aku saksikan sendiri  dengan mata telanjangku
Betapa tebar pesonamu berserakan di mana-mana
Demi  mengais simpati untuk memuluskan ambisi dan syahwat politikmu
Kau jadikan dirimu sebagai hiasan
yang mewujud dalam spanduk, bendera, leaflet,  banner, dan baliho-baliho
yang mencolok mata danbikin sesak wajah kawasan
tidak saja di kota dan tempat-tempat cangkrukan
tapi juga di penjuru kampung-kampung yang kumal

Belum puas dengan itu,
kau bersolek juga ala selebriti
Lalu bersandar di pohon-pohon, baik yang rindang maupun kering meranggas
di tiang-tiang listrik yang kokoh berdiri
di warung-warung kopi yang tak pernah sepi pembeli
di punggung-punggung mikrolet dan angkutan umum lainnya
tak lupa juga di mobil-mobilmu dan sanak familimu

Kawan,
Ke mana saja kau hampir lima tahun ini?
Ke mana saja kau ketika kursi dewan menopang bokong dan punggungmu?
Ke mana saja kau ketika pejabat negeri memangkasi subsidi
dan membuat harga BBM dan tarif listrik melambung tinggi
Ke mana saja kau ketika rakyat menjerit karena harga-harga barang naik tak terkendali?

Kawan,
Hampir lima tahun berlalu
Aku amanatkan kepercayaan padamu di bilik suara saat pemilu
Dengan setumpuk harapan demi perbaikan dan kejayaan martabat bangsaku
Tetapi yang aku saksikan, malah kau galang koalisi untuk kerajaan korupsi
Bukan untuk membangun negeri, tetapi demi kenyang perutmu dan mitramu sendiri
Sementara kau tinggalkan aku dan rakyat yang papa
Lalu terhempas dalam jurang kemelaratan yang amat dalam

Kawan,
Di penghujung masa tugasmu dan gerbang pesta pemilu
Kau datangi aku juga para tetanggaku
Untuk (sekali lagi) mendukung dan menggadaikan suara
Demi (sekali lagi) menopang ambisi dan syahwat kekuasaanmu
Dan kini saatnya kau jawab pertanyaanku:
Pastaskah aku sumbangkan dukungan dan suaraku untukmu?
Pantaskah aku serahkan pengelolaan negeri ini kepadamu?



Sidoarjo, 11 Desember 2013
      
  

Blog Archive