Blog

Blog

Tuesday, December 18, 2012

Nasi Geghog vs Nasi Karak



Dari rumah, Rabu (12/12) kemarin saya memang berniat nyambangi gelar kuliner yang dihelat adik-adik mahasiswa Prodi Tata Boga, PKK di kampus Unesa Ketintang. Karena itu, selepas salat Dhuha di masjid kompleks Marinir Gunungsari, saya kulo nuwun via BBM (BlackBerry Massenger) kepada yang mbaurekso jurusan PKK, sahabat saya. Sorela.

Saya dan teman-teman alumni Unesa biasa akrab dengan sapaan Sorela untuk Prof Dr Luthfiyah Nurlaela, MPd, Ketua Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini. Saya juga japri beberapa teman yang ketika saya pantau di grup milis Ganesis (milis untuk keluarga besar Unesa) sehari sebelumnya yang  berencana berkunjung ke even yang dihajatkan mengajari mahasiswa berwira usaha.

Banyak menu yang disajikan dalam pameran kuliner ini. Di antaranya, nasi boranan (khas Lamongan), nasi krawu (khas Gresik), nasi goreng khas Kota Batu, nasi jagung, bakso bakar, dawet khas Pleret, es siwalan, rujak cingur, nasi pecel Madiun, dan sejumlah menu khas dari beberapa daerah lainnya.

Kali pertama saya bertemu Mas Eko Prasetyo setelah beberapa saat menyantap sebungkus ketan intip dan es dawet karya adik-adik mahasiswa. Tanpa babibu, adik kelas saya di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) Unesa ini langsung menyeret saya ke deretan stan pameran yang menempati selasar/lorong gedung jurusan PKK itu. Begitu sampai deretan stan yang berjarak (yang terdekat) hanya 2 m itu, mas Eko langsung "nembak saya" dengan ucapan, "Mas Hartoko, izinkan kali ini saya mentraktir Njenengan. Mau apa saja silakan, monggo."

Ya, hari-hari ini Mas Eko yang sehari-hari sebagai editor bahasa di koran Jawa Pos dan superaktif menulis ini memang tengah menuai kebahagiaan, krn barusan berulang tahun (ber-Ultah). Dengan pertimbangan ikut mangayubagyo Ultah-nya, saya manut saja. Pilihan saya akhirnya jatuh pada penganan khas Gresik, nasi krawu dan es siwalan (bukan sialan, hehehe). Sementara Mas Eko mantab mengambil nasi geghog.

Nasi geghog mirip nasi kucing di Yogyakarta. Dengan dibungkus daun pisang, porsi nasi geghog cukup mini. Sekitar tujuh kali suapan saja habis. Nasi ini diberi nama geghog karena bisa bikin perut mengghag-mengghog alias melilit karena tekstur pedasnya. Ya, dengan lauk hanya ikan teri, nasi geghog menawarkan sensasi pedas luar biasa. Dari seorang mahasiswi yang menjaga stan diperoleh informasi, bahwa cabe untuk bumbunya memang diperbanyak. Tak ayal, meski hanya porsi kecil, cukup bisa bikin lidah kepluntir karena saking pedasnya, kenyang dan mengghag-mengghog.

Iklan Menyesatkan
Bukan karena saya kebetulan arek Gresik sehingga harus memilh makanan khas kota pudak ini. Tetapi, itu lebih sebagai pelampiasan "kekecewaan" saya akan market guide yg "menyesatkan" yang sehari sebelumnya di-posting di milis Ganesis.
Maka, protes keras pun langsung saya tembakkan ke Sorela begitu ketemu di arena itu, ketika jemari kami belum lepas, masih erat bersalaman. Sorela sendiri mengaku sudah memperkirakan bakal mendapat serbuan protes terkait “iklan” nasi karak tersebut. Namun profesor asli Tuban ini segera menimpali, bahwa itu bagian dari gimik pemasaran. Hmmm...enak aja, hehehe.

“Maaf …maaf, Mas Har ….” kata Sorela sembari tertawa ngakak.
Apa gerangan yang memantik kekecewaan atas “iklan menyesatkan" itu? Di milis Ganesa sehari sebelumnya di-posting dan diperbincangkan salah satu menu khas di even itu yang menarik perhatian dan minat saya, yakni sego (nasi) karak. Ketertarikan itu karena saya anggap unik juga, hare gene, di zaman modern ini,  nasi karak masih ditransaksikan secara umum, di kalangan terpelajar lagi.

Bayangan saya langsung melesat ke masa kecil, sebelum atau saat berada di sawah. Nenek dan ibu saya dulu kerap bikin nasi karak sebagai sarapan sebelum ke sawah. Nasi karak berbahan baku nasi sisa atau bahkan tak jarang sudah basi. Nasi sisa itu dijemur sampai kering nglinthing. Setelah kering, dibersihkan (dipususi, Jawa), baru ditanak (didang).

Saat matang, sekilas  memang kelihatan seperti nasi biasa pada umumnya. Hanya saja,  warnanya agak mangkak dan lebih kemrotok. Nasi karak yang sudah matang itu lalu dicampur dengan parutan kelapa dan garam secukupnya. Menu "spesial" ini pun siap dihidangkan untuk disantap. Lawuhnya bisa krupuk atau ikan asin. Itulah persepsi saya tentang nasi karak. Di milis Ganesai pun beberapa teman  mendiskripsikan nasi karak seperti itu.

Tetapi, bagaimana kondisi di arena pameran? Ketika saya tanya beberapa "pramuniaga" yang menjaga stan ihwal nasi karak, mak deg ... ternyata saya kecele campur kecewa. Saya menjumpai apa yang oleh penjualnya dilabeli nasi karak, ternyata tak ubahnya dengan nasi urap-urap dengan lauk ayam bumbu, tahu, tempe, dan sebagainya.
Memang ada yang khas pada nasi yang dikemas dalam kotak plastik/mika itu, yakni ada sedikit tambahan parutan kelapa di atasnya. Menurut adik-adik mahasiswa yang menjaga stan, menu tersebut namanya memang nasi karak, makanan khas Progolinggo.

Oalaaaa ...seje deso mowo geni, eh mowo coro, batin saya. Kasus ini memberikan pelajaran kepada kita akan pentingnya prakondisi atau orientasi pada objek sasaran sebelum melakulan atau mengeksekusi sesuatu. Saya tidak bisa membayangkan, kalau itu terjadi pada seorang pemimpin atau komandan yang tidak jelas dalam memberikan arahan atau perintah kepada anak buah atau pasukannya, pasti hasil dan dampaknya berantakan.

Setelah memesan beberapa menu (yang pasti bukan nasi karak yang dipamerkan), saya bersama Mas Eko menikmatinya di tenda lesehan yang disiapkan panitia. Kami memilih tenda kecil di bagian depan (sisi barat), tepi jalan. Sebab, tenda lesehan berukuran besar di bagian dalam sudah penuh sesak pengunjung. Lagi pula, yang makan umumnya adik-adik mahasiswa, cewek-cewek semua lagi. Sungkan kalau ikut ngruntel.

Tak seberapa setelah saya menyantap nasi krawu, Mas Abdur “Roy” Rohman datang bergabung. Pria lembut dan pintar mendesain untuk buku ini pun ikut bareng-bareng wisata kuliner setelah sebelumnya memilih menu kesukaannya. Dalam hitungan menit, kemudian dating juga sahabat saya, Moch. Khoiri, dosen bhasa Inggris di Unesa yang biasa saya sapa emcho.

Rasa kecewa saya mendadak hilang dan terobati begitu di "panggung hiburan" yang menampilkan musik elekton dan sejumlah artis dadakan yang “aduhai” saling pasang aksi. Tak terasa, kaki dan kepala saya ikut bergerak-gerak mengikuti irama musik dangdut yang mereka lantunkan.

Suasana lebih seru ketika beberapa penyanyi yang datang dari adik-adik mahasiswa pengunjung pameran terdengar sumbang/fals suaranya dalam beraksi. Ada pula yang salah mengambil nada, termasuk yang gak pas masuknya (mendahului musik). Karuan sejumlah pengunjung teriak-teriak, "Mudhuuuuuun ...mudhuuuuuun ....(Turuuuuuun …turuuuun….)"

Itu isyarat agar yang sedang bernyanyi segera mengakhiri atau turun panggung.  Meski demikian, kami toh bisa gayeng menikmati suasana siang itu. Terbukti, emcho yang sebelumnya merasa penat karena beban pekerjaannya, dengan leko-nya berjoget ria di arena itu.


Ketintang: Kamis, 13 Desember 2012

3 comments:

  1. Wah, sayangnya itu event yg gak ada saban dino, Cak. Tapi klo nasi krawu, bsa setiap sua'at, hehe

    ReplyDelete

Blog Archive