Blog

Blog

Tuesday, September 25, 2012

Izinkan Aku



Izinkan
aku jumputi butir-butir cinta

yang membekas pada tiap jejak langkah
yang mengendap dalam karang kerinduan
yang tegak berdiri menahan hempasan ombak
juga sergapan badai penumbang akar cinta

Maka, biarkan sejarah mencatat
bahwa cinta sejati tak pernah lekang
:oleh musim apa pun
bahwa cinta sejati tak pernah tersekat
:oleh ruang dan waktu

Izinkan
aku jumputi butir-butir cinta



Gresik, 24 September 2012

Tuesday, September 18, 2012

Habis Duka Terbitlah Hikmah



Oleh MUCH. KHOIRI *)


Kepergian untuk selamanya Humas Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo (BPLS), atau lebih dikenal dengan istilah lumpur Lapindo, (alm.) Ahmad Khusairi atau yang kerap disapa Arik Kentung —saya selalu memanggilnya mas Arik-- telah membuat saya termangu begitu lama. Sama dengan perasaan banyak orang, saya juga tidak percaya, bahwa orang yang dalam hari-hari terakhir masih mengirimkan SMS konyol, penuh canda, berdiskusi, berbagi cerita, dan sebagainya, ternyata berpulang dengan tenang. Alumnus Unesa pada jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia ini telah berpamitan kepada orang lain dengan caranya sendiri.

Dalam ungkapan yang puitik, Abdur Rohman (2012), sahabat Arik Kentung, menulis begini:

Serasa baru kemarin, kau unggah kelakar-kelakar konyolmu
Serasa baru kemarin, kau suguhkan derai tawa lepasmu
Serasa baru kemarin, acara buka puasa di Nur Pacific itu
Benar-benar serasa baru kemarin kau dan aku bersua
Tapi, kini kau telah mendahului
Pulang ke haribaan ilahi rabbi
Senyummu masih membekas di benakku
Seakan candamu meleleh di antara senyum indah para bidadari.
Sambil menemani isteri yang sedang sakit, saya memantau milis Ganesa, grup fesbuk, dan siaran (lirih) radio SS (Suara Surabaya) yang mengabarkan kepergiannya, satu per satu kesan-kesan dan persepsi orang muncul di berbagai fora itu, seraya mendoakan almarhum agar diterima di sisi-Nya. Terpendamlah kekhilafan atau kesalahan, dan muncullah tunas-tunas kebajikan yang telah ditaburkannya.

Banyak orang berduka atas kepergiannya; begitu pula banyak orang yang mendoakannya setelah kepergiannya. Suasana berkabung terkesan begitu kental, tidak hanya di milis Ganesa, melainkan juga di berbagai milis lain, grup fesbuk, atau twitter, juga rasan-rasan dari orang satu ke orang lain, termasuk dari komunitas satu ke komunitas lain.

Ternyata, Mas Arik Kentung bukanlah satu-satunya yang meninggalkan kita. Berita duka muncul di grup e-learning Unesa pada 11 Septembet 2012. Pemain basket Unesa, Dionisius Eko Pritanto B. (mahasiswa S1-Pend. Kepelatihan Olahraga/2006), telah meninggal dunia akibat kecelakaan pada Senin (10/9) pukul 21.30 WIB di daerah Kedurus. Sungguh sebuah berita duka yang tak pernah disangka sebelumnya, namun telah membuat dosen dan mahasiswa memberikan simpati dan doa yang dalam untuk mas Dion.

Saya sendiri tidak mengenal baik Mas Dion. Akan tetapi, saya memahami betapa banyak ungkapan bela sungkawa dan panjatan doa para dosen dan teman-temannya. Semua itu cukup bagi saya untuk ikut merasakan atmosfir kehilangan pemuda asal Ambon ini. Tentu saja doa-doa juga mengalir dari bibir saya untuknya.

Kepergian dua anggota keluarga besar Unesa yang begitu mendadak dan tak pernah disangka, spontan menyedot ingatan saya akan kepergian kolega saya (seangkatan prajabatan), yakni (alm.) Adi Sampurno, dosen jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, FBS Unesa. Sore masih bertugas di kampus Lidah, subuh esok harinya beliau sudah pergi setelah menunaikan salat subuh.

Jika dibeber satu per satu, kenangan bersama Pak Adi begitu banyak—termasuk persuaan kami tiga hari sebelumnya dan permintaan maaf beliau karena belum sempat mampir ke rumah saya. Akan tetapi, sejak kepergian beliau, niat pembeberan itu tidak saya lakukan, karena hal itu hanya akan “menghadirkan” (kembali) beliau dalam hidup saya, sesuatu yang justru akan membuat saya sedih. Biarlah keindahan persahabatan kami tumbuh di dalam hati.

Begitulah. Eksistensi manusia menemukan hakikatnya ketika manusia lain ada atau hadir. Jika tidak ada manusia lain, bagaimana seseorang disebut eksis (ada)? Kalaupun semula sudah ada dan kemudian pergi, hakikatnya dia akan ingin menghadirkannya. Bahkan, jika pun saat orang lain ada namun tidak dirasakan ada,  dia akan berharap agar orang lain itu memuhi harapan kehadirannya. Dengan begitu, dia sendiri juga akan menjadi eksis.

***
Meski demikian, kehilangan itu sebuah keniscayaan bagi kita yang pernah mendapatkan (sesuatu). Itu sunnatullah. Kita pernah bertemu dan berteman dengan Mas Arik, Mas Dion, atau Pak Adi; dan akhirnya kita kehilangan karena kepergian mereka. Itu keniscayaan yang tak bisa ditawar-tawar lagi.

Ada orang bilang, dunia ini panggung sandiwara, dengan cerita yang kita mainkan. Kita dapatkan teman dan/atau lawan main dalam peran yang kita lakukan. Namun, toh cerita harus berakhir, dan itu berarti relasi antar pemain harus dihentikan—dan terjadilah keniscayaan itu: kehilangan teman/lawan main!

Habisnya cerita dalam hidup seseorang, yang menyebabkan orang lain kehilangan, tidak lain dan tidak bukan adalah kematian (maut). Kehadirannya tak disangka-sangka, tak bisa dimajukan, tak bisa pula dimundurkan. Kehadirannya on time, tepat waktu.

Barangkali inilah hikmahnya: bagaimana memposisikan diri sebagai insan yang selalu siap menjalani maut. Maut itu pantas untuk siapa pun, tak peduli usia. Semua pantas menjalaninya.

Ada orang-orang yang awet umurnya semisal  Kamato Hongo, Carrie C. White, Elizabeth Bolden, Tane Ikai, Maria Esther Heredia de Capovilla (masing-masing 116 tahun); Marie-Louise Meilleur dan Lucy Hannah (masing-masing 117 tahun); Sarah Knauss (119 tahun); Shigechiyo Izumi (120 tahun); dan Jeanne Calment (122 years 164).(http://www.uniknih.com/2012/05/ini-dia-10-manusia-tertua-di-dunia.html#ixzz26ZqrxfTs).

Bahkan ada yang lebih panjang umurnya daripada mereka. Mbah-De Buyut saya dulu seda (wafat) dalam usia 128 tahun. Kemudian, yang mencengangkan, Mbah Canggah dari isteri adik saya mencapai usia 197 tahun (yang seda ketika tak satu pun anak-anaknya masih hidup).

Ayahanda Yu Shi Gan xian shen (Pak Dahlan Iskan), seperti dituturkan dalam buku Ganti Hati, juga mencapai 93 tahun. Itu salah satu penyemangat bagi pak DI untuk menjalani serangkaian proses operasi transplantasi hati dengan pikiran dan perasaan tenang dan pasrah.

Sebaliknya, yang lebih muda pun juga pantas meninggal. Pak Adi, Mas Arik, atau Mas Dion telah menunjukkan kepada kita akan kepantasan itu. Bukan itu saja. Balita, bayi, atau calon bayi pun juga pantas saja jika memang waktunya meninggal. Sekali lagi, maut itu pantas untuk sebarang usia.

Masalahnya, seberapa siap kita menghadapinya? Dalam sebuah puisi “Senandung Kematian” (New York, 1993), saya pernah mengajak (diri sendiri, setidaknya) untuk tak usah menjeratkan simpul ajal di ujung belati atau bersloki-sloki racun, sebab tanpa kita panggil dan tanpa kita sadari  pun kematian pasti akan rela-sabar menghampiri kita, untuk menutup buku tua dan membuka buku baru.

Mengapa demikian? Kematian bukanlah terminal paling purna kita dari mata rantai petualangan panjang berpeluh, melainkan pintu gerbang ke galaksi akhirat kita, menuju jembatan berteka-teki untuk kita tempuh: satu sambungan abadi siklus realitas kita yang utuh.

Lebih jauh, tak usah pula kita hindari ajal kita dengan berjuta laku dan cara. Sebab, kematian akan menemukan dan menggamit kita meski kita bersembunyi diri di bilik baja sekalian; sebab kematian nyata—senyata kehidupan fana yang merentang setia bersama desah-desuh napas.

Kematian bukanlah lorong bagi pelarian diri dari rel realitas yang sebagian telah kita telusuri—melainkan “hadiah sempurna” dari kayuhan-roda kita yang menggelinding pasti dalam kesaksian sang waktu. Demikian juga kematian bukanlah penolakan dari realitas kita, melainkan kewajiban ruh kita berpetualang selalu.

Lalu, mitraku, hanya pendamlah jauh di lubuk kalbu:
Kematian berdiri tegar dan sabar dekat dengan akhirmu
dan dekat awal-barumu—entah putih entah kelabu,
tapi tak tahu-menahu tentang panenan “tanaman”-mu.

Mudah-mudahan kita memperoleh kesempatan untuk mengumpulkan bekal akhirat yang memadai. Jika waktunya memang sudah tiba, mudah-mudahan kita dimatikan Allah dalam keadaan akhir yang baik (khusnul khotimah).***


Driyorejo, 17 September 2012

*) MUCH. KHOIRI, dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Inggris, FBS, Unesa.

Wednesday, September 5, 2012

Gara-Gara Iddah, Pemimpin Yahudi Masuk Islam


Robert Guilhem

Robert Guilhem, pakar genetika dan pemimpin Yahudi di Albert Einstein College menyatakan dengan tegas soal ke-Islaman-nya. Dia masuk Islam setelah kagum dengan ayat-ayat Al-Quran tentang masa iddah wanita muslimah selama tiga bulan. Massa iddah merupakan masa tunggu perempuan selama tiga bulan, selama proses dicerai suaminya.

Seperti dikutip dari societyberty.com, hasil penelitian yang dilakukannya menunjukkan, masa iddah wanita sesuai dengan ayat-ayat yang tercantum di Alquran. Hasil studi itu menyimpulkan, hubungan intim suami istri menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik khususnya pada perempuan.

Dia mengatakan, jika pasangan suami istri (pasutri) tidak bersetubuh, maka tanda itu secara perlahan-lahan akan hilang antara 25-30 persen. Gelhem menambahkan, tanda tersebut akan hilang secara keseluruhan setelah tiga bulan berlalu. Karena itu, perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik khusus laki-laki lainnya setelah tiga bulan.
 

Bukti empiris ini mendorong pakar genetika Yahudi ini melakukan penelitian dan pembuktian lain di sebuah perkampungan Muslim Afrika di Amerika. Dalam studinya, ia menemukan setiap wanita di sana hanya mengandung sidik khusus dari pasangan mereka.
Penelitian serupa dilakukan di perkampungan nonmuslim Amerika. Hasil penelitian membuktikan, wanita di sana yang hamil memiliki jejak sidik dua hingga tiga laki-laki. Ini berarti, wanita-wanita non-muslim di sana melakukan hubungan intim selain pernikahannya yang sah.

Sang pakar juga melakukan penelitian kepada istrinya sendiri. Hasilnya menunjukkan istrinya ternyata memiliki tiga rekam sidik laki-laki alias istrinya berselingkuh. Dari penelitiannya, hanya satu dari tiga anaknya yang (murni, Red) berasal dari dirinya.

Setelah penelitian-penelitian tersebut, dia akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia meyakini hanya Islamlah yang menjaga martabat perempuan dan menjaga keutuhan kehidupan sosial. Ia yakin, perempuan muslimah adalah yang paling bersih di muka bumi ini.


Sumber: Republika, Jumat, 31 Agustus 2012

Menjawab Dua Argumen Klasik Syiah

Oleh Bahrul Ulum *)



http://www.hidayatullah.com/images/icon_rss.jpg









Ketika mengisi kajian Shubuh di sebuah masjid perumahan elit di wilayah Surabaya Barat, saya tersentak oleh protes seorang jamaah yang tidak setuju dengan statemen yang mengatakan bahwa perbedaan Syiah dan Sunni bukan pada masalah aqidah.
Sebenarnya, kajian pagi itu membahas tentang Pluralisme Agama yang titik tekannya mengupas perbedaan aqidah di antara agama yang ada.

Namun pada sesi tanya jawab, salah seorang jamaah menanyakan  kasus  Syiah dan Sunni  di Sampang, Madura, apakah berkaitan dengan persoalan aqidah atau tidak. Spontan saya jawab bahwa akar persoalannya  adalah masalah aqidah.

Ternyata jawaban saya ini diprotes oleh jamaah lain yang tidak setuju mengaitkan kasus tersebut dengan masalah aqidah. Sebab menurutnya, aqidah Syiah dan Sunni sama saja, tidak ada perbedaan.

Kemudian ia mengajukan beberapa argumen untuk memperkuat pendapatanya itu. Di antaranya,  pertama ia menyebutkan bahwa Arab Saudi masih menganggap Syiah memiliki aqidah yang benar. Buktinya, negara petro dolar tersebut masih mengizinkan orang Syiah berhaji di sana. Menurutnya, kalau Syiah berbeda aqidah, tentu Arab tidak akan mengijinkan orang-orang Syiah berhaji.  Ia juga mengatakan bahwa para ulama hadits Sunni terbukti banyak mengambil perawi dari Syiah. Ia menyebutkan sekitar 100 perawi Syiah yang dipakai dalam kitab-kitab hadits Sunni.

Dengan kedua alasan itulah ia kemudian menyatakan bahwa sebenarnya tidak ada perbedaan antara Syiah dan Sunni dalam masalah aqidah. Karena itu ia tidak setuju jika orang Syiah dinilai berbeda aqidah dan poisisinya sama dengan orang non-Muslim.
Menjawab argumen tersebut, saya menjelaskan bahwa kedua hal itu sudah dijawab oleh para ulama dan cendekiawam Sunni.

Pertama, berkaitan dengan kaum Syiah yang diijinkan berhaji, karena mereka masuk ke Saudi paspornya menggunakan identitas Muslim. Tentu saja Saudi tidak akan menolak orang yang mengaku Muslim masuk ke kota Makkah dan Madinah. Lain ceritanya jika mereka menggunakan identitas agamanya dengan nama Syiah atau Imamiyah, tentu ada penolakan dari pihak petugas di bandara.

Padahal dalam kitab-kitab Syiah, ulama mereka menyebut agamanya dengan nama agama Imamiyah. Sebagai contoh, Baqir al-Majlisi yang dikenal sebagai Syaik as-Syuduq (w. 381 H) menyebut agamanya (Syiah) dengan sebutan agama Imamiyah. Ia mengarang buku khusus berjudul Al-I’tiqodat Din al-Imamiyah.  Dalam kitab ini Syaikh As-Syuduq menjelaskan secara tuntas tentang aqidah Syiah yang berbeda dengan aqidah Ahlu Sunna wal Jamaah.

Hal ini juga diakui oleh At-Thusi (w.460 H) dalam kitabnya al-Farsht hal. 189 dan Rahib al-Asfahani dalam kitabnya ad-Dari’ah ila Makarimi Syariah,  juz II, hal. 226.
Pengakuan kedua ulama Syiah ini cukup menjadi bukti bahwa istilah agama Imamiyah sudah sangat dikenal bahkan menjadi aqidah di kalangan Syiah. Karena itu tidak salah jika kita 8menyebut Syiah sebagai agama Imamiyah, bukan Islam. Penyebutan ini berdasar pengakuan mereka sendiri, bukan mengada-ada.

Taqiyah
Kalau mau jujur, seharusnya kaum Syiah yang pergi ke Makkah mencantumkan nama Imamiyah dalam paspornya ketika masuk Saudi, bukan Islam. Namun, jika mereka tidak melakukan hal itu, ini bisa dimaklumi, karena mereka memiliki ajaran Taqiyah.

Taqiyah didefinisikan oleh salah seorang ulama Syiah, Muhammad Jawaad Mughniyah,  sebagai berikut: "Taqiyah yaitu kamu mengatakan atau melakukan (sesuatu), berlainan dengan apa yang kamu yakini untuk menolak bahaya dari dirimu atau hartamu atau untuk menjaga kehormatanmu" (Muhammad Jawaad Mughniyah, As Syi'ah fil Mizaan,  hal : 48)

Ajaran Taqiyah ini merupakan bagian dari aqidah Syiah. Al-Kulaini menisbahkan kepada Imam Ja’far Shodiq yang berkata  "Wahai Abu Umar sesungguhnya sembilan persepuluh (sembilan puluh persen) agama ini terletak pada (akidah) Taqiyah, dan tidak ada agama bagi orang yang tidak melakukan Taqiyah.  Taqiyah ada pada setiap sesuatu kecuali di nabidz (korma yang direndam dalam air untuk membuat arak) dan pada menyapu khuuf (kaus atau kulit).

" Dan dinukilnya juga dari Abi Abdillah ia berkata : "Jagalah agama kalian dan tutuplah agama itu dengan Taqiyah, karena tidak ada iman bagi orang yang tidak mempunyai Taqiyah." (Usul al-Kafi, hal: 482-483).

Berdasar dalil di atas, Syiah memandang Taqiyah itu sebagai  fardu (wajib), sebab tidak akan berdiri mazhab ini kecuali dengan Taqiyah, dan mereka menerima pokok-pokok mazhab secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Mereka selalu melaksanakannya Taqiyah saat kondisi sulit mengepung mereka.

Kedua, berkaitan dengan perawi Syiah yang ada di kitab-kitab Sunni, juga dijelaskan oleh para ulama bahwa hal itu dilakukan oleh para muhaditsin dalam rangka memperkuat posisi hadits tersebut. Paea ulama hadits memang sengaja tidak mengambil dari perawi Sunni seperti Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad, atau bahkan Imam Ja’far as-Shadiq karena memiliki pemahaman yang sama dengan para ulama hadits seperti Bukhari dan Muslim. Hadits-hadits yang dikeluarkan oleh para Imam tersebut sependapat dengan hadits para muhaditsin.

Periwayatan dari para imam tersebut hanya sedikit yang diambil oleh para muhaditsin. Contohnya, Imam Bukhari yang tidak lain adalah murid Imam Ahmad, hanya sedikit mengambil periwayatan dari gurunya tersebut. Hal yang sama juga mereka berlakukan terhadap para imam lainnya.

Tetapi jika mereka mengambil periwayatan dari orang yang tidak sepaham, tentu hal ini akan menjadi bukti kuat bahwa hadits yang dikeluarkan adalah benar dan sahih.
Inilah rahasia kenapa para imam hadits Sunni mencari periwayatan dari orang-orang yang dianggap Syiah, Khawarij, Nasibi dan sebagainya. Namun penerimaan tersebut dengan syarat-syarat tertentu, yaitu riwayat yang dikemukakan tidak dalam rangka mendukung golongan mereka dan tidak menyeru orang lain masuk kelompoknya. (As-Sakhowi, Fatkhul Mughis, juz I, hal. 332).   Jika hal itu terjadi, para muhaditsin tidak akan menerima hadis-hadis yang diriwayatkan oleh ahli bid'ah seperti itu.

Inilah salah satu kejelian para ulama Islam. Mereka sengaja menggunakan metode seperti itu agar hadits yang diriwayatkan tidak dicela di kemudian hari. Bisa jadi orang-orang di luar Sunni akan menolak hadits-hadits Sunni jika hanya diriwayatkan oleh ulama Sunni sendiri.*

*) Bahrul Ulum adalah Peniliti pada Institut Pemikiran dan Peradaban Islam (InPAS) Surabaya

Sumber: hidayatullah.com, Rabu, 5 September 2012

Blog Archive