Blog

Blog

Wednesday, March 21, 2012

Elegi Bensinku


Aku tak peduli
Mau kau bikin berapa harga BBM
Aku juga tak kan tawar berapa pun kau pasang tarif dasar listrik
atau apa pun yang dalam kuasamu
Aku tak peduli

Biarlah kaki-kaki tegakku tetap kokoh berdiri
Menapaki jalan hidup yang tak juga kau mengerti

Wahai petinggi negeri
Jangan pernah ragu dan bersolek banci mengail simpati
Mau sepuluh ribu per liter
Mau lima belas ribu per liter
Mau dua puluh ribu per liter
Mau berapa pun harga yang pantas dalam kalkulasi ekonomimu
Aku dan banyak lagi yang spertiku tak akan peduli Karena aku tak punya tengki yang harus terisi bensin
seperti berderet-deret motor dan mobilmu yang tentu haus dan harus diisii

Aku tak peduli berapa digit inflasi mau ambil posisi
Tapi, aku akan melihat betapa barisan jamaah kaum miskin kian berjubel menyesakkan negeri
Sementara konvoi mobil-mobil dinasmu tak pernah berhenti


By: MASHARTOKO

Gresik, 18 Maret 2012

Puisi-puisi MASHARTOKO



Nageri Para Tuan

Lengkap sudah kelam negeriku
Ketika para tuan semakin berbusung dada
Ketika para tuan semakin lupa tanah jelata
Ketika para tuan saling berebut kasta
dan apa saja yang bikin mereka tertawa
Tak peduli harus terbayar dengan anyir darah menyengat

Lihatlah,
Atas nama rakyat
Para tuan ingin naikkan harga sekaligus naik tahta
Berburulah mereka pundi-pundi fasilitas
Dengan segala cara
Tak peduli si papa makan apa

Tarian para badut di Senayan
Dan rancak dansa di gedung-gedung dewan ... di mana-mana
Makin membuat para tuan kegirangan
Karena perjuangan tak perlu harus keluar keringat
Meski tak jarang pura-pura bersitegang urat
dan berakhir dengan tertawa bersama

Oh, para tuan ....
Boleh saja tamak meraja
Hingga bikin buncit tengah badan
Boleh saja bergelimang tahta
Hingga merasa jadi dewa

Tapi yang para tuan tak bisa mengelak
Bakal tergelar timbangan
atas apa yang tuan perjuangkan
Di panggung peradilan tak berkesudahan

Gresik, 1 Februari 2011


Reshuffle

Dari ujung mata pena
terlihat kegusaran menggumpal
Dari sudut layar kaca
terekam laku lampah blingsatan

Kian samar mana koalisi, mana oposisi
Terselip jatah porsi, menjadi menteri
Semua sibuk berias diri
Saling sandera mengunci hati
Saling tawar menjual diri
Sampai juga lupa diri
Sementara ndoro menteri jeli menyeleksi
Demi amankan diri dan istri, anak cucu hingga cicit

Jauh dari ujung kekuasaan
Menunggu resah anak-anak bangsa
telanjang tak lagi mampu menutup dada
lemas menanti kiriman nasi
terjulur asa akan berubah nasib
di tengah ladang para perakus negeri

Sidoarjo, 14 Oktober 2011


Sumpah Pemuda

Hari ini,
Seperti kau tanam berpuluh-puluh tahun
Benih sumpah itu masih saja menggaung
Terpatri mati, terkunci dalam hati mengabadi

Seperti kau mau dalam sumpahmu:
Satu utuhnya negeriku
Satu utuhnya bangsaku
Terbalut mesra dalam bahasa yang satu

Hari ini,
Setelah berpuluh-puluh tahun
Benih sumpahmu tak lagi bertumbuh seperti kau mau
Anak-anak muda tak lagi bangga dengan negerinya
Anak-anak muda tak lagi tahu di mana harus berpijak
Terbius fakta yang tak lagi menginjak tanah
Seperti keranjingan setan

Tak peduli dia polisi hingga para pengadil
Tak peduli dia bupati hingga para menteri
Terseret arus badai, asyik bercerai dalam partai-partai
Beramai-ramai berkerumun dalam kenduri korupsi
Tak pernah grogi karena merasa terlindungi

Hari ini,
Aku dengar menggema sumpah serapa
Bukan lagi sumpah agungmu yang mendunia
Dari semua yang jelata dan melata
Di bumiku, di bumimu yang diporakporandakan

Gresik, 28 Oktober 2011



Senayan 1998-2011

Berdiri Tegak di gedung Senayan
Menjebol pagar karang
Menerobos ruang-ruang dewan
Bersatu tekad robohkan tirani kekuasaan
Meski harus tertanam tumbal demi perubahan

Berdiri tegak di gedung Senayan
Kokohmu tak lagi bersimbol perjuangan
Tapi berhimpun para pemabok dan perompak
menghisap sari negeri hingga jadi ampas

Sidoarjo, 31 Oktober 2011



Parodi Teror (is) - 1

Tak terbilang nyawa melayang
Tak terbilang anyir darah mengalir
Tak terbilang luka menganga
Tak terbilang resah membelit

Panggilan jihad dengan upah sorga
Adalah jiwa syuhada yang tiada lelah berjuang
Dan raga pun tiada berguna
Meski di sudut mana sorga berada

Jiwa-jiwa yang kalap
Terus berburu darah dan nyawa
Menebar benih teror di mana-mana
Berkejaran tanpa tapal batas

Ledakan berbalas muntahan senjata
Terus tersemai kebencian dan dendam
Tanpa sadar bahwa mereka hanyalah wayang
Sementara sang sutradara tertawa kegirangan

Surabaya, 2010/2011


Parodi Teror (is) - 2

Dalam dekap para bunda
Banyak bocah tak lagi berayah
Menggigil bercucur air mata
Juga darah lekat di telapak tangan
Dengan lidah terbata namun tegar
Bunda bilang: Nak … Abi tak lagi bernyawa!

Pagi buta selepas fajar
Ketika hamba khusuk dalam sujud berjamaah
Ketika pekat menyengat tiada bulan juga bintang
Ketika burung liar bersiap lepas dari sarang

Bocah tak lagi bersama sang imam
Zikir Subuh pun senyap lagi ampang
Tergantikan ganasnya timah tajam
Menerobos tinggalkan banyak lubang di dada
Darah pun mengalir, tercecer di mana-mana
Tepat di mata bulat sang bocah

Dipungutnya darah setapak demi setapak
juga selongsong peluru sisa penembus raga, pencabut nyawa
Dengan sisa tenaga, bocah memelas
: Apa salah Abiku, Tuan?
: Abi hanya seorang pengelana, tak pernah bikin onar
: Mengapa kau tembaki hingga terenggut ajal?

Dengan senapan masih berasap
Dengan tatapan singa menerkam
Tuan menggertak mengunci pendengaran
: Abimu teroris jahanam!

Di lapang tanah merah
berhias kamboja dan batu hitam
Melepas imam dalam tidur panjang
Sang bocah mengepal geram
Meninju menembus dinding langit, minta keadilan
: Siapa teroris sejatinya?
Abiku sang imam atau kalian penguasa durjana?

Surabaya, 2010/2011


Tuhan

Ketika Tuhan tak lagi murah
Kita bisa jumpai di pinggir-pinggir jalan
Tidak harus di hotel atau lokalisasi
Tidak juga vila di gunung-gunung
Baik terang-terangan maupun terselubung
Transaksi cinta terbingkai rapi
Tanpa risih tanpa berisik
Tanpa memancing iri hati

Ketika Tuhan tak lagi murah
Kita bisa jumpai di mal atau plaza-plaza
Di tempat-tempat dugem
Juga cangkrukan tengah malam
Syahwat belanja pasti terbayar
Berapa pun harga terpasang nyaris tak tertawar

Ketika Tuhan tak lagi murah
Kita bisa lihat anak-anak muda
Banggakan idola ketimbang panutan
Tiada lagi sungkan meski telanjang
di warung kopi, di panggung hiburan
di pasar-pasar, di mana saja

Ketika Tuhan tak lagi murah
Kita bisa lihat di gedung-gedung instansi
Baik eksekutif, legislatif, juga yudikatif
Para petinggi beradu nyali
Merakit roda korupsi, merampok negeri
Tuhan yang rahman
Di mana Kau simpan pandu firman-Mu?


Sidoarjo, September 2011

Blog Archive