Blog

Blog

Saturday, December 29, 2012

Bergerak Bersama PKL


Pagi ini, Sabtu 29 Desember 2012, saya mengikuti acara pelantikan dan pengukuhan DPD Kerukunan Usahawan Kecil Menengah Indonesia (KUKMI) empat kabupaten sekaligus, yakni kabupaten Gresik, Lamongan, Tuban, dan Sidoarjo. Semula DPD KUKMI Kota Surabaya juga diagendakan dilantik dan dikukuhkan oleh Ketua DPD KUKMI Jatim, H Tamam Mubarok, yang sempat menjadi "guru" politik saya. Namun, pada H-1 ada informasi, bahwa teman-teman DPD KUKMI Kota Surabaya menyatakan belum siap mengikuti pelantikan dan pengukuhan bersama empat DPD lainnya yang dihelat di gedung Wahana Ekspresi Seni dan Olah Raga Poesponegoro, Jl Jaksa Agung Soeprapto, Gresik ini.

Dalam pelantikan dan pengukuhan DPD KUKMI masa bakti 2012 - 2017 ini, masing-masing daerah "dikawal" oleh masing-masing bupati/wakil bupati atau pejabat terkait. Bupati Gresik Sambari Halim Radianto bersama Wakil Bupati Moch. Qosim plus jajaran Muspida tampak antusias dan berkali-memberikan support agar KUKMI terus mengembangkan kontribusinya dalam mengembangkan perekonomian di Gresik. Demikian juga KUKMI Sidoarjo, Lamongan, dan Tuban, diharapkan juga mampu menopang perkembangan perekonomian di daerah masing-masing.

Gresik di penghujung tahun 2012 ini mampu mencatat pertumbuhan ekonomi luar biasa, 7,63 persen, jauh di atas rata-rata capaian nasional dan bahkan Jatim sekali pun. KUKMI, dari anggotanya yang kini menempati Pasar Baru di Jl Gubernur Suryo, mampu menyumbangkan kontribusinya ke pundi-pundi pendapatan asli daerah (PAD) sebesar Rp 640 juta per tahun. Itu baru yang terhimpun di Pasar Baru, belum termasuk yang tersebar di sejumlah sentra kuliner PKL, seperti "pasar senggol" Jl Arif Rahman Hakim, timur alun-alun, bundaran Gresik Kota Baru (GKB).

Bagi saya, hadir dan terlibat dalam perhelatan ini merupakan momentum istimewa. Sebab, acara ini sekaligus saya manfaatkan untuk “reuni” dengan teman-teman dan sahabat lama seperjuangan dalam mendampingi KUKMI yang identik dengan komunitas pedagang kaki lima (PKL). Di forum ini saya ternyata dipertemukan dengan beberapa sahabat lama yang sudah terpisah selama belasan tahun.
Ingatan saya langsung melesat ke tahun 1986, ketika saya baru kuliah di IKIP Surabaya hingga 1990-an. Betapa waktu itu PKL selalu jadi objek kejar-kejaran oleh aparat Satpol Pamong Praja (Satpol PP). Para pelaku usaha kelas PKL yang di antaranya berjualan aneka baju, kaos, dawet, rokok, krupuk upil, nasi pecel, nasi krawu, tahu campur, tahu tek, dan aneka menu lainnya, juga aneka mainan anak-anak dan lain-lain dianggap sebagai sampah dan bikin semrawut wajah kota. Karena itu, keberadaan mereka selalu dikejar-kejar dan diusir, karena biasanya mereka memang menempati lahan yang peruntukannya bukan untuk berjualan bagi PKL. Sebagian besar PKL kota Gresik waktu itu menempati sebagian lahan di terminal Sentolang (Sidomoro). Meski mereka hanya berjualan pada sore hingga malam hari, Pemkab Gresik tampaknya tidak rela dan memaksa para PKL harus hengkang dari lokasi terminal penghubung Surabaya dan Lamongan atau kawasan pantura itu.

Negosiasi antara PKL yang diwadahi KUKMI dan bupati, waktu itu dijabat Kol (L) Amiseno, terus dilakukan meski tak jarang diwarnai ketegangan, karena adanya perbedaan kepentingan. Pemkab menginginkan wajah dan suasana perkotaan tampak bersih-rapi. DI sisi lain, para PKL ingin mengais rezeki yang hanya bisa mereka lakukan dengan berjualan. Maklum, bagi PKL, berjualan adalah nafas mereka. Dengan demikian, sehari saja dilarang berjualan, akan berdampak serius bagi kelangsungan hidup keluarga mereka.

Beberapa bulan setelah negosiasi, akhirnya Pemkab Gresik  "bermurah hati" dengan memberikan alternatif berjualan, yakni di Jl Arif Rahman Hakim sisi timur, tepat di depan SMAN 1 dan SMPN 3 Gresik. Inilah cikal bakal sentra PKL di jalan tersebut yang kemudian lebih dikenal dengan sebutan pasar senggol. Mengapa pasar senggol?

Ketika direlokasi dari area terminal Sentolang ke Jl Arif Rahman Hakim (berjarak sekitar 600 meter), ternyata jumlah PKL terus membludak, mencapai ratusan, sehingga badan jalan penuh sesak oleh arus manusia. Tak jarang, jika berpapasan, para pengujung kerap saling bersenggolan, baik bahu, (maaf) pantat, atau bagian tubuh lainnya. Ini terjadi akibat saking ramainya pengunjung. Para PKL merasa senang menggelar dagangan mereka di lokasi terbuka (di sepanjang jalan) karena arus pengunjung cukup padat dan dagangan mereka rata-rata laris manis.

Masa keemasan PKL setelah meninggalkan area terminal Sentolang dan menempati Jl Arif Rahman Hakim ternyata tak berumur panjang. Masalah baru kemudian muncul, yakni protes sebagian warga kota, karena para PKL berada di jalan, tepat di depan dua sekolah, yakni SMAN 1 dan SMPN 3 Gresik. Warga mengeluh karena aktivitas sekolah yang terkadang berlangsung hingga sore, jadi tidak nyaman dan sumpek oleh ramainya pasar senggol tersebut. KUKMI yang waktu itu mulai bersinergi dengan Pemkab putar otak. Akhirnya dipilihlah lokasi, tetap di Jl Arif Rahman Hakim, tetapi sedikit bergeser ke barat, mulai ujung barat hotel Saptanawa hingga simpang tiga dengan Jl Proklamasi. Panjangnya area yang diplot sekitar 800 meter.

Di lokasi ini, PKL tidak lagi menempati badan jalan, tetapi di pinggir jalan, hingga berimpitan (hanya 1 meter) dengan rel kereta api yang biasa dipakai untuk mengangkut pupuk dari pabrik Petrokimia Gresik. Ketegangan kembali muncul. Kali ini bukan dengan Pemkab Gresik, tetapi dengan manajemen PT Semen Gresik dan PT Petrokimia Gresik. Kedua BUMN itu merupakan pemilik lahan yang dipergunakan para PKL anggota KUKMI. Singkat cerita, para PKL tetap diperbolehkan berjualan di lahan itu dengan mendapat back up dari Pemkab Gresik. Hingga kini sentra PKL dengan dagangan mayoritas aneka menu makanan/minuman tetap eksis dan menjadi andalan sebagai sentra kuliner di Gresik.

Kini, bersama sahabat-sahabat lama saya, seperti mas Nurhamim, ketua DPD KUKMI Gresik yang juga wakil ketua DPRD setempat, mas Suwono yang pengusaha, mas Parman yang mengomandani koperasi dengan omzet miliaran rupiah, beberapa sahabat lainnya, dan tentu saja para PKL yang makin eksis berwira usaha. Inilah era baru, tantangan baru dalam mengambangkan peran serta masyarakat lapis bawah untuk berkontribusi terhadap  pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan usaha dan kerja baru.


Gresik, 29 Desember 2012

Friday, December 21, 2012

Cinta Sepanjang Zaman



Gerimis sepanjang pagi ini
Tak menyurutkan langkahku
Menjumputi rindu
:padamu
Mengais luberan kasih sayang
yang tak pernah surut
Berserakan pada ladang cinta
:tak berbatas


Satu yang kumau
Biarkan kukayuh langkah
Terayun tangan dan angan membara
Sampai benar kujumpa dalam damai
Kugenggang hati dan cintamu



Surabaya: Jumat, 21 Desember 2012

Tuesday, December 18, 2012

Nasi Geghog vs Nasi Karak



Dari rumah, Rabu (12/12) kemarin saya memang berniat nyambangi gelar kuliner yang dihelat adik-adik mahasiswa Prodi Tata Boga, PKK di kampus Unesa Ketintang. Karena itu, selepas salat Dhuha di masjid kompleks Marinir Gunungsari, saya kulo nuwun via BBM (BlackBerry Massenger) kepada yang mbaurekso jurusan PKK, sahabat saya. Sorela.

Saya dan teman-teman alumni Unesa biasa akrab dengan sapaan Sorela untuk Prof Dr Luthfiyah Nurlaela, MPd, Ketua Pendidikan Profesi Guru (PPG) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) ini. Saya juga japri beberapa teman yang ketika saya pantau di grup milis Ganesis (milis untuk keluarga besar Unesa) sehari sebelumnya yang  berencana berkunjung ke even yang dihajatkan mengajari mahasiswa berwira usaha.

Banyak menu yang disajikan dalam pameran kuliner ini. Di antaranya, nasi boranan (khas Lamongan), nasi krawu (khas Gresik), nasi goreng khas Kota Batu, nasi jagung, bakso bakar, dawet khas Pleret, es siwalan, rujak cingur, nasi pecel Madiun, dan sejumlah menu khas dari beberapa daerah lainnya.

Kali pertama saya bertemu Mas Eko Prasetyo setelah beberapa saat menyantap sebungkus ketan intip dan es dawet karya adik-adik mahasiswa. Tanpa babibu, adik kelas saya di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia (JBSI) Unesa ini langsung menyeret saya ke deretan stan pameran yang menempati selasar/lorong gedung jurusan PKK itu. Begitu sampai deretan stan yang berjarak (yang terdekat) hanya 2 m itu, mas Eko langsung "nembak saya" dengan ucapan, "Mas Hartoko, izinkan kali ini saya mentraktir Njenengan. Mau apa saja silakan, monggo."

Ya, hari-hari ini Mas Eko yang sehari-hari sebagai editor bahasa di koran Jawa Pos dan superaktif menulis ini memang tengah menuai kebahagiaan, krn barusan berulang tahun (ber-Ultah). Dengan pertimbangan ikut mangayubagyo Ultah-nya, saya manut saja. Pilihan saya akhirnya jatuh pada penganan khas Gresik, nasi krawu dan es siwalan (bukan sialan, hehehe). Sementara Mas Eko mantab mengambil nasi geghog.

Nasi geghog mirip nasi kucing di Yogyakarta. Dengan dibungkus daun pisang, porsi nasi geghog cukup mini. Sekitar tujuh kali suapan saja habis. Nasi ini diberi nama geghog karena bisa bikin perut mengghag-mengghog alias melilit karena tekstur pedasnya. Ya, dengan lauk hanya ikan teri, nasi geghog menawarkan sensasi pedas luar biasa. Dari seorang mahasiswi yang menjaga stan diperoleh informasi, bahwa cabe untuk bumbunya memang diperbanyak. Tak ayal, meski hanya porsi kecil, cukup bisa bikin lidah kepluntir karena saking pedasnya, kenyang dan mengghag-mengghog.

Iklan Menyesatkan
Bukan karena saya kebetulan arek Gresik sehingga harus memilh makanan khas kota pudak ini. Tetapi, itu lebih sebagai pelampiasan "kekecewaan" saya akan market guide yg "menyesatkan" yang sehari sebelumnya di-posting di milis Ganesis.
Maka, protes keras pun langsung saya tembakkan ke Sorela begitu ketemu di arena itu, ketika jemari kami belum lepas, masih erat bersalaman. Sorela sendiri mengaku sudah memperkirakan bakal mendapat serbuan protes terkait “iklan” nasi karak tersebut. Namun profesor asli Tuban ini segera menimpali, bahwa itu bagian dari gimik pemasaran. Hmmm...enak aja, hehehe.

“Maaf …maaf, Mas Har ….” kata Sorela sembari tertawa ngakak.
Apa gerangan yang memantik kekecewaan atas “iklan menyesatkan" itu? Di milis Ganesa sehari sebelumnya di-posting dan diperbincangkan salah satu menu khas di even itu yang menarik perhatian dan minat saya, yakni sego (nasi) karak. Ketertarikan itu karena saya anggap unik juga, hare gene, di zaman modern ini,  nasi karak masih ditransaksikan secara umum, di kalangan terpelajar lagi.

Bayangan saya langsung melesat ke masa kecil, sebelum atau saat berada di sawah. Nenek dan ibu saya dulu kerap bikin nasi karak sebagai sarapan sebelum ke sawah. Nasi karak berbahan baku nasi sisa atau bahkan tak jarang sudah basi. Nasi sisa itu dijemur sampai kering nglinthing. Setelah kering, dibersihkan (dipususi, Jawa), baru ditanak (didang).

Saat matang, sekilas  memang kelihatan seperti nasi biasa pada umumnya. Hanya saja,  warnanya agak mangkak dan lebih kemrotok. Nasi karak yang sudah matang itu lalu dicampur dengan parutan kelapa dan garam secukupnya. Menu "spesial" ini pun siap dihidangkan untuk disantap. Lawuhnya bisa krupuk atau ikan asin. Itulah persepsi saya tentang nasi karak. Di milis Ganesai pun beberapa teman  mendiskripsikan nasi karak seperti itu.

Tetapi, bagaimana kondisi di arena pameran? Ketika saya tanya beberapa "pramuniaga" yang menjaga stan ihwal nasi karak, mak deg ... ternyata saya kecele campur kecewa. Saya menjumpai apa yang oleh penjualnya dilabeli nasi karak, ternyata tak ubahnya dengan nasi urap-urap dengan lauk ayam bumbu, tahu, tempe, dan sebagainya.
Memang ada yang khas pada nasi yang dikemas dalam kotak plastik/mika itu, yakni ada sedikit tambahan parutan kelapa di atasnya. Menurut adik-adik mahasiswa yang menjaga stan, menu tersebut namanya memang nasi karak, makanan khas Progolinggo.

Oalaaaa ...seje deso mowo geni, eh mowo coro, batin saya. Kasus ini memberikan pelajaran kepada kita akan pentingnya prakondisi atau orientasi pada objek sasaran sebelum melakulan atau mengeksekusi sesuatu. Saya tidak bisa membayangkan, kalau itu terjadi pada seorang pemimpin atau komandan yang tidak jelas dalam memberikan arahan atau perintah kepada anak buah atau pasukannya, pasti hasil dan dampaknya berantakan.

Setelah memesan beberapa menu (yang pasti bukan nasi karak yang dipamerkan), saya bersama Mas Eko menikmatinya di tenda lesehan yang disiapkan panitia. Kami memilih tenda kecil di bagian depan (sisi barat), tepi jalan. Sebab, tenda lesehan berukuran besar di bagian dalam sudah penuh sesak pengunjung. Lagi pula, yang makan umumnya adik-adik mahasiswa, cewek-cewek semua lagi. Sungkan kalau ikut ngruntel.

Tak seberapa setelah saya menyantap nasi krawu, Mas Abdur “Roy” Rohman datang bergabung. Pria lembut dan pintar mendesain untuk buku ini pun ikut bareng-bareng wisata kuliner setelah sebelumnya memilih menu kesukaannya. Dalam hitungan menit, kemudian dating juga sahabat saya, Moch. Khoiri, dosen bhasa Inggris di Unesa yang biasa saya sapa emcho.

Rasa kecewa saya mendadak hilang dan terobati begitu di "panggung hiburan" yang menampilkan musik elekton dan sejumlah artis dadakan yang “aduhai” saling pasang aksi. Tak terasa, kaki dan kepala saya ikut bergerak-gerak mengikuti irama musik dangdut yang mereka lantunkan.

Suasana lebih seru ketika beberapa penyanyi yang datang dari adik-adik mahasiswa pengunjung pameran terdengar sumbang/fals suaranya dalam beraksi. Ada pula yang salah mengambil nada, termasuk yang gak pas masuknya (mendahului musik). Karuan sejumlah pengunjung teriak-teriak, "Mudhuuuuuun ...mudhuuuuuun ....(Turuuuuuun …turuuuun….)"

Itu isyarat agar yang sedang bernyanyi segera mengakhiri atau turun panggung.  Meski demikian, kami toh bisa gayeng menikmati suasana siang itu. Terbukti, emcho yang sebelumnya merasa penat karena beban pekerjaannya, dengan leko-nya berjoget ria di arena itu.


Ketintang: Kamis, 13 Desember 2012

Thursday, December 13, 2012

Kasmaran Berilmu Pengetahuan



Oleh IWAN PRANOTO *

Sesudah perang dan Belanda memegang kekuasaan, pengikut setia Pangeran Diponegoro yang bernama Kiai Song memilih mengasingkan diri di dekat Yogyakarta, sekarang dikenal sebagai daerah Kasongan.

Dalam bukunya Surat Malam untuk Presiden, Acep Iwan Saidi menulis tentang Kiai Song yang menetap dan mengajari para ibu cara membuat gerabah. Gerakan belajar membuat gerabah tampak sebagai gerakan produktivitas untuk bertahan hidup secara ekonomi dan politik.

Namun, sebenarnya kegiatan ini mengajarkan semangat perlawanan dan keteguhan. Masyarakat yang semula sekadar belajar membuat gerabah, meningkat menjadi belajar nilai dan sikap mulia manusia. Seperti orang kasmaran, pembuatan gerabah kemudian melibatkan rasa takjub, kesungguhan, dan gairah total. Tataran berkegiatan pembelajaran inilah yang disebut kasmaran berilmu pengetahuan.

Semula produknya benda mati, kemudian menjadi pengembangan diri dengan pencerahan pada nilai-nilai luhur manusia. Membuat gerabah menjadi kegiatan yang mulia.
 

Membuat kurikulum
Bagaimana mereplikasikan gerakan kebudayaan Kiai Song pada persekolahan saat ini? Bagaimana bentuk kurikulumnya?

Di sini terletak pentingnya memahami, bahwa dalam pendidikan ada tiga jenis kurikulum dengan tiga tataran berbeda: written, taught, dan learned curriculum. Terjemahannya: kurikulum tertulis, kurikulum yang diajarkan guru, dan kurikulum yang dipelajari siswa.

Dalam kasus Kiai Song, justru yang paling menentukan pengembangan nilai-nilai luhur dan sikap mulia kemanusiaan, terletak pada dua hal terakhir, yakni kurikulum yang diajarkan dan kurikulum yang dipelajari. Sayang, justru di dua tataran itu pendidikan kita bermasalah.

Kurikulum tertulis adalah hal paling kecil dan sederhana. Maka, membenahi benda mati seperti dokumen kurikulum tertulis itu adalah bagian paling mudah dalam kebijakan pendidikan. Memang kurikulum nasional dan juga dokumen standar sekarang tidak sempurna. Namun, ketidaksempurnaan ini bukan satu-satunya sumber masalah. Permasalahan persekolahan kita adalah kegagalan mengangkat kegiatan belajar menulis menjadi menulis untuk belajar (berpikir). Dari learning to write menjadi writing to learn (and think).

Menulis untuk belajar adalah tanda kasmaran berbahasa. Hal yang sama terjadi pada hampir semua mata pelajaran. Dalam Matematika terjadi kegagalan mengangkat kegiatan belajar berhitung menjadi berhitung untuk belajar sebagai tanda kasmaran bermatematika.

Analoginya dalam cerita Kiai Song ialah pendidikan saat ini gagal karena masih berkutat di jenjang belajar membuat gerabah. Persekolahan gagal mengangkat kegiatan membuat gerabah untuk belajar nilai dan sikap-sikap luhur manusia.

Para peserta didik sekarang umumnya belum di jenjang kasmaran berilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan baru sekadar objek yang dipelajari, terlepas dari diri pembelajar. Siswa yang berfisika belum takjub dan kasmaran terhadap rumus F>ma. Kebanyakan siswa belum mencapai jenjang kasmaran terhadap rumus sederhana yang memodelkan pena jatuh sampai pergerakan benda di angkasa itu.

Kebanyakan siswa belum kasmaran terhadap rumus Bernoulli yang memungkinkan sayap sederhana berpenampang gemuk di tengah dapat mengangkat pesawat dengan beban berton-ton. Ilmu pengetahuan masih sekadar dikumpulkan, disimpan, dan ditumpahkan lagi saat ujian. Belum mengubah jati diri pembelajar dalam berperilaku dan berpikir.

Betul, bahwa semua harus mulai belajar menulis dulu sebelum dapat menulis untuk belajar. Harus dapat membuat gerabah dulu sebelum dapat memahami pembuatan gerabah untuk belajar sikap dan nilai-nilai luhur. Para pengikut Kiai Song harus cakap membuat celengan dulu sebelum memaknai nilai ”menahan hasrat” dari sebuah celengan.

Maka kurikulum yang baik harus merumuskan sebuah rekacipta tahapan pembelajaran yang terstruktur jelas guna memungkinkan siswa berkembang: dari proses menyerap pengetahuan dan keterampilan hingga mengembangkan keterampilan berpikir tingkat tinggi dan memekarkan sikap serta nilai-nilai luhur kemanusiaan.
 

Relevan zaman
Oleh karena itu, para siswa yang memelajari mata pelajaran berdasarkan kurikulum baru harus berproses menjadi memahami mata pelajaran itu untuk mengembangkan keterampilan yang relevan dengan zaman sekarang. Misalnya mampu berpikir kritis dan merumuskan pertanyaan ataupun menyampaikan argumen secara runtun, tertata, dan meyakinkan orang lain.

Peserta didik juga perlu mengembangkan sikap-sikap universal, seperti gigih, berpikir luwes, dan menghargai hak orang lain untuk berbeda pendapat. Inilah jenjang kasmaran berilmu pengetahuan yang harus direkacipta dalam kurikulum baru.

Pernyataan Wakil Presiden Boediono tentang Empat Pilar Kebangsaan (Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika) yang akan masuk kurikulum mendatang tentu sangat tepat. Hanya saja, permasalahannya kembali pada kurikulum yang diajarkan dan kurikulum yang dipelajari, bukan pada kurikulum tertulis.

Memasukkan atau menuliskan Empat Pilar Kebangsaan dalam dokumen kurikulum itu mudah, tetapi tidak akan serta-merta gagasan itu subur bermekaran di sanubari anak didik. Belajar matematika dan sains jika dilaksanakan seperti pada kebanyakan persekolahan sekarang, mustahil akan sampai pada tataran kasmaran berilmu pengetahuan. Hampir mustahil pula dengan sistem persekolahan sekarang para siswa sanggup berkontemplasi dan menghayati Empat Pilar Kebangsaan itu.

Di sini pentingnya peran guru. Keadaan anak didik yang sampai tataran kasmaran berilmu pengetahuan hanya mungkin terwujud jika gurunya sudah mengalami kasmaran berilmu pengetahuan. Tak mungkin guru dapat menularkan kecintaan pada kegiatan bernalar jika dirinya belum piawai bernalar serta belum menghargai proses bernalar.

Upaya membenahi dokumen kurikulum tanpa dibarengi pembenahan pendidikan keguruan (pre-service) dan program pengembangan profesi guru (in-service), akan sia-sia memperbaiki pendidikan. Upaya merampingkan kurikulum untuk meningkatkan kedalaman proses belajar siswa, belum tentu mencapai tujuan jika taught and learned curriculum tidak berubah.

Yang tak kalah penting ialah dua kurikulum terselubung lain. Yang pertama buku. Kenyataannya, dokumen kurikulum lebih sedikit dibaca dibanding buku. Banyak guru mengajar mengikuti buku semata. Perilaku tidak ideal ini dapat dibenahi melalui pembuatan buku yang baik.

Buku pelajaran tak perlu tebal, tetapi harus dirancang agar memicu siswa kasmaran berilmu pengetahuan. Paradigma pada kehidupan sekarang bukan tahu banyak, melainkan berhasrat belajar. Penguasaan kumpulan fakta dan prosedur memang masih dibutuhkan, tetapi buku harus fokus pada pengetahuan esensial saja.

Kurikulum terselubung lainnya ialah Ujian Nasional (UN). Kurikulum sebaik apa pun jika kelulusannya masih dipengaruhi oleh UN seperti sekarang, anak didik akan tetap belajar untuk ujian. Kurikulum tinggal kurikulum karena guru dan bahkan birokrasi pendidikan diukur performanya berdasarkan nilai UN.

Bukankah sudah jamak program kurikulum SMP dan SMA yang seharusnya enam semester, diajarkan hanya dalam lima semester atau kurang. Sisanya khusus untuk menghafal rumus cepat dan latihan soal UN. Pelanggaran kolektif seperti ini dibarengi rendahnya mutu soal UN akan merusak itikad baik yang mendasari perancangan kurikulum baru. Maka, berbarengan dengan kurikulum baru, harus ada reposisi menyeluruh terhadap fungsi UN sebagai pemetaan dan diagnostik semata.

Satu catatan akhir yang juga sangat penting adalah penyerasian kembali ilmu pengetahuan alam dan ilmu kemanusiaan. Pemisahan satu disiplin dengan disiplin lain sungguh tak sesuai.

Kebijakan penjurusan IPA- IPS-Bahasa di SMA harus ditinjau ulang. Kehidupan modern ini membutuhkan lintas disiplin. Selain itu, pendewaan IPA yang berlebihan seperti sekarang juga sangat merugikan upaya pengembangan ilmu pengetahuan dan pembangunan nasional.

Semua disiplin dalam ilmu pengetahuan, teknologi, rekayasa, seni, dan matematika perlu dikembangkan bersamaan. Semua disiplin butuh siswa-siswa terbaik untuk mengembangkannya.

Jika hal-hal di atas diperhatikan, bukan mustahil dalam 12 tahun mendatang tiap pelajar di Republik Indonesia berhasrat mengembangkan sikap dan nilai-nilai luhur kemanusiaan serta kasmaran berilmu pengetahuan.
 

*) Iwan Pranoto, Guru Besar ITB       


Blog Archive