Blog

Blog

Wednesday, September 28, 2011

Fobia Sihir Ekonomi


Oleh RHENALD KASALI

Sejak Thomas Friedman menulis buku The World Is Flat (2005), banyak orang yang percaya, bahwa bumi tempat kita berpijak pada abad ke-21 ini telah benar-benar berubah menjadi datar.

Teknologi telah mengubah dunia ke dalam suatu keserempakan dan saling mengisi karena semua orang sudah terhubung. ”Meaning” yang digelontorkan oleh Friedman sejak 2005 itu menimbulkan impact yang sangat kuat di kalangan banyak ekonom dunia. Sebab, bila benar dunia ini telah berubah menjadi datar, dampak resesi global akan sungguh menyakitkan.

Dugaan itu ternyata keliru. Bumi ternyata belum menjadi datar. Seperti kata Columbus, bumi ini masih bulat dan bentuknya masih seperti telur, belum berubah menjadi dadar atau omelet. Matahari yang bersinar di satu titik ternyata tak dinikmati merata all a sudden seperti ramalan Friedman. Krisis menakutkan yang menimpa Amerika Serikat sejak tahun lalu ternyata tak menimbulkan krisis di Asia. Di sana gelap, di sini terang. Ketika Amerika Serikat menikmati summer Juni ini, Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan justru mendekap kedinginan.

Fobia Flatter
Fobia terhadap gejala flatter dengan cepat ditangkap di seluruh dunia. Namun, saat fobia itu menyerang kita, saya sempat mengingatkan bahwa mungkin kita telah salah berfobia. Hal tersebut saya tuangkan dalam buku Marketing in Crisis yang terbit dua tahun lalu. Ternyata, kita benar, fobia flatter itu berlebihan. Yang benar masihlah Columbus. Bumi ini masih bulat, kok. Kita di Asia justru menikmati pertumbuhan ekonomi yang bagus, yang impaknya dirasakan saat liburan ini, ketika orang-orang yang beruntung menikmati hari libur dengan menguasai seat pesawat besar-besaran.

Yang menikmati pertumbuhan itu orang Indonesia, India, Tiongkok, dan Brazil. Orang-orang yang biasanya hanya berlibur ke Bali kini pergi ke Singapura dan Hongkong. Sedangkan yang tahun lalu ke Hongkong kini terbang ke Eropa dan Amerika Serikat.

Bahkan, ketika fobia tersebut melanda IMF, tak banyak orang Eropa yang sadar bahwa mereka tengah terkena sihir kematian. Dalam sihir itu, di-believe-kan (ditanamkan kepercayaan) setelah Yunani, krisis akan merambat ke Portugal, Spanyol, Italia, terus ke negara-negara industri di Eropa Barat. Maka, ketika ratusan ribu penduduk Yunani turun ke jalan, mengamuk kepada pemerintahnya, beberapa hari ini seperti saat bank-bank kita ditutup IMF dalam krisis 1998, media global memberitakan bahwa Eropa ketakutan.

Dana 20 miliar euro yang digelontorkan untuk menyelamatkan Yunani disambut dingin, bukan sebuah sukacita. Padahal, fobia masal ekonomi seperti itu hanyalah sebuah sihir, yang kata Profesor Richard Wiseman diciptakan oleh orang-orang ”pintar” agar dipercaya.

Mereka, lanjut Wiseman, hanyalah memiliki ability to make something from nothing, yang daya kekuatannya menjadikan seseorang seperti paranormal atau cenayang yang gagah serta seakan-akan serbabenar dan mampu berbicara dengan arwah atau meramalkan kebenaran. Sebuah kebenaran yang hanya akan menjadi benar kalau manusia mempercayainya. Juga celakanya, perhatikanlah, hampir semua paranormal hebat punya kekuatan sihir untuk membuat sebagian besar orang yang diajak bicara percaya kepadanya.

Nah, di Eropa, orang-orang Jerman yang sejak dulu tangannya gatal bekerja tak mempedulikan ramalan-ramalan itu. Maka, keajaiban pun terjadi di Jerman. Krisis yang diramalkan oleh IMF tak menjadi kenyataan. Jerman diam-diam menjadi runner-up eksporter dunia setelah Tiongkok.

Pendapatan ekspor Jerman memberikan kontribusi dua pertiga dari perekonomiannya. Itu semua dipicu leadership Konselor Gerhard Schroder yang berkuasa singkat pada 1998-2005, yang bersedia tidak populer, bahkan hingga tak dipilih lagi oleh rakyatnya karena memperjuangkan masa depan negara.

Dia memotong upah dengan mengurangi jam kerja demi menyelamatkan ekonomi, tapi memberikan jaminan kepada penganggur. Akibatnya, ekonomi membaik dan diam-diam Jerman menguasai dua sektor, yaitu permesinan UMKM yang teknologinya tidak mudah ditiru pesaing lain (ini berbeda dengan metode Tiongkok dalam memasuki pasar dunia) serta branded economy dalam otomotif dan elektronik.

Bagaimana Indonesia? Apakah kemajuan ekonomi kita dipicu strategi yang kuat, kepemimpinan yang tidak populis dan rela memperjuangkan jangka panjang, menurunkan pendapatan tetapi meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan, atau jangan-jangan hanya kebawa arus Tiongkok dan India?

Kekuatan Sihir
Tak banyak pemimpin yang menyadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang mudah percaya terhadap kekuatan sihir. Tengok saja kiri kanan, satu orang latah, esoknya puluhan orang ikut-ikutan latah. Sama dengan fenomena kesurupan masal atau hipnotisme. Kita semua mudah sekali terseret gelombang antrean panjang, masuk ke pusaran yang ternyata terbawa arus besar.

Sayang, sihir yang sedang kita alami ini adalah sihir negatif. Sihir tentang ancaman negara gagal, hutan belantara korupsi, ketidakpercayaan kepada penguasa dan keadilan, kegagalan persekolahan, terbelenggunya birokrasi, dan seterusnya. Di mana letak kepemimpinan?

Bangsa yang mudah kena sihir dapat diduga sebagai bangsa yang kurang produktif. Secara dia bekerja, matanya lirak-lirik, tidak terfokus pada pekerjaan. Jalan tol bisa macet total hanya gara-gara ada mobil yang berhenti dan penumpangnya perempuan cantik. Semua mata berhenti hanya untuk melihat. Banyak energi habis untuk urusan yang tidak penting, tapi cukup menghibur.

Kita memerlukan pemimpin yang kuat, yang bisa memberikan meaning baru dalam mengantar kita ke masa depan. Pemimpin yang saya maksud harus ada di segala lini. Dia memberikan hope, menyalakan lilin dalam terowongan nan gelap ini bahwa bumi ini masih bulat, bumi ini masih berbentuk telur, dan telurnya belum berubah menjadi omelet. (*)


*) Rhenald Kasali, Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi UI

http://padangekspres.co.id/img/sot.gifSumber: Padang Ekspres • Senin, 04/07/2011 11:13 WIB •

No comments:

Post a Comment

Blog Archive