Blog

Blog

Saturday, May 14, 2011

Prime Time

Oleh MASSHUTO


Langit begitu kusam malam ini. Hujan seharian dan gerimis yang susul-menyusul tak juga menyusutkan ketebalan mendung. Kelam. Purnama yang harusnya membuat benderang alam terbuka juga tampak muram. Bintang pun tiada berpendar dan praktis tak terlihat oleh mata telanjang. Sunyi.

Siluet pepohonan terlukis di sana-sini, bergerak mengikuti perintah angin. Gesekan daun pisang di permukaan genting di sisi timur rumah tua itu saling beradu, berebut perhatian dengan berisiknya rumpun bambu. Sesekali kilat menyambar wajah perempuan ini, mengabadikan detil garis-garis di wajahnya, menandai usianya yang telah melampaui setengah abad.

Di teras rumahnya, perempuan dengan rambut hampir sebahu ini menunggu datangnya prime time, waktu yang selalu ia nikmati bersama laki-laki pujaannya, Bagus Prakoso. Hampir tiap hari ia menghabiskan prime time bersama Bagus.

Secapek apa pun setelah rutinitas urusan kantor bank tempatnya bekerja, selelah apa pun setelah leladen suami dan mengantar anak-anaknya tidur, ia sempatkan menikmati waktu spesial ini bersama Bagus. Bahkan, sedetik pun hati dan jiwanya tak bisa lepas dari kehadiran Bagus.
*****

23.55. Penunjuk waktu digital begitu jelas terlihat di monitor BlackBerry (BB) perempuan ini. Atiek, begitu ia biasa disapa. Namanya cukup keren untuk ukuran warga di kampungnya, Atiek Trisnaningsuci. Anak mantan camat yang sejak kecil suka dengan dunia laki-laki. Tak heran, di kampungnya ia juga kerap dijuluki si tomboy.

Di masa kanak-kanaknya, ia tak asing dengan main perang-perangan, mainan khas anak laki-laki. Atiek kecil juga suka manjat pohon mangga tetangganya. Bersama teman laki-lakinya, ia juga suka membawa ketepil, berburu burung emprit, derkuku, kutilang, prenjak, dan burung apa saja yang mereka lihat di pepohonan. Bahkan, di masa kecilnya ia juga suka sepak bola. Sejak kelas 2 SD, ia ikut bela diri silat hingga menyandang sabuk hitam.

Dua ibu jari mungilnya tak henti-hentinya membuka file-file berisi petualangan cintanya bersama Bagus, pria yang tiga puluh tahun menghilang dan baru ia temukan empat bulan lalu. Ia temukan pria itu setelah perburuan panjang, melelahkan dan hampir putus asa. Berbagai cara telah dilakukan sebelum akhirnya menemukan laki-laki itu via jejaring sosial, face book.

Dari pertemuan di dunia maya inilah, perjalanan cinta yang begitu lama terkubur, kembali terajut. Gumpalan kerinduan yang menumpuk puluhan tahun pun mereka cairkan. Keduanya merenda kembali kisah yang berserakan dan menyatukannya dalam jalinan cinta suci yang tak lagi membutuhkan sekat ruang dan waktu.

Curahan perasaan, berbagai ekspresi cinta lama yang bersemi ia buka lagi. Rangkaian kata baik lewat SMS, email, juga chatting via face book dan yahoo massenger, kiriman gambar via MMS yang telah ia copy dan simpan, juga dialog di BBM-nya, ia baca dan pelototi dengan detil, satu per satu. Termasuk sejumlah puisi kiriman Bagus, tak pernah lepas dari perhatiannya. Atiek memang serasa kembali ke masa lalunya.

Tiga puluh tahun silam. Pria bertubuh atletis ini memikat hatinya di sebuah desa, di pedalaman berhutan, saat sama-sama mengikuti program pengabdian masyarakat dari kampusnya. Dan, inilah puisi kiriman Bagus yang merefleksikan perjalanan panjang cinta mereka.


PESONA

Sejenak kusandarkan dirimu
dalam mangkuk cintaku
Penghapus dahaga ketika hati merindu
Penebar pesona ketika rasa terbuai
oleh harum aroma dan kelembutan kasihmu

Adalah aku yang selalu merindukanmu
dalam setiap detak jantung
dalam setiap hembusan nafas
Ketika bersama dalam pergulatan pengabdian

Dekil lumpur dan daun jati pembungkus sarapan kita
adalah saksi yang mengiringi perjalanan
Juga tarian anak desa yang selalu ceria
Meski tak pernah juga bersama
Meski tak juga pernah menyatu
dalam titik perjumpaan
dalam persimpangan tak berkesudahan
Di situlah rasa terhadang
Oleh karang ego yang tiada juga bersurut

Dalam pengembaraan tak berjejak
Kembali kutemukan rasa yang lama terpendam
Lepas menerjang segala arah
Terbang menembus cakrawala tak berbatas
Tebar pesonamu, genggam cinta itu
Dalam bingkai keabadian
Sampai datang waktu yang kita tunggu

*****

Bait-bait puisi itu memang rekaman perjalanan cintanya bersama Bagus. Seperti biasa, pria berkulit kecoklatan ini memang selalu merekam tiap episode perjalanan cintanya dalam bait-bait puisi. Ini yang membuat Atiek tak pernah merasa sepi.

Atiek kini tak merasa pernah kehilangan Bagus meski secara resmi ia telah bersuamikan pria lain dan telah dikaruniai tiga anak. Dan, Bagus tak pernah mempermasalahkannya. Bahkan, keduanya telah mengikat komitmen, cinta suci mereka terjalin dalam ikatan tanpa ada yang tersakiti, baik keluarga Atiek maupun keluarga Bagus.

“Biarlah fisikmu milik orang lain. Tapi hati dan jiwamu tetap milikku. Akan aku bawa cinta ini sampai waktu memanggilku,” kata Bagus suatu ketika.

Betapa kuatnya cinta Bagus kepada Atiek juga tergambar jelas dalam puisi pendeknya. Ia ingin menjalin cinta suci itu tidak saja di dunia ini. Tetapi, Bagus ingin perjalanan cintanya bersama Atiek benar-benar abadi dan berlanjut hingga ke taman surga.


RUMAH SUNYI

Kalau sampai giliranku
Kumerindu persinggahan,
bersama senyum-mu

Dalam lapang rumah sunyi
tanpa duri
Dalam lapang rumah sunyi
bertabur bidadari


Lakon cinta yang ia perankan bersama Bagus benar-benar telah menjadikannya sebagai perempuan paripurna. Itu yang tak pernah ia rasakan sebelum bertemu kembali dengan Bagus. Bersama Bagus ia telah menabur bibit dalam ladang cinta yang terus dan terus tumbuh sampai batas yang tak berkesudahan.

“Sudahlah, Tiek. Ini terlalu larut malam. Kamu mesti tidur. Pria pujaanmu itu nggak mungkin datang,” sebuah tepukan di pundak membuyarkan konsentrasinya.



Namun, matanya tak mau beringsut dari layar monitor BB-nya yang sudah ia set ke silent mode dan hanya bergetar jika ada SMS masuk. Atiek yakin tak lama lagi Bagus mengetuk pintu hatinya lewat SMS. Dan, di situlah bukan hanya HP-nya yang bergetar, tapi juga hati dan jantungnya. Pria pujaannya itu pasti datang. Ia yakin itu.

Ini hampir masuk prime time, pikir Atiek. Bersama kekasihnya itu, perempuan yang sehari-hari bekerja di bank pemerintah, menyepakati prime time mereka adalah pukul 24.00 hingga 01.00. Ya, satu jam saja. Cukup baginya untuk menumpahkan segala rasa, seperti ketika cinta pertamanya tertambat di hati Bagus lebih dari tiga puluh tahun silam.

Atiek terus mengembara. Peringatan dan teguran kembarannya, Aniek Trisnaningsuci tak digubrisnya. Sejak berpisah tiga puluh tahun dan bertemu lagi di dunia maya, Atiek dan Bagus memang pengidap Platonic. Keduanya bisa menikmati indahnya cinta dan jalinan kasih sayang meski tanpa kehadiran dan sentuhan fisik. Bahkan keduanya tak membutuhkan ruang dan waktu untuk mengekspresikan dan mengabadikan cinta mereka.

Semula Atiek merasa apa yang ia lakoni bersama Bagus adalah perilaku aneh, menyimpang, dan gila. Namun, lambat laun perasaan itu terkikis dan justru menjadikannya lebih hidup. Dan, ia kini terbiasa hidup di dua dunia. Satu dunia untuk suami dan anak-anaknya. Satu dunia lainnya untuk pria yang dicintainya, Bagus.

Kepada psikolog Eduard Simatupang yang juga sahabatnya, Atiek juga pernah berkonsultasi. Ia menanyakan perihal tersambungnya jalinan cinta bersama Bagus --meski tanpa pernah bertemu fisik-- itu sebagai kelainan jiwa atau normal-normal saja? Psikolog yang suka humor ini pun menggaransi, bahwa apa yang dilakukan Atiek dan Bagus bukan termasuk penyimpangan atau kelainan jiwa.

Entahlah, Atiek memang merasakan kedamaian ketika berkomunikasi dengan Bagus, meski hanya via telepon atau sekadar SMS. Sebaliknya, ia mengalami kegelisahan luar biasa jika sehari saja tidak kontak lewat telepon selulernya. Ini juga yang sempat ia konsultasikan ke Eduard dan sekali lagi sahabatnya itu mengatakan, bahwa perilaku itu bukan anomali kejiwaan.

Atiek juga menyempatkan diri membaca tiga jilid Psycho-Analytic-nya Carl Gustav Jung. Murid Sigmud Freud ini memang banyak mengupas psikologi kepribadian. Diharapkan, dari buku itu Atiek memperoleh masukan yang mampu mengungkap tuntas misteri dalam dirinya seputar perjalanan cintanya bersama Bagus.

Kepada guru ngajinya, Ustad Hadi, ia juga sering mendiskusikan apa yang dijalaninya. Namun, sang Ustad tak juga bisa memberikan jawaban tegas. Sebab, apa yang dialami Atiek bersama Bagus tidak ia temukan dalam kajian fiqih yang memberikan batas jelas masuk kategori haram, halal, atau mubah. Namun, ketika ngaji soal perilaku hati dan problematikanya dengan referensi kitab-kitab tasawuf Imam Al Ghozali, Atiek tertunduk. Diam dan sunyi. Namun, pikirannya melesat mencari jawaban.

Dalam perjalanannya, Atiek enjoy saja merajut kembali cintanya bersama Bagus meski laki-laki ini kini tinggal jauh di seberang, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Bagus membuka usaha transportasi dan mengelola yayasan yang menaungi beberapa sekolah jenjang TK hingga SLTA.

Sejak lulus dari perguruan tinggi tempatnya menuntut ilmu, Atiek praktis tak pernah bertemu Bagus. Atiek memutuskan pulang kampung dan berkaier di perbankan. Sementara Bagus ketika lulus kuliah mengajar di salah satu SMA di Banyuwangi, Jawa Timur.

Keduanya hanya sempat bertemu sekali di rumah Atiek. Namun, sejak pertemuan sore itu, Bagus seperti ditelan bumi. Hilang tak berjejak. Atiek mencoba melacak keberadaan Bagus di Banyuwangi, namun nihil. Bagus memang tak lagi mengajar setelah tiga tahun mengabdi dan akhirnya mengundurkan diri sebagai PNS.

Atiek juga sempat berburu ke sejumlah kota dan bertanya ke teman-temannya semasa kuliah. Namun, jejak Bagus yang semasa kuliah aktif di Himapala juga tak ditemukan. Sejak itulah cinta Atiek-Bagus benar-benar terkubur, sedalam-dalamnya.

“Tiek! Kamu nggak ngliat itu jam di HP-mu? Ini sudah hampir jam 12 malam. Kamu besok mesti bangun jam setengah empat kan? Kamu mesti masak, merawat ketiga anakmu, memberi mereka makan sebelum berangkat sekolah. Kamu juga mesti menyiapkan sarapan suamimu sebelum berangkat kerja,” suara perempuan di belakangnya makin keras dan setengah membentak.

Aniek yang kembaran Atiek memang selalu begitu. Ia tampak cerewet ketika Atiek dinilai melakukan tindakan nggak bener. Aniek tidak mau Atiek habis staminanya karena kurang istirahat. Aniek tahu betul kekuatan fisik Atiek. Jejak rekam medis atas perjalanan kesehatan, bahkan apa yang tersimpan di hati Atiek, ia mengetahui dan merasakannya. Sebab, Atiek adalah dirinya sendiri.

Karena itu, ia tidak mau kembarannya itu kehabisan stamina lalu jatuh sakit, pingsan seperti beberapa kali terjadi. Aniek tidak mau Atiek masuk rumah sakit lagi, karena ia merasa betapa sengsaranya ia mengurus kembarannya itu jika sudah masuk dan dirawat di rumah sakit, meski keluhannya cuma pusing. Fisik Atiek cukup rentan jika sudah terserang kepalanya.

Sedikit pun Atiek tak terpengaruh suara Aniek yang makin mengeras. Matanya terus menatap layar monitor HP-nya. Ia merasa Bagus sebentar lagi datang. Ini hampir prime time. Saat yang ia tunggu-tunggu.

“Tiek, kamu benar-benar keterlaluan. Kamu tahu, apa yang kamu lakukan ini menyakiti suami dan anak-anakmu,” suara Aniek menghardik.

“Keterlaluan apa? Sedikit pun tidak ada hak mereka yang aku kurangi. Dengan suamiku, aku tetap menjadi istri yang baik. Semuanya aku lakukan dengan baik, termasuk memenuhi birahinya. Demikian juga terhadap anak-anakku. Kapan pun dan dalam situasi apa pun aku siap melayani suami dan anak-anakku sebagaimana layaknya istri sholihah. Apalagi yang kurang?” sergah Atiek tak kalah sengitnya.

Aniek merasa benar-benar jengkel sekarang. Apa yang ia harapkan agar Atiek tak lagi melakukan kebiasaan yang dinilainya sebagai perilaku tak normal itu, tak mendapat respon. Dan akhirnya, “Bug!” Sekali pukulan mendarat di perut Atiek.

Mendapat serangan fisik itu, Atiek tetap diam. Keduanya memang sering bertengkar ketika sedang memperdebatkan masalah. Bahkan, adu jotos pun tak jarang terjadi. Keduanya sama-sama memiliki kemampuan bela diri di perguruan yang sama.

Mata Atiek memandang tajam, tepat di bola mata Aniek. Tidak ada suara apa pun. Ia terus menatap Aniek dalam posisi berhadap-hadapan. Sedetik kemudian Atiek mundur tiga langkah. Dan, bagai elang, dua kakinya terbang. Empat tendangan beruntun tepat menghunjam di dada Aniek. Tanpa sempat melakukan perlawanan sedikit pun, Aniek roboh tak sadarkan diri.

Atiek memungut HP-nya yang terjatuh akibat pukulan Aniek di perutnya tadi. Oh, ternyata ada SMS. Benar, SMS Bagus masuk tepat di gerbang prime time, pukul 24.00. Matanya berbinar. Dada dan jantungnya gemetar. Kedua ibu jarinya memencet tombol-tombol pembuka untuk membaca pesan dari kekasihnya.

Bagus benar-benar datang. Kini sekujur tubuh Atiek gemetar hebat menyambut kedatangan kekasihnya. Prime time! Ya, prime time adalah dunia lain yang Atiek perankan bersama Bagus. Seperti biasa, mereka pun terbang menembus cakrawala tak berbatas, mengarungi samudera tak bertepi dalam bingkai cinta suci nan abadi.


Gresik, April-Mei 2011

Blog Archive