Blog

Blog

Sunday, January 23, 2011

Berguru pada Sang Elang


Elang adalah pasangan setia. Sekali kawin berlaku untuk selamanya.

Elang betina adalah ibu teladan, mengurus anak-anak mereka dengan penuh cinta. Sebelum bertelur menyiapkan sarang di bukit tinggi dan di bawahnya menganga jurang yang curam. Rangka sarangnya terdiri atas ranting yang keras dan duri tajam, lalu dilapis rumput-rumput halus. Dia juga melapis sarang dengan mencabuti bulu di dadanya agar sarang terasa enak, hangat, dan nyaman. Setelah dierami, telurnya menetas dan jadilah si anak elang yang lucu.

Si anak elang, bila lapar paruhnya akan ditengadahkan, kemudian sang ibu memasukkan makanan hasil buruan ke mulut anaknya. Si anak elang pun tumbuh jadi besar. Bila ada angin kencang berhembus, sang ibu merentang sayap, menutup sarang memberikan perlindungan.

Suatu saat si anak elang kaget, karena rangsum makanan yang biasa ia terima tiba-tiba dihentikan. Perangai sang ibu juga berubah tajam. Anak elang pun menangis karena kelaparan. "Ibu kenapa begitu?" kata si anak Elang di tengah tangisnya.

Pada kesempatan lain, si anak elang kembali kaget karena sayap sang ibu dikibas-kibaskan, sehingga rumput halus dan bulu yang biasanya sebagai penghangat tubuh, berhamburan keluar dari sarang, tinggal duri tajam menusuk badan. Mereka menangis kesakitan. "Ibu, tega nian kau?" tangis si anak elang kembali meledak.

Suatu saat, si anak elang lagi-lagi dikagetkan ketika tiba-tiba sang ibu mengusirnya dari sarang. Dengan paruh dan sayapnya yang kokoh, sang ibu mendorong anaknya hingga terpelanting keluar sarang dan jatuh melayang menuruni curamnya jurang. "Ibu, kenapa kau mau bunuh anakmu?" teriak sang anak.

Ketika hampir sampai dasar jurang, sang ibu menyambar menyelamatkan. Demikianlah berkali-kali anak elang itu didorong dan jatuh dari sarang, sampai suatu saat si anak elang itu mulai mengepakkan sayapnya dan akhirnya bisa terbang. Sang ibu dan bapak elang degan riang mengajak anaknya terbang di atas awan lalu belajar mencari binatang buruan. Barulah si anak elang sadar, bahwa orang tuanya telah mengajarkan bagaimana menghadapi kerasnya kehidupan.Ia harus bisa mandiri di belantara alam yang kejam.

Pelajaran dari "guru" elang memang layak diteladani dalam mendidik dan menyiapkan mental yang tangguh anak-anaknya. Untuk melestarikan kehidupan, orang tua patut meniru elang saat mengurus anak, yang penuh cinta, tapi pada saatnya harus tega agar anaknya jadi "orang".

Kita terkadang dicoba oleh-Nya dengan kondisi sakit, tekanan ekonomi, juga masalah-masalah yang secara normatif tidak menyenangkan. Takjarang kita tak bisa menerima ujian itu, sehingga menjauh dari-Nya. Padahal, saat itu Tuhan sedang mengajar kita belajar "terbang". Persis seperti sang induk elang mengajari anaknya.

Jadi, saat kita tidak mengerti akan apa yang terjadi dalam hidup ini, tetaplah percaya, bahwa Tuhan tetap akan memberikan yang terbaik buat kita, dengan rahman dan rahim-Nya. (*)

No comments:

Post a Comment

Blog Archive