Blog

Blog

Monday, January 31, 2011

Negeri Para Tuan


Oleh MASSHUTO

Lengkap sudah kelam negeriku
Ktika para tuan smakin berbusung dada
Ktika para tuan smakin lupa tanah jelata
Ktika para tuan saling berebut kasta
dan apa saja yang bikin mereka tertawa
Meski terkadang harus terbayar dengan anyir menyengat

Lihatlah,
Atas nama rakyat
Para tuan ingin naikkan harga dengan minta naik gaji
Berburulah mereka pundi-pundi fasilitas
Dengan sgala cara
Tak peduli si papa makan apa

Tarian para badut di Senayan
Dan rancak di mana-mana
Makin membuat para tuan kegirangan
Karna perjuangan tak perlu harus kluar keringat
Meski tak jarang pura-pura bersitegang urat
dan berakhir dengan tertawa bersama

Oh, Para tuan ...para tuan
Boleh saja tamak meraja
Boleh saja bergelimang tawa
Hingga bikin buncit tengah badan
Tapi yang para tuan tak bisa mengelak
Bakal tergelar timbangan
atas apa yang para tuan perjuangkan
Di panggung peradilan tak berkesudahan


Sidoarjo, 1 Februari 2011

Wednesday, January 26, 2011

Gaji Naik dan Kebohongan Publik


Oleh ADHIE M. MASSARDI

BADAI kebohongan yang menerjang pemerintahan Yudhoyono belum lagi reda ketika Presiden, di hadapan peserta Rapat Pimpinan TNI dan Polri di Balai Samudera, Jakarta Utara, Jumat,21 Januari 2011, menyatakan: "Hingga tahun keenam atau ketujuh, gaji presiden belum naik…"

Karena disampaikan di tengah depresi ekonomi yang melanda mayoritas rakyat yang daya belinya kian ngedrop, curhat Presiden soal gaji ini karuan saja berubah jadi puting beliung. Menerbangkan harapan rakyat terhadap Yudhoyono sebagai pemimpin yang bakal mengatasi berbagai persoalan hidup bangsanya.

Banyak juga yang merespon keluhan Kepala Negara soal gaji ini dengan memobilisasi sumbangan uang recehan lewat kotak “Koin untuk Presiden”. Tentu saja tujuan kegiatan ini berbeda dengan ketika masyarakat menggalang dana bagi Prita lewat “Koin untuk Prita” tempo hari.

Sebab “Koin untuk Presiden” merupakan ekspresi sinisme dan kejengkelan publik terhadap egoisme Yudhoyono, yang dianggap lebih mementingkan nasibnya sendiri ketimbang derita puluhan tahun yang dialami jutaan rakyatnya.

Memang pihak Istana, juga orang-orang Presiden di partai (Demokrat) maupun di DPR, sudah berusaha keras menjelaskan bahwa pernyataan soal gaji itu bukan curhat Presiden ingin naik gaji.

Akan tetapi, alih-alih meredam kegeraman publik, bantahan itu justru semakin menambah keyakinan masyarakat bahwa di Istana memang semakin banyak kebohongan. Sebab faktanya orang Demokrat di DPR seperti Achsanul Qosasih, mengusulkan kenaikkan gaji Presiden. Pembantu Presiden yang bernama Agus Martowardojo (Menteri Keuangan), juga punya agenda menaikkan gaji Presiden.

Kini isu Presiden minta naik gaji sudah gulung-menggulung dengan pernyataan para pemuka lintas agama yang pernah mengungkapkan adanya “kebohongan dalam pemerintahan”.

Melihat sikap pemerintah yang makin tidak sensitif terhadap penderitaan yang dirasakan rakyatnya, kombinasi dua hal di atas (kenaikan gaji Presiden dan terkuaknya kebohongan pemerintah), ditambah sederet problem bangsa yang makin melingkar-lingkar tak karuan, memang bisa menimbulkan “gempa politik” berdampak “tsunami sosial” seperti terjadi di beberapa negara dalam pekan-pekan terakhir ini.

Berbeda dengan gempa dan tsunami dalam perspektif peristiwa alam, “gempa politik” dan “tsunami sosial” sesungguhnya relatif bisa dicegah. Tentu saja kalau ada kesadaran kolektif di kalangan elit kekuasaan, tokoh publik (pergerakan) dan para pemuka agama.

Tapi celakanya, kesadaran kolektif bahwa di negeri ini sedang terjadi demoralisasi dan anomali di segala bidang inilah yang sulit diwujudkan. Sebab para penyelenggara negara (eksekutif, legislatif dan yudikatif) merasa masih on the track meskipun rakyat telah kehilangan kepercayaan kepada mereka.

Buktinya, masih ada yang mempersoalkan cara pemuka agama melontarkan kritik terhadap pemerintah yang dianggap terlalu kasar hanya karena berkata jujur tentang adanya “kebohongan dalam pemerintah Yudhoyono”.

Memang sangat menyedihkan, ketika rakyat hanya punya tiga pilihan untuk bertahan hidup (utang, mengurangi makan, atau bunuh diri) akibat kelalaian para penyelenggara negara memainkan perannya, masih ada orang yang mempersoalkan etika atau tata cara mengeritik pemerintah.

Lebih menyedihkan lagi, KH Said Agil Siradj ternyata termasuk yang mempersoalkan etika dan fatsoen mengeritik pemerintah yang dilakukan para pemuka agama itu. Padahal sebagai Ketua Umum PBNU, yang warganya (Nahdliyin) paling banyak menderita akibat berbagai kebijakan pemerintah, sepantasnya KH Said berada di baris paling depan dalam memperjuangkan nasib rakyat.

Pak Kiai, korban (rakyat) sudah berjatuhan akibat ketidakhadiran pemerintah dalam setiap persoalan bangsa. Demoralisasi dan anomali sudah terjadi di segala bidang. Masih perlukan kita mempersoalkan tata cara dan etika mengeritik?

Sumber: jpnn.com, Rabu, 26 Januari 2011

Sunday, January 23, 2011

Berguru pada Sang Elang


Elang adalah pasangan setia. Sekali kawin berlaku untuk selamanya.

Elang betina adalah ibu teladan, mengurus anak-anak mereka dengan penuh cinta. Sebelum bertelur menyiapkan sarang di bukit tinggi dan di bawahnya menganga jurang yang curam. Rangka sarangnya terdiri atas ranting yang keras dan duri tajam, lalu dilapis rumput-rumput halus. Dia juga melapis sarang dengan mencabuti bulu di dadanya agar sarang terasa enak, hangat, dan nyaman. Setelah dierami, telurnya menetas dan jadilah si anak elang yang lucu.

Si anak elang, bila lapar paruhnya akan ditengadahkan, kemudian sang ibu memasukkan makanan hasil buruan ke mulut anaknya. Si anak elang pun tumbuh jadi besar. Bila ada angin kencang berhembus, sang ibu merentang sayap, menutup sarang memberikan perlindungan.

Suatu saat si anak elang kaget, karena rangsum makanan yang biasa ia terima tiba-tiba dihentikan. Perangai sang ibu juga berubah tajam. Anak elang pun menangis karena kelaparan. "Ibu kenapa begitu?" kata si anak Elang di tengah tangisnya.

Pada kesempatan lain, si anak elang kembali kaget karena sayap sang ibu dikibas-kibaskan, sehingga rumput halus dan bulu yang biasanya sebagai penghangat tubuh, berhamburan keluar dari sarang, tinggal duri tajam menusuk badan. Mereka menangis kesakitan. "Ibu, tega nian kau?" tangis si anak elang kembali meledak.

Suatu saat, si anak elang lagi-lagi dikagetkan ketika tiba-tiba sang ibu mengusirnya dari sarang. Dengan paruh dan sayapnya yang kokoh, sang ibu mendorong anaknya hingga terpelanting keluar sarang dan jatuh melayang menuruni curamnya jurang. "Ibu, kenapa kau mau bunuh anakmu?" teriak sang anak.

Ketika hampir sampai dasar jurang, sang ibu menyambar menyelamatkan. Demikianlah berkali-kali anak elang itu didorong dan jatuh dari sarang, sampai suatu saat si anak elang itu mulai mengepakkan sayapnya dan akhirnya bisa terbang. Sang ibu dan bapak elang degan riang mengajak anaknya terbang di atas awan lalu belajar mencari binatang buruan. Barulah si anak elang sadar, bahwa orang tuanya telah mengajarkan bagaimana menghadapi kerasnya kehidupan.Ia harus bisa mandiri di belantara alam yang kejam.

Pelajaran dari "guru" elang memang layak diteladani dalam mendidik dan menyiapkan mental yang tangguh anak-anaknya. Untuk melestarikan kehidupan, orang tua patut meniru elang saat mengurus anak, yang penuh cinta, tapi pada saatnya harus tega agar anaknya jadi "orang".

Kita terkadang dicoba oleh-Nya dengan kondisi sakit, tekanan ekonomi, juga masalah-masalah yang secara normatif tidak menyenangkan. Takjarang kita tak bisa menerima ujian itu, sehingga menjauh dari-Nya. Padahal, saat itu Tuhan sedang mengajar kita belajar "terbang". Persis seperti sang induk elang mengajari anaknya.

Jadi, saat kita tidak mengerti akan apa yang terjadi dalam hidup ini, tetaplah percaya, bahwa Tuhan tetap akan memberikan yang terbaik buat kita, dengan rahman dan rahim-Nya. (*)

Thursday, January 13, 2011

Pesona



Oleh MASSHUTO


Sejenak kusandarkan dirimu
dalam mangkuk cintaku
Penghapus dahaga ktika hati merindu
Penebar pesona ktika rasa terbuai
oleh harum aroma dan kelembutan kasihmu

Adalah aku yang selalu merindukanmu
Dalam setiap detak jantung
Dalam setiap hembusan nafas
Ktika bersama dalam pergulatan pengabdian

Dekil lumpur dan daun jati pembungkus sarapan
Adalah saksi yang mengiringi perjalanan
Juga tarian anak desa yang selalu ceria
Meski tak pernah juga bersama
Meski tak pernah menyatu
dalam titik perjumpaan dan persimpangan tak berkesudahan
Dan, di situlah rasa terhadang
Oleh karang ego yang tiada juga bersurut

Dalam pengembaraan tak berjejak
Kembali kutemukan rasa yang terpendam
Lepas menerjang segala arah
Terbang menembus cakrawala tak berbatas
Tebar pesonamu, genggam cinta itu
Dalam bingkai keabadian
Sampai datang waktu yang Di-gariskan


Sidoarjo, 14.1.11

Komunikasi Tepat supaya Anak Bersikap Baik


Jika Anda ingin si kecil bersikap baik, perhatikan cara Anda mengomunikasikan keinginan Anda. Menurut pengarang How to Behave So Your Preschooler Will, Too!, Sal Severe PhD, komunikasi adalah faktor terpenting agar si kecil bisa belajar bersikap dengan baik. Cara Anda mengomunikasikan ekspektasi dan keinginan akan membuat banyak perbedaan.

Bayangkan diri Anda ada di posisi si kecil. Jika ia mendengar suara orang tuanya mengatakan sesuatu dengan nada melengking atau tidak menyenangkan, apakah pesan yang disampaikan bisa dimengerti? Tentu sulit untuk dicerna. Tetapi kadang, dengan nada lembut pun si kecil seakan tidak mau mengerti. Bagaimana cara berkomunikasi yang efektif dengan anak? Dr Severe menyarankan beberapa langkah, di antaranya:

Nada Positif
Katakan pada si kecil apa yang Anda ingin ia lakukan ketimbang apa yang Anda tak ingin ia lakukan. Misal, "Tolong keringkan air mata kamu," ketimbang, "Jangan cengeng!" atau "Berhenti nangis!" Contoh lainnya, ketimbang mengatakan, "Berhenti mengeluh", katakan, "Mintanya dengan nada sopan, dong."

Saat anak Anda mengikuti instruksi Anda, berikan pujian. Ingat untuk memuji sikapnya, bukan anak secara keseluruhan. Jika Anda mengatakan, "Kamu anak yang baik saat kamu main manis sama adik kamu," pesan yang ditangkap anak adalah ia bukan anak baik kalau tidak main manis dengan adiknya. Alih-alih, katakan, "Mama bangga dengan cara kamu berbagi sama adik kamu. Pilihan kamu bagus, Nak."

Rencanakan Sikap Bagus
Anak-anak perlu tahu ekspektasi yang Anda harapkan darinya sejak dini. Biarkan ia tahu ke mana Anda dan ia akan pergi, apa aturannya, dan apa yang akan terjadi jika ia bersikap baik atau nakal. Jika ia tahu keadaan apa yang akan ia hadapi, ia akan jauh lebih baik dalam mengikuti instruksi Anda.

Jangan lupa untuk membawa tas aktivitas untuk si kecil jika Anda berencana pergi jauh, ke restoran, atau tempat lainnya yang membutuhkan si kecil untuk banyak duduk. Jika Anda membawa mainan atau hal lain yang membuat si kecil sibuk, Anda akan menghindari banyak problem potensial. Menurut dr Severe, barang-barang yang dibawa akan lebih efektif jika barangnya masih baru untuk anak. Jika Anda sempat, berbelanjalah mainan atau buku anak dalam jumlah banyak, dan simpan. Keluarkan satu per satu jika Anda ingin si kecil tenang.

Pesan Positif
A
nak-anak percaya apa pun yang dikatakan oleh orangtua mereka. Jika Anda mengatakan bahwa si kecil susah belajar mendengarkan, ia akan berlaku seperti itu. Jika Anda katakan bahwa Anda yakin ia bisa belajar mendengarkan dan patuh sama apa kata mama, ia akan berusaha membuktikan Anda benar. Tanamkan ide dalam dirinya bahwa ia bisa melakukan apa yang Anda minta. Mereka akan belajar untuk memenuhi permintaan Anda.

Berikan pujian atas hal-hal bagus yang ia lakukan. Semakin banyak Anda mendorong ia melakukan sikap yang baik, makin ia ingin membuat Anda bangga. Kebanyakan anak ingin melakukan hal-hal yang benar setiap saat. Fokuskan pada hal-hal yang positif dan Anda akan melihat tingkah positif itu lebih sering.

Contohkan
Setiap orangtua pasti ingin anaknya patuh sejak pertama diminta. Tetapi banyak pula orangtua yang mengatakan "Nanti dulu," atau, "Sebentar" atau mendengar si anak bicara tetapi tidak seksama? Jika Anda ingin si kecil menjadi pendengar yang baik, maka contohkan bagaimana menjadi pendengar yang baik. Anda harus mencontohkan hal-hal semacam ini. Sebisa mungkin, setiap kali anak Anda mengajak bicara, berhenti melakukan apa yang sedang Anda lakukan, buat kontak mata dengan si kecil, dan dengarkan sungguh-sungguh apa yang ia katakan. Tak hanya ia akan berlaku sama kepada Anda, hal ini juga akan membangun kepercayaan dirinya, dan membuatnya merasa dihargai.

Putar Kembali
Akan membantu untuk Anda belajar mengerti jika Anda memintanya mengatakan kembali apa yang Anda ingin ia lakukan. Contoh, "Kita mau main ke tempat Tante Rina, di sana kamu boleh main di taman belakangnya sama Bella. Tapi, kita cuma setengah jam saja di sana. Kalau Mama panggil kamu untuk pulang, kamu datangi mama, dan kita siap-siap pulang ya? Nah, coba kamu ulangi apa yang mama bilang tadi." Ia akan mencoba mengulang instruksi Anda. Ini akan memastikan si kecil mengerti apa yang diharapkan dari dia.

Harapan yang Realistis

Ingat, anak Anda adalah anak-anak. Anak balita atau usia prasekolah butuh banyak waktu Anda untuk diperhatikan. Ingat juga bahwa perubahan akan memakan waktu. Tetap positif dan konsisten dan Anda akan melihat perubahan pada sikap anak.

Belajar untuk berkomunikasi secara efektif dengan si kecil adalah hal krusial untuk meminta si anak melakukan apa yang Anda inginkan. Dengan kesabaran dan praktik, komunikasi Anda akan membaik, begitu pun sikap si anak. (NAD)

Sumber: Kompas.com, Kamis, 13 Januari 2011

Wednesday, January 12, 2011

Gayus yang Merasa Tak Bersalah


Gayus H.P. Tambunan dapat disebut sebagai selebritas pengadilan. Tidak hanya materi perkaranya yang menarik perhatian, sosok Gayus pun memiliki kemampuan bergaya, berbicara, dan memainkan perasaan. Tampil di panggung pertunjukan, di tengah sorot kamera, mantan pegawai pajak itu terus berakting.

"Jadikan saya staf ahli Kapolri atau Jaksa Agung. Dalam waktu dua tahun, saya akan bersihkan mafia pajak dan hukum," kata Gayus dalam persidangan .


Tidak seperti banyak pesakitan yang cenderung diam dan menggantungkan harapan di pundak penasihat hukum, Gayus terus mempertahankan dirinya menjadi ”bintang” dengan gaya dan pernyataannya yang menarik dan kadang mengejutkan.

Tidak hanya piawai tampil di pengadilan, Gayus pun terbukti amat lihai mengelabui dan menyiasati hukum di segala lini, dari perpajakan, kepolisian, kejaksaan, pengadilan, hingga imigrasi. Tak heran ada yang guyon memanjangkan nama Gayus sebagai ”ganyang yustisia”, yang berarti orang yang memorakporandakan hukum.

Setelah pembacaan pleidoinya berjudul ”Indonesia Bersih, Polisi dan Jaksa Risih, Gayus Tersisih” yang mengungkap rekayasa dan pengerdilan perkara mafia hukum dan mafia pajak, Gayus kembali membuat geger saat ia membacakan tanggapan atas replik jaksa penuntut umum.

Tak Merasa Bersalah

Sebagaimana umumnya orang yang terseret kasus hukum, ia mengaku tidak bersalah. Selain itu, ia juga dengan entengnya menyatakan, negara harus berterima kasih atas informasi yang ia berikan mengenai mafia pajak dan mafia hukum.

Anehnya lagi, ia tak malu mengatakan layak dijadikan pejabat penegak hukum jika negara ini mau membersihkan aparat yang kotor. ”Jadikan saya staf ahli Kapolri atau Jaksa Agung. Dalam waktu dua tahun, saya akan bersihkan mafia pajak dan hukum,” kata Gayus lantang. Sebuah cara berpikir yang jungkir balik.

Gayus juga mengaku tidak bersalah atas semua tindak pidana yang didakwakan jaksa, yakni perkara korupsi pajak, penyuapan kepada hakim dan penyidik, serta keterangan palsu. Padahal, sebelumnya Gayus selalu mengatakan memberikan uang Rp 20 miliar kepada mantan pengacaranya, Haposan Hutagalung, untuk dibagi-bagikan kepada polisi, jaksa, dan hakim.

Anehnya, tim penasihat hukum Gayus yang dipimpin Adnan Buyung Nasution juga ikut menyatakan Gayus tidak bersalah.

Pakar hukum pidana Indriyanto Seno Adji mengatakan, pleidoi penasihat hukum seharusnya mempertimbangkan fakta yang memang diakui Gayus. Penasihat hukum juga harus berpihak kepada keadilan masyarakat. Pengakuan penting yang tak boleh luput adalah fokus membongkar ”ikan kakap”, bukan sebatas ”ikan teri” seperti Gayus.(FAJ)

Sumber: Kompas.com, Kamis, 13 Januari 2011

Komposisi Unas 60:40 itu Format Usang


JAKARTA - Bukan hal aneh melihat sikap pemerintah yang susah menerima masukan dan kritik dari masyarakat terhadap kebijakan-kebijakannya, khususnya ujian nasional (UN) dan format kelulusan siswa. Hal itu sudah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, mulai dari sosialisasi yang buruk ke sekolah hingga minimnya rasa tidak berkeadilan, khususnya terkait format nilai kelulusan dengan komposisi 60:40.

"Ini memperlihatkan kerja Kemendiknas yang selalu tidak mau tahu kondisi riil di lapangan. Apalagi sistem penilaian 60:40 ini belum tersosialisasi dengan efektif, maka memajukan jadwal UN pada bulan April akan mengganggu kerja-kerja sekolah dan konsentrasi murid," ungkap Koordinator Education Forum (EF) Suparman kepada Kompas.com di Jakarta, Selasa, 11 Januari 2011.

Suparman, yang juga Ketua Forum Guru Independen Indonesia (FGII) ini, menambahkan, banyak guru yang belum megetahui dan memahami tentang perubahan sistem kelulusan 2011 ini. Kalaupun sudah mendengar, lanjut dia, bentuk real perubahan itu masih belum jelas diketahui para guru.

"Semestinya bukan hanya guru, karena murid dan orang tua pun harus tahu perubahan ini. Kenyataannya mereka juga belum tahu. Padahal setiap kebijakan pendidikan itu seharusnya bukan hanya diketahui oleh komunitas sekolah, tetapi komunitas sekolah yang terdiri dari guru, orangtua dan murid untuk diajak berpartisipasi," lanjut Suparman.

Sementara itu, menurut Retno Listyarti, Ketua Forum Musyawarah Guru Jakarta, bukan hal aneh melihat sikap pemerintah yang susah menerima masukan dan kritik dari masyarakat terhadap kebijakan ujian nasional (UN) dan format kelulusan siswa.

"Jangan heran, formula kelulusan 60 untuk nilai UN dan 40 untuk nilai sekolah pasti harga yang sulit ditawar oleh sekolah, apalagi guru dan siswa. Meskipun sebetulnya, buat saya pribadi, formula itu juga bukan hal baru, itu formula usang," ungkapnya.

Retno sepakat dengan Suparman, kebijakan UN dan kelulusan siswa pada 2011 semakin menunjukkan, bahwa kebijakan pendidikan masih dianggap milik para penguasa birokrasi pendidikan semata. Padahal, peraturan-perundangan pendidikan sudah mengharuskan adanya partisipasi stakeholders pendidikan dalam setiap penentuan kebijakan pendidikan, terutama jika dikaitkan dengan manajemen berbasis sekolah (MBS).

"Inilah bentuk inkonsistensi dalam kebijakan pendidikan," timpal Suparman.

Diberitakan sebelumnya, ujian nasional (UN) yang digelar pada April 2011 mendatang kian memperlihatkan kerja Kementrian Pendidikan Nasional (Kemdiknas) yang selalu tidak mau tahu kondisi riil di lapangan. Akibat kebijakan itu, siswa dan guru harus bersama-sama ngebut menyelesaikan muatan kurikulum yang belum tuntas lantaran kebiasaan penuntasan kurikulum terjadi setiap Mei.

Adapun UN tahun pelajaran 2010/2011 untuk jenjang sekolah menengah atas/madrasah aliyah/sekolah menengah kejuruan (SMA/MA/SMK) akan diselenggarakan pada 18-21 April 2011. Sementara jenjang sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah (SMP/MTs) akan dilaksanakan 25-28 April 2011. (*)


Laporan wartawan Kompas.com M. Latief
Selasa, 11 Januari 2011

Kian Banyak Wanita Inggris Jadi Muslim


LONDON - Lebih dari 100.000 wanita Inggris kulit putih yang berusia rata-rata 27 tahun memilih menjadi Muslim, angka tersebut dua kali lipat dalam 10 tahun dengan rata-rata usia 27 tahun karena mereka muak dengan konsumerisme dan imoralitas.

Koran terkemuka Inggris Daily dalam laporannya minggu ini yang ditulis Jack Doyle menyebutkan terjadi gelombang pada wanita kulit putih muda mengadopsi agama Islam, tahun lalu tercatat sekitar 5.200 orang di Inggris memilih Islam di antaranya adik ipar mantan PM Inggris Tony Blair.

Tahun lalu Lauren Booth, saudara ipar mantan Perdana Menteri Tony Blair, menarik perhatian luas ketika ia mengumumkan bahwa ia telah masuk Islam.

Pengamat masalah Islam di Inggris, Hakimul Ikhwan, S.Sos., MA kepada koresponden Antara London, Senin menyebutkan fenomena bertambahnya jumlah Muslim di Inggris, terutama White British ke Islam tidak bisa dilepaskan dari tingginya intensitas dan masifnya publikasi mengenai Islam.

Menurut dosen di Universitas Gajah Mada yang sedang mengambil Phd di Essex University, mengatakan jumlah masyarakat Muslim sejak beberapa dekade terakhir dan semakin meningkat signifikan dalam satu dekade terakhir.

Hakimul Ikhwan mengatakan menarik untuk melihat alasan sebagian wanita yang convert adalah karena Islam "membebaskan" mereka dari konsumerisme dan immoralitas dengan penggunaan burqah, jilbab, kerudung dan busana muslimah sejenisnya.

Lagi-lagi berbasis spirit demokrasi dan individualitas, wanita berbusana muslimah banyak ditemui di berbagai kota di Inggris. Para immigran bisa dengan bebas berbusana muslimah.

Kondisi ini menyajikan "cermin" bagi wanita Inggris menjawab problem konsumerisme dan kebiasaan pesta di kalangan muda Inggris, ujar sarjana sosiologi UGM Yogjakarta.

Justru diminati Hakimul mengungkapkan muncul pertanyaan, mengapa Islam yang cenderung tampil dengan wajah negatif (radikal destruktif) justru diminati atau menarik "White British untuk Convert ke Islam" Fenomena ini bisa disebabkan oleh beberapa hal.

Menurut Hakimul Ikhwan, yang sedang melakukan riset S3 nya Islamifikasi di Inggris dan Barat, pertama, prinsip-prinsip Barat yang menekankan pada kreativitas dan kebebasan berfikir individu memungkinkan individu-individu di Inggris untuk mempelajari (mengkaji) lebih dalam mengenai Islam.

Informasi yang sangat luas mengenai Islam bisa didapat melalui internet, ujar dosen sosialogi UGM, menambahkan selain itu, diskursus mengenai Islam dan masyarakat Muslim menjadi topik kajian dan penelitian yang semakin diminati di perguruan tinggi.

Ketika Islam dikaji oleh individu dalam kerangka akademik/ intelektual, maka sesuai dengan prinsip-prinsip keilmuan (scientific Barat) harus mengakses beragam sumber pemikiran (school of thoughts) dan mazhab yang beragam (pros and cons).

Hal ini memungkinkan tampilnya kekayaan tafsir, hikmah (wisdom), dan humanity dalam Islam. Islam yang nonradikal, damai (peaceful), moderat dan pluralis semakin menarik perhatian masyarakat Barat, ujar salah satu pendiri MASIKA ICMI Yogyakarta, dan ketua Indonesian Moslem Association in Nottinghamshire-Leicestershire, UK .

Kecenderungan ketertarikan terhadap Islam yang antikekerasan dan moderat bisa dilihat misalnya dalam wacana dialog multiagama (multi-faiths dialog) serta upaya untuk "mengarusutamakan" (mainstreaming) Islam yang non-Timur Tengah.

Dikatakannya dalam konteks inilah, Indonesia menjadi primadona. "Wajah Islam Indonesia yang moderat, toleran dan sadar gender, misalnya menjadi "topik" utama yang diangkat oleh mantan PM Tony Blair dan Presiden AS Barrack Obama dalam kunjungan mereka ke Indonesia," ujar Hakimul Ikhwan, yang meraih Master di bidang Politics dan Social Policy di University of Nottingham, Inggeris.

Sebagai bagian dari masyarakat Muslim Indonesia, memiliki kesempatan besar yang luar biasa untuk menjadikan ekspresi Islam Indonesia sebagai "mainstream" atau alternatif dari ekspresi Islam Timur Tengah yaitu Islam adalah satu dalam kaitannya dengan Al-Qur’an, tetapi ekspresinya berbeda-beda di Timur Tengah, India Pakistan dan Indonesia.

Selain faktor publisitas dan discourse Islam yang menguat di tingkat global, faktor lain yang juga sangat menentukan meningkatnya conversion ke Islam di kalangan White British adalah meningkatnya jumlah para imigran Muslim di Inggris seperti dari Pakistan, Turki, Bangladesh, Timur Tengah, dan Asia seperti Indonesia dan Malaysia.

Banyaknya imigran muslim tersebut membuat simbol-simbol Islam tersebar luas dan dapat ditemui di berbagai penjuru kota. Misalnya, Butcher Halal atau halal meat, pizza halal, dan lain sebagainya seperti banyaknya wanita di jalan yang mengenakan jilbab.

Istilah "halal" telah menjadi "ikon" publisitas yang sangat efektif tentang Islam. Penjualan daging halal di supermarket seperti Tesco, Asda, dan Sainsburry, misalnya, membuat Menteri Pertanian Inggris harus menjelaskan kepada publik tentang pengertian daging halal atau halal meat.

Dalam perkembangannya, halal meat tidak semata soal Islam, tetapi juga soal makanan yang sehat Healthy meat/food, demikian Hakim.

Sumber : KOmpas, Senin, 10 Januari 2011

Tuesday, January 11, 2011

Korupsi Sebagai State Organized Crime


Oleh ADHIE M. MASSARDI


KORUPSI sudah lama menjadi kejahatan paling dibenci rakyat Indonesia. Karena gara-gara korupsi, bangsa Indonesia yang oleh Allah Azza Wa Jalla dikaruniai kawasan subur makmur lagi kaya sumber daya alamnya, menjadi bangsa yang miskin dan terhina. Rakyatnya jadi harus mengais rezeki di negeri orang, dengan risiko disiksa majikan. Bahkan sudah banyak yang tewas secara mengenaskan.

Ajaibnya, korupsi yang musuh rakyat itu bukannya menjadi kejahatan yang harus dihindari. Tapi, di era pemerintahan Yudhoyono ini, korupsi justru jadi kejahatan paling transparan. Para pelakunya bahkan berani tampil di muka publik, dan aman-aman saja. Makanya, kalau ada koruptor yang berhasil dibekuk, pasti itu karena sial, atau koruptor pemula.

Lihat saja para pelaku rekayasa bailout Bank Century yang merugikan keuangan negara Rp 6,7 triliun, yang nama-namanya sudah dipublikasikan oleh DPR. Mereka tetap nyaman berlenggang-kangkung di hadapan rakyat. Bahkan Darmin Nasution dipromosikan jadi Gubernur Bank Indonesia (BI)!

Lihat juga daftar nama perusahaan yang sudah disebut-sebut Gayus “Pangeran Markus” Tambunan di pengadilan sebagai pengemplang pajak yang totalnya juga merugikan keuangan negara triliunan rupiah. Mereka juga tetap santai, karena rakyat pun melihatnya dengan pandangan sebelah mata. “So what…,” kata rakyat.

Tapi kan ada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) yang sangar itu? Dulu, ketika dipimpin Antasari Azhar dengan gaya “preman”, KPK memang menakutkan. Cuma setelah dia ternyata bisa dengan mudah dijebloskan ke penjara, dan dua rekannya dijadikan “kriminal” dan sempat pula dibui beberapa hari, KPK lalu berubah menjadi harimau sirkus yang bisa ditanggap dan bisa disuruh lompat ke sana lompat ke mari oleh pawangnya.

Makanya, ketika DPR mengirim skandal Bank Century dengan bukti bertumpuk-tumpuk dari BPK (Badan Pemeriksa Keuangan) dan Pansus Skandal Bank Century, beberapa bulan kemudian Wakil Ketua KPK yang bernama M. Jasin dengan enteng bilang tidak menemukan niat jahat dari megakorupsi itu.

“Harus ada niat jahat. Apakah ada niat jahat, ini yang kita cari. Kami bekerja secara profesional dan tidak main-main dengan amanat," katanya.

Ini memang pernyataan aparat hukum yang paling ajaib. Sejak kapan aparat hukum berkutat di masalah “niat jahat” pelaku korupsi? Mendeteksi “niat” itu kan 100 persen kewenangan Malaikat? Lagi pula, pelaku korupsi itu kan beda dengan tindak kriminal biasa?

Orang kalau mau korupsi sudah pasti niatnya baik. Buat menyenangkan keluarga, selingkuhan, teman, orang-orang separtai, atau orang lain yang membantu melakukan korupsi.

Tapi kalau memang mau sungguh-sungguh melihat niat jahat di balik skandal Bank Century, sebagaimana pengadilan sering bisa membuktikan “pembunuhan berencana”, KPK sebenarnya bisa melihat bukti-bukti yang sudah lama mereka miliki. Misalnya, Perppu No. 4 Tahun 2008 tentang Jaring Pengaman Sistem Keuangan, “kunci” pembuka brankas BI yang ditandatangani Presiden Yudhoyono.

Coba baca Pasal 29 yang berbunyi: Menteri Keuangan, Gubernur Bank Indonesia, dan/atau pihak yang melaksanakan tugas sesuai Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang ini tidak dapat dihukum karena telah mengambil keputusan atau kebijakan yang sejalan dengan tugas dan wewenangnya sebagaimana dimaksud dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang ini.

Apa maksud kata-kata “tidak dapat dihukum” dalam pasal itu? Memangnya mau berbuat apa? Lagi pula, menurut undang-undang, kalau memang mau, Gubernur BI kan bisa melakukan kebijakan moneter seperti bailout? Kenapa harus minta Perppu? Tapi kalau bukan pihak BI yang minta Perppu, lalu siapa? Dari sini KPK bisa mengejar pelaku sesungguhnya.

Kalau melihat skandal Bank Century, juga kasus mafia pajak yang pionnya Gayus, korupsi di Indonesia memang telah menjadi state organized crime (kejahatan negara yang terorganisasi).

Artinya, kejahatan korupsi dilakukan secara gotong-royong. Mulai dari pejabat pemerintah pembuat kebijakan (criminal policy), pelaksana di lapangan, pengawas, aparat hukum dan pihak swasta yang dijadikan tameng apabila kemudian terbongkar.

Jadi, bila di negara lain atau di masa lalu state organized crime itu modusnya pembunuhan politik dan tindakan melanggar HAM, di Indonesia modusnya adalah: perampokan kekayaan negara.

Kalau sudah dilakukan secara gotong-royong begitu, di Hari Anti-Korupsi Se-Dunia 9 Desember ini, rakyat hanya bisa menyaksikan para koruptor dengan melongo. Kok bisa…!

Sumber: jpnn, Rabu, 8 Januari 2011

Habis SBY Terbitlah ASBY


Oleh ADHIE M. MASSARDI


DI BALIK lelaki yang sukses, terdapat perempuan yang hebat. Kalimat ini semula dianggap pepatah belaka. Tujuannya, konon untuk menyenangkan hati kaum perempuan. Tapi belakangan, di masyarakat tumbuh gerakan yang ingin merealisasikan pepatah ini. Di beberapa tempat, gerakan ini terbukti berhasil.

Masyarakat di kabupaten Kendal, Jawa Tengah, misalnya, sukses mempertontonkan kehebatan istri bupati mereka, Hendy Boedoro. Hasilnya, Widya Kandi Susanti, sang istri, Oktober tahun lalu dilantik jadi bupati, menggantikan suaminya yang masuk bui karena korupsi.

Tiga bulan sebelumnya, Sri Suryawidati, istri Idham Samawi, bupati Bantul dua periode, berhasil membuktikan kehebatannya dengan memenangi pilkada kabupaten di kawasan DI Jogjakarta itu. “Suami saya, Pak Idham, akan menjadi staf ahli luar biasa yang secara gratis,” katanya usai pelantikannya sebagai bupati.

Sekarang, istri menggantikan posisi suami sebagai kepala pemerintahan sudah bukan hal yang aneh lagi. Makanya, ketika Anna Sopanah, istri mantan Bupati Kabupaten Indramayu Irianto Saffihudin resmi dilantik menjadi Bupati periode 2010-2015, tidak banyak yang heran.

Model demokrasi di negeri kita memang memberi peluang besar untuk menampilkan perempuan hebat yang tadinya berada di belakang lelaki yang sukses.

Tapi siapa perempuan paling hebat di negeri ini? Sudah pasti Ani Yudhoyono, istri Jenderal TNI (Pur) Susilo Bambang Yudhoyono, lelaki Indonesia pertama yang secara gilang gemilang menumbangkan rival-rival politiknya dalam dua kali pemilihan presiden RI (2004-2009 dan 2009-2014).

Ani Yudhoyono memang belum resmi “dinobatkan” sebagai “the real” perempuan paling hebat di Indonesia. Karena jaringan dalam kekuatan Istana masih harus bergerilya untuk menobatkan Bu Ani sebagai Presiden RI, menggantikan suaminya kelak, 2014. Sehingga sejarah politik nasional akan mencatat: Setelah SBY (Susilo Bambang Yudhoyono), Indonesia dipimpin oleh ASBY (Ani SBY).

Melihat Bu Ani sekarang ini sudah memiliki kekuatan di semua lini yang diperlukan untuk memenangi pilpres (uang, jaringan kekuasaan, popularitas, partai, dan suami Presiden yang jago nyanyi), apalagi pasangannya, Hatta Radjasa yang berambut putih, maka segalanya akan menjadi sangat mudah.

Kalau sudah begini, rakyat Indonesia jadi punya kebanggaan. Karena akan menjadi sama prestasinya dengan Argentina, yang punya presiden perempuan Cristina Elisabet Fernández de Kirchner, bekas Ibu Negara. Karena suaminya, Nestor Carlos Kirchner, sebelumnya adalah presiden Argentina dua periode.

Keberhasilan Nestor Carlos Kirchner mengangkat harkat, martabat, dan perekonomian Argentina memang membuat bangsa gila bola itu menjadi kecanduan Kirchner. Makanya, mereka meminta keikhlasan Tuan Kirchner untuk melepas Nyonya Kirchner di medan laga pemilihan presiden, mengingat konstitusi hanya membolehkan seorang presiden duduk di kursinya selama dua periode saja.

Akankah rakyat Indonesia kecanduan Yudhoyono, dan meminta keikhlasan Tuan Yudhoyono untuk melepas Nyonya Yudhoyono berkompetisi di ajang pilpres 2014?

Saya yakin, presiden kita yang satu ini sangat mencintai rakyatnya, dan mau memenuhi permintaan rakyatnya, meskipun yang diminta (untuk dijadikan presiden) adalah istrinya sendiri.

Sehingga kelak, dari Istana Negara, kita masih akan terus dan terus mendengar suara merdu lelaki tua, mengalunkan lagu cinta yang mendayu-dayu.
Ho ho ho ho ho ho ho ho
Ho ho ho ho ho ho ho ho
Ho ho ho ho ho ho ho ho
Impian jadi kenyataan…

(Mentari Bersinar, karya Yudhoyono)

Sumber: jpnn, Rabu, 5 Januari 2011

Monday, January 10, 2011

mu


Oleh ATIK ADRIANA

Merindumu di setiap waktu
Merindumu di setiap helaan nafasku
Merindumu sampai ke tulang sumsumku
Merindumu sampai batas yang aku tak tahu

Mencintamu indah bagiku
Mencintamu mewarnai hidupku
Mencintamu membuatku tergantung padamu

Menggilaimu luar biasa buatku
Menggilaimu surprice untukku

Merindumu .....
Mencintamu .....
Menggilaimu .....

Bener-bener gila .....


09.01.11

Saturday, January 8, 2011

Manajemen Beban Hidup

Pada saat memberikan kuliah tentang Manajemen Stres, Stephen Covey mengangkat segelas air dan bertanya kepada para siswanya: "Seberapa berat menurut Anda kira-kira segelas air ini?"

Para siswa menjawab beragam, mulai dari 200 gram hingga 500 gram.
"Ini bukanlah masalah berat absolutnya, tapi tergantung berapa lama Anda memegangnya, " kata Covey.

Ia melanjutkan, "Jika saya memegangnya selama 1 menit, tidak ada masalah. Jika saya memegangnya selama 1 jam, lengan kanan saya akan sakit. Dan jika saya memegangnya selama 1 hari penuh, mungkin Anda harus memanggilkan ambulans untuk saya. Beratnya sebenarnya sama, tapi semakin lama saya memegangnya, maka bebannya akan semakin berat."

"Jika kita membawa beban kita terus-menerus, lambat laun kita tidak akan mampu membawanya lagi. Beban itu akan meningkat beratnya," tandas Covey.

"Apa yang harus kita lakukan adalah meletakkan gelas tersebut, istirahat sejenak sebelum mengangkatnya lagi".

Kita harus meninggalkan beban kita secara periodik, agar kita dapat lebih segar & mampu membawanya lagi. Jadi sebelum pulang ke rumah dari pekerjaan nanti, tinggalkan beban pekerjaan. Jangan bawa pulang. Beban itu dapat diambil lagi besok.
Apapun beban yang ada di pundak Anda hari ini, coba tinggalkan sejenak jika bisa. Setelah beristirahat, nanti dapat diambil lagi.

Hidup ini singkat, jadi cobalah menikmatinya dan memanfaatkannya. Hal terindah dan terbaik di dunia ini tak selalu dapat dilihat atau disentuh, tetapi dapat dirasakan jauh di relung hati kita.

Thursday, January 6, 2011

BPS: Baru Kali Ini Cabai Masuk Sidang Kabinet


JAKARTA - Kepala Badan Pusat Statistik (BPS)Rusman Heriawan mengatakan, masyarakat Indonesia hanya mempermasalahkan harga cabai ketika mengalami kenaikan. Namun, ketika cabai berada di harga terbawah, tidak ada yang mempermasalahkan.

"Cabai menjadi berita ketika (harganya) Rp 100 ribu. Namun ketika harga Rp 13 ribu, semua diam saja," kata Rusman seusai mengikuti Sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Kamis, 6 Januari 2011.

"Padahal ketika harga Rp 13 ribu, petani sedang merana," ujar Rusman.

Ia mengingatkan, cabai sebenarnya bukan termasuk bahan pokok. Karena itu, ketika cabai ternyata ikut memengaruhi inflasi, sidang kabinet pun ikut membahasnya. "Jadi baru kali ini cabai masuk sidang kabinet," tandas Rusman.

Karena itu, BPS akan mengambil inisiatif untuk melihat cabai dari sisi ekonominya. "Struktur biayanya, berapa biaya yang harus dikeluarkan, durasinya, dan berapa nilai jualnya," kata Rusman. Dengan demikian, dapat dilihat berapa harga yang wajar. "Bukan Rp 13 ribu, tentu juga bukan Rp 100 ribu," tutur Rusman.

Lantas berapa harga cabai yang tergolong wajar? "Sekitar Rp 20 ribu sampai Rp 30 ribu. Itu petani nyaman, ada gairah menanam dan konsumen mampu," jawab Rusman.(hs)


Sumber: VIVAnews, Kamis, 6 Januari 2011

Wednesday, January 5, 2011

Balada Kasiyem dan Joki Napi di Bojonegoro


BOJONEGORO - Kasiyem (55 thn), warga asal Desa Kalianyar, Kecamatan Kapas, Bojonegoro, Jawa Timur, adalah pedagang beras yang sering mengirimkan beras ke Bali. Belakangan, ia tertarik berdagang pupuk, karena berharap keuntungan lebih besar dibanding jika hanya menjual komoditas pangan tersebut.

Dari berita di media massa, menurut dia, Bupati Bojonegoro Suyoto pernah menyatakan, pupuk dari luar boleh masuk ke Bojonegoro. Yang dilarang adalah membawa keluar pupuk dari Bojonegoro ke daerah lain. Saat terjadi kelangkaan pupuk, ia memanfaatkan kesempatan meskipun mengaku tidak memiliki Delivery Order (DO).

"Saya ini membeli pupuk dengan uang hasil utangan, tidak mencuri," kata Kasiyem, di Lapas Bojonegoro, Selasa, 4 Januari 2011.

Menurut pengakuannya, pada tahun 2009 ia membeli berbagai jenis pupuk, mulai Urea, ZK, juga pupuk produksi Kaltim di Bali. Ia memanfaatkan kendaraan setelah secara rutin mengirim beras ke Bali.

Saat berdagang pupuk, Kasiyem mengaku sudah mengeluarkan sedikitnya Rp 100 juta. Berdagang pupuk itu pula yang menyeretnya ke pengadilan karena tindak pidana hingga ke tingkat kasasi dan berakhir pada putusan eksekusi untuk menjalani hukuman kurungan atau penjara. Mahkamah Agung menetapkan, Kasiyem harus menjalani hukuman penjara tiga bulan 15 hari.

Menurut seorang petugas di Lapas Bojonegoro, Kasiyem menghadapi dua kasus. Satu kasus lainnya diputus MA, juga dengan hukuman penjara tiga bulan 15 hari dengan masa percobaan.

"Seingat saya ada lima truk pupuk yang saya datangkan ke Bojonegoro dan semuanya ditangkap polisi," kenang Kasiyem.

Menghadapi masalah itu, Kasiyem mengeluhkan permasalahannya tersebut ke berbagai pihak. Keluhan itu tak terkecuali juga ia sampaikan dalam dialog Jumat di Pendopo Pemkab Bojonegoro.

Bupati Bojonegoro, Suyoto mengaku, ia tahu kasus Kasiyem dalam masalah pupuk tersebut sejak awal. "Karena ketika itu pupuk langka, saya membantu yang bersangkutan dengan mendatangi kejaksaan dan meminta pupuknya dikembalikan," jelas Suyoto.

Menghadapi keputusan MA itu, Kasiyem mengaku tidak terima dan takut kalau harus menjalani hukuman penjara. Menurut dia, pedagang pupuk seperti dirinya cukup banyak di Bojonegoro, tapi hanya dia yang masuk penjara.

Lalu dicarilah seseorang yang bisa membantunya. Kasiyem akhirnya bertemu dengan seorang pengacara bernama Hasnomo.Kasiyem mengungkap, dalam perjanjian itu, Hasnomo sanggup menolong dirinya agar tidak masuk penjara dengan memberi imbalan uang Rp 22 juta."Bagaimana caranya saya tidak tahu," ujarnya.

Kasiyem mengaku menandatangani berita acara eksekusi di Kantor Kejaksaan Negeri Bojonegoro, tepatnya pada tanggal 27 Desember 2010.

Hanya saja, ketika di depan lapas, dirinya yang semobil dengan staf Kejari bojonegoro, Widodo Priyono, tidak masuk ke lapas. Sebab, Hasnomo sudah membawa joki napi Karni (51), warga Desa Leran, Kecamatan Kalitidu, yang memperoleh imbalan uang Rp 10 juta dari Hasnomo.

Hasnomo menemukan Karni lewat seorang perantara yang bernama Angga."Saya tahu itu keliru," ucapnya.

Karni pun masuk sel di lapas, setelah menjalani registrasi, dengan cap jempol, bukan tanda tangan. Masuknya joki napi Karni tersebut, terungkap pada tanggal 31 Desember 2010, ketika ada seseorang yang menjenguk dan mengetahui Karni ternyata bukan Kasiyem.

Menanggapi kasus itu, Bupati Bojonegoro, Suyoto menyatakan, kasus joki napi tersebut bukanlah kasus mafia hukum besar sebagaimana yang dibayangkan kebanyakan orang. Masalah itu muncul, hanya karena keluguan Kasiyem yang takut dipenjara dan Karni yang terbentur kesulitan ekonomi.

"Baik Kasiyem dan Karni semuanya lugu, orang yang tidak tahu tentang seluk-beluk mafia hukum," katanya menjelaskan.

Yang jelas, sebagaimana diungkapkan Kepala Divisi Pemasyaratan Kanwil Kementerian Hukum Jawa Timur, Djoko Hikmahadi, kejadian munculnya kasus joki napi di Lapas Bojonegoro, bisa menjadi pembelajaran bagi berbagai pihak terkait di bidang hukum.

"Ini modus baru, selama 20 tahun bertugas, belum pernah saya temui ada kasus joki napi," katanya ketika di Bojonegoro.

Pembenahan yang perlu dilakukan, menurut dia, perlu dilakukan, baik kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lapas. Setidaknya mereka harus tahu sejak awal proses penanganan kasus dan orang yang terlibat harus dilengkapi dengan foto dan identitas lainnya. (KR-SAS/D009/A038)

Sumber: antaranews, Rabu, 5 Januari 2011

Anggaran Pendidikan 2011 Rp 248 Triliun

JAKARTA - Pemerintah mengalokasikan angaran fungsi pendidikan untuk tahun 2011 ini sebesar Rp 248 triliun. Jumlah ini memakan porsi 20,2% dari total anggaran pendapatan belanja negara (APBN) 2011 sebanyak Rp 1.229 triliun. Sementara dari plafon anggaran pendidikan tersebut, sebanyak Rp 158 triliun ditransfer ke daerah.

"Enam puluh persen lebih dana pendidikan ditransfer ke daerah," kata Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Muhammad Nuh pada Sosialisasi Program Prioritas Kesra 2011 di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, Jakarta, Selasa, 4 Januari 2011.

Mendiknas mengatakan, sebanyak Rp 89 triliun anggaran fungsi pendidikan dialokasikan untuk pemerintah pusat. Dia merinci, dari anggaran pusat itu, sebanyak Rp 55 triliun untuk Kemdiknas, sekitar Rp 27 triliun untuk Kemenag dan Rp 6,8 triliun untuk kementerian/lembaga lainnya.

"Ada 18 kementerian yang punya kewenangan untuk melaksanakan fungsi pendidikan. Oleh karena itu, anggarannya juga disebar," katanya.

Selain itu, alokasi dana pengembangan pendidikan nasional sebanyak Rp 1 triliun. Disebutkan, total anggaran telah mencapai Rp 2 triliun akumulasi tahun 2010 dan 2011. "Ini yang disebut dana abadi pendidikan," ujarnya.

Ia menambahkan, dari anggaran Kemdiknas Rp 55 triliun, sebagian besar digunakan untuk program pendidikan dasar Rp 12,7 triliun (23%), pendidikan menengah Rp 5 triliun (9,1%), dan pendidikan tinggi Rp 28,8 triliun (51,9%). "Anggaran Dikti (pendidikan tinggi) termasuk PNBP (penerimaan negara bukan pajak) dimasukkan, sehingga sangat besar," jelasnya.

Mendiknas mengatakan, ada lima prioritas anggaran Kemdiknas 2011. Pertama, untuk peningkatan akses dan mutu pendidikan anak usia dini (PAUD) Rp 1,3 triliun. Kedua, penuntasan pendidikan dasar sembilan tahun Rp 7,2 triliun dan Rp 26 triliun ditransfer ke daerah. Ketiga, peningkatan mutu pendidikan vokasi (kejuruan) Rp 2,4 triliun. Prioritas keempat adalah percepatan peningkatan kualifikasi akademik guru ke S1/D4, sertifikasi dan rintisan pendidikan profesi guru Rp8 triliun, dan prioritas kelima percepatan peningkatan jumlah dosen S3 sebesar Rp 2 triliun.

Di tempat yang sama, Menteri Agama (Menag) Surya Dharma Ali, mengatakan, program Kemenag 2011 adalah meningkatkan aksesibilitas pendidikan di lingkungan pendidikan agama dan keagamaan, sekaligus melakukan upaya meringankan beban pendidikan bagi siswa siswi maupun di lembaga pendidikan keagamaan lainnya.

"Kemenag juga mengajak pemerintah daerah mewujudkan pendidikan gratis dari ibtidaiyah sampai aliyah," katanya.(cha/jpnn)

Sumber: jpnn, Selasa, 4 Januari 2011

Tuesday, January 4, 2011

PGRI Nilai Pendidikan Nasional Tanpa Arah


JAKARTA - Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), Sulistyo, menilai, penyelenggaraan pendidikan di Indonesia sepanjang tahun 2010 berjalan tanpa semangat reformasi seperti yang digaungkan selama ini.

"Tahun 2010 adalah tahun everything is usual (biasa-biasa saja), tanpa arus besar yang menunjukkan ke mana arah pendidikan nasional," ujar Sulistyo di Jakarta, Selasa, 4 Januari 2011.

Anggota DPDRI dari Jawa Tengah itu mengingatkan, pada 14 Januari 2010 silam Kementerian Pendidikan Nasional pernah menggelar acara Sarasehan Nasional Pengembangan Pendidikan Budaya dan Karakter Bangsa. Namun menurutnya, pendidikan karakter sepanjang 2010 seolah-olah menjadi arah dan muara pendidikan nasional.

"Padahal, kajian PB PGRI menggencarkan pendidikan karakter akan menjadikan pendidikan kita salah arah. Pendidikan watak, budi pekerti, dan akhlak mulia yang dicanangkan tidak memiliki makna baru," tegasnya.

Sulistyo juga menyinggung soal Ujian Nasional (UN). Menurut dia, UN selalu penuh kontroversi. Bahkan gugatan Citizen Lawsuit atas UN pernah digelar dan ternyata dimenangkan pengadilan. Upaya pemerintah mengajukan permohonan kasasi ke Mahkamah Agung, juga ditolak.

Sulistyo menilai hal itu sebagai bentuk perlawanan terhadap kebijakan pemerintah dalam hal UN. "Mestinya penolakan oleh MA itu dijadikan momentum untuk mengakhiri UN yang melanggar prinsip-prinsip pedagogis (mendidik), melawan perundang-undangan, melemahkan semangat belajar, dan berdampak sangat buruk itu. Yang dilakukan Kemdiknas dan DPR hanya mampu menambal sulam UN yang ada dengan menyebutnya "format baru" yang akan mengakhiri perdebatan,” tegasnya.

Demikian juga halnya dengan Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI/SBI) dan WCU (World Class University). Pada tahun 2010, RSBI/SBI dan WCU dinyatakan dievaluasi. Namun, sampai akhir tahun ini belum ada pemberitahuan bagaimana hasilnya, imbuh Sulistyo.

Hal lain yang juga menjadi kecemasan PGRI adalah tentang angka drop out. "Menurut data Kemdiknas, 1,7 persen dari 31 juta siswa SD drop out dan 19 persen lainnya tidak melanjutkan ke SMP. Sementara itu 59 persen lulusan SMA dan SMK tidak lanjut ke Perguruan Tinggi (PT). Angka Partisipasi Perguruan Tinggi kita baru sekitar 18 persen," ungkapnya.

Temuan lainnya adalah persoalan minimnya akses peserta didik ke dunia pendidikan, di mana sekitar 75 persen disebabkan oleh faktor ekonomi. "Padahal anggaran pendidikan kita sudah mencapai angka 20 persen dari APBN dan APBD," tandasnya.

Menyinggung soal profesionalisme guru, Sulistyo menyebut pada tahun 2010 Kemdiknas menyatakan ketidakpuasannya terhadap sertifikasi portofolio karena tidak berimplikasi signifikan terhadap perbaikan kinerja guru. "Namun, masyarakat belum melihat adanya upaya lain yang dirancang secara sistematis dan teruji untuk meningkatkan kompetensi guru dalam jabatan," pungkas Sulistyo. (fas/jpnn)

Sumber: jpnn, Rabu, 5 Januari 2011

Tak Gampang Tarik Guru PNS dari Sekolah Swasta


MALANG – Pemerintah belum mengeluarkan keputusan jadi atau tidaknya para guru PNS ditarik dari sekolah-sekolah swasta. Namun, jika kebijakan itu nantinya dikeluarkan, tampaknya akan sulit diterapkan di lapangan.

Di Kota Batu, Jatim, misalnya, Kepala Dinas Pendidikan setempat, Mistin, terang-terangan menyatakan bukan hal yang gampang menarik guru PNS dari sekolah-sekolah swasta.

"Kalau memang ada kebijakan itu, akan sulit dilakukan di Kota Batu,” kata Mistin kepada Malang Post (grup JPNN), Selasa, 4 Januari 2011.

Sulitnya menarik guru PNS dari sekolah swasta, menurut Mistin, karena sekolah swasta merupakan mitra bagi Dinas Pendidikan. Mereka, lanjut Mistin, membantu tugas pemerintah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa melalui lembaga pendidikan yang ada di daerah-daerah.

"Tidak semua masyarakat Kota Batu dapat ditampung di sekolah-sekolah negeri yang ada di Kota Batu," ujar Mistin.

Dijelaskan pula, jika ada penarikan guru PNS dari sekolah swasta, problem selanjutnya adalah akan ditempatkan di mana para guru PNS itu. Dikatakan, sekolah-sekolah negeri di Kota Batu tidak mampu menampung semua guru PNS yang ada di swasta.

“Kalau mereka semua ditarik pasti ada yang nganggur karena tidak dapat sekolah untuk mereka mengajar. Justru akan menimbulkan permasalahan baru,” terangnya.

Alasan lain, kebijakan pemerintah yang akan menarik guru PNS dari sekolah swasta bakal menyulitkan sekolah-sekolah swasta yang minim anggaran. Seperti diberitakan, pemerintah berencana menarik guru-guru berstatus PNS yang mengajar di sekolah swasta melalui Surat Edaran (SE) Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB). Kementrian yang dipimpin EE Mangindaan itu, saat ini sedang melakukan kajian mengenai rencana tersebut. (aim/sam/jpnn)

Sumber: jpnn, Rabu, 5 Januari 2011

Dikaji, Penarikan Guru PNS di Sekolah Swasta


JAKARTA - Kementerian Negara Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemen PAN-RB) bersama Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mengkaji ulang rencana penarikan terhadap guru-guru pegawai negeri sipil (PNS) yang bertugas di sekolah swasta. Kebijakan itu menuai protes dan memicu polemik.

Kepala Bidang Penyusunan Formasi Deputi SDM Aparatur Kemen PAN Sukardiono menjelaskan, pihaknya terus mengkaji dan mengevaluasi kebijakan tersebut. Menurut dia, kebijakan pendistribusian guru negeri untuk bertugas di sekolah swasta merupakan amanat Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 28 Tahun 1981 tentang Pemberian Bantuan kepada Sekolah Swasta. "Kami masih mengkaji apakah PP itu tetap relevan atau tidak," tuturnya, di Jakarta, Senin, 3 Januari 2011.

Pasal 3 PP tersebut menyebutkan, bantuan bagi sekolah swasta bisa saja berbentuk uang, tenaga pendidik berstatus PNS, serta sarana dan prasarana pendidikan. Sukardiono, menjelaskan selama ini distribusi bantuan guru PNS ke sekolah swasta minim evaluasi. Dia berharap Kemendiknas mengevaluasi bantuan itu. Evaluasi tersebut adalah memantau apakah sekolah swasta yang dibantu itu sudah bisa mandiri. "Jika sudah mandiri, ya ditarik tenaga (guru PNS, Red) bantuan itu," katanya. Selanjutnya, guru-guru tersebut didistribusikan ke sekolah swasta lain.

Dikatakan, selama pengkajian itu, idealnya tidak ada penarikan guru PNS dulu di sekolah swasta. Hanya, Kemen PAN tak bisa memaksa. "Sesuai otonomi daerah, kepala daerah berwenang menarik (guru PNS di sekolah swasta, Red)," tuturnya. Kemen PAN hanya memastikan, sementara tidak dikeluarkan surat edaran yang menginstruksi penarikan guru PNS di sekolah swasta.

Dia menengarai, penarikan guru PNS di sekolah swasta di beberapa daerah disebabkan adanya kebutuhan yang cukup tinggi. Jumlah guru PNS yang pensiun dengan rekrutmen baru juga tidak seimbang.

Sementara itu, Mendiknas M. Nuh membantah bahwa penarikan guru PNS di sekolah swasta tersebut didasarkan pada pertimbangan penghematan APBD. "Uang belanja guru PNS tetap dari pusat (APBN)," ujarnya. Hanya, oleh pemerintah pusat, anggaran itu dimasukkan dalam APBD. Selanjutnya, pemerintah daerah berwenang menyalurkan anggaran tersebut.

Nuh mengungkapkan, selama ini pemerintah bisa menyalurkan bantuan operasional sekolah (BOS) dan bantuan pengadaan sarana-prasarana pendidikan ke sekolah swasta. "Jadi, mengapa tidak bisa memberikan bantuan (guru PNS)?" ujarnya. Padahal, tambah dia, tugas sekolah swasta dan sekolah negeri sama. Yaitu, sama-sama melaksanakan program pendidikan.

Mantan Menkominfo itu menjelaskan, pihaknya dan Kemen PAN terus berkoordinasi untuk merumuskan kebijakan penugasan guru PNS ke sekolah swasta. Kebijakan itu diarahkan untuk memetakan syarat-syarat sekolah swasta bisa mendapatkan bantuan guru PNS. Di sekolah yang sudah mandiri, tidak perlu ditempatkan guru PNS. "Saya tegaskan lagi, intinya Kemendiknas tidak punya kebijakan menarik guru PNS di sekolah swasta," tegas mantan rektor ITS itu. (wan/c5/dwi)

Sumber: jpnn, Selasa, 4 Januari 2011

Unas Digelar April 2011


JAKARTA - Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) M. Nuh telah menandatangani Permendiknas No. 45 Tahun 2010 tentang Kriteria Kelulusan dan Permendiknas Nomor 46 tentang Pelaksanaan Unas SMP dan SMA Tahun Pelajaran 2010/2011.

Berdasarkan isi Permendiknas tersebut, pelaksanaan Ujian Nasional (Unas) Tahun Pelajaran 2010/2011 jenjang sekolah menengah atas/madrasah aliyah/sekolah menengah kejuruan (SMA/MA/SMK) akan digelar pada 18-21 April 2011. Sedang pelaksanaan Unas sekolah menengah pertama/madrasah tsanawiyah (SMP/MTs) akan digelar pada 25-28 April 2011.

Aturan baru itu juga mencantumkan formula baru untuk menentukan kelulusan yaitu nilai gabungan antara nilai Unas dan nilai sekolah yang meliputi ujian sekolah dan nilai rapor. "Dengan formula baru, kita pertimbangkan prestasi di sekolah yaitu ujian sekolah dan rapor digabung dengan Unas," ungkapnya di Gedung Kemdiknas, Jakarta, Senin, 3 Januari 2011.

Di tempat yang sama, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Kemdiknas Mansyur Ramly menyampaikan, Unas Susulan SMA/MA/SMK dilaksanakan pada 25-28 April 2011 dan pengumuman kelulusan oleh satuan pendidikan paling lambat 16 Mei 2011. Sedangkan Unas Susulan SMP/MTs pada 3-6 Mei 2011. Untuk pengumuman Unas SMP/MTs oleh satuan pendidikan pada 4 Juni 2011. "Unas kompetensi keahlian kejuruan SMK dilaksanakan oleh sekolah paling lambat sebulan sebelum Unas dimulai," ujarnya.

M. Nuh menjelaskan, sebelum kelulusan diumumkan, sekolah harus mengirimkan hasil nilai sekolah untuk digabungkan dengan hasil nilai Unas ke Kemdiknas. Selanjutnya, setelah digabungkan dengan formula 60 persen Unas ditambah dengan 40 persen nilai sekolah, nilai tersebut dikembalikan lagi ke sekolah. "Sekolah merekap dengan mata pelajaran lain. Kan ada tujuh mata pelajaran lain yang harus lulus. Yang menentukan kelulusan tetap satuan pendidikan," katanya.


Dijelaskan Nuh, dari peta nilai akan dilakukan analisa tiap sekolah. Bagi sekolah-sekolah yang nilainya rendah, akan dilakukan intervensi. Disebutkan, Kemdiknas pada 2010 telah melakukan intervensi dengan memberikan insentif kepada 100 kabupaten/kota yang nilai UN-nya rendah. "Kita beri dana Rp 1 milyar sebagai stimulus," sebutnya.

Insentif tersebut diberikan bagi kabupaten/kota dengan persentase kelulusan siswa kurang dari 80 persen dan memiliki indeks kapasitas fiskal kurang dari 1. Adapun intervensi program yang dilakukan meliputi peningkatan kompetensi guru dan remedial.
Nuh tidak memberikan target khusus kelulusan siswa. "Justru yang menjadi target adalah kejujuran dari pelaksanaan Unas. Itu yang lebih mahal karena dari angka kelulusan tahun lalu sudah 99 persen," katanya. (Cha/jpnn)

Sumber: jpnn, Senin, 3 Januari 2011

Blog Archive