Blog

Blog

Wednesday, September 28, 2011

Fobia Sihir Ekonomi


Oleh RHENALD KASALI

Sejak Thomas Friedman menulis buku The World Is Flat (2005), banyak orang yang percaya, bahwa bumi tempat kita berpijak pada abad ke-21 ini telah benar-benar berubah menjadi datar.

Teknologi telah mengubah dunia ke dalam suatu keserempakan dan saling mengisi karena semua orang sudah terhubung. ”Meaning” yang digelontorkan oleh Friedman sejak 2005 itu menimbulkan impact yang sangat kuat di kalangan banyak ekonom dunia. Sebab, bila benar dunia ini telah berubah menjadi datar, dampak resesi global akan sungguh menyakitkan.

Dugaan itu ternyata keliru. Bumi ternyata belum menjadi datar. Seperti kata Columbus, bumi ini masih bulat dan bentuknya masih seperti telur, belum berubah menjadi dadar atau omelet. Matahari yang bersinar di satu titik ternyata tak dinikmati merata all a sudden seperti ramalan Friedman. Krisis menakutkan yang menimpa Amerika Serikat sejak tahun lalu ternyata tak menimbulkan krisis di Asia. Di sana gelap, di sini terang. Ketika Amerika Serikat menikmati summer Juni ini, Australia, Selandia Baru, dan Afrika Selatan justru mendekap kedinginan.

Fobia Flatter
Fobia terhadap gejala flatter dengan cepat ditangkap di seluruh dunia. Namun, saat fobia itu menyerang kita, saya sempat mengingatkan bahwa mungkin kita telah salah berfobia. Hal tersebut saya tuangkan dalam buku Marketing in Crisis yang terbit dua tahun lalu. Ternyata, kita benar, fobia flatter itu berlebihan. Yang benar masihlah Columbus. Bumi ini masih bulat, kok. Kita di Asia justru menikmati pertumbuhan ekonomi yang bagus, yang impaknya dirasakan saat liburan ini, ketika orang-orang yang beruntung menikmati hari libur dengan menguasai seat pesawat besar-besaran.

Yang menikmati pertumbuhan itu orang Indonesia, India, Tiongkok, dan Brazil. Orang-orang yang biasanya hanya berlibur ke Bali kini pergi ke Singapura dan Hongkong. Sedangkan yang tahun lalu ke Hongkong kini terbang ke Eropa dan Amerika Serikat.

Bahkan, ketika fobia tersebut melanda IMF, tak banyak orang Eropa yang sadar bahwa mereka tengah terkena sihir kematian. Dalam sihir itu, di-believe-kan (ditanamkan kepercayaan) setelah Yunani, krisis akan merambat ke Portugal, Spanyol, Italia, terus ke negara-negara industri di Eropa Barat. Maka, ketika ratusan ribu penduduk Yunani turun ke jalan, mengamuk kepada pemerintahnya, beberapa hari ini seperti saat bank-bank kita ditutup IMF dalam krisis 1998, media global memberitakan bahwa Eropa ketakutan.

Dana 20 miliar euro yang digelontorkan untuk menyelamatkan Yunani disambut dingin, bukan sebuah sukacita. Padahal, fobia masal ekonomi seperti itu hanyalah sebuah sihir, yang kata Profesor Richard Wiseman diciptakan oleh orang-orang ”pintar” agar dipercaya.

Mereka, lanjut Wiseman, hanyalah memiliki ability to make something from nothing, yang daya kekuatannya menjadikan seseorang seperti paranormal atau cenayang yang gagah serta seakan-akan serbabenar dan mampu berbicara dengan arwah atau meramalkan kebenaran. Sebuah kebenaran yang hanya akan menjadi benar kalau manusia mempercayainya. Juga celakanya, perhatikanlah, hampir semua paranormal hebat punya kekuatan sihir untuk membuat sebagian besar orang yang diajak bicara percaya kepadanya.

Nah, di Eropa, orang-orang Jerman yang sejak dulu tangannya gatal bekerja tak mempedulikan ramalan-ramalan itu. Maka, keajaiban pun terjadi di Jerman. Krisis yang diramalkan oleh IMF tak menjadi kenyataan. Jerman diam-diam menjadi runner-up eksporter dunia setelah Tiongkok.

Pendapatan ekspor Jerman memberikan kontribusi dua pertiga dari perekonomiannya. Itu semua dipicu leadership Konselor Gerhard Schroder yang berkuasa singkat pada 1998-2005, yang bersedia tidak populer, bahkan hingga tak dipilih lagi oleh rakyatnya karena memperjuangkan masa depan negara.

Dia memotong upah dengan mengurangi jam kerja demi menyelamatkan ekonomi, tapi memberikan jaminan kepada penganggur. Akibatnya, ekonomi membaik dan diam-diam Jerman menguasai dua sektor, yaitu permesinan UMKM yang teknologinya tidak mudah ditiru pesaing lain (ini berbeda dengan metode Tiongkok dalam memasuki pasar dunia) serta branded economy dalam otomotif dan elektronik.

Bagaimana Indonesia? Apakah kemajuan ekonomi kita dipicu strategi yang kuat, kepemimpinan yang tidak populis dan rela memperjuangkan jangka panjang, menurunkan pendapatan tetapi meningkatkan kesejahteraan dan pemerataan, atau jangan-jangan hanya kebawa arus Tiongkok dan India?

Kekuatan Sihir
Tak banyak pemimpin yang menyadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang mudah percaya terhadap kekuatan sihir. Tengok saja kiri kanan, satu orang latah, esoknya puluhan orang ikut-ikutan latah. Sama dengan fenomena kesurupan masal atau hipnotisme. Kita semua mudah sekali terseret gelombang antrean panjang, masuk ke pusaran yang ternyata terbawa arus besar.

Sayang, sihir yang sedang kita alami ini adalah sihir negatif. Sihir tentang ancaman negara gagal, hutan belantara korupsi, ketidakpercayaan kepada penguasa dan keadilan, kegagalan persekolahan, terbelenggunya birokrasi, dan seterusnya. Di mana letak kepemimpinan?

Bangsa yang mudah kena sihir dapat diduga sebagai bangsa yang kurang produktif. Secara dia bekerja, matanya lirak-lirik, tidak terfokus pada pekerjaan. Jalan tol bisa macet total hanya gara-gara ada mobil yang berhenti dan penumpangnya perempuan cantik. Semua mata berhenti hanya untuk melihat. Banyak energi habis untuk urusan yang tidak penting, tapi cukup menghibur.

Kita memerlukan pemimpin yang kuat, yang bisa memberikan meaning baru dalam mengantar kita ke masa depan. Pemimpin yang saya maksud harus ada di segala lini. Dia memberikan hope, menyalakan lilin dalam terowongan nan gelap ini bahwa bumi ini masih bulat, bumi ini masih berbentuk telur, dan telurnya belum berubah menjadi omelet. (*)


*) Rhenald Kasali, Guru Besar Ilmu Manajemen Fakultas Ekonomi UI

http://padangekspres.co.id/img/sot.gifSumber: Padang Ekspres • Senin, 04/07/2011 11:13 WIB •

Corporate DNA


Oleh RHENALD KASALI


Minggu ini di Nusa Dua, Bali, saya diberi tugas oleh BP Migas menjelaskan perihal corporate DNA di hadapan para eksekutif minyak dan gas.

Tentu saja tidak sulit memberi contoh corporate DNA dalam industri migas karena masingmasing dari mereka memiliki corporate DNA yang berbedabeda. Chevron, Exxon, Pertamina, dan Medco misalnya, meski sama industrinya, dapat ditelusuri DNA-nya yang berbeda. Dan eksekutif Indonesia punya banyak pengalaman dalam mengembangkan perbankan crosscorporate DNA. Eksekutif eks Citibank misalnya, pascakrisis 1997–1998 diketahui hanya cocok menangani bankbank besar, sementara yang terdampar di
bank-bank start-up kesulitan beradaptasi.

Corporate DNA berbeda dengan corporate culture, karena yang satu merupakan unsur pembentuk yang bersifat struktural, yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya dan bersifat kontaminasi. Sedangkan yang satunya lagi dibentuk untuk menghadapi lingkungan. Corporate DNA adalah unsur bawaan yang mendasar. Sementara corporate culture dibentuk
sebagai strategi. Maka, perusahaan- perusahaan atau lembaga-lembaga yang tak membentuk corporate culture as a strategy, bisa jadi hanya memiliki corporate DNA belaka.

DNA atau Budaya
Dalam buku barunya The Why of Work, Dave Ulrich menyebut kembali peran corporate culture dalam membentuk suasana sejahtera (abundance) pada lembaga-lembaga dan perusahaan. ”Corporate culture is something about what your feel when you are entering their home” dan karena perusahaan-perusahaan serta kantor-kantor kementerian kelas dunia
memiliki corporate culture yang unik dan menjadi penentu kinerja, maka perusahaan- perusahaan dan kantorkantor kementerian di Indonesia pun berlomba-lomba membentuknya.

Celakanya, banyak sekali eksekutif yang menyerah saat melakukan engagement dari tata nilai (values) menjadi corporate culture dan mengaitkannya dalam visi–misi–dan strategi. Akibatnya, budaya korporat yang diinginkan sebenarnya belum pernah ada. Yang ada hanyalah corporate DNA yang diwariskan oleh para pendahulu dan terus berevolusi, terkontaminasi dari orang ke orang. Corporate DNA yang tak dikelola menjadi corporate culture dan dihubungkan pada strategi tak akan pernah bermuara pada kinerja yang diinginkan. Jangankan transformasi,
beradaptasi saja lembaga itu akan kesulitan.

”Penyakit- penyakit” yang diduga genetis berdatangan silih berganti. Tata kelola memburuk dan muncul kegelisahan-kegelisahan di kalangan pengambil keputusan, konflik, dan perilaku-perilaku tidak produktif. Lembaga-lembaga dan perusahaan-perusahaan yang demikian terbentuk menjadi ”organisasi politik” yang sulit bergerak. Maka, dalam melakukan transformasi perusahaan-perusahaan tua atau saat membentuk perusahaan baru yang lebih terorganisasi, para eksekutif perlu melakukan mapping dan DNA treatment atau setidaknya memahami peran corporate DNA dalam membentuk perilaku.

Perilaku seperti apa yang diinginkan? Banyak eksekutif yang membuat list perilaku yang terkesan hebat, lengkap, dan luas. Ttetapi, sesungguhnya perusahaan hanya butuh satu perilaku dasar yang bersifat genetik, yaitu adaptif. Dari perilaku adaptif itulah dibangun tata nilai positif yang dirancang dalam berbagai elemen mulai dari budaya korporat, sistem
penilaian dan monitoring, reward system, teknologi, aturan kerja,dan seterusnya.

Co-Evolution Budaya – DNA Bahwa DNA berinteraksi dengan budaya, sudah banyak temuan dalam teori evolusi yang membuktikannya. Belum lama ini, dalam jurnal Nature of Genetics, Kevin N Laland, seorang biologist, menyimpulkan dari penelitiannya, bahwa budaya merupakan a powerful force of nature selection. Bagi Laland, manusia beradaptasi secara genetis untuk menghadapi perubahan. Sebuah studi lain yang dilakukan dua peneliti dari Universitas of California (Boyd & Richerson) menemukan di beberapa negara di Eropa Utara mayoritas penduduknya memiliki gen Lactose-Tolerance.

Gen ini tidak dimiliki oleh orang-orang Asia atau penduduk daerah lain yang sama seperti mereka sudah disapih sejak usia satu tahun. Sejak disapih ibu, diketahui kemampuan manusia menoleransi atau mencerna laktosa (ada pada susu) hilang. Pertanyaannya, mengapa pada masyarakat di Eropa Utara mereka memiliki lactose-tolerance gene? Jawabnya adalah karena budaya minum susu murni ada pada mereka yang sejak 6.000 tahun lalu hidup berdampingan dengan beternak sapi.

Hal serupa juga ditemui pada masyarakat pertanian yang memiliki gen pada saliva (air liur) untuk memecahkan tepung dalam pencernaan. Sementara gen ini tak dimiliki oleh masyarakat berbudaya kelautan yang banyak makan ikan. Jadi kesimpulannya, gen berubah bersama-sama dengan budaya. Demikian pula dengan gen perilaku yang membentuk corporate DNA Menilik
pada temuan-temuan itu, studi-studi dalam sosiobiologi yang sudah lama dipelopori oleh EO Wilson (1975) mungkin perlu kita baca kembali untuk menata dunia usaha dan kelembagaan di sini. Indonesia tengah mengalami suatu transisi besar, dari bangsa yang diam menjadi bangsa yang bergeliat – resah.

Dari sebuah sistem tertutup menjadi sangat liberal dan terbuka. Bahkan dari suasana damai menjadi konflik terbuka dan penuh ancaman. Dari perdesaan menjadi perkotaan dengan sejuta masalah. Masalahnya, kita diamkan saja diri terlena oleh perubahan atau bertransformasi dengan mewariskan budaya adaptif yang inherited ke dalam DNA kita? Kalau kita ingin bangsa ini tumbuh menjadi besar dan selamat dari gelombang-gelombang tsunami krisis yang datang dari luar, maka DNA treatment perlu segera dilakukan.

Sekarang kita banyak menyaksikan gelombang-gelombang perubahan semu digerakkan pemimpin-pemimpin yang tidak memiliki leadership DNA yang kuat. Dengan karakter yang lemah, mereka begitu mudah digoyang karena masih mempertahankan budaya- budaya lama yang tidak cocok. Di perusahaan-perusahaan keluarga, banyak ditemui masalah pengorganisasian dan tata kelola perusahaan pada anak tertua yang tidak adaptif, tetapi
menguasai perusahaan.

Di perusahaan-perusahaan swasta besar maupun menengah, gangguan serupa terjadi di kementerian-kementerian dan lembaga-lembaga publik ternyata sama saja. Kala masyarakat telah menjadi sangat demokratik,kepemimpinan yang otoriter akan menjadi sandungan. Kala keterbukaan dan kemajuan teknologi informasi begitu luas menuntut transparansi, pemimpin-pemimpin yang korup tak lagi punya pijakan dan kehilangan respek. Kala tata kelola menjadi tuntutan, pemimpin yang bersandiwara kekuasaan akan kehilangan legitimasi.

Pemimpin-pemimpin yang demikian susah berkuasa, tetapi juga susah untuk diturunkan. Duduk di kursi hanya mengurus kekuasaan dan ketidakpercayaan. Adapun perusahaan butuh pemimpin yang adaptif dan bisa membawa karyawan hidup dalam kesejahteraan dan suasana jiwa ”berkelebihan” dalam segala hal. Saya khawatir, banyak orang yang tidak mengerti keberlangsungan hidup ditentukan oleh kemampuan beradaptasi.

Dan kemampuan itu diperlukan untuk membangun budaya baru yang lebih
efektif. Lalu bagaimana melakukan engagement corporate DNA dengan
corporate culture? Kapan-kapan saja ya kita diskusikan. Selamat berpikir!

Thursday, 29 September 2011

*) RHENALD KASALI, Ketua Program MM UI
http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/431754/

Tuesday, September 27, 2011

Cara Praktis Menolak Pelamar Kerja


By: Jil Kalaran

G : HRD
A : Calon pelamar kerja...

G : Kowe nduwe motor Opo ora....?
A : Mboten.
G : Ora ketompo
A : Lho kok mboten ketompo ?
G : Mengko kowe mesthi njaluk bantuan kredit
A : Sak janipun gadhah, ning tasih teng kampung, gampil mangke kulo beto
ngriki.
G : Wah malah ra ketompo ....
A : lho kok ngoten ?
G : Tempat parkire wis ra cukup.

G : Kowé wis lulus sarjana tenan.....?
A : sampun pak....
G : Ora ketompo, kéné iki golék sing SMA aé, luwih manutan lan bén
mbayaré murah
A : Sak janipun kulo tasih badhe skripsi
G : Malah ora ketompo ..
A : Lho kados pundi to..?
G : Mengko kowé kerjo mung ngetik skripsi, lék wis lulus mesti golék
kerjo neng
perusahaan liyo..

G : Anakmu akèh oposithik ?
A : Kathah pak
G : Kowé ora ketompo
A : Sebabipun ?
G : Nyambut gawemu ora jenjem, mung mikir gawe anaaaaaak terus
A : Lha wong namung anak adopsi, kok.
G : Tambah ora ketompo
A : Lho, lha kok ... ?
G : Gawé anak baé aras2en,opo manèh nyambut gawé

G : Kowé wis ngerti gawéyanmu durung ?
A: Dèrèng
G : Kowé ora ketompo
A : Sebabipun ?
G : Arep nyambut gawé kok ora ngerti gaweyané ?
A : Oo, nèk damelan niku mpun ngertos kok
G : Tambah ora ketompo
A : Lho, lha kok ... ?
G : Kowé rak mung arep keminter, to ?

G : Kowé biso main Internét ?
A : mBoten
G : Kowé ora ketompo
A : Sebabipun ?
G : Perusahaan ora nompo BI (Buta Internet)
A : Wah, sakjanipun nggih saged
G : Tambah ora ketompo
A : Lho, lha kok ... ?
G : Mesthi ora bakal nyambut gawé, kakèhan dolanan Internet,to?
Ngenték-entekké pulsa

G : Kowe waras opo ora?
A : Lha, kulo nggih waras to Pak.
G : Ra ketompo..... ..
A : Kenging nopo .....?
G : Mengko kowe mesthi ora krasan neng kene
A : Niku rumiyin Pak, sakmeniko sampun rodo edan.
G : Malah ra ketompo..
A : Pripun to niki....?
G : Mengko aku duwe saingan Edan,,mugo mugo sing moco iki ora melu
edan..wkwkwk=))wkwkwkkk=

UU Perkawinan Tak Melindungi Perempuan?


Sejumlah pasal dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan) masih mendiskriminasikan perempuan. Terutama terkait usia perkawinan yang masih membedakan perempuan dan laki-laki. Tak hanya itu, peran perempuan dan laki-laki dalam perkawinan yang tak setara juga menunjukkan adanya ketidakadilan bagi perempuan.

Gugatan mantan istri Bambang Triatmodjo, Halimah Agustina Kamil, terhadap UU Perkawinan menjadi contoh nyatanya. Halimah, dalam pokok permohonannya, meminta agar Mahkamah Konstitusi menghapus Pasal 39 Ayat (2) huruf f UU No 1/1974 tentang Perkawinan yang berbunyi "untuk melakukan perceraian harus ada cukup alasan, bahwa antara suami istri itu tidak akan dapat hidup rukun sebagai suami istri".

Perceraian Halimah dan Bambang pada 23 Desember 2010 lalu menunjukkan bagaimana laki-laki lebih memiliki kuasa dalam memutuskan sebuah ikatan perkawinan, dengan alasan ketidakcocokan atau tak rukun. Sementara Halimah, yang berusaha mempertahankan perkawinan, "tak berdaya" untuk tunduk pada keputusan perceraian tersebut.

Kasus Halimah hanya salah satu contoh bagaimana UU Perkawinan tak lagi sejalan dalam mengatur hubungan pernikahan. Ninik Rahayu, Komisioner Komnas Perempuan, mengatakan banyak pasal di UU Perkawinan yang tak sejalan.

Selengkapnya, lihat di sini

Tuesday, September 13, 2011

Sahara


Ke mana kaki mesti melangkah
Menapaki jejak yang makin samar
Terkadang hanya bayangan
Berkelebat lalu menghilang

Wahai Sang Peneguh segala yang bimbang
Tetapkan hati dan pikiran
Kuatkan pijakan karang
Tuntun menuju terang
sampai tiada terhalang
Menuju kesempurnaan kekal



By: MASSHUTO
14.9.11

Thursday, August 18, 2011

Rumah Sunyi


Kalau sampai giliranku
Kumerindu persinggahan,
bersama senyum-mu

Dalam lapang rumah sunyi
tanpa duri
Dalam lapang rumah sunyi
bertabur bidadari


By: MASSHUTO

Wednesday, July 20, 2011

Sya'ban ala Rasulullah SAW


Amalan-amalan Sunah dan Tarbiyah Imaniyah di Bulan Sya'ban



Oleh: MUHIB AL MAJDI

Banyak di antara kaum muslimin yang terjebak dalam amalan-amalan bid’ah di bulan Sya’ban. Ini karena mereka mengamalkan hadits-hadits yang statusnya lemah, lemah sekali, dan bahkan palsu. Padahal, terdapat banyak hadits shahih yang menjelaskan dengan rinci bagaimana tuntunan Nabi Muhammad SAW dalam mengisi bulan yang mulia ini. Berikut ini kami sampaikan sekelumit tuntunan Nabi Muhammad SAW dalam mengisi bulan Sya’ban dan beberapa persiapan yang selayaknya dilakukan oleh kaum muslimin dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Semoga bermanfaat dan selamat menikmati.

Bulan Puasa Sunnah
Bulan Sya’ban adalah bulan yang disukai untuk memperbanyak puasa sunah. Dalam bulan ini, Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunah. Bahkan beliau hampir berpuasa satu bulan penuh, kecuali satu atau dua hari di akhir bulan saja agar tidak mendahului Ramadhan dengan satu atau dua hari puasa sunah. Berikut ini dalil-dalil syar’i yang menjelaskan hal itu:

عن أم المؤمنين عائشة رضي الله عنها قالت: ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم استكمل صيام شهر قط إلا شهر رمضان، وما رأيته في شهر أكثر صيامًا منه في شعبان

Dari Aisyah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW melakukan puasa satu bulan penuh kecuali puasa bulan Ramadhan dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa sunah melebihi (puasa sunah) di bulan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 1969 dan Muslim no. 1156)

Dalam riwayat lain Aisyah berkata:

كان أحب الشهور إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم أن يصومه شعبان، ثم يصله برمضان

“Bulan yang paling dicintai oleh Rasulullah SAW untuk berpuasa sunah adalah bulan Sya’ban, kemudian beliau menyambungnya dengan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Daud no. 2431 dan Ibnu Majah no. 1649)

عن أم سلمة رضي الله عنها تقول: ما رأيت رسول الله صلى الله عليه وسلم يصوم شهرين متتابعين إلا شعبان ورمضان

Dari Ummu Salamah R.A berkata: “Aku tidak pernah melihat Rasulullah SAW berpuasa dua bulan berturut-turut kecuali bulan Sya’ban dan Ramadhan.” (HR. Tirmidzi no. 726, An-Nasai 4/150, Ibnu Majah no.1648, dan Ahmad 6/293)

Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani menulis: “Hadits ini merupakan dalil keutamaan puasa sunah di bulan Sya’ban.” (Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari)

Imam Ash-Shan’ani berkata: Hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW mengistimewakan bulan Sya’ban dengan puasa sunnah lebih banyak dari bulan lainnya. (Subulus Salam Syarh Bulughul Maram, 2/239)

Maksud berpuasa dua bulan berturut-turut di sini adalah berpuasa sunah pada sebagian besar bulan Sya’ban (sampai 27 atau 28 hari) lalu berhenti puasa sehari atau dua hari sebelum bulan Ramadhan, baru dilanjutkan dengan puasa wajib Ramadhan selama satu bulan penuh. Hal ini selaras dengan hadits Aisyah yang telah ditulis di awal artikel ini, juga selaras dengan dalil-dalil lain seperti:

Dari Aisyah RA berkata: “Aku tidak pernah melihat beliau SAW lebih banyak berpuasa sunah daripada bulan Sya’ban. Beliau berpuasa di bulan Sya’ban seluruh harinya, yaitu beliau berpuasa satu bulan Sya’ban kecuali sedikit (beberapa) hari.” (HR. Muslim no. 1156 dan Ibnu Majah no. 1710)

Dari Abu Hurairah RA berkata: Rasulullah SAW bersabda: “Janganlah salah seorang di antara kalian mendahului puasa Ramadhan dengan puasa (sunah) sehari atau dua hari sebelumnya, kecuali jika seseorang telah biasa berpuasa sunnah (misalnya puasa Senin-Kamis atau puasa Daud—pent) maka silahkan ia berpuasa pada hari tersebut.” (HR. Bukhari no. 1914 dan Muslim no. 1082)

Bulan Kelalaian
Para ulama salaf menjelaskan hikmah di balik kebiasaan Rasulullah SAW memperbanyak puasa sunah di bulan Sya’ban. Kedudukan puasa sunah di bulan Sya’ban dari puasa wajib Ramadhan adalah seperti kedudukan shalat sunah qabliyah bagi shalat wajib. Puasa sunah di bulan Sya’ban akan menjadi persiapan yang tepat dan pelengkap bagi kekurangan puasa Ramadhan.

Hikmah lainnya disebutkan dalam hadits dari Usamah bin Zaid R.A, ia berkata: “Wahai Rasulullah SAW, kenapa aku tidak pernah melihat Anda berpuasa sunah dalam satu bulan tertentu yang lebih banyak dari bulan Sya’ban? Beliau SAW menjawab:

ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفِلُ النَّاسُ عَنْهُ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الأَعْمَال إِلى رَبِّ العَالمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عملي وَأَنَا صَائِمٌ

“Ia adalah bulan di saat manusia banyak yang lalai (dari beramal shalih), antara Rajab dan Ramadhan. Ia adalah bulan di saat amal-amal dibawa naik kepada Allah Rabb semesta alam, maka aku senang apabila amal-amalku diangkat kepada Allah saat aku mengerjakan puasa sunah.” (HR. Tirmidzi, An-Nasai dan Ibnu Khuzaimah. Ibnu Khuzaimah menshahihkan hadits ini)

Bulan Menyirami Amalan-amalan Shalih

Di bulan Ramadhan kita dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah seperti membaca Al-Qur’an, berdzikir, beristighfar, shalat tahajud dan witir, shalat dhuha, dan sedekah. Untuk mampu melakukan hal itu semua dengan ringan dan istiqamah, kita perlu banyak berlatih. Di sinilah bulan Sya’ban menempati posisi yang sangat urgen sebagai waktu yang tepat untuk berlatih membiasakan diri beramal sunah secara tertib dan kontinu. Dengan latihan tersebut, di bulan Ramadhan kita akan terbiasa dan merasa ringan untuk mengerjakannya. Dengan demikian, tanaman iman dan amal shalih akan membuahkan takwa yang sebenarnya.

Abu Bakar Al-Balkhi berkata: “Bulan Rajab adalah bulan menanam. Bulan Sya’ban adalah bulan menyirami tanaman. Dan bulan Ramadhan adalah bulan memanen hasil tanaman.”

Beliau juga berkata: “Bulan Rajab itu bagaikan angin. Bulan Sya’ban itu bagaikan awan. Dan bulan Ramadhan itu bagaikan hujan.”

Barangsiapa tidak menanam benih amal shalih di bulan Rajab dan tidak menyirami tanaman tersebut di bulan Sya’ban, bagaimana mungkin ia akan memanen buah takwa di bulan Ramadhan? Di bulan yang kebanyakan manusia lalai dari melakukan amal-amal kebajikan ini, sudah selayaknya bila kita tidak ikut-ikutan lalai. Bersegera menuju ampunan Allah dan melaksanakan perintah-perintah-Nya adalah hal yang harus segera kita lakukan sebelum bulan suci Ramadhan benar-benar datang.

Bulan Persiapan Menyambut Ramadhan

Bulan Sya’ban adalah bulan latihan, pembinaan dan persiapan diri agar menjadi orang yang sukses beramal shalih di bulan Ramadhan. Untuk mengisi bulan Sya’ban dan sekaligus sebagai persiapan menyambut bulan suci Ramadhan, ada beberapa hal yang selayaknya dikerjakan oleh setiap muslim.

a. Persiapan iman, meliputi:

* Segera bertaubat dari semua dosa dengan menyesali dosa-dosa yang telah lalu, meninggalkan perbuatan dosa tersebut saat ini juga, dan bertekad bulat untuk tidak akan mengulanginya kembali pada masa yang akan datang.
* Memperbanyak doa agar diberi umur panjang sehingga bisa menjumpai bulan Ramadhan.
* Memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya’ban agar terbiasa secara jasmani dan rohani. Ada beberapa cara puasa sunah yang dianjurkan di bulan Sya’ban, yaitu: Puasa Senin-Kamis setiap pekan ditambah puasa ayyamul bidh (tanggal 13,14 dan 15 Sya’ban), atau puasa Daud, atau puasa lebih bayak dari itu dari tanggal 1-28 Sya’ban.
* Mengakrabkan diri dengan Al-Qur’an dengan cara membaca lebih dari satu juz per hari, ditambah membaca buku-buku tafsir dan melakukan tadabbur Al-Qur’an.
* Meresapi kelezatan shalat malam dengan melakukan minimal dua rakaat tahajud dan satu rekaat witir di akhir malam.
* Meresapi kelezatan dzikir dengan menjaga dzikir setelah shalat, dzikir pagi dan petang, dan dzikir-dzikir rutin lainnya.

b. Persiapan Ilmu, meliputi:

* Mempelajari hukum-hukum fiqih puasa Ramadhan secara lengkap, minimal dengan membaca bab puasa dalam (terjemahan) kitab Minhajul Muslim (syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi) atau Fiqih Sunnah (syaikh Sayid Sabiq) atau Shahih Fiqih Sunnah (Syaikh Abu Malik Kamal bin As-Sayid Salim) atau pedoman puasa (Tengku Moh. Hasbi Ash-Shidiqi) atau buku lainnya.
* Mempelajari rahasia-rahasia, hikmah-hikmah, dan amalan-amalan yang dianjurkan atau harus dilaksanakan di bulan Ramadhan, dengan membaca buku-buku yang membahas hal itu. Misal (terjemahan) Mukhtashar Minhjaul Qashidin (Ibnu Qudamah Al-Maqdisi) atau Mau’izhatul Mu’minin (Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi) atau buku-buku dan artikel-artikel para ulama lainnya.
* Mempelajari tafsir ayat-ayat hukum yang berkenaan dengan puasa, misalnya dengan membaca (terjemahan) Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim (Ibnu Katsir), atau Tafsir Al-Jami’ li-Ahkamil Qur’an (Al-Qurthubi), atau Tafsir Adhwa-ul Bayan (Asy-Syinqithi).
* Mempelajari buku-buku akhlak yang membantu menyiapkan jiwa untuk menyambut bulan Ramadhan.
* Mendengar ceramah-ceramah para ustadz/ulama yang membahas persiapan menyambut dan mengisi bulan suci Ramadhan.
* Mengulang-ulang hafalan Al-Qur’an sebagai persiapan bacaan dalam shalat Tarawih, baik bagi calon imam maupun orang yang shalat tarawih sendirian di akhir malam (tidak berjama’ah ba’da Isya’ di masjid).
* Mendengarkan bacaan murattal shalat tarawih para imam masjid yang terkenal keahliannya di bidang tajwid, hafalan, dan kelancaran bacaan.

c. Persiapan Dakwah, meliputi:

* Menyiapkan materi-materi untuk kultum, taushiyah, ceramah, khutbah Jum’at dan dakwah bil lisan lainnya.
* Membuat serlebaran, brosur, pamflet, majalah dinding, buletin dakwah dan lembar-lembar dakwah yang mengingatkan kaum muslimin tentang tata cara menyambut Ramadhan.
* Mengikuti kultum, ceramah-ceramah, dan pengajian-pengajian yang diadakan di sekitar kita (lingkungan masjid, tempat kerja, tempat belajar-mengajar) baik sebagai pemateri atau peserta sebagai bentuk persiapan dan pembiasaan diri untuk mengikuti kegiatan serupa di bulan Ramadhan.
* Mengadakan pesantren kilat, kursus keislaman, islamic study dan acara-cara sejenis.

d. Persiapan Keluarga, meliputi:

* Menyiapkan anak-anak dan istri untuk menyambut kedatangan Ramadhan dengan mengenalkan kepada mereka persiapan-persiapan yang telah disebutkan di atas.
* Membiasakan mereka untuk menjaga shalat lima waktu, shalat sunnah Rawatib, shalat dhuha, shalat malam (tahajud dan witir), dan membaca Al-Qur’an.
* Memberikan taushiyah /kultum harian jika memungkinkan.
* Meminimalkan hal-hal yang melalaikan mereka dari amal shalih di bulan Sya’ban dan Ramadhan, seperti musik-musik dan lagu-lagu jahiliyah, menonton TV, dan kegiatan-kegiatan lain yang tidak membawa manfaat di akhirat.
* Menyisihkan sebagian pendapatan untuk sedekah di bulan ini dan bulan Ramadhan.

e. Persiapan Mental

* Menyiapkan tekad yang kuat dan sungguh-sungguh untuk:
* Membuka lembaran hidup baru dengan Allah SWT, sebuah lembaran putih yang penuh dengan amal ketaatan dan berisi sedikit amal-amal keburukan
* Membuat hari-hari kita di bulan Ramadhan tidak seperti hari-hari kebiasaan kita di bulan lain yang penuh dengan kelalaian dan kemaksiatan
* Meramaikan masjid dengan melakukan shalat lima waktu secara berjama’ah di masjid terdekat dan menghidupkan sunah-sunah ibadah yang telah lama kita tinggalkan, seperti: bertahan di masjid ba’da Subuh sampai terbitnya matahari untuk dzikir, tilawah Al-Qur’an, atau belajar-mengajar; hadir di masjid sebelum adzan dikumandangkan; bersegera ke masjid untuk mendapatkan shaf awal; menunggu kedatangan imam dengan shalat sunnah dan niat I’tikaf; dst.
* Membersihkan puasa dari hal-hal yang merusak pahalanya, seperti bertengkar, sendau gurau dan perbuatan-perbuatan iseng yang sekedar untuk mengisi waktu tanpa membawa manfaat akhirat sedikit pun (main catur, main kartu, nongkrong bareng sambil menyanyi dan main gitar; dst)
* Menjaga dan membiasakan sikap lapang dada dan pemaaf
* Beramal shalih di bulan Ramadhan dan memulai banyak niat sedari sekarang. Seperti; niat bertaubat, niat membuka lembaran hidup baru dengan Allah, niat memperbaiki akhlak, niat berpuasa ikhlas karena Allah semata, niat mengkhatamkan Al-Qur’an lebih dari sekali, niat shalat tarawih dan witir, niat memperbanyak amalan sunah, niat mencari ilmu, niat dakwah, niat membantu menolong dan menyantuni sesama muslim yang membutuhkan, niat memperjuangkan agama Allah, niat umrah, niat jihad dengan harta, niat I’tikaf; dst)

f. Persiapan Jihad Melawan Hawa Nafsu

* Mengekang hawa nafsu dari kebiasaan-kebiasaan buruk dan keinginan hidup mewah, boros, kikir, dan menikmati makanan-minuman yang lezat atau pakaian yang baru di bulan Ramadhan
* Membiasakan lisan untuk mengatakan perkataan-perkataan yang baik dan bermanfaat; mencegahnya dari mengucapkan perkataan-perkataan keji, jorok, menggunjing, mengadu domba, dan perkataan-perkataan yang tidak membawa manfaat di akhirat
* Mencegah hawa nafsu dari keinginan untuk melampiaskan kemarahan, kesombongan, penyimpangan, kemaksiatan dan kezaliman
* Membiasakan diri untuk hidup sederhana, ulet, sabar, dan sanggup memikul beban-beban dakwah dan jihad di jalan Allah
* Melakukan muhasabah (introspeksi) harian dengan membandingkan antara program-program persiapan di atas dan tingkat keberhasilan pelaksanaannya.

Inilah sekelumit amalan sunnah di bulan Sya’ban dan persiapan yang selayaknya dilakukan oleh kaum muslimin dalam rangka menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Semoga kita termasuk golongan yang bisa berniat, berucap, dan berbuat yang terbaik di bulan Sya’ban dan Ramadhan yang akan datang. Hanya kepada Allah SWT kita memohon petunjuk dan pertolongan.

Wallahu a’lam bish shawab.
(Arrahmah.com)

Monday, July 4, 2011

MUSYAFIR


Ketika sepi berlabuh
dan panggung kehidupan tak lagi berdenyut
Kau menarikku dalam ladang tari dan nyanyi sunyi
Kau ajari aku mengenal segala yang hampir tak berarti

Di panggung tak bertepi
Tersemai benih yang tak pernah tahu
kapan mesti bersemi dan jadi buah hati
Kau minta aku meniti setiap pematang
dengan kaki berdekil
Kau minta aku menebar jala
menjaring matahari

Langkah kaki terlanjur terayun
Mendekati jarak yang terus menjauh
dalam hijau padang rumput
dalam segar zamzam yang basah
Menjemputi segala yang tertinggal
Sampai tak tersisa sedikit pun alpa


Gresik, 1 Juli 2011
MASSHUTO

Thursday, June 30, 2011

MUSYAFIR


Ketika sepi berlabuh
dan panggung kehidupan tak lagi berdenyut
Kau menarikku dalam ladang tari dan nyanyi sunyi
Kau ajari aku mengenal segala yang hampir tak berarti

Di panggung tak bertepi
Tersemai benih yang tak pernah tahu
kapan mesti bersemi dan jadi buah hati
Kau minta aku meniti setiap pematang
dengan kaki berdekil
Kau minta aku menebar jala
menjaring matahari

Langkah kaki terlanjur terayun
Mendekati jarak yang terus menjauh
dalam hijau padang rumput
dalam segar zamzam yang basah
Menjemputi segala yang tertinggal
Sampai tak tersisa sedikit pun alpa


Gresik, 1 Juli 2011
MASSHUTO

Thursday, June 23, 2011

Rindu

Rindu membatu
Ketika langkah berlalu

Dari jejak yang Kau tinggalkan
Kupunguti risalah
lewat sebaran kalam
Kugantungkan sandaran
lewat sabda junjungan hati

Sampai benar aku depan pintuMu
Dalam sejuk rumah abadi


Gresik, 29 Mei 2011
MASSHUTO

Saturday, May 14, 2011

Prime Time

Oleh MASSHUTO


Langit begitu kusam malam ini. Hujan seharian dan gerimis yang susul-menyusul tak juga menyusutkan ketebalan mendung. Kelam. Purnama yang harusnya membuat benderang alam terbuka juga tampak muram. Bintang pun tiada berpendar dan praktis tak terlihat oleh mata telanjang. Sunyi.

Siluet pepohonan terlukis di sana-sini, bergerak mengikuti perintah angin. Gesekan daun pisang di permukaan genting di sisi timur rumah tua itu saling beradu, berebut perhatian dengan berisiknya rumpun bambu. Sesekali kilat menyambar wajah perempuan ini, mengabadikan detil garis-garis di wajahnya, menandai usianya yang telah melampaui setengah abad.

Di teras rumahnya, perempuan dengan rambut hampir sebahu ini menunggu datangnya prime time, waktu yang selalu ia nikmati bersama laki-laki pujaannya, Bagus Prakoso. Hampir tiap hari ia menghabiskan prime time bersama Bagus.

Secapek apa pun setelah rutinitas urusan kantor bank tempatnya bekerja, selelah apa pun setelah leladen suami dan mengantar anak-anaknya tidur, ia sempatkan menikmati waktu spesial ini bersama Bagus. Bahkan, sedetik pun hati dan jiwanya tak bisa lepas dari kehadiran Bagus.
*****

23.55. Penunjuk waktu digital begitu jelas terlihat di monitor BlackBerry (BB) perempuan ini. Atiek, begitu ia biasa disapa. Namanya cukup keren untuk ukuran warga di kampungnya, Atiek Trisnaningsuci. Anak mantan camat yang sejak kecil suka dengan dunia laki-laki. Tak heran, di kampungnya ia juga kerap dijuluki si tomboy.

Di masa kanak-kanaknya, ia tak asing dengan main perang-perangan, mainan khas anak laki-laki. Atiek kecil juga suka manjat pohon mangga tetangganya. Bersama teman laki-lakinya, ia juga suka membawa ketepil, berburu burung emprit, derkuku, kutilang, prenjak, dan burung apa saja yang mereka lihat di pepohonan. Bahkan, di masa kecilnya ia juga suka sepak bola. Sejak kelas 2 SD, ia ikut bela diri silat hingga menyandang sabuk hitam.

Dua ibu jari mungilnya tak henti-hentinya membuka file-file berisi petualangan cintanya bersama Bagus, pria yang tiga puluh tahun menghilang dan baru ia temukan empat bulan lalu. Ia temukan pria itu setelah perburuan panjang, melelahkan dan hampir putus asa. Berbagai cara telah dilakukan sebelum akhirnya menemukan laki-laki itu via jejaring sosial, face book.

Dari pertemuan di dunia maya inilah, perjalanan cinta yang begitu lama terkubur, kembali terajut. Gumpalan kerinduan yang menumpuk puluhan tahun pun mereka cairkan. Keduanya merenda kembali kisah yang berserakan dan menyatukannya dalam jalinan cinta suci yang tak lagi membutuhkan sekat ruang dan waktu.

Curahan perasaan, berbagai ekspresi cinta lama yang bersemi ia buka lagi. Rangkaian kata baik lewat SMS, email, juga chatting via face book dan yahoo massenger, kiriman gambar via MMS yang telah ia copy dan simpan, juga dialog di BBM-nya, ia baca dan pelototi dengan detil, satu per satu. Termasuk sejumlah puisi kiriman Bagus, tak pernah lepas dari perhatiannya. Atiek memang serasa kembali ke masa lalunya.

Tiga puluh tahun silam. Pria bertubuh atletis ini memikat hatinya di sebuah desa, di pedalaman berhutan, saat sama-sama mengikuti program pengabdian masyarakat dari kampusnya. Dan, inilah puisi kiriman Bagus yang merefleksikan perjalanan panjang cinta mereka.


PESONA

Sejenak kusandarkan dirimu
dalam mangkuk cintaku
Penghapus dahaga ketika hati merindu
Penebar pesona ketika rasa terbuai
oleh harum aroma dan kelembutan kasihmu

Adalah aku yang selalu merindukanmu
dalam setiap detak jantung
dalam setiap hembusan nafas
Ketika bersama dalam pergulatan pengabdian

Dekil lumpur dan daun jati pembungkus sarapan kita
adalah saksi yang mengiringi perjalanan
Juga tarian anak desa yang selalu ceria
Meski tak pernah juga bersama
Meski tak juga pernah menyatu
dalam titik perjumpaan
dalam persimpangan tak berkesudahan
Di situlah rasa terhadang
Oleh karang ego yang tiada juga bersurut

Dalam pengembaraan tak berjejak
Kembali kutemukan rasa yang lama terpendam
Lepas menerjang segala arah
Terbang menembus cakrawala tak berbatas
Tebar pesonamu, genggam cinta itu
Dalam bingkai keabadian
Sampai datang waktu yang kita tunggu

*****

Bait-bait puisi itu memang rekaman perjalanan cintanya bersama Bagus. Seperti biasa, pria berkulit kecoklatan ini memang selalu merekam tiap episode perjalanan cintanya dalam bait-bait puisi. Ini yang membuat Atiek tak pernah merasa sepi.

Atiek kini tak merasa pernah kehilangan Bagus meski secara resmi ia telah bersuamikan pria lain dan telah dikaruniai tiga anak. Dan, Bagus tak pernah mempermasalahkannya. Bahkan, keduanya telah mengikat komitmen, cinta suci mereka terjalin dalam ikatan tanpa ada yang tersakiti, baik keluarga Atiek maupun keluarga Bagus.

“Biarlah fisikmu milik orang lain. Tapi hati dan jiwamu tetap milikku. Akan aku bawa cinta ini sampai waktu memanggilku,” kata Bagus suatu ketika.

Betapa kuatnya cinta Bagus kepada Atiek juga tergambar jelas dalam puisi pendeknya. Ia ingin menjalin cinta suci itu tidak saja di dunia ini. Tetapi, Bagus ingin perjalanan cintanya bersama Atiek benar-benar abadi dan berlanjut hingga ke taman surga.


RUMAH SUNYI

Kalau sampai giliranku
Kumerindu persinggahan,
bersama senyum-mu

Dalam lapang rumah sunyi
tanpa duri
Dalam lapang rumah sunyi
bertabur bidadari


Lakon cinta yang ia perankan bersama Bagus benar-benar telah menjadikannya sebagai perempuan paripurna. Itu yang tak pernah ia rasakan sebelum bertemu kembali dengan Bagus. Bersama Bagus ia telah menabur bibit dalam ladang cinta yang terus dan terus tumbuh sampai batas yang tak berkesudahan.

“Sudahlah, Tiek. Ini terlalu larut malam. Kamu mesti tidur. Pria pujaanmu itu nggak mungkin datang,” sebuah tepukan di pundak membuyarkan konsentrasinya.



Namun, matanya tak mau beringsut dari layar monitor BB-nya yang sudah ia set ke silent mode dan hanya bergetar jika ada SMS masuk. Atiek yakin tak lama lagi Bagus mengetuk pintu hatinya lewat SMS. Dan, di situlah bukan hanya HP-nya yang bergetar, tapi juga hati dan jantungnya. Pria pujaannya itu pasti datang. Ia yakin itu.

Ini hampir masuk prime time, pikir Atiek. Bersama kekasihnya itu, perempuan yang sehari-hari bekerja di bank pemerintah, menyepakati prime time mereka adalah pukul 24.00 hingga 01.00. Ya, satu jam saja. Cukup baginya untuk menumpahkan segala rasa, seperti ketika cinta pertamanya tertambat di hati Bagus lebih dari tiga puluh tahun silam.

Atiek terus mengembara. Peringatan dan teguran kembarannya, Aniek Trisnaningsuci tak digubrisnya. Sejak berpisah tiga puluh tahun dan bertemu lagi di dunia maya, Atiek dan Bagus memang pengidap Platonic. Keduanya bisa menikmati indahnya cinta dan jalinan kasih sayang meski tanpa kehadiran dan sentuhan fisik. Bahkan keduanya tak membutuhkan ruang dan waktu untuk mengekspresikan dan mengabadikan cinta mereka.

Semula Atiek merasa apa yang ia lakoni bersama Bagus adalah perilaku aneh, menyimpang, dan gila. Namun, lambat laun perasaan itu terkikis dan justru menjadikannya lebih hidup. Dan, ia kini terbiasa hidup di dua dunia. Satu dunia untuk suami dan anak-anaknya. Satu dunia lainnya untuk pria yang dicintainya, Bagus.

Kepada psikolog Eduard Simatupang yang juga sahabatnya, Atiek juga pernah berkonsultasi. Ia menanyakan perihal tersambungnya jalinan cinta bersama Bagus --meski tanpa pernah bertemu fisik-- itu sebagai kelainan jiwa atau normal-normal saja? Psikolog yang suka humor ini pun menggaransi, bahwa apa yang dilakukan Atiek dan Bagus bukan termasuk penyimpangan atau kelainan jiwa.

Entahlah, Atiek memang merasakan kedamaian ketika berkomunikasi dengan Bagus, meski hanya via telepon atau sekadar SMS. Sebaliknya, ia mengalami kegelisahan luar biasa jika sehari saja tidak kontak lewat telepon selulernya. Ini juga yang sempat ia konsultasikan ke Eduard dan sekali lagi sahabatnya itu mengatakan, bahwa perilaku itu bukan anomali kejiwaan.

Atiek juga menyempatkan diri membaca tiga jilid Psycho-Analytic-nya Carl Gustav Jung. Murid Sigmud Freud ini memang banyak mengupas psikologi kepribadian. Diharapkan, dari buku itu Atiek memperoleh masukan yang mampu mengungkap tuntas misteri dalam dirinya seputar perjalanan cintanya bersama Bagus.

Kepada guru ngajinya, Ustad Hadi, ia juga sering mendiskusikan apa yang dijalaninya. Namun, sang Ustad tak juga bisa memberikan jawaban tegas. Sebab, apa yang dialami Atiek bersama Bagus tidak ia temukan dalam kajian fiqih yang memberikan batas jelas masuk kategori haram, halal, atau mubah. Namun, ketika ngaji soal perilaku hati dan problematikanya dengan referensi kitab-kitab tasawuf Imam Al Ghozali, Atiek tertunduk. Diam dan sunyi. Namun, pikirannya melesat mencari jawaban.

Dalam perjalanannya, Atiek enjoy saja merajut kembali cintanya bersama Bagus meski laki-laki ini kini tinggal jauh di seberang, di Banjarmasin, Kalimantan Selatan. Bagus membuka usaha transportasi dan mengelola yayasan yang menaungi beberapa sekolah jenjang TK hingga SLTA.

Sejak lulus dari perguruan tinggi tempatnya menuntut ilmu, Atiek praktis tak pernah bertemu Bagus. Atiek memutuskan pulang kampung dan berkaier di perbankan. Sementara Bagus ketika lulus kuliah mengajar di salah satu SMA di Banyuwangi, Jawa Timur.

Keduanya hanya sempat bertemu sekali di rumah Atiek. Namun, sejak pertemuan sore itu, Bagus seperti ditelan bumi. Hilang tak berjejak. Atiek mencoba melacak keberadaan Bagus di Banyuwangi, namun nihil. Bagus memang tak lagi mengajar setelah tiga tahun mengabdi dan akhirnya mengundurkan diri sebagai PNS.

Atiek juga sempat berburu ke sejumlah kota dan bertanya ke teman-temannya semasa kuliah. Namun, jejak Bagus yang semasa kuliah aktif di Himapala juga tak ditemukan. Sejak itulah cinta Atiek-Bagus benar-benar terkubur, sedalam-dalamnya.

“Tiek! Kamu nggak ngliat itu jam di HP-mu? Ini sudah hampir jam 12 malam. Kamu besok mesti bangun jam setengah empat kan? Kamu mesti masak, merawat ketiga anakmu, memberi mereka makan sebelum berangkat sekolah. Kamu juga mesti menyiapkan sarapan suamimu sebelum berangkat kerja,” suara perempuan di belakangnya makin keras dan setengah membentak.

Aniek yang kembaran Atiek memang selalu begitu. Ia tampak cerewet ketika Atiek dinilai melakukan tindakan nggak bener. Aniek tidak mau Atiek habis staminanya karena kurang istirahat. Aniek tahu betul kekuatan fisik Atiek. Jejak rekam medis atas perjalanan kesehatan, bahkan apa yang tersimpan di hati Atiek, ia mengetahui dan merasakannya. Sebab, Atiek adalah dirinya sendiri.

Karena itu, ia tidak mau kembarannya itu kehabisan stamina lalu jatuh sakit, pingsan seperti beberapa kali terjadi. Aniek tidak mau Atiek masuk rumah sakit lagi, karena ia merasa betapa sengsaranya ia mengurus kembarannya itu jika sudah masuk dan dirawat di rumah sakit, meski keluhannya cuma pusing. Fisik Atiek cukup rentan jika sudah terserang kepalanya.

Sedikit pun Atiek tak terpengaruh suara Aniek yang makin mengeras. Matanya terus menatap layar monitor HP-nya. Ia merasa Bagus sebentar lagi datang. Ini hampir prime time. Saat yang ia tunggu-tunggu.

“Tiek, kamu benar-benar keterlaluan. Kamu tahu, apa yang kamu lakukan ini menyakiti suami dan anak-anakmu,” suara Aniek menghardik.

“Keterlaluan apa? Sedikit pun tidak ada hak mereka yang aku kurangi. Dengan suamiku, aku tetap menjadi istri yang baik. Semuanya aku lakukan dengan baik, termasuk memenuhi birahinya. Demikian juga terhadap anak-anakku. Kapan pun dan dalam situasi apa pun aku siap melayani suami dan anak-anakku sebagaimana layaknya istri sholihah. Apalagi yang kurang?” sergah Atiek tak kalah sengitnya.

Aniek merasa benar-benar jengkel sekarang. Apa yang ia harapkan agar Atiek tak lagi melakukan kebiasaan yang dinilainya sebagai perilaku tak normal itu, tak mendapat respon. Dan akhirnya, “Bug!” Sekali pukulan mendarat di perut Atiek.

Mendapat serangan fisik itu, Atiek tetap diam. Keduanya memang sering bertengkar ketika sedang memperdebatkan masalah. Bahkan, adu jotos pun tak jarang terjadi. Keduanya sama-sama memiliki kemampuan bela diri di perguruan yang sama.

Mata Atiek memandang tajam, tepat di bola mata Aniek. Tidak ada suara apa pun. Ia terus menatap Aniek dalam posisi berhadap-hadapan. Sedetik kemudian Atiek mundur tiga langkah. Dan, bagai elang, dua kakinya terbang. Empat tendangan beruntun tepat menghunjam di dada Aniek. Tanpa sempat melakukan perlawanan sedikit pun, Aniek roboh tak sadarkan diri.

Atiek memungut HP-nya yang terjatuh akibat pukulan Aniek di perutnya tadi. Oh, ternyata ada SMS. Benar, SMS Bagus masuk tepat di gerbang prime time, pukul 24.00. Matanya berbinar. Dada dan jantungnya gemetar. Kedua ibu jarinya memencet tombol-tombol pembuka untuk membaca pesan dari kekasihnya.

Bagus benar-benar datang. Kini sekujur tubuh Atiek gemetar hebat menyambut kedatangan kekasihnya. Prime time! Ya, prime time adalah dunia lain yang Atiek perankan bersama Bagus. Seperti biasa, mereka pun terbang menembus cakrawala tak berbatas, mengarungi samudera tak bertepi dalam bingkai cinta suci nan abadi.


Gresik, April-Mei 2011

Wednesday, April 13, 2011

Selembar Daun Jati


oleh MASSHUTO

Selembar daun jati
Ktika lelah menyergap
jauh di lereng bukit itu
Tergambar jelas bagaimana ruas jemarimu
Menari menjumputi nasi
berlapis sambal tempe dan lauk ikan asin
Cukuplah untuk kembali membuat kaki-kaki tegak berdiri
Lalu mengais lagi apa yang kita cari

Selembar daun jati
Adalah panggung cerita cinta
Ktika bersama menaiki bukit itu
Lalu terlempar diri dalam gubuk yang tampak ringkih
meski cuma sejenak
sekadar mengusap peluh
sekadar mengusir letih

Bait-bait puisi jelas terpatri
Sperti nabi, kau tuntun aku
untuk bisa mengerti kata hati
Kau goreskan syair
di setiap serat daun jati
Sampai tumpah segala rasa
memenui ruang yang tersisa

Selembar daun jati
Adalah saksi abadi
Di setiap jejak perjalanan dan persinggahan cinta suci
yang tak pernah mati



Gresik, 9 April 2011

Friday, March 11, 2011

Pengamat: RSBI Distop, Titik!


JAKARTA - Niat pemerintah mengevaluasi program rintisan sekolah bertaraf internasional dan sekolah bertaraf internasional (RSBI/SBI) seharusnya tidak setengah hati. Evaluasi khusus terhadap RSBI/SBI sebaiknya bukan untuk mempertahankan, tetapi mengembalikan ke posisi semula, yaitu ke sistem pendidikan nasional.

Demikian diungkapkan beberapa pengamat pendidikan menanggapi dihentikannya pemberian izin baru pendirian (RSBI) mulai 2011 ini. Seperti diberitakan, pemerintah saat ini tengah mengevaluasi 1.329 SD, SMP, dan SMA/SMK berstatus RSBI yang izinnya diberikan pada kurun 2006-2010.

"Kalau mau evaluasi, ya, jangan tanggung-tanggung. Prinsipnya, RSBI/SBI itu jelas-jelas sudah menyimpang dari UU Sisdiknas. Dari sini kita melihat, pemerintah kita ternyata lebih menganggap kurikulum luar itu lebih baik dari kurikulum nasional," ujar pengamat pendidikan di Education Forum, Suparman, Kamis (11 Maret 2011).

Suparman mengatakan, anggapan itu akan terbuka dengan melihat lagi Permendiknas No.78 tahun 2009. Permendiknas tersebut menyiratkan kurikulum nasional tidak lebih baik dari kurikulum luar yang dalam hal ini diadopsi sebagai kurikulum SBI/SBI.

"Evaluasinya adalah kembali ke sistem pendidikan nasional dengan mementingkan keunggulan lokal dan nasional. RSBI distop, titik!" kata Suparman.

Romo E Baskoro dari Tim Advokasi Keadilan Pelayanan Pendidikan Dasar untuk Anak Bangsa menyatakan pendapat senada. Ia mengatakan, persoalan RSBI/SBI justeru semakin memantapkan pandangan masyarakat bahwa kebijakan pemerintah sampai saat ini tidak pernah disertai landasan berpikir yang kokoh.

"Pemerintah kita dalam banyak hal memang tidak dipikirkan dengan benar. RSBI/SBI ini kan alasannya biar kita kelihatan bersaing dengan di dunia internasional," tegas Direktur SMA Kanisius ini.

Ia mengungkapkan, alasan persaingan tersebut mestinya tidak ada lagi. Seharusnya pemerintah berpikir, lanjut dia, bahwa saat ini sudah tidak perlu bersaing, melainkan tapi justeru bermitra dengan sekolah lain di luar negeri.

"Bersaing itu dengan menunjukkan performance yang berkualitas ke negara lain. Tunjukkan pribadi anak-anak kita berkualitas, kualitas internasional, bukan cuma soal bahasa Inggris," papar Baskoro.

Namun, hal paling pokok perlu diperhatikan pemerintah adalah tatanan peraturan dan landasan berpikir untuk menjalankan program RSBI/SBI yang memang belum kokoh. Sampai saat ini, ujar Baskoro, permasalahan RSBI/SBI masih memperdebat soal penggunaan bahasa Inggris dan hal-hal teknis.

"Sementara landasan berpikirnya tidak ada. Kalau memang tidak siap, ya, RSBI/SBI tak usah diluncurkan. Selalu dikatakan demi menjawab UU Sisdiknas, nyatanya, semua hanya coba-coba," ucap Baskoro.

Sumber: Kompas.com, 11 Maret 2011

Akhirnya...Izin Baru RSBI Distop!


JAKARTA — Pemerintah menghentikan pemberian izin baru rintisan sekolah bertaraf internasional (RSBI) mulai 2011. Pemerintah sedang mengevaluasi 1.329 SD, SMP, dan SMA/SMK berstatus RSBI yang izinnya diberikan pada 2006-2010.

"Ternyata sekolah bertaraf internasional tidak sederhana. Ini perjalanan panjang yang wajahnya sampai sekarang belum jelas. Karena itu, kami belum berani menyebut sekolah bertaraf internasional (SBI), tetapi masih rintisan SBI. Untuk itu, pemerintah menahan dulu pemberian izin baru RSBI," kata Wakil Menteri Pendidikan Nasional Fasli Jalal, dalam acara "Simposium Sistem RSBI/SBI: Kebijakan dan Pelaksanaan" yang dilaksanakan British Council di Jakarta, Rabu (9 Maret 2011).

Pemerintah juga sedang menyiapkan aturan baru soal standar SBI di Indonesia. Fasli mengatakan, dari kajian sementara, pendanaan RSBI sebagian besar ditanggung orang tua dan pemerintah pusat. Dukungan pendanaan dari pemerintah daerah justru minim.

RSBI pun sebagian besar siswanya dari kalangan kaya. Ini disebabkan biaya masuk untuk SMP dan SMA RSBI yang relatif mahal, berkisar Rp 15 juta dan uang sekolah sekitar Rp 450.000 per bulan.

Di sisi lain, alokasi 20 persen untuk siswa miskin yang mendapat beasiswa juga tidak dipenuhi RSBI. Dari kajian sementara juga terungkap, dana yang dimiliki RSBI sekitar 50 persennya dialokasikan untuk sarana dan prasarana, sekitar 20 persen untuk pengembangan dan kesejahteraan guru, serta manajemen sekolah berkisar 10 persen.

Adapun soal kemampuan bahasa Inggris guru juga masih belum memadai. Kajian pada tahun 2008, sekitar 50 persen guru di RSBI ada di level notice (10-250). Sementara untuk guru Matematika dan Sains kemampuan di level terendah notice dan elementary. Hanya kemampuan guru pengajar bahasa Inggris di RSBI yang memenuhi syarat di level intermediate ke atas. Kemampuan bahasa Inggris kepala sekolah RSBI sekitar 51 persen berada di level terendah.

Fasli mengatakan, SBI bukanlah tujuan akhir. "Jadi, tidak ada target Indonesia mesti punya berapa banyak SBI. Kami memfasilitasi sekolah untuk jadi RSBI dan SBI karena itu amanat UU Sistem Pendidikan Nasional. Tetapi, tentu nanti dibuat aturannya yang lebih baik lagi," katanya.(ELN)

Sumber: Kompas.com, 10 Maret 2011

SBI Salah Konsep, Salah Kaprah


JAKARTA — Terjadi salah konsep dalam pendirian sekolah bertaraf internasional (SBI) di Jakarta dan daerah lain. Karena itu, yang terjadi bukan kemajuan kualitas pendidikan, tetapi terjadi diskriminasi pendidikan, penyediaan sarana yang berlebihan, dan model pendidikan yang keliru.

Demikian pokok persoalan yang mengemuka dalam simposium "Sistem RSBI/SBI: Kebijakan dan Pelaksanaan" yang diselenggarakan British Council di Jakarta, Kamis (10 Maret 2011). Hermana Soemantri, dosen Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung, Jawa Barat, yang juga anggota Tim Perumus Sekolah Bertaraf Internasional (SBI), menyatakan terkejut dengan perkembangan rintisan SBI yang jumlahnya mencapai 1.329 sekolah dalam waktu empat tahun terakhir.

Namun, pendirian RSBI itu banyak yang melanggar panduan, misalnya kemampuan guru dalam berbahasa Inggris masih rendah, tetapi dipaksa mengajar dalam bahasa Inggris. Uang sekolah di RSBI juga sangat mahal sehingga menimbulkan diskriminasi pendidikan karena hanya siswa dari keluarga kaya yang sanggup membayar. Ketentuan kuota bagi siswa miskin juga banyak tak dipenuhi.

"Terjadi salah kaprah sehingga RSBI hanya status. Kualitas pendidikan justru masih jauh dari harapan," katanya.

Hermana menambahkan, pada awal perencanaan, SBI itu bukan mengubah status sekolah yang sudah ada.

"Namun, sejak awal mendirikan SBI dengan kualitas pendidikan dan guru di atas standar yang ditetapkan," ujarnya.(ELN)

Sumber: Kompas.com, 11 Maret 2011

Blog Archive