Blog

Blog

Monday, December 27, 2010

Gerakan New Age: Bahaya Agama Gado-gado


Oleh DWI HARDIANTO


Mereka hanya mengasembling dan mencampuradukan sebagian ajaran agama atau spiritual sesuai kebutuhan. Mereka juga disebut tourist of religion dan berujung pada paham pluralisme agama (menyamakan semua agama).

Seorang warga Amerika Serikat (AS) yang berumur 26 tahun, ketika ditanya tentang agamanya tanpa ragu menyebut sebagai Methodist, Taoist Native, American Quaker, Russian Orthodox, Buddhist, and Jew. Ia menjelaskan, sejak kecil dibesarkan dalam lingkungan Methodist dan pergi ke gereja hampir tiap hari Ahad.

Ia mengikuti acara keagamaan di Synagogue dengan temannya secara teratur. Ia juga mengikuti pertemuan Quaker di College, dibaptis oleh gereja Orthodox saat berkunjung ke Rusia. Tak ketinggalan, ia juga melakukan meditasi agama Budha dan berpartisipasi tiap bulan dalam upacara sweat lodge orang Indian.

Itulah hasil studi tentang spiritualitas orang Amerika yang dikutip Robert Wuthnow dalam artikel berjudul “A Reasonable Role for Religion? Moral Practices, Civic Participation, and Market Behavior” (1998). Pada kutub lain, ada juga masyarakat AS yang tidak percaya lagi pada institusi agama formal (a growing distrust of organized religion), yang sebenarnya ditujukan pada Kristen. Ekstremnya, seperti dislogankan futurolog John Naisbitt dan istrinya, Patricia Aburdene, dalam Megatrend 2000: “Spirituality Yes, Organized Religion No.”

Jadi, ada arus penolakan terhadap agama formal sambil mencari spiritual baru lintas agama tanpa harus terikat dengan aturan, tata cara, dogma, ajaran, atau syariah agama tertentu. Menurut pengamat sosial keagamaan Abdul M. Naharong dalam artikelnya “Agama dan Spiritualitas Gado-Gado”, gejala ini muncul sejak pemerintah AS menghapus kuota imigran Asia pada 1965, sehingga guru-guru spiritual dari Asia banyak berimigrasi ke negeri itu.

Akibatnya, berpengaruh besar pada perkembangan agama, sekte, cult, dan aliran spiritual di AS yang berbasis lintas agama. Apalagi, penerjemahan kitab suci, teks esoteric, ajaran spiritualitas dari berbagai macam agama dan kepercayaan ke dalam bahasa Inggris juga marak. Dengan berkembangnya mentalitas konsumtif (consumer mentality) dan do it yourself culture masyarakat Amerika, mereka pun memelajari sendiri sekaligus mempraktikkan satu, atau beberapa agama, atau ajaran spiritual secara bersamaan.

Empat tahun lalu (2006) ketika pemerintah AS mengadakan sensus penduduk secara resmi, Amerika sudah memiliki 2.100 agama, sekte, aliran kepercayaan, kelompok spiritualitas, dan cult. Diprediksi, jumlah ini sekarang makin bertambah.

Edward Shils dalam “Tradition” (1981) menulis, pada sebagian masyarakat Amerika, agama dan spiritualitas merupakan komoditas yang perlu dicoba. Satu atau beberapa agama atau beberapa latihan spiritual bisa tetap dipakai, “if it works,” tulis Edward. Jika tidak, orang seperti ini akan mencari kepercayaan, praktik-praktik keagamaan, atau spiritual lain yang diharapkan bisa memenuhi kebutuhannya.

Pendekatan instrumental seperti ini, lanjut Edward, membuat fungsi latent (terpendam) agama, seperti ketenangan batin dan kebahagian, menjadi fungsi manifest (nyata). Karena itu, semua aktivitas keagamaan dan spiritual harus dinilai dari bisa atau tidaknya memenuhi fungsi menenangkan batin dan menciptakan kebahagiaan “instant” yang langsung dirasakan oleh pelakunya.

Sikap seperti ini melahirkan trend baru dalam beragama, yakni “membuat" atau "mengasembling" agama atau spiritual sendiri sesuai dengan kebutuhan. Caranya, dengan mencampur aduk atau menggabungkan berbagai macam ajaran, ritual, kepercayaan, praktik, ritus, dan latihan spiritual dari berbagai sumber (agama, sekte, atau cult), tanpa bergabung pada salah satu sumber tersebut.

Bahkan, ada yang menjadi pengikut dua atau lebih agama, sekte, atau cult yang berbeda pada waktu yang sama, karena mereka meyakini paham pluralisme agama (menyamakan semua agama). Inilah yang oleh Abdul M. Naharong disebut “agama gado-gado, "patiche spirituality", "pick and mix spirituality", alias "spiritualitas gado-gado". Model religiusitas ini umumnya gandrung dan tergabung pada spiritualitas New Age, ada juga yang menyebut New Age Movement (Gerakan Era Baru), atau New Agers.

Ciri-ciri Ajaran

Rais Syuriyah PBNU KH Saifuddin Amsir, Peneliti Aliran Sesat dari LPPI Ustad Hartono Ahmad Jaiz, dan Peneliti INSIS Nirwan Safrin, di tempat berbeda menyatakan, ajaran atau kepercayaan New Age dicomot dari berbagai macam sumber (agama, sekte, kepercayaan, atau cult), diramu dan diracik sesuka mereka sesuai dengan kebutuhannya.

Bahkan, Abdul M. Naharong menyebutkan, ajaran ketuhanan mereka ada yang bercorak pantheisme, yaitu Tuhan itu immanent (tetap ada) di dalam setiap atom dari alam semesta. Ada juga yang mirip aliran kebatinan Manunggaling Kawula Gusti, yaitu aku adalah Tuhan, Tuhan adalah aku. New Age juga mengambil ajaran karma dan reinkarnasi sebagai ajaran yang paling disenanginya. Ini karena, karma dan reinkarnasi menafikan atau mengingkari doktrin neraka dan surga serta kekekalan di dalamnya.

Karena itu, dalam usaha mereka memeroleh pengalaman transformasi, yang bersifat mistik maupun non-mistik, misalnya penyembuhan, New Age menggunakan berbagai teknik atau pelatihan, seperti meditasi dalam agama Budha, Yoga dalam agama Hindu, latihan pernapasan dalam kelompok tarikat Naqshabandi, dan lainnya. Teknik ini sering dipakai secara bersamaan. Jika salah satunya dianggap it doesn't work karena tidak bisa memberikan hasil yang sesuai dengan keinginan mereka, teknik tersebut ditinggalkan dan beralih pada teknik lain.

Dalam pandangan Nirwan Safrin, ini menunjukkan bahwa mereka selalu mengalami kegelisahan yang tak berujung. Padahal, kebahagiaan dan ketenangan bisa diraih jika orang sampai pada keyakinan. Jika orang tidak yakin ia tidak akan bahagia dan tenang, ia akan selalu ragu, terus mencari tanpa henti, seperti penganut New Age ini. Mereka terus mencari metode untuk mencapai spiritualitas yang mereka dambakan. Jika tidak cocok dengan sebuah metode, akan mereka tinggalkan dan berganti dengan metode lain, begitu seterusnya.

”Berarti mereka tidak pernah tenang dan bahagia. Sehingga, apa yang mereka klaim sebagai tingkat dan ketinggian spiritualitas itu tidak benar. Berbeda dengan Islam yang sudah jelas syariahnya dalam menggapai tingkat spiritualitas, tinggal kita mau menjalankannya atau tidak. Keyakinan berdasarkan syariah inilah yang membuat orang bahagia dan tenang. Inilah yang disebut keimanan. Contoh, orang beriman dan yakin bahwa Allah akan memberi rezeki, ia tidak akan gundah gulana jika rezeki yang diharapkan tak kunjung datang, karena Allah mempunyai berbagai cara dan dalam memberikan rezeki pada umatnya,” papar lulusan S3 Pemikiran Islam Arab ISTAC, Malaysia ini.

Ciri lain dari agama dan spiritualitas New Age adalah sifatnya yang eksperimental dan tidak dogmatis. Penganut agama dan spiritualitas gado-gado ini hanya menekankan aspek pengalaman dari berbagai ritus keagamaan dan latihan spiritual, dan tidak peduli pada dogma, aturan, tata cara, atau syariah yang terdapat di dalam berbagai agama.

Akibatnya, agama dan spiritualitas jenis ini hampir-hampir tidak mempunyai aturan, tata cara, atau pedoman baku seperti yang dikenal dalam agama formal (organized religion). Karenanya, dalam lingkungan seperti ini, tak jarang agama dan spiritualitas menjadi terapi, yang hanya berfungsi untuk membuat orang merasa senang apa pun yang mereka lakukan. New Age tidak menuntun orang berbuat berdasarkan kaidah-kaidah moral yang diformalkan dalam bentuk ”syariah”.

Karenanya, penganut agama dan spiritualitas gado-gado tergolong ke dalam "tourist of religion", meminjam istilah Wade Roof, dalam Spiritual Marketplace: Baby Boomers and the Remaking of American Religion (1999). Mereka percaya bahwa semua agama sama benar dan baiknya, karenanya mengambil dan mencampur berbagai (ajaran) agama dan pelatihan spiritual (eklektisisme dan sinkretisme) adalah hal wajar. Inilah ujung dari ajaran ini, meyakini paham pluralisme agama (menyamakan semua agama).

Agama Baru

Rais Syuriah PBNU KH Saifuddin Amsir, menegaskan, New Age hanyalah pengulangan alias lagu lama yang sudah kesekian kalinya didengungkan. Mereka menyebut sebagai agama baru, religiusitas, atau spiritualitas, tanpa nabi, tanpa kitab suci, dan tanpa Tuhan, tapi mencampuradukan semua agama. Ini adalah agama yang dibuat oleh para filosof dengan membuat komunitas sendiri. Para filosof itu mengatakan, inilah agama baru dengan semboyannya God With Out God (Tuhan Tanpa Tuhan).

Persoalannya, lanjut Guru Besar UIN Syarif Hidyatullah ini, kita tidak memiliki lembaga khusus yang meneliti dan menangani masalah ini, padahal sudah beberapa kali mereka muncul. Kemunculan mereka, didasari oleh sikap mereka yang menganggap paling super di dunia bagaikan “Superman”. Dalam filsafatnya Red Neck disebutkan, adanya pemisahan antara moral budak dan moral iman. Selanjutnya, Neck menulis, jika ingin menjadi Tuhan maka harus membunuh Tuhan. ”Inilah salah satu dasar kesesatan agama yang sekarang berganti nama menjadi New Age ini,” tambahnya.

Soal penyebutan New Age sebagai agama baru juga disematkan oleh Ustad Hartono Ahmad Jaiz. Menurut dia, belakangan ini ada upaya mencampuradukkan semua agama. Setelah Baha’i berkembang di California, Iran, dan Israel, tahun 1960-an muncul New Age, sejenis aliran kebatinan dan spiritual yang merupakan agama baru juga.

Tapi menurut Peneliti INSIST Nirwan Safrin, menyematkan New Age sebagai agama harus dijelaskan dalam pengertian yang tepat. Jika mendefinisikan agama dalam konsepsi Barat, maka New Age bisa disebut sebagai agama. Karena dalam konsepsi Barat, agama adalah ciptaan manusia, bagian dari culture (budaya), termasuk dalam ranah ilmu sosial, dan New Age juga termasuk dalam katagori kultur karena diciptakan oleh manusia.

Tapi jika kita mendefinisikan agama dalam konsep Islam sebagai ad-Din, lanjut Nirwan, New Age bukan agama. Pasalnya, mereka hanya mencaplok sebagian dari berbagai nilai, ajaran, dan syariah agama. Yang jelas agama tidak mungkin dibuat oleh manusia.

”Konsepsi Islam jauh lebih komprehensif dari sekadar kultur. Apalagi, Barat tidak memiliki terminologi yang pas dan tepat tentang agama. Dalam Bahasa Inggris disebut religius yang menjadi bagian dari kultur. Makanya, buku agama dalam perpustakaan di Barat, masuk dalam katagori kultur yang menjadi bagian dari Ilmu Sosial,” jelasnya.

Jumlah Pengikut

George Barna dalam The Index of Leading Spiritual Indicators (1996) memperkirakan, sekitar 20% orang dewasa Amerika adalah pengikut New Agers. Majalah Newsweek edisi 28 November 1994 menulis jumlah pengikut New Age di Amerika sangat fantastis, yakni mencapai 58% dari jumlah responden dalam suatu survei.

Russel Chandler, mantan jurnalis agama pada Los Angeles Times dalam “Understanding the New Age” (1988) mengklaim, 40% orang Amerika percaya pada panteisme (kepercayaan yang berprinsip pada all is God and God is all). 36% percaya pada astrologi sebagai scientific, yakni percaya astrologi sebagai metode peramalan masa depan (a method of foretelling the future). Dan, 25% percaya pada reinkarnasi.

Itulah sebagian temuan angka statistik pengikut New Age di AS. Bagaimana di Indonesia? Wallahu’alam.

Sumber: Telaah Utama Majalah Sabili 01/XVIII

No comments:

Post a Comment

Blog Archive