Blog

Blog

Sunday, November 7, 2010

Guru Bambu


Oleh ZAENAL ARIFIN EMKA

Ada seorang pria yang putus asa, mau meninggalkan segalanya. Ia ingin meninggalkan pekerjaan, juga hubungan berhenti hidup.

Lalu ia pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya degan Tuhan, “Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup menyerah?”

Jawaban Tuhan sangat mengejutkan.
“Coba lihat ke sekitarmu....
Apakah kamu melihat pakis dan bambu?”

“Ya”, jawab pria itu.

“Ketika menanam benih pakis dan bambu, Aku merawat keduanya secara sangat baik.
Aku memberi keduanya cahaya,
memberikan air.
Pakis tumbuh cepat di bumi,
daunnya yg hijau segar menutupi permukaan tanah hutan. Sementara itu benih bambu tidak menghasilkan apa pun,
tapi Aku tidak menyerah.

Pada tahun kedua,
pakis tumbuh makin subur dan banyak,
tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu.
Tapi Aku tidak menyerah.

Di tahun ketiga,
benih bambu belum juga memunculkan sesuatu,
tapi Aku tidak menyerah.

Di tahun keempat,
masih juga belum ada apa pun dari benih bambu.
Aku tidak menyerah,” kata TUHAN.

“Di tahun kelima, muncul sebuah tunas kecil.
Dibanding dengan pohon pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna.

Tapi, 6 bulan kemudian, bambu itu menjulang sampai 100 kaki.
Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun.
Akar ini membuat bambu kuat memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.

Aku tak akan memberi cobaan yang tak sangup diatasi ciptaan-Ku,“ kata TUHAN kepada pria itu.

“Tahukah kamu,...
Di saat menghadapi semua kesulitan perjuangan berat ini, kamu sebenarnya menumbuhkan akar-akar?”

“Aku tidak meninggalkan bambu itu,
Aku juga tak akan meninggalkanmu”

“Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain,” kata Tuhan.

“Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pakis.
Tapi keduanya membuat hutan menjadi indah”
Hidup bukan mengenai "menunggu badai berlalu", tetapi bagaimana belajar
"Mengucap syukur dalam badai...."

No comments:

Post a Comment

Blog Archive