Blog

Blog

Monday, November 8, 2010

Amuk Merapi Kapan Berhenti?

Mbah Petruk dan Petaka Sabtu Legi

Yogyakarta - Bagi sebagian besar masyarakat, gambar Mbah Petruk yang beredar dari ponsel ke ponsel, tidak lain dari sebuah bentukan gemulung awan tebal yang disemburkan oleh Gunung Merapi. Kebetulan saja gemulung awan itu bentuknya menyerupai Petruk, salah satu tokoh punakawan dalam pemayangan Jawa. Lain waktu bentuknya bisa beraneka ragam, berubah-ubah, yang bisa merangsang imajinasi macam-macam.

Tetapi tidak demikian halnya bagi sebagai penduduk yang tinggal di Merapi. Mbah Petruk adalah kekuatan gaib yang menjaga Merapi, sama halnya Semar yang disebut-sebut menjaga Gunung Semeru. Oleh karena itu, ketika gambar Mbah Petruk itu menyebar, maka gambar itu segera jadi bahan perbincangan di kalangan penduduk Merapi.

Sekali lagi, tidak semua warga di lereng Merapi mempercayai gambar itu. Namun bagi yang mempercayainya, munculnya Mbah Petruk adalah pertanda akan adanya malapetaka besar. Merapi sedang marah, dan arah kemarahan adalah kawasan Yogyakarta. Ini ditunjukkan oleh arah gambar Mbah Petruk yang menghadap Selatan.

Soal akan datangnya bencana ke Selatan itu, sebetulnya sudah jadi bahan bergunjingan ketika status Merapi naik dari waspada ke siaga, dan semakin kencang ketika naik dari siaga ke awas. Seorang sesepuh di lereng Merapi kepada detikcom, menceritakan, mereka sedang tirakat. "Nyeyuwun kepada Gusti Allah, agar jika Merapi meletus, jangan sampai terjadi pada Sabtu Legi."

Menurut ilmu titen, jika Merepi meletus pada Sabtu Legi, dampaknya akan dahsyat. Tidak hanya letusan kecilnya beruntun yang diselingi letusan-letusan besar, tetapi letusan-letusan itu juga akan berlangsung lama. Akibatnya tentu sudah bisa diperkirakan: korban jiwa dan harta.

Namun upaya yang dilakukan oleh para sesepuh Merapi itu, termasuk Mbah Maridjan, tidak mendapatkan hasil. Setelah letusan pertama pada Selasa (26/11/2010), letusan besar terjadi pada Sabtu (30/11/2010). Jatuhnya, persis Sabtu Legi.

Ki Poleng Sudomolo, penganut ilmu Kejawen di Yogyakarta, membenarkan, perhitungan Mbah Maridjan dan para sesepuh Merapi, karena hal itu sesuai dengan hitung-hitungan penanggalan Jawa Kuno. Dalam penanggalan Jawa Kuno, Sabtu itu disebut hari ke 9 atau dalam bahasa Jawa disebut Songo. Sedangkan Legi berarti Kolo. Jadi jika digabungkan, Sabtu Legi dalam penanggalan Jawa disebut Songo Kolo. Songo Kolo ini dalam penanggalan Jawa diartikan sangkala, yakni sebuah pertanda buruk.

Dengan kata lain, jika melihat penanggalan Jawa maka jika Sabtu Legi juga terjadi letusan akan berakibat tidak baik. Sebab bencana Merapi akan berkepanjangan dan menelan korban banyak orang. "Pandangan itulah yang diyakini Mbah Maridjan. Dia sudah mengetahui kalau pada Sabtu Legi akan terjadi letusan. Itu sebabnya dia tidak mau turun gunung dan memilih tetap di rumahnya," jelas Ki Poleng.

Dr Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMB), Kementerian ESDM, tidak menyangkal adanya pengetahun atau kepercayaan-kepercayaan masyarakat pegungungan, termasuk Gunung Merapi. Mereka yang bertahun-tahun tinggal di situ, tentu mempelajari bagaimana perilaku alam, perilaku gunung. Biasanya pengetahuan atau kepercayaan-kepercayaan itu sejalan dengan temuan teknologi.

Hanya saja Surono mengingatkan, hasil analisis ilmiah terhadap kegiatan Merapi yang sudah teruji, mestinya tidak perlu diragukan lagi. PVMB sudah bekerja bertahun-tahun sehingga mempunyai banyak data yang bisa digunakan sebagai melihat dan menilai keaktifan Merapi. "Saya merasa gagal masih ada penduduk yang tidak mau turun, padahal sudah kita sampaikan peringatan." (ddg/diks)

Sumber: detik.com, Senin, 8 November 2010, 14:02 WIB

No comments:

Post a Comment

Blog Archive