Blog

Blog

Sunday, November 14, 2010

Gangguan Detak Jantung Saat Berduka


Kematian orang yang dicintai seperti pasangan, orangtua atau anak bisa mempengaruhi kehidupan dan kondisi kesehatan orang yang ditinggalkan. Salah satunya adalah peningkatan denyut dan gangguan irama jantung.

Sebuah studi menunjukkan kematian pasangan atau anak dapat memicu denyut jantung menjadi lebih cepat dan ketidakteraturan irama jantung pada orang yang ditinggalkannya. Selain itu diketahui pula seseorang membutuhkan waktu hingga 6 bulan untuk kembali normal.

"Secara alami fokus orang-orang biasanya akan tertuju pada orang yang meninggal. Tapi kesehatan dan kesejahteraan orang-orang yang ditinggalkan seperti keluarga dan teman juga harus menjadi perhatian para profesional medis," ujar Thomas Burckley, direktur pasca sarjana dari University of Sydney Nursing School di Sydney, Australia, seperti dikutip dari Reuters, Senin (15/11/2010).

Dalam studi terbaru dilakukan monitor jantung selama 24 jam dan melakukan tes lain yang memungkinkan peneliti untuk mendokumentasikan peningkatan denyut jantung dan variabilitas irama jantung. Hal ini untuk mengetahui keteraturan dari irama jantung.

Hasil studi menunjukkan orang yang berduka hampir dua kali lipat memiliki detak jantung yang cepat (tachycardia) dibandingkan dengan orang yang tidak berduka pada minggu-minggu awal setelah kematian anggota keluarganya.

Denyut jantung rata-rata orang berduka adalah 75,1 denyut per menit, tapi setelah enam bulan denyut jantungnya mulai kembali normal ke 70,7 denyut per menit.

"Peningkatan denyut jantung dan variabilitas irama jantung yang berkurang pada bulan-bulan awal seseorang kehilangan anggota keluarga memungkinkan terjadinya peningkatan risiko kardiovaskular. Di samping itu periode ini seringkali diikuti dengan tingkat stres yang tinggi," ujar Buckley.

Nilai depresi rata-rata dari orang yang berduka adalah 26,3 persen dan jika dibandingkan dengan orang yang tidak berduka hanya memiliki tingkat depresi sebesar 6,1 persen. Hal ini menunjukkan pada orang yang berduka juga meningkat tingkat depresi serta kecemasannya.

Hasil penelitian ini telah dipresentasikan oleh Buckley dalam pertemuan ilmiah tahunan American Heart Association di Chicago.

Sumber: Detik.com, Senin, 15/11/2010 10:15 WIB

Pria Juga Bisa Palsukan Orgasme


Urusan memalsukan orgasme, wanita sering menjadi pihak tertuduh. Modusnya macam-macam, mulai dengan cara pura-pura mengerang, mendesah, atau mengeluarkan suara erotis. Tapi sebuah penelitian membuktikan, pria juga ternyata sering memalsukan orgasme.

Penelitian tersebut dimuat dalam Journal of Sex Research edisi November 2010. Peneliti menemukan sebanyak 25% pria memalsukan orgasme. Sedangkan pada wanita jumlahnya mencapai 50%.

Orgasme adalah sensasi fisik dan emosional yang terjadi di puncak kenikmatan seksual. Orgasme berupa gerakan yang mendadak, kontraksi dan disertai dengan adanya gelombang gairah seksual.

Tujuan Memalsukan Orgasme

Studi yang dilakukan psikolog asal University of Kansas ini menemukan jawaban, pria memalsukan orgasme karena ingin cepat-cepat mengakhiri senggama tanpa terlihat janggal atau menyakiti pasangannya.

Alasan ini hampir serupa dengan wanita yang pura-pura orgasme yaitu agar acara persetubuhan segera selesai. Perempuan percaya desahan-desahan palsu ampuh merangsang para pria sehingga lebih cepat mencapai orgasme.

Peneliti awalnya kesulitan untuk meminta kejujuran pria soal orgasme palsu ini dan kebanyakan pria malu untuk mengakuinya. Peneliti akhirnya mengubah salah satu pertanyaan dari semula 'Apakah Anda (pria) pernah pura-pura mengalami orgasme?' menjadi 'Apakah Anda (pria) pernah melakukan sesuatu yang mirip untuk pura-pura orgasme?'.

Hubungan seksual dengan orgasme palsu lebih banyak terjadi pada pertemuan penis dan vagina bukan pada jenis hubungan oral seks.

Para pria ini mengaku perlu melakukan orgasme palsu karena tidak punya cara lain untuk mengakhiri hubungan seksual tanpa terlihat janggal atau tidak puas oleh pasangannya.

Alasan lainnya pura-pura orgasme karena pria ingin menghindari konsekuensi negatif seperti melukai perasaan pasangannya.

Perilaku pria atau wanita yang memilih pura-pura orgasme ini dinilai memprihatinkan. Carol Ellison, penulis buku seksualitas, 'Women's Sexualities: Generations of Women Share Intimate Secrets of Sexual Self-Acceptance', menyayangkan jika tujuan orang berhubungan seks adalah melulu mencapai orgasme.

"Ketika seks memiliki tujuan-tujuan tertentu seperti harus orgasme maka orang akan berperilaku seperti itu," kata Ellison seperti dilansir dari LivesScience, Minggu (14/11/2010).

Dia menilai keberhasilan hubungan seks harus didefinisi ulang agar semua yang melakukannya membuat dirinya dan pasangannya merasa lebih baik sehingga bisa menemukan cara yang berbeda untuk menciptakan kesenangan.

"Intinya jangan bicara target tapi respons seksual, jika dipahami seperti itu seks akan menjadi pengalaman yang berbeda dan menyenangkan," katanya. (ir/ir)

Sumber: detik.com, Minggu, 14/11/2010 15:44 WIB

Monday, November 8, 2010

Amuk Merapi Kapan Berhenti?


Mbah Petruk dan Petaka Sabtu Legi

Yogyakarta - Bagi sebagian besar masyarakat, gambar Mbah Petruk yang beredar dari ponsel ke ponsel, tidak lain dari sebuah bentukan gemulung awan tebal yang disemburkan oleh Gunung Merapi. Kebetulan saja gemulung awan itu bentuknya menyerupai Petruk, salah satu tokoh punakawan dalam pemayangan Jawa. Lain waktu bentuknya bisa beraneka ragam, berubah-ubah, yang bisa merangsang imajinasi macam-macam.

Tetapi tidak demikian halnya bagi sebagai penduduk yang tinggal di Merapi. Mbah Petruk adalah kekuatan gaib yang menjaga Merapi, sama halnya Semar yang disebut-sebut menjaga Gunung Semeru. Oleh karena itu, ketika gambar Mbah Petruk itu menyebar, maka gambar itu segera jadi bahan perbincangan di kalangan penduduk Merapi.

Sekali lagi, tidak semua warga di lereng Merapi mempercayai gambar itu. Namun bagi yang mempercayainya, munculnya Mbah Petruk adalah pertanda akan adanya malapetaka besar. Merapi sedang marah, dan arah kemarahan adalah kawasan Yogyakarta. Ini ditunjukkan oleh arah gambar Mbah Petruk yang menghadap Selatan.

Soal akan datangnya bencana ke Selatan itu, sebetulnya sudah jadi bahan bergunjingan ketika status Merapi naik dari waspada ke siaga, dan semakin kencang ketika naik dari siaga ke awas. Seorang sesepuh di lereng Merapi kepada detikcom, menceritakan, mereka sedang tirakat. "Nyeyuwun kepada Gusti Allah, agar jika Merapi meletus, jangan sampai terjadi pada Sabtu Legi."

Menurut ilmu titen, jika Merepi meletus pada Sabtu Legi, dampaknya akan dahsyat. Tidak hanya letusan kecilnya beruntun yang diselingi letusan-letusan besar, tetapi letusan-letusan itu juga akan berlangsung lama. Akibatnya tentu sudah bisa diperkirakan: korban jiwa dan harta.

Namun upaya yang dilakukan oleh para sesepuh Merapi itu, termasuk Mbah Maridjan, tidak mendapatkan hasil. Setelah letusan pertama pada Selasa (26/11/2010), letusan besar terjadi pada Sabtu (30/11/2010). Jatuhnya, persis Sabtu Legi.

Ki Poleng Sudomolo, penganut ilmu Kejawen di Yogyakarta, membenarkan, perhitungan Mbah Maridjan dan para sesepuh Merapi, karena hal itu sesuai dengan hitung-hitungan penanggalan Jawa Kuno. Dalam penanggalan Jawa Kuno, Sabtu itu disebut hari ke 9 atau dalam bahasa Jawa disebut Songo. Sedangkan Legi berarti Kolo. Jadi jika digabungkan, Sabtu Legi dalam penanggalan Jawa disebut Songo Kolo. Songo Kolo ini dalam penanggalan Jawa diartikan sangkala, yakni sebuah pertanda buruk.

Dengan kata lain, jika melihat penanggalan Jawa maka jika Sabtu Legi juga terjadi letusan akan berakibat tidak baik. Sebab bencana Merapi akan berkepanjangan dan menelan korban banyak orang. "Pandangan itulah yang diyakini Mbah Maridjan. Dia sudah mengetahui kalau pada Sabtu Legi akan terjadi letusan. Itu sebabnya dia tidak mau turun gunung dan memilih tetap di rumahnya," jelas Ki Poleng.

Dr Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMB), Kementerian ESDM, tidak menyangkal adanya pengetahun atau kepercayaan-kepercayaan masyarakat pegungungan, termasuk Gunung Merapi. Mereka yang bertahun-tahun tinggal di situ, tentu mempelajari bagaimana perilaku alam, perilaku gunung. Biasanya pengetahuan atau kepercayaan-kepercayaan itu sejalan dengan temuan teknologi.

Hanya saja Surono mengingatkan, hasil analisis ilmiah terhadap kegiatan Merapi yang sudah teruji, mestinya tidak perlu diragukan lagi. PVMB sudah bekerja bertahun-tahun sehingga mempunyai banyak data yang bisa digunakan sebagai melihat dan menilai keaktifan Merapi. "Saya merasa gagal masih ada penduduk yang tidak mau turun, padahal sudah kita sampaikan peringatan." (ddg/diks)

Sumber: detik.com, Senin, 8 November 2010, 14:02 WIB

Amuk Merapi Kapan Berhenti?

Mbah Petruk dan Petaka Sabtu Legi

Yogyakarta - Bagi sebagian besar masyarakat, gambar Mbah Petruk yang beredar dari ponsel ke ponsel, tidak lain dari sebuah bentukan gemulung awan tebal yang disemburkan oleh Gunung Merapi. Kebetulan saja gemulung awan itu bentuknya menyerupai Petruk, salah satu tokoh punakawan dalam pemayangan Jawa. Lain waktu bentuknya bisa beraneka ragam, berubah-ubah, yang bisa merangsang imajinasi macam-macam.

Tetapi tidak demikian halnya bagi sebagai penduduk yang tinggal di Merapi. Mbah Petruk adalah kekuatan gaib yang menjaga Merapi, sama halnya Semar yang disebut-sebut menjaga Gunung Semeru. Oleh karena itu, ketika gambar Mbah Petruk itu menyebar, maka gambar itu segera jadi bahan perbincangan di kalangan penduduk Merapi.

Sekali lagi, tidak semua warga di lereng Merapi mempercayai gambar itu. Namun bagi yang mempercayainya, munculnya Mbah Petruk adalah pertanda akan adanya malapetaka besar. Merapi sedang marah, dan arah kemarahan adalah kawasan Yogyakarta. Ini ditunjukkan oleh arah gambar Mbah Petruk yang menghadap Selatan.

Soal akan datangnya bencana ke Selatan itu, sebetulnya sudah jadi bahan bergunjingan ketika status Merapi naik dari waspada ke siaga, dan semakin kencang ketika naik dari siaga ke awas. Seorang sesepuh di lereng Merapi kepada detikcom, menceritakan, mereka sedang tirakat. "Nyeyuwun kepada Gusti Allah, agar jika Merapi meletus, jangan sampai terjadi pada Sabtu Legi."

Menurut ilmu titen, jika Merepi meletus pada Sabtu Legi, dampaknya akan dahsyat. Tidak hanya letusan kecilnya beruntun yang diselingi letusan-letusan besar, tetapi letusan-letusan itu juga akan berlangsung lama. Akibatnya tentu sudah bisa diperkirakan: korban jiwa dan harta.

Namun upaya yang dilakukan oleh para sesepuh Merapi itu, termasuk Mbah Maridjan, tidak mendapatkan hasil. Setelah letusan pertama pada Selasa (26/11/2010), letusan besar terjadi pada Sabtu (30/11/2010). Jatuhnya, persis Sabtu Legi.

Ki Poleng Sudomolo, penganut ilmu Kejawen di Yogyakarta, membenarkan, perhitungan Mbah Maridjan dan para sesepuh Merapi, karena hal itu sesuai dengan hitung-hitungan penanggalan Jawa Kuno. Dalam penanggalan Jawa Kuno, Sabtu itu disebut hari ke 9 atau dalam bahasa Jawa disebut Songo. Sedangkan Legi berarti Kolo. Jadi jika digabungkan, Sabtu Legi dalam penanggalan Jawa disebut Songo Kolo. Songo Kolo ini dalam penanggalan Jawa diartikan sangkala, yakni sebuah pertanda buruk.

Dengan kata lain, jika melihat penanggalan Jawa maka jika Sabtu Legi juga terjadi letusan akan berakibat tidak baik. Sebab bencana Merapi akan berkepanjangan dan menelan korban banyak orang. "Pandangan itulah yang diyakini Mbah Maridjan. Dia sudah mengetahui kalau pada Sabtu Legi akan terjadi letusan. Itu sebabnya dia tidak mau turun gunung dan memilih tetap di rumahnya," jelas Ki Poleng.

Dr Surono, Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMB), Kementerian ESDM, tidak menyangkal adanya pengetahun atau kepercayaan-kepercayaan masyarakat pegungungan, termasuk Gunung Merapi. Mereka yang bertahun-tahun tinggal di situ, tentu mempelajari bagaimana perilaku alam, perilaku gunung. Biasanya pengetahuan atau kepercayaan-kepercayaan itu sejalan dengan temuan teknologi.

Hanya saja Surono mengingatkan, hasil analisis ilmiah terhadap kegiatan Merapi yang sudah teruji, mestinya tidak perlu diragukan lagi. PVMB sudah bekerja bertahun-tahun sehingga mempunyai banyak data yang bisa digunakan sebagai melihat dan menilai keaktifan Merapi. "Saya merasa gagal masih ada penduduk yang tidak mau turun, padahal sudah kita sampaikan peringatan." (ddg/diks)

Sumber: detik.com, Senin, 8 November 2010, 14:02 WIB

Sunday, November 7, 2010

Guru Bambu


Oleh ZAENAL ARIFIN EMKA

Ada seorang pria yang putus asa, mau meninggalkan segalanya. Ia ingin meninggalkan pekerjaan, juga hubungan berhenti hidup.

Lalu ia pergi ke hutan untuk bicara yang terakhir kalinya degan Tuhan, “Apakah Tuhan bisa memberi saya satu alasan yang baik untuk jangan berhenti hidup menyerah?”

Jawaban Tuhan sangat mengejutkan.
“Coba lihat ke sekitarmu....
Apakah kamu melihat pakis dan bambu?”

“Ya”, jawab pria itu.

“Ketika menanam benih pakis dan bambu, Aku merawat keduanya secara sangat baik.
Aku memberi keduanya cahaya,
memberikan air.
Pakis tumbuh cepat di bumi,
daunnya yg hijau segar menutupi permukaan tanah hutan. Sementara itu benih bambu tidak menghasilkan apa pun,
tapi Aku tidak menyerah.

Pada tahun kedua,
pakis tumbuh makin subur dan banyak,
tapi belum ada juga yang muncul dari benih bambu.
Tapi Aku tidak menyerah.

Di tahun ketiga,
benih bambu belum juga memunculkan sesuatu,
tapi Aku tidak menyerah.

Di tahun keempat,
masih juga belum ada apa pun dari benih bambu.
Aku tidak menyerah,” kata TUHAN.

“Di tahun kelima, muncul sebuah tunas kecil.
Dibanding dengan pohon pakis, tunas itu tampak kecil dan tidak bermakna.

Tapi, 6 bulan kemudian, bambu itu menjulang sampai 100 kaki.
Untuk menumbuhkan akar itu perlu waktu 5 tahun.
Akar ini membuat bambu kuat memberi apa yang diperlukan bambu untuk bertahan hidup.

Aku tak akan memberi cobaan yang tak sangup diatasi ciptaan-Ku,“ kata TUHAN kepada pria itu.

“Tahukah kamu,...
Di saat menghadapi semua kesulitan perjuangan berat ini, kamu sebenarnya menumbuhkan akar-akar?”

“Aku tidak meninggalkan bambu itu,
Aku juga tak akan meninggalkanmu”

“Jangan membandingkan diri sendiri dengan orang lain,” kata Tuhan.

“Bambu mempunyai tujuan yang beda dengan pakis.
Tapi keduanya membuat hutan menjadi indah”
Hidup bukan mengenai "menunggu badai berlalu", tetapi bagaimana belajar
"Mengucap syukur dalam badai...."

Cinta Suci


Oleh ADRIANNUGRAHA

Eko Pratomo Suyatno, siapa yang tidak kenal lelaki bersahaja ini? Namanya sering muncul di koran, televisi, di buku-buku investasi dan keuangan. Dialah salah seorang dibalik kemajuan industri reksadana di Indonesia dan juga seorang pemimpin dari sebuah perusahaan investasi reksadana besar di negeri ini.

Dalam posisinya seperti sekarang ini, boleh jadi kita beranggapan bahwa pria ini pasti super sibuk dengan segudang jadwal padat. Tapi dalam note ini saya tidak akan menyoroti kesuksesan beliau sebagai eksekutif. Karena ada sisi kesehariannya yang luar biasa!!!!

Usianya sudah tidak terbilang muda lagi, 60 tahun. Orang bilang sudah senja bahkan sudah mendekati malam, tapi Pak Suyatno masih bersemangat merawat istrinya yang sedang sakit. Mereka menikah sudah lebih 32 tahun. Dikaruniai 4 orang anak.

Dari isinilah awal cobaan itu menerpa, saat istrinya melahirkan anak yang ke empat. tiba-tiba kakinya lumpuh dan tidak bisa digerakkan. Hal itu terjadi selama 2 tahun, menginjak tahun ke tiga seluruh tubuhnya menjadi lemah bahkan terasa tidak bertulang, lidahnyapun sudah tidak bisa digerakkan lagi.

Setiap hari sebelum berangkat kerja Pak Suyatno sendirian memandikan, membersihkan kotoran, menyuapi dan mengangkat istrinya ke tempat tidur. Dia letakkan istrinya di depan TV agar istrinya tidak merasa kesepian. Walau istrinya sudah tidak dapat bicara tapi selalu terlihat senyum. Untunglah tempat berkantor Pak Suyatno tidak terlalu jauh dari kediamannya, sehingga siang hari dapat pulang untuk menyuapi istrinya makan siang.

Sorenya adalah jadwal memandikan istrinya, mengganti pakaian dan selepas maghrib dia temani istrinya nonton televisi sambil menceritakan apa saja yg dia alami seharian. Walaupun istrinya hanya bisa menanggapi lewat tatapan matanya, namun begitu bagi Pak Suyatno sudah cukup menyenangkan. Bahkan terkadang diselingi dengan menggoda istrinya setiap berangkat tidur. Rutinitas ini dilakukan Pak Suyatno lebih kurang 25 tahun. Dengan penuh kesabaran dia merawat istrinya bahkan sambil membesarkan ke 4 buah hati mereka. Sekarang anak- anak mereka sudah dewasa, tinggal si bungsu yg masih kuliah.

Pada suatu hari…saat seluruh anaknya berkumpul di rumah menjenguk ibunya– karena setelah anak-anak mereka menikah dan tinggal bersama keluarga masing-masing– Pak Suyatno memutuskan dirinyalah yang merawat ibu mereka karena yang dia inginkan hanya satu ‘agar semua anaknya dapat berhasil’.

Dengan kalimat yang cukup hati-hati, anak yang sulung berkata:

“Pak kami ingin sekali merawat ibu, semenjak kami kecil melihat bapak merawat ibu tidak ada sedikitpun keluhan keluar dari bibir bapak……bahkan bapak tidak ijinkan kami menjaga ibu.” Sambil air mata si sulung berlinang.

“Sudah keempat kalinya kami mengijinkan bapak menikah lagi, kami rasa ibupun akan mengijinkannya, kapan bapak menikmati masa tua bapak, dengan berkorban seperti ini, kami sudah tidak tega melihat bapak, kami janji akan merawat ibu sebaik-baik secara bergantian”. Si Sulung melanjutkan permohonannya.

”Anak-anakku…Jikalau perkawinan dan hidup di dunia ini hanya untuk nafsu, mungkin bapak akan menikah lagi, tapi ketahuilah dengan adanya ibu kalian di sampingku itu sudah lebih dari cukup,dia telah melahirkan kalian….*sejenak kerongkongannya tersekat*… kalian yang selalu kurindukan hadir di dunia ini dengan penuh cinta yang tidak satupun dapat dihargai dengan apapun. Coba kalian tanya ibumu apakah dia menginginkan keadaanya seperti ini ?? Kalian menginginkan bapak bahagia, apakah bathin bapak bisa bahagia meninggalkan ibumu dengan keadaanya seperti sekarang, kalian menginginkan bapak yang masih diberi Tuhan kesehatan dirawat oleh orang lain, bagaimana dengan ibumu yang masih sakit.” Pak Suyatno menjawab hal yang sama sekali tidak diduga anak-anaknya

Sejenak meledaklah tangis anak-anak Pak Suyatno, merekapun melihat butiran-butiran kecil jatuh di pelupuk mata Ibu Suyatno..dengan pilu ditatapnya mata suami yang sangat dicintainya itu……

Sampailah akhirnya Pak Suyatno diundang oleh salah satu stasiun TV swasta untuk menjadi nara sumber dan merekapun mengajukan pertanyaan kepada Pak Suyatno kenapa mampu bertahan selama 25 tahun merawat Istrinya yg sudah tidak bisa apa-apa….disaat itulah meledak tangisnya dengan tamu yang hadir di studio kebanyakan kaum perempuanpun tidak sanggup menahan haru.

Disitulah Pak Suyatno bercerita : “Jika manusia di dunia ini mengagungkan sebuah cinta dalam perkawinannya, tetapi tidak mau memberi waktu, tenaga, pikiran, perhatian itu adalah kesia-siaan. Saya memilih istri saya menjadi pendamping hidup saya, dan sewaktu dia sehat diapun dengan sabar merawat saya, mencintai saya dengan hati dan bathinnya bukan dengan mata, dan dia memberi saya 4 anak yang lucu-lucu..Sekarang saat dia sakit karena berkorban untuk cinta kami bersama… dan itu merupakan ujian bagi saya, apakah saya dapat memegang komitmen untuk mencintainya apa adanya. Sehatpun belum tentu saya mencari penggantinya apalagi dia sakit…” Sambil menangis

”Setiap malam saya bersujud dan menangis dan saya hanya dapat bercerita kepada Allah di atas sajadah..dan saya yakin hanya kepada Allah saya percaya untuk menyimpan dan mendengar rahasia saya…”BAHWA CINTA SAYA KEPADA ISTRI, SAYA SERAHKAN SEPENUHNYA KEPADA ALLAH”.

Dear my friends, that’s a true story from someone who taugh me about the important of investment three years ago. I wish i could be someone like him…to give all attention to family..i believe family is our precious thing..more than money or gold.

Blog Archive